Menanti Pasangan Hati

Menanti Pasangan Hati
Alasan


__ADS_3

Tatapan tajam Bara dibalik topinya membuat semua lawan tak menyadari bahwa yang ia hadapi adalah sang penerus Atmanaja Group.


“Haha, kau yakin bisa menghadapi kami hanya seorang diri saja?” ucap salah satu diantara mereka dengan pandangan meremehkan.


“Malam ini kau dan perempuan itu akan mati! Serang dia!” suara teriakan tersebut membuat semuanya langsung menyerang ke arah Bara sekaligus.


Dengan sigap Bara langsung membuat pertahanan untuk dirinya dari serangan-serangan tersebut. Orang-orang itu pasti sedikit terkuras tenaganya karena sebelumnya sudah melakukan pertempuran dengan para pengawalnya.


Jadi Bara akan memanfaatkan keadaan tersebut. Membuat lawan mengerahkan seluruh tenaganya untuk melawannya, sementara dirinya hanya menahan serangan. Dan disaat lawan sudah melemah, di situlah Bara akan langsung sekaligus melumpuhkan mereka dengan sekali serangan.


Saat ini tangkisan demi tangkisan yang Bara lakukan membuat lawan makin geram dan mengerahkan seluruh tenaganya untuk melawannya. Sesuai dengan dugaannya, saat lawan mulai melemah, Bara langsung mengeksekusi mereka satu persatu tepat di titik vitalnya.


Akhirnya satu persatu dari mereka tumbang dan hanya menyisakan satu orang. Namun laki-laki tersebut kabur saat Bara hendak mengeksekusinya. Ia sengaja melepaskan satu orang itu untuk mengabarkan kekalahan mereka pada bosnya. Sementara itu puluhan orang yang tumbang di tanah tak bisa bergerak sama sekali karena serangan fatal yang diterimanya.


“Apa dia baik-baik saja?” tanya Bara menghampiri Amora. Ia takut Amora diserang atau dipukul hingga membuatnya pingsan.


“Nona Amora baik-baik saja, Tuan. Ia pingsan karena terkejut.” jawab salah satu pengawalnya yang matanya bengkak karena pertempuran tersebut.


“Kalian semua pergilah ke rumah sakit. Obati luka kalian. Aku akan mengurusnya.”


“Baik, Tuan. Terimakasih banyak.”


*


Seseorang dengan tergopoh-gopoh masuk ke dalam ruangan dengan kondisi tubuh yang penuh luka. Barda terkejut melihat anak buah yang paling ia andalkan terluka. Padahal ia sangat pandai bela diri tapi tubuhnya penuh dengan memar.


“Maaf, Tuan. Sepertinya anak buah saya tidak mampu melawan mereka.” ucapnya sambil memegang lengannya yang terluka.

__ADS_1


“Apa?! Kalian itu ada 30 orang, tapi kenapa melawan 10 orang saja tidak bisa?” Barda mulai murka.


“Kami sudah hampir menang, tapi tiba-tiba ada satu orang yang datang dan melumpuhkan kami semua.”


“Hanya melawan satu orang? Siapa dia?!” Barda mulai menyelidik.


“Sa.. saya tidak tahu, Tuan. Tapi saya akui dia sangat hebat ilmu bela dirinya.” ucapnya sambil menunduk.


“Baiklah kau boleh pergi.” ucap Barda mencoba memahami keadaan.


Ia tampak berpikir. Semua rencana yang harusnya tuntas malam ini jadi hancur dengan kedatangan satu orang yang anak buahnya sebutkan itu. Ia yakin orang itu adalah anak laki-lakinya Arman. Bara Atmanaja. Memang tampaknya cukup sulit untuk mengalahkannya.


“Jadi apa yang harus kita lakukan sekarang? Kita tak bisa membiarkan perkembangan perusahaannya itu berhasil besok pagi.” ucap Yus mendesak Barda untuk segera bertindak. Ia sangat membenci Atmanaja Group, perusahaan yang selama ini ingin sekali ia lihat kebangkrutannya.


Barda berpikir jika harus menyingkirkan Arman, ia harus menyingkirkan anaknya terlebih dahulu. Karena orang tua akan merasa hancur hidupnya jika melihat kehancuran anaknya sendiri. Dan hal itu sangat diinginkan oleh Barda.


Satu-satunya kehancuran yang sangat tragis yaitu membuat hatinya lemah dan hancur. Dan ketika ia tahu bahwa Bara tengah mencintai seorang perempuan, ia langsung memanfaatkan kelemahannya itu. Kebetulan saat itu Indera menghampirinya menginginkan kehancuran kedua orang tua perempuan yang dicintai Bara.


Dan sejak saat itu Barda merasa sangat beruntung karena bisa mendapatkan dua momentum berharga sekaligus. Sekali mendayung, dua pulau terlampaui. Ia pun membantu melenyapkan kedua orang tua Amora sesuai keinginan Indera.


Namun kali ini Barda merasa Indera sedikit berubah setelah melakukan perbuatan tersebut. Ia tak bisa membiarkan hal ini. Jika Indera menyerah, maka ia akan membunuhnya. Karena Indera sudah terlibat dengannya cukup jauh dan bisa membahayakannya juga. Untuk itu menyingkirkannya adalah satu-satunya jalan jika Indera berani berkhianat.


"Malam ini kita harus segera membuat semuanya musnah." ucap Barda pelan namun aura yang tercipta sangat mencekam.


"Kita harus mengakhirinya saat ini juga." sambungnya dengan pandangan penuh dendam.


"Apa yang akan anda rencanakan?"

__ADS_1


"Melenyapkan semuanya yang pernah membuat hidupku menderita. Tak boleh ada yang tersisa." ucap Barda dengan nada final.


Indera yang mendengarnya pun bergidik ngeri. Tragedi apa yang akan terjadi malam ini? Apa yang harus ia lakukan untuk mencegahnya? Saat ini ia tak bisa melakukan apa-apa apalagi untuk kabur dan segera menghubungi anak itu.


Namun banyaknya para penjaga hampir di setiap sudut rumah ini membuatnya sama sekali tak berkutik. Ia bagai berada dalam penjaga dan hanya mengikuti instruksi dari Barda. Ia pun sangat tahu betul bahwa Barda sudah menyadari tentang perubahan dirinya yang sedikit menentang rencananya waktu itu.


Ia pun pasrah dengan apapun yang akan terjadi terhadapnya. Namun tanpa Barda ketahui, Indera pun mempunyai rencana lain dibalik itu. Rencana yang bisa membongkar semua kejahatannya selama ini, termasuk dirinya sendiri. Mungkin hanya ini yang bisa ia lakukan untuk menebus kesalahannya pada kakak kandung dan kakak iparnya. Anne dan Gavin.


*


Bara membawa Amora menggunakan mobil dari salah satu anak buahnya. Setelah sampai di apartemennya, dengan pelan ia menidurkannya di atas kasurnya.


Suhu badannya dingin saat menyentuh kening Amora. Ia pun melihat keringat dingin di lehernya. Dengan telaten Bara mengelap keringat tersebut dan menutupi tubuh Amora dengan selimut.


Setelah dirasa Amora sudah cukup aman, Bara meninggalkannya dan pergi ke ruang keluarga. Ia langsung mengambil kotak obat dan membuka bajunya.


Luka akibat senjata tajam itu ternyata melukai perutnya kembali dan membuat luka sebelumnya akibat melawan anak buah sang ketua mafia kembali menganga.


Bara mengambil perban dan mencoba mengobati lukanya sendiri.


"Arrrhhh!" rasa sakit itu ternyata membuatnya kesulitan untuk mengobatinya seorang diri.


Namun tanpa Bara sadari, sebenarnya Amora sudah sadar sejak berada di dalam mobil. Ia juga berpura-pura tak bangun saat ia merasa Bara sedang mengelap keringat dinginnya.


Dan setelah Bara pergi meninggalkannya sendirian, Amora langsung membuka matanya dan menangis sesenggukan. Ternyata selama ini Bara selalu menjaganya, mengawasinya, memenuhi kebutuhannya dan merawatnya dari jauh. Hal itu yang membuat Amora tampak bodoh selama ini.


Kenapa ia tidak mau menemuinya dan malah menyuruh orang lain untuk menjaganya? Tahukah dia bahwa ia sangat merindukan dirinya? Apa alasan yang membuatnya tak mau menemui dirinya?

__ADS_1


***


__ADS_2