Menanti Pasangan Hati

Menanti Pasangan Hati
Kode yang Tersamarkan


__ADS_3

Amora mengerjap-ngerjapkan matanya. Pandangan pertama yang ia temui adalah Bryan. Ia tengah tertidur sambil duduk di sampingnya. Amora merasa sangat beruntung punya teman seperti Bryan. Berkatnya perasaan Amora jadi lebih baik.


Amora mengelus rambut Bryan. Namun tampaknya ia tertidur dengan lelap tak terbangun oleh usapannya. Amora melepaskan selimut yang menutupi tubuhnya dan menyampirkannya pada tubuh Bryan. Namun ketika Amora hendak beranjak dari ranjangnya, sebuah tangan menariknya.


Tanpa Amora sadari, Bryan sudah terbangun sesaat sebelum dirinya mengelus lembut rambutnya. Ia sengaja tak menggubris, ingin melihat reaksi Amora terhadapnya. Hatinya mulai memanas tatkala dirinya diselimuti oleh Amora.


Ia langsung menarik Amora yang hendak beranjak. Bryan melihat keterkejutan itu di matanya. Namun tentu saja hal itu malah membuatnya tersenyum.


"Bryan! Apa yang lo lakuin?!" teriak Amora terkejut melihat Bryan yang ada di atasnya.


"Jujur. Elo suka kan sama gue?" tanya Bryan tepat di manik matanya.


"Gak usah pede deh. Udah cepetan turun!" perintah Amora.


Bryan langsung menurutinya. Ia sudah cukup senang melihat ekspresi dan reaksi Amora. Jika saja tak ada tembok yang menghalanginya, mungkin saja ia sudah menerkamnya. Namun Bryan tak mau melakukan hal itu.


"Elo kesurupan apaan sih? Aneh banget tau gak?" tanya Amora menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya waspada.


"Kesurupan cinta elo," jawab Bryan sekenanya dan langsung berbalik hendak pergi.


"Oh iya, nanti pulang gue antar yah," ucap Bryan kemudian berlalu. Ia tak menunggu jawaban Amora. Sehingga perkataannya itu seolah perintah dan tak ingin dibantah.


Amora merasa ada sesuatu yang aneh dengan Bryan. Biasanya dia akan cengengesan jika diajak bicara. Tapi kali ini ia tak menemukan sorot matanya yang seperti itu. Malah terlihat serius.


"Itu anak kemasukan jin apaan sih jadi aneh gitu. Tiba-tiba aja nyerang gue." monolog Amora dan ia pun segera mengikuti Bryan keluar UKS dan menuju kelasnya.


Ia menepis pertanyaan yang terlintas dipikirannya tentang Bryan. Masa bodo deh. Yang penting sekarang ia tak terlihat bengkak lagi di wajahnya. Dan ini berkat bantuan Bryan. Ia akan dimaafkan untuk kali ini karena telah membantunya.


*


"Bisakah kami meminta waktu anda sebentar? Ada yang perlu kami tanyakan pada anda." ucap Reno setelah mendatangi kediaman Indera yang merupakan kediaman Amora. Sudah beberapa hari ia tinggal di kediaman ini. Entah untuk alasan apa.

__ADS_1


"Silahkan masuk." ucap Indera mempersilahkan seolah ia adalah tuan rumah di kediaman tersebut. Reno dan asistennya duduk berdekatan, sementara itu Indera duduk di seberangnya.


"Bi!" panggil Indera dan tak lama bi Siti datang menghampirinya.


"Iya, ada apa, Pak?" tanyanya sambil curi-curi pandang ke arah Reno dengan tatapan yang menurutnya aneh. Seolah memberikan kode.


"Tolong buatkan minuman untuk kami." pinta Indera.


"B.. baik, Pak." jawab bi Siti sedikit tergagap kemudian pergi ke dapur untuk menyiapkan minuman.


Reno tampak menyadari sesuatu. Ada yang aneh dengan pembantu tersebut. Jelas sekali terlihat dari sorot matanya bahwa ia tak nyaman dengan Indera. Entah kenapa bisa begitu. Hal itu akan menjadi PR-nya nanti. Saat ini yang ia butuhkan adalah pernyataan dari Indera.


*


"Ra, tadi kamu kemana? Gak biasanya ngilang gitu," tanya Fani melihat Amora baru muncul setelah bel pulang berbunyi.


"Em.. itu.." Amora berpikir keras untuk mencari alasan yang pas.


"Fan?" tanya Amora melihat sahabatnya itu malah terdiam seolah sedang marah padanya. Sementara itu Fani tak menggubris pertanyaan Amora dan hanya sibuk merapihkan buku dan alat tulisnya.


"Kamu gak percaya sama aku, Ra?" tanya Fani tanpa menoleh ke arah Amora. Kini ia benar-benar marah dengan sahabatnya itu.


"Ma..maksudnya?" Amora dibuat bingung oleh pertanyaan Fani yang tiba-tiba. Ia salah apa sebenarnya? Batin Amora bertanya-tanya.


"Aku itu kenal kamu udah lama. Tapi kenapa kamu gak pernah jujur sama aku?!!!" suara Fani meninggi. Amora pun terkejut ditatap tajam seperti itu. Baru kali ini ia melihat Fani bisa semarah itu.


"A.. aku..."


"Kenapa sih kamu selalu nyembunyiin masalahmu sendirian? Hah?!" potong Fani. Amora hanya terdiam. Mulutnya seolah terkunci tak bisa berkata apa-apa.


"Aku ini kamu anggap apa sih? Cuma angin lalu?" suara Fani mulai merendah. Namun air matanya mulai menggenang.

__ADS_1


"Fan. A.. Aku minta maaf." ucap Amora akhirnya.


Fani memang sahabat Amora sejak mereka duduk dibangku SMP. Lebih lama dibandingkan Fio dan Della yang baru mengenalnya sejak kelas 1 SMA. Kebiasaan Amora bahkan sampai keburukannya pun Fani mengetahuinya secara detail.


Tapi akhir-akhir ini ia merasa dirinya tak lagi dianggap sebagai sahabat olehnya. Maka dari itu lah ia sangat marah ketika menyadari bahwa Amora seperti sedang menyembunyikan sesuatu darinya. Bahkan ia sama sekali tak menunjukkan kesedihannya seolah semuanya baik-baik saja. Padahal ia tahu bahwa Amora sedang tidak baik-baik saja.


Amora hendak memeluk Fani yang mulai berlinang air mata, namun dengan sekejap Fani menepis dan meninggalkannya begitu saja.


"Fan? Fani?!" teriak Amora melihat Fani yang sudah menjauh darinya.


Sepertinya kali ini Amora melakukan kesalahan yang fatal. Dulu pun pernah begitu. Amora bukan tipikal yang bisa blak-blakan membicarakan soal urusan hatinya. Namun berbeda dengan Fani. Ia justru tak mau ada masalah apapun yang disembunyikan darinya. Sahabat itu harus saling berbagi, bukan saling sembunyi. Begitu perkataannya dulu.


Namun Amora punya cara sendiri untuk mengatasinya. Ia juga harus berubah demi nama baik persahabatan mereka. Walau baginya sulit sekali untuk terbuka sepenuhnya pada sahabat-sahabatnya, terutama Fani. Namun ia akan mencobanya dengan lebih keras kali ini.


"Ra, ayo pulang," ditengah lamunannya, Amora dikejutkan dengan kemunculan Bryan yang tiba-tiba.


"Gue tunggu lo di parkiran dari tadi belom dateng juga." tutur Bryan. Namun Amora malah terdiam, seolah Dejavu.


Bryan langsung membereskan buku dan alat tulis milik Amora. Ia memasukkannya asal ke dalam tas milik Amora kemudian membawanya.


"Ayo!" tanpa aba-aba Bryan menarik lengan Amora pelan untuk mengikutinya. Bryan bergegas menuntunnya ke area parkiran khusus mobil. Sedangkan Amora hanya pasrah mengekor di belakangnya.


"Gue belom bilang setuju loh waktu elo nawarin pulang bareng." ucapan Amora membuat genggaman di lengannya terlepas. Bryan langsung balik badan menatap Amora.


"Jangan bikin gue ngegendong elo paksa." ucapan Bryan seperti sebelumnya, tak bisa dibantah. Namun berbeda dengan Amora.


"Lakuin aja kalau elo berani." tutur Amora tak pernah takut dengan Bryan. Ia malah terlihat seperti sedang menantangnya.


"Oke kalau itu mau lo." Dan ternyata benar ucapan Bryan. Sedetik kemudian ia langsung menarik Amora dan membawanya ke udara. Refleks Amora memeluk leher Bryan menyadari dirinya tengah dibopong. Tak bisa dipungkiri kini mereka jadi bahan tontonan para murid yang masih berada di lingkungan sekolah.


***

__ADS_1


__ADS_2