Menanti Pasangan Hati

Menanti Pasangan Hati
Hati yang Kosong


__ADS_3

Amora mencicipi makanan yang sudah dihidangkan oleh Bryan. Ia Nampak menimang-nimang makanan yang sedang dikunyahnya itu. Sementara Bryan khawatir dengan hasil masakannya. Tapi ia yakin sudah menyajikannya sesuai arahan dari video youtube yang ditontonnya.


“Enak.” Satu kalimat yang keluar dari mulut Amora membuat Bryan bernafas lega.


“Syukurlah.” Ucap Bryan.


“Seriusan deh. Kamu belajar masak sekarang?” tanya Amora sambil melahap makanannya.


“Ya, begitulah. Kan pengen nyenengin pacar,”


Amora merasa sangat terhibur semenjak mengenal Bryan. Entah sebagai sahabat atau sebagai pacar. Disaat semua sahabatnya pergi meninggalkannya demi mengejar impian masing-masing, Bryan tetap berada di sampingnya.


“Weekend ini kamu ada acara gak?” tanya Bryan menantikan jawaban Amora.


“Em, minggu ini yah? Kayaknya enggak deh. Paling Sabtu sih ada kerja kelompok di kampus.”


“Pulang jam berapa? Biar aku jemput.” Tawar Bryan.


“Kalau gak sore paling malem.”


“Oke nanti aku jemput yah.”


“Boleh asal jangan aneh-aneh.” Gerutu Amora.


“Tenang aja, aku gak akan aneh-aneh kok. Cuma satu aneh doang.”


“Ye, itu sama aja.” Ucap Amora sambil menoyor kuping Bryan. Dan yang ditoyor hanya tertawa.


Acara makan itu pun sudah selesai. Kini bagian Amora yang mencuci piring. Walau sempat dihadang oleh Bryan untuk tak melakukannya, namun Amora bersikeras untuk tetap membantunya mencuci piring. Bryan hanya terdiam menyaksikan Amora yang sedang mencuci piring itu.


Dan tiba-tiba senyum Bryan menyeringai. Sebuah ide terlintas di pikirannya. Ia pun mendekati Amora dan langsung memeluknya dari arah belakang. Amora yang terkejut dengan perlakuan tersebut menghentikan sejenak kegiatan mencucinya.


“Bryan, kamu ngapain?” tanya Amora menyadari kepala Bryan mulai menyender di bahunya.

__ADS_1


“Lagi ngeliatin kamu nyuci piring.” Jawabnya dengan polos.


“Iya aku tahu. Tapi maksud ak…..” sebelum Amora menyelesaikan kalimatnya, Bryan langsung mengecup bibirnya hingga membuat Amora terdiam.


Pandangan Amora menatap tepat di manik mata Bryan. Begitu pun sebaliknya. Bryan selalu terhipnotis oleh mata cantik dan bersinar milik Amora. Namun sinar di matanya yang hitam legam seolah tak menampilkan kilauannya lagi akhir-akhir ini.


“Apa kamu lagi ada masalah?” pertanyaan tersebut membuat Amora membalikkan pandangannya dan memilih melanjutkan kegiatan mencucinya. Masih dalam pelukan Bryan yang melingkarkan tangannya di pinggang Amora, suasana saat itu tiba-tiba hening. Ia tak mampu mengatakan satu patah kata pun untuk menjawab pertanyaan yang dilontarkan Bryan.


Namun tanpa Amora sadari, sifat diamnya membuat Bryan mengetahui bahwa Amora benar-benar memiliki masalah yang tampaknya masih enggan untuk diceritakan padanya. Ia tak mau memaksa untuk segera mendapat jawaban dari Amora. Bryan memilih diam dan tak mau mengungkitnya. Biarlah Amora sendiri yang nantinya menceritakan jika sudah siap.


“Aku akan selalu ada di sampingmu,” ucap Bryan tepat di telinga Amora sambil mengeratkan pelukannya. Walau sudah beberapa tahun berpacaran dengan Amora, sampai saat ini ia masih tertutup padanya. Namun Bryan akan terus membuat Amora agar bisa nyaman dengannya.


“Maaf,” ucap Amora tertahan seolah sedang menahan tangis.


“Gak papa. Aku akan menunggumu sampai kamu sudah siap buat ceritain semuanya. Jangan merasa terbebani. Aku akan selalu ada buat kamu.” Ucap Bryan membuat hati Amora tersentuh. Sementara itu Amora tak kuasa lagi menahan linangan air matanya. Ia berbalik dan memeluk Bryan menumpahkan semua tangisnya dalam dekapan.


Bryan mengelus kepala Amora pelan. Ia sangat khawatir dengan keadaannya, namun ia juga tak tahu harus bagaimana agar Amora mau jujur padanya. Tangisnya makin lama makin terdengar pilu. Seolah rongga di hatinya terlubangi dengan begitu dalam.


*


“Oke, saya akan segera kesana,” ucap Bara dari balik sambungan ponselnya. Tampaknya ia harus segera kembali ke perusahaan. Namun ketika hendak bergegas pergi, lengannya ditarik dari arah belakang.


“Sa.. saya tidak punya tujuan pulang. Bo.. boleh saya ikut…”


“Berani-beraninya kamu berbicara seperti itu pada pak direktur?” potong Paul melihat kelakuan perempuan itu seperti sedang memanfaatkan situasi.


“Ma.. maafkan saya. Saya juga ingin pulang tapi saya tidak punya uang untuk kembali ke kampung saya.” Ucapnya tergagap sambil menunduk menyembunyikan wajahnya dalam geraian rambutnya.


“Paul, tolong kamu urus. Saya harus segera ke kantor.” Titah Bara kemudian masuk ke dalam mobil mewahnya.


“Baik, pak Direktur.” Ucap Paul sambil menunduk dan membantu menutup pintu mobil.


Sepeninggalnya Bara, Paul memberikan beberapa lembar uang serratus ribuan kepada Diva untuk biaya transportasi menuju kampungnya. Namun pemberiannya itu langsung ditolak mentah-mentah olehnya. Dengan kesal Paul bertanya.

__ADS_1


“Apa maumu? Saya sudah memberikan uang untukmu pulang!”


“Saya tidak butuh uang ini. Saya hanya butuh pekerjaan,” ucapnya tegas.


“Oh my God. Perempuan ini benar-benar membuatku pusing.” Gerutu Paul kemudian langsung menghubungi bagian HRD.


“Halo, Pak? Apa hari ini ada informasi lowongan?”


“Untuk hari ini sepertinya tidak ada, Pak. Tapi kami kekurangan office girl satu orang.” Jawab seseorang di seberang sambungan.


“Kebetulan saya ada satu kandidat.”


“Oh kalau begitu saya tunggu di kantor ya, Pak.” Jawabnya dan sambungan pun diputus Paul setelah menjawabnya.


“Kamu bisa kerja di bagian office girl. Sanggup?” tanya Paul sambil memperhatikan perempuan berdarah lokal itu.


“Iya, Pak. Saya sanggup!” ucapnya antusias. Setidaknya kini dia memiliki alasan untuk tinggal lebih lama lagi di kota. Karena ia tak mau pulang ke kampung halamannya dengan tangan kosong.


Sesampainya di kantor, Diva pun langsung dibawa ke bagian HRD untuk dimintai tentang identitasnya dan yang lainnya. Sementara itu Paul kembali menemui Bara yang sedang berada di ruangannya.


“Sudah kamu urus?” tanya Bara ketika melihat Paul memasuki ruangannya.


“Dia sudah dimasukkan ke bagian office girl.” Jawab Paul sambil memperhatikan Bara yang tengah fokus dengan layar laptopnya sementara jari jemarinya sibuk menari di atas keyboard.


“Apa ada urusan yang mendesak?” tanya Paul.


“Tidak terlalu serius. Aku sudah menanganinya.”


“Hah, selalu saja begitu. Kamu tak membiarkanku membantumu. Apa gunanya aku sebagai sekretaris pribadimu selama ini jika kerjaan penting selalu kamu yang kerjakan.” Keluh Paul.


Sementara itu Bara hanya tertawa melihat tingkah Paul yang selama ini sudah menjadi rekan kerja sekaligus sahabatnya itu. Namun ketika sedang mengerjakan pekerjaannya itu, tiba-tiba terlintas di pikirannya tentang keadaan Amora. Ia pun langsung menghentikan kegiatannya di depan laptop.


“Oh iya, gimana tentang keadaan dia? Apa kamu sudah menyelidikinya lagi?” tanya Bara serius. Karena sudah beberapa tahun ini, Bara diam-diam mengawasi Amora dari kejauhan. Menugaskan pada Paul untuk memberikan informasi tentang keadaan Amora. Walaupun sebenarnya ia sudah tahu bahwa selama ini Amora sudah menjalin hubungan dengan laki-laki yang bernama Bryan.

__ADS_1


***


__ADS_2