
Bryan masih sangat terkejut dengan perubahan sifat ayahnya. Ia juga tak tahu harus menentangnya atau tidak. Karena selama ini ayahnya yang ia tahu sangat penuh kasih sayang dalam merawatnya selama ini. Kini tiba-tiba berubah setelah ia memergoki sang ayah hendak merencanakan hal buruk pada Amora.
“Jadi, apa kita dipihak yang sama?” tanya Bara membuat Bryan bimbang.
“Aku tak bisa menentangnya.” Bara mengerti dengan jawaban Bryan. Ia pun tak mau menghasutnya untuk menentang orang tuanya sendiri.
“Setidaknya segera kabari jika ayahmu merencanakan sesuatu.” Ucapan Bara menutup perbincangan.
Ia mengerti apa yang sedang dirasakan oleh Bryan. Dilema dan keraguan yang ia lihat dari sorot matanya membuat Bara yakin bahwa sebenarnya Bryan berniat membantu namun disisi lain juga ia sulit menentang ayahnya sendiri.
Bara meninggalkan Bryan yang masih termenung di dalam ruangan. Ia langsung menghampiri Paul karena ada hal yang harus dilakukannya.
“Apa yang akan kita lakukan selanjutnya?” tanya Paul. Kini ia yang mengemudikan mobilnya. Sebelum Bara menjawab, ponselnya berdering tanda panggilan masuk. Ternyata sang ayah yang menelponnya.
“Bara, kamu dimana?” tanya Arman melihat anaknya itu tak terlihat saat ia keluar ruangan setelah berbincang dengan William.
“Aku sedang di mobil dengan Paul.” jawabnya. Arman yakin bahwa anaknya pasti sudah mendengar percakapan antara dirinya dan William. Terlihat dari nada bicaranya yang terdengar seperti sedang menahan gejolak emosi.
“Bara, jangan gegabah melakukan sesuatu. Barda adalah orang yang berbahaya,” ucap Arman seolah tahu apa yang akan direncanakan Bara. Ia pun mencoba menahan niat tersembunyinya itu.
“Akan saya usahakan.” jawab Bara sebelum akhirnya menutup panggilan tersebut.
Setelah sampai di perusahaan Atmanaja Group, Bara berjalan dengan tergesa menuju lift khusus. Sementara itu Paul hanya diam melihat wajah Bara yang sedang serius. Ia pun melihat banyak para karyawan tengah kebingungan menyaksikan atasan mereka yang berubah sikap sehingga menimbulkan atmosfir mencekam.
“Pak Bara kayaknya lagi marah yah,”
“Tapi walaupun dia lagi marah, kenapa masih terlihat tampan ya? Aku jadi gak bisa move on kan,” tutur para pegawai wanita saling mengobrol. Namun tak lama supervisornya memarahi mereka untuk kembali bekerja.
Setelah sampai di lantai ruangannya, Bara langsung masuk ke dalam kantornya. Lantai tersebut memang disiapkan khusus hanya untuk ruangan sang direktur, Bara Atmanaja. Sehingga tidak ada siapapun yang berani berlalu-lalang di sekitarnya.
“Jadi, apa yang akan anda lakukan?” tanya Paul karena pertanyaannya itu belum mendapat jawaban. Bara tampak berpikir sejak duduk di kursi singgasananya.
__ADS_1
“Tarik kembali investasi yang mengalir ke firma hukum itu.”
“Anda serius? Apa ini tidak terlalu gegabah?” tanya Paul langsung bisa melihat resiko apa saja yang dapat terjadi.
Bara bingung karena saat ini yang ia inginkan hanyalah menhancurkan firma hukum itu dan memberikan hukuman padanya.
“Lakukan saja sesuai perintahku.” ucap Bara sambil berjalan ke arah kaca melihat pemandangan luar.
“Lalu tambahkan personil untuk menjaga Amora,” ucap Bara sambil berbalik melihat ke arah Paul.
“Baik, akan saya kerjakan.” ucap Paul sambil menunduk. Ia sedikit takut dengan raut wajah Bara saat ini.
*
Setelah beberapa kali absen dari jadwal rutinitas ke psikolog, hari ini Amora mendatangi rumah sakit tempat ia melakukan konsultasi dengan dokter Sarah. Dokter yang selama ini merawatnya. Setelah naik ke lantai dua, Amora melewati lorong sunyi yang selalu membuatnya berdebar karena tiap langkah sepatunya sangat terdengar di gendang telinganya.
“Maaf, Dok. Saya sudah melewatkan beberapa kali jadwal konsultasi saya.” tutur Amora sambil menunduk. Namun dokter Sarah malah tersenyum senang melihat perubahan Amora.
“Apa kamu masih sering bermimpi buruk?” tanya dokter Sarah membuka konsultasinya.
“Sudah hampir seminggu ini saya tidur dengan nyenyak, Dok. Dan entah kenapa saya malah merasa bersemangat untuk menggapai impian saya.” jawab Amora.
“Kalau boleh tahu, apa impianmu itu?” tanya sang dokter. Hening sejenak. Kemudian Amora menatap sang dokter dengan pandangan penuh tekad.
“Merebut kembali apa yang menjadi hak saya,” ucap Amora mantap.
Dokter Sarah melihat keteguhan hati dari sorot matanya. Kali ini ternyata ada motivasi tersembunyi yang membuatnya melupakan akan traumanya. Dan sang dokter merasa senang mendengar hal itu.
“Lakukanlah apa yang ingin kamu lakukan, Amora. Aku pasti akan mendukungmu sepenuh hati.” ucap sang dokter tersenyum sambil menggenggam kedua tangan Amora.
“Tapi, Dok. Saya masih merasa bersalah pada kedua orang tua saya. Karena saya tidak mampu….”
__ADS_1
“Tidak apa-apa, Amora. Itu bukan salah kamu.” potong dokter Sarah.
“Daripada menyalahkan diri sendiri, apa kamu tidak mau mengunjunginya saja?” usul sang dokter.
Amora tampak berpikir. Sudah sekian lama ia tidak mengunjungi makam kedua orang tuanya. Karena rasa takut dan rasa bersalahnya membuat ia tak pantas untuk mengunjunginya.
“Mau saya temani?” tawar sang dokter.
“Tapi apa gak papa?” Amora malah merasa tidak enak dengannya. Namun dokter Sarah hanya mengangguk sambil tersenyum.
“Sudah kubilang, aku akan selalu membantumu Amora.”
*
Di kediaman keluarga Frishky, tampaknya Barda tengah melakukan percakapan yang sangat serius dengan Indera, paman Amora. Dengan tubuh yang gemetar, Indera mencurahkan keluh kesahnya setelah merencakan untuk membunuh kedua orang tua Amora.
“Jadi kau akan mundur begitu saja setelah bertindak sejauh ini?” tanya Barda sambil melihat keluar jendela.
“Saya sudah cukup tertekan setelah melakukan perbuatan keji itu. Jika saya harus membunuh anak itu juga, maaf saya tidak sanggup.” ucap Indera. Sungguh ia benar-benar merasa menyesal telah membunuh kakak kandung dan kakak iparnya. Saat itu ia sedang dibutakan oleh harta sehingga mendorongnya untuk melakukan hal tersebut.
“Kau sudah terlanjut terjun ke dalam tanah lumpur, Indera.” ucap Barda berjalan perlahan menghampiri Indera yang tengah tertunduk.
“Bukankah jalanmu untuk memiliki Maurine Company tinggal selangkah lagi? Kau hanya perlu menyingkirkan anak itu saja.” bisik Barda membuat tubuh Indera bergetar hebat.
Rasa bersalahnya selama ini selalu menghantuinya. Bagaimana ia melihat jelas wajah ketakutan kakak kandungnya sendiri sambil mendekap sang suami, Gavin. Sudah cukup sampai disini saja. Ia tak mau melakukan hal keji lagi. Namun tentu saja Barda tidak ada niat untuk membiarkan Indera mundur.
“Jika kau tak mau melakukannya, maka aku sendiri yang akan turun tangan,” ancam Barda dengan aura mematikannya. Di tengah keterkejutannya, Indera sangat tahu sifat seorang Barda. Karena ia tak akan segan untuk membunuh siapapun yang berani menghalangi niatnya.
“B.. baiklah. Serahkan saja pada saya,” ucap Indera terbata.
“Kalau begitu aku akan menyaksikannya. Tapi jika kau berani macam-macam, maka keluargamu yang akan menjadi taruhannya,” ancam Barda membuat Indera seketika dilema. Antara melindungi keluarganya atau keponakannya.
__ADS_1
***