
Perusahaan Atmanaja Group seiring waktu mulai stabil kembali. Tak ada waktu istirahat bagi Bara dan sang ayah untuk mencapai momen ini. Semua pengorbanannya terbayarkan dengan hasil yang memuaskan.
Perusahaan besar itu kini memiliki banyak investor yang loyal dan royal. Semua cabang perusahaan pun kembali dirangkulnya untuk terus berkembang dan maju. Beberapa perusahaan di cabang seni atau art, maupun di bidang elektronik pun kembali berkembang ditengah kepailitannya.
Bara hampir mati untuk membangun kembali semua ini. Kekasih hatinya pun sudah menjadi korbannya. Pengorbanan yang sangat sulit dilakukan, walau itu pun demi keselamatannya untuk tak berhubungan dengan Bara.
Lalu setelah ini semua sudah selesai, apakah ia sudah bisa menemuinya? Namun sang ayah tak bisa melepaskan Bara begitu saja. Ia menyuruh Bara untuk menyelesaikan studinya terlebih dahulu. Studi tentang ilmu bisnis dan manajemen yang harus dipahami Bara di luar negeri ini.
Setelah selesai studi pun, ia harus mempelajari semua jenis perusahaan Atmanaja Group secara keseluruhan. Karena hanya ia satu-satunya sang penerus. Walau Bara sempat menentang dan tak menginginkan posisi tersebut.
Sang ayah lagi-lagi pandai merayu dan menggunakan kata-kata logikanya. Membuatnya tak mampu menolak lagi apa yang sudah diturunkan padanya. Menjadi pemilik dan penerus dari perusahaan besar Atmanaja Group.
"Bara, bagaimana dengan studimu?" tanya Arman sambil memeriksa beberapa berkas yang akan ditandatanganinya.
"Baik-baik aja." jawabnya datar.
"Besok kamu bertugas untuk mengembangkan salah satu cabang perusahaan kita." ucapan Arman langsung menghentikan kegiatan Bara.
"Lagi?"
"Cabang perusahaan kita yang ada di Indonesia." jelas Arman membuat mata Bara berbinar.
Otak Bara mampu dengan cepat mencerna ucapannya. Jika ia menyanggupi permintaan ayahnya itu, ia akan langsung terbang ke Indonesia.
"Oke." jawab Bara tanpa ekspresi namun berhasil menyembunyikan kebahagiaannya dengan baik.
"Besok kamu sudah mulai terbang ke Indonesia." ucap Arman.
Bara pun bangkit dan bergegas meninggalkan ruangan tersebut. Arman hanya menatap punggung anaknya itu yang mulai menjauh dengan senyuman yang penuh arti.
Setelah Bara keluar dari ruangan itu, seketika ekspresinya berubah. Senyuman itu terukir dari bibirnya memperlihatkan deretan giginya yang rapih dan putih. Sebuah selebrasi yang patut ia banggakan. Karena sebentar lagi ia akan kembali ke Indonesia.
Ia pun kembali ke gedung apartemennya. Apartemen kepunyaan Atmanaja Group, yang mana hanya orang kelas atas yang mampu menyewa atau membelinya. Bara masuk ke dalam gedung apartemen di sana. Banyak pasang mata yang memberikan penghormatan padanya dengan cara membungkukkan badannya. Bara pun hanya tersenyum menanggapinya.
__ADS_1
Beberapa orang yang menyadari itu bingung. Pasalnya Bara yang mereka kenal selama ini adalah Bara yang tanpa ekspresi, dingin dan tak pernah terlihat bahagia. Namun kini sebuah senyuman itu memecahkan spekulasi mereka.
"He is so hot." ucap salah satu staff perempuan penjaga apartemen sambil terus memandangi sosok Bara yang mulai masuk ke dalam lift.
"Yeah, handsome and so cool. His smile make me feel alive." jawab teman di sebelahnya.
Dan tanpa mereka sadari, Bara memang tengah bahagia. Penantian yang selama ini ia tunggu akhirnya bisa terwujud juga. Indonesia, I'm coming! Teriaknya dalam hati dengan senyum yang terus mengembang.
Setelah sampai di apartemen miliknya, Bara langsung mempersiapkan barang-barangnya. Foto Amora yang terpampang di salah satu pigura di ruangannya pun tak luput dari perhatiannya. Langsung saja ia masukkan ke dalam kopernya.
Rasanya sudah seperti berabad-abad ia berjuang mengatasi segala problematika perusahaan. Ia pun kini telah paham dengan posisinya sebagai pewaris tunggal. Bara Atmanaja yang tersandang dalam namanya memang sudah menjadi darah dagingnya sejak lahir.
"What makes you happy like that?" tanya seseorang yang berhasil membuyarkan lamunan Bara. Ia sampai lupa dengan asisten pribadinya, Paul.
"I'm gonna meet someone. My love." gumam Bara pelan dari lubuk hati yang paling dalam.
Paul hanya mengernyitkan keningnya menyadari atasannya itu benar-benar berubah. Selama ini ia mengenal Bara sebagai seseorang yang dingin. Seolah tak punya hati dan tanpa ekspresi. Namun kini, ia terlihat tampak manusiawi.
"So, do you have girlfriend?" tanya Paul ingin mengetahui hubungan Bara. Seketika Bara terhenti dari kegiatannya. Ia bingung harus menjawab apa. Bahkan saat ini Amora bukanlah lagi kekasihnya. Apa bisa disebut sebagai pasangan kalau hubungannya sudah berakhir beberapa bulan yang lalu?
"No." jawab Bara getir. Kening Paul makin berkerut. Aneh mendengar jawaban tersebut. Tapi demi menjaga perasaan atasannya itu, ia tak melanjutkan pertanyaannya lagi dan memilih untuk diam.
*
Amora mulai menaiki wahana yang terbilang ekstrim. Kereta Misteri. Awalnya ia mendatangi wahana tersebut karena memang belum banyak yang mengantri. Bahkan hanya Amora dan Bryan yang pertama masuk. Mungkin karena mereka berdua datang ke Dufan di pagi hari. Jadi belum banyak yang mengantri.
"Bryan, elo pernah naik wahana ini?" tanya Amora masih dengan wajah antusias.
"Belom. Gue jarang ke Dufan. Jadi gak tahu ada wahana ini." jawabnya.
"Tenang aja. Ini wahananya aman kok." tutur Amora dengan senyum penuh makna.
"Okey." Bryan hanya mengikuti Amora saja.
__ADS_1
Mereka berdua pun berjalan setapak yang dibatasi oleh pagar besi. Jalannya meliuk bagai ular, sementara di sisi kiri kanannya penuh dengan nuansa seram. Banyak boneka dengan wajah menakutkan yang bisa saja sewaktu-waktu hidup dan membuat jantung mereka hampir copot.
Setelah sampai di area kereta yang ternyata terdapat di lantai atas, nafas Bryan terdengar cepat dan tak beraturan.
"Lo takut, Bryan?" tanya Amora dengan wajah mengejek.
"Enak aja. Gue cuma belom terbiasa aja sama suasana kayak gini. Ditambah musiknya serem abis." ucapnya masih dengan nafas terengah.
"Yakin ini wahananya aman?" tanya Bryan mulai mencurigai Amora.
"Tenang aja. Aman kok." bohong Amora. Sementara itu Bryan hanya pasrah mengekor di belakangnya menuju kereta tersebut.
Perlahan kereta Misteri itu melaju setelah semua orang mendudukinya. Bergerak masuk ke dalam ruangan yang benar-benar gelap. Tak jauh dari situ mereka melihat beberapa patung serigala yang bergerak dengan sorot lampu berwarna merah.
Bryan mengeratkan pegangannya ke tangan Amora. Amora yang menyadari ketakutan yang dirasakan Bryan langsung membalas menggenggam tangannya. Ia jadi merasa bersalah sudah membohonginya.
Dan tanpa mereka duga, kereta tersebut melaju dengan sangat cepat naik ke atas lalu berhenti seketika. Semua orang berteriak histeris kecuali Amora. Ia memang sudah tahu wahana ini.
Dan kali ini dengan perlahan kereta tersebut mundur ke belakang. Terdengar bunyi rel yang bergerak berubah arah.
"Ra?!" panggil Bryan. Padahal Amora tepat di sebelahnya. Mungkin karena ruangan tersebut yang sangat gelap, ia jadi tak bisa melihat siapapun.
"Tenang. Gue ada disini. Sekarang tahan nafas." Bryan langsung mengikuti instruksi Amora.
"Dan.. mulai!!" sontak kereta mundur dengan kecepatan tinggi lalu turun dan dibalikkan kembali.
"Aaaaaaaa!!!!" teriakan Bryan menggema dan sangat jelas terdengar oleh Amora. Baru kali ini ia mendengar laki-laki berteriak ketakutan. Dan tak lama wahana pun berhenti.
Saat itu Amora benar-benar sangat menikmati wajah pucat Bryan. Ia tertawa senang melihatnya ketakutan.
"Ra, hah.. awas loh.. yah.. hah.." ucapnya tersendat dengan nafas yang masih belum beraturan. Sontak hal itu makin membuat Amora terbahak.
***
__ADS_1