
Beberapa tahun kemudian. Amora kini sudah menjadi seorang mahasiswi di salah satu universitas populer di kota. Ia memilih untuk mengambil jurusan Manajemen sebagai upaya untuk memahami suatu perusahaan. Iya, perusahaan orang tuanya yang kini sudah resmi diambil alih oleh pamannya. Orang yang selama ini Amora percaya namun ternyata ia salah.
Surat yang Amora temukan di kamar bi Siti mengatakan bahwa ternyata beliau menghilang karena menghindari pamannya itu yang selalu berniat jahat padanya. Di dalam surat itu pun Amora mendapat sebuah media penyimpanan. Dan betapa terkejutnya ia ketika melihat isi dari file tersebut. Ia melihat di layar laptopnya sosok pamannya itu tengah mengobrak-abrik kamar kedua orang tuanya.
Dan setelah ia menemukan berkas yang ia cari, tayangan video itu pun berhenti. Amora langsung menutup layar laptopnya dan segera bergegas menghubungi bi Siti, namun nomornya tak aktif. Rasanya gila! Ia tak menyangka dengan semua yang terjadi ini. Lalu apakah benar dugaan seorang detektif yang waktu itu menemuinya? Detektif itu mengatakan bahwa pamannya memiliki hubungan dengan kasus kematian kedua orang tuanya, namun Amora membantah.
Saat itu Amora tidak tahu tentang kebenaran ini sampai ia menemukan sebuah rekaman yang didapat dari bi Siti. Ia kini mempercayai semua perkataan detektif itu. Namun terlambat. Ia pun tak bisa menghubungi mas Reno, detektif yang selama ini ternyata masih membantunya untuk menguak misteri kematian kedua orang tuanya. Ia merasa harus memberikan rekaman itu padanya. Namun bagai hantu, Reno pun menghilang selama bertahun-tahun.
Di tengah keputusasaannya itu, Amora bertekad harus menghadapinya sendiri. Ia berjanji pada dirinya bahwa perusahaan kedua orang tuanya pasti akan ia rebut kembali. Tunggu saja tanggal mainnya. Pamannya harus menerima konsekuensi karena sudah berbuat jahat pada orang tuanya. Bahkan ia tak sanggup membayangkan jika memang pamannya lah yang telah membunuh kedua orang tuanya.
“Ra, elo belum pulang? Lagi nungguin siapa?” tanya seseorang membuyarkan lamunan Amora.
“Eh, Satria. Gue lagi nungguin seseorang. Elo mau pulang?” tanya Amora melihat teman satu jurusannya itu hanya berjalan kaki.
“Iya. Kosan gue deket kok. Mau jalan bareng?” tawarnya.
Sebelum Amora menjawab pertanyaannya, sebuah mobil berhenti tepat di depan mereka. Lalu keluar lah seorang laki-laki dengan penampilan rapih mengenakan kemeja hitam membuka pintu mobilnya. Ia menghampiri sang kekasihnya yang ternyata sedang diganggu oleh lalat nakal.
“Aduh, maaf ya sayang, aku tadi ada meeting dulu.” Ucapnya kemudian mengecup kening Amora. Yang dicium hanya diam mematung. Tak biasanya Bryan melakukan itu. Padahal sedang ada temannya di sampingnya. Tapi, apa gara-gara itu Bryan melakukannya? Dia cemburu?
“Oh, ini siapa sayang?” tanyanya pada Amora. Lebih tepatnya menyindir laki-laki di depannya.
“Ini temen sekelas aku. Aku sama dia satu jurusan.” Ujar Amora memperkenalkan. Satria pun menerima uluran tangan dari Bryan yang seolah sedang menekannya dengan tatapannya yang mengancam itu.
“Gue Bryan. Pacarnya Amora.” Ucap Bryan menekankan kata pacar agar ia paham kodenya untuk tak mendekati Amora.
__ADS_1
“Gue Satria, teman Amora.” Balasnya mencoba mempertahankan harga dirinya agar tetap terlihat baik di hadapan Amora.
“Ya udah, Sat. Gue pulang duluan yah.” Pamit Amora.
“Iya, hati-hati.” Jawabnya. Bryan langsung menggandeng tangan Amora ingin menunjukkan kemesraannya pada laki-laki itu. Ia pun membukakan pintu mobil pada Amora dan dengan pandangan yang menusuk, ia menatap selintas pada laki-laki yang bernama Satria itu seolah sedang memberikan peringatan padanya.
“Bryan, kamu gak usah kayak gitu sama temen aku.” Ucap Amora merasa sedikit risih melihat kelakuannya tadi.
“Maaf, Ra. Aku cuma sedang memperingatkannya, kalau kamu itu punya aku.” Ucapnya sambil menunduk. Tentu saja Amora paling tidak bisa melihat raut wajah yang seperti itu.
“Ya udah buat ke depannya jangan kayak gitu ya. Aku takut nanti jadi gak enak sama dia. Soalnya kan kami berdua satu kelas.” Tutur Amora.
“Iya, aku minta maaf.” Ucap Bryan. Entah mengapa ia sangat menuruti Amora dan tak mampu membantahnya.
*
“Bara, apa kamu gak tertarik sama sekali pada perempuan yang banyak mengirimkan pesan padamu?” tanya Paul melihat isi pesan media sosial Bara yang masih saja banyak perempuan yang mengirimnya pesan walau tak pernah ada satu pun yang dibalasnya.
“Sorry, aku cuma fokus pada satu tujuan. Menemukan siapa yang hampir saja menghancurkan keluargaku, yang hampir membunuh ibuku dan hampir membuat bangkrut perusahaan ini.” Ucapnya sambil memasang dasi di kerah kemejanya.
Seperti biasa ia berpenampilan memukau siapapun yang melihatnya. Semua orang juga akan tahu bahwa apa yang dikenakannya adalah barang dengan brand ternama dan sangat expensive. Karena hari ini Bara akan menemui salah satu investor penting dan harus memberikan first impression yang bagus.
“Paul, apa kau sudah menyiapkan semua berkasnya?”
“Tanpa terlewat satu pun.”
__ADS_1
“Oke, kerja bagus.”
*
Di dalam mobil itu, Amora masih tak menyangka bahwa saat itu dirinya sudah menjadi kekasih Bryan. Setelah menaiki wahana ekstrim itu, ia dibawa ke sebuah taman yang tampaknya sudah dipersiapkan khusus untuknya. Dalam suasana yang sangat romantis, akhirnya ia terbuai dan mengangguk menerima uluran cintanya.
“Lagi ngelamunin apa sih? Ngelamunin aku yah?” goda Bryan disela-sela menyetirnya.
“Gak usah pede deh.” Bryan yang mendengarnya hanya tertawa.
“Oh iya, kita mau main dulu atau gimana?”
“Aku mau pulang aja deh. Capek banget tadi ada ujian dadakan soalnya.”
“Uh kasian banget sih pacarku ini,” ucap Bryan sambil mengelus rambut Amora.
“Kamu sih enak. Cepet banget lulusnya.” Keluh Amora.
“Ya, mungkin karena aku pinter.” Sombong Bryan.
“Itu mungkin karena kamu yang punya Firma nya, jadi dekan kamu langsung ngelulusin kamu dengan mudah deh.” Ucap Amora menuturkan alasan menurutnya.
“Ya enggak gitu lah. Aku ambil jurusan ilmu hukum disana karena ya universitas disana gak ada hubungan sama Firma bokap dan gak ada satu pun kenalan disana.”
“Tapi mungkin aja mereka malah yang pengen berhubungan sama Firma kamu dengan cara meluluskan kamu dengan cepat.” Ujar Amora. Bryan Nampak berpikir kemungkinan hal itu bisa terjadi.
__ADS_1
Tak lama mereka pun sudah sampai di depan gerbang rumah Amora. Rumahnya kini tampak sepi tanpa kehadiran bi Siti yang menghilang entah kemana. Ia juga tak tahu harus kemana lagi mencarinya. Rumah yang dari depan terlihat tampak sepi, seperti hatinya saat ini.
***