
Kondisi Amora sudah tergeletak di atas lantai restoran tersebut. Sayup-sayup ia mendengar percakapan Stella dengan seseorang. Walaupun tubuhnya tak bisa ia gerakkan sama sekali, namun telinganya bisa mendengar. Dan ternyata Stella tengah berbincang dengan seorang laki-laki. Iya, laki-laki. Ari.
Ingin rasanya Amora menggerakkan tubuhnya dan kabur, namun ia sangat lemah. Tak kuasa rasanya bergerak sedikit pun. Sekuat apapun berusaha, hanya air mata yang mengalir lewat matanya yang terpejam. Sementara hatinya berteriak meminta pertolongan.
"Keren elo bisa berhasil secepat ini." ujar Ari.
"Udah gue bilang. Dia itu cewek naif. Gampang banget buat dikibulin." ucap Stella. Ia sama sekali belum berubah seperti yang Amora duga. Ia salah. Amora salah sudah percaya begitu saja pada Stella. Ia kira kakak kelasnya itu sudah berubah. Tapi ternyata tidak.
Namun, sedetik kemudian Amora benar-benar tak sadarkan diri. Bahkan sudah tak bisa mendengar apapun. Semuanya tampak gelap. Tubuhnya seolah dimakan ruang dan waktu. Lenyap. Hening. Amora tiba-tiba berada di sebuah tempat yang entah dimana. Ia tak bisa melihat. Semuanya gelap total. Bahkan melihat jari tangannya saja ia tak bisa.
Apa ia sedang berada di alam mimpi? Tapi kenapa kegelapan ini seperti sedang mengancam dirinya? Lama-lama Amora menjadi takut. Ia mencoba berlari lurus seolah dikejar oleh rasa takutnya. Nafasnya terengah-engah. Degup jantungnya mulai tak karuan. Ia terus berlari, entah kamana. Ia hanya dituntun oleh rasa takutnya.
Dan tiba-tiba saja sebuah cahaya muncul dari arah depannya. Semakin lama semakin besar dan mulai melingkupi seluruh ruangan. Samar-samar dari arah depan muncul dua orang yaitu laki-laki dan perempuan berbaju putih mendekat ke arahnya. Seiring dengan itu, ruangan yang diliputi gelap kini menjadi putih seluruhnya.
"Ayah? Bunda?" ucap Amora ketika mengetahui bahwa dua orang itu ternyata adalah kedua orang tuanya sendiri. Kini Amora berada tepat di hadapan ayah dan bundanya. Tatapannya sangat aneh. Seolah mereka sedang mengkhawatirkan sesuatu.
"Jauhi Indera, Nak. Ia bukan orang yang baik." ucap Bunda sambil memeluk Amora. Apa maksudnya? Kenapa ia harus menjauhi pamannya itu? Namun sedetik kemudian Amora hanya bisa menangis dipeluk oleh sang ibu. Rindu sekali rasanya.
Kehilangan mereka telah menciptakan sebuah lubang menganga di hatinya yang paling dalam. Beruntung saja Amora masih bisa bertahan di dunia ini. Karena ia sudah tak memperdulikan apapun. Kekasih hatinya pun sudah tak ada lagi di dalam kehidupannya. Lantas ia hidup untuk apa?
__ADS_1
"Kami berdua akan selalu bersamamu, Nak. Janganlah bersedih." ucap sang ayah bergantian memeluk Amora dan mengecup keningnya.
"Ayah," Amora memeluk sang ayah. Betapa ia sangat rindu sosoknya selama ini. Sosok tegas yang sangat ia hormati. Namun dibalik ketegasannya, kasih sayangnya sangat luar biasa padanya.
"Jadilah perempuan yang kuat, Nak. Apapun yang terjadi, kamu adalah putri kami yang membanggakan. Gapai lah impianmu. Jangan pernah ragu." ucap sang ayah menasehatinya.
“Iya.” Hanya satu kata yang bisa keluar dari mulut Amora. Ia masih sesenggukan dengan lelehan air matanya yang sudah membanjiri wajahnya. Ia tak mau berpisah.
Di tengah tangisnya, Amora berjanji akan mengikuti semua nasihat kedua orang tuanya itu. Dan tanpa diduga, ayah dan bunda mulai menjauhi Amora dan dengan cepat langsung menghilang dari pandangannya. Cahaya putih itu mulai memudar dan kini secara perlahan ruangan itu kembali diselimuti kegelapan.
Amora bangkit. Ia tak boleh terpuruk dengan keadaan. Masih banyak orang-orang disampingnya yang menyayangi Amora. Ada Fani, Fio juga Della. Dan kini, list itu bertambah. Bryan. Ia teman yang baik walaupun Amora belum cukup mengenalinya dengan lebih dalam. Astaga. Bryan! Ia baru ingat sesuatu.
Tiba-tiba dalam kegelapan itu muncul dua sosok di ujung pandangannya. Sosok-sosok itu tampak berjalan ke arahnya. Semakin dekat, semakin Amora bisa melihat wajahnya dengan jelas. Dan betapa terkejutnya ia melihat siapa mereka. Stella dengan wajah rusak dan di bibirnya berlumur darah. Darah yang hitam pekat. Pakaiannya seperti jubah hitam yang sudah tersobek-sobek.
Tak menunggu waktu lama lagi, Amora langsung balik kanan dan berlari sekuat tenaga. Tapi yang membuatnya kaget adalah saat ia menengok ke belakang, dua sosok itu tepat dua langkah lagi hampir menangkapnya. Amora langsung mempercepat berlarinya. Jantungnya berdetak dengan sangat kencang. Badannya terasa panas, seiring deru nafasnya yang terengah-engah.
“Amora.” Sayup-sayup ia mendengar seseorang memanggil dirinya. Di tengah berlarinya itu, Amora mengedarkan pandangannya ke segala arah mencari dimana asal suara tersebut. Namun hanya ada kabut gelap yang terlihat.
“Amora!” suara itu kini mulai terasa dekat. Ia makin mempercepat larinya. Hingga secercah cahaya muncul di depannya dan mulai menerangi pandangannya. Silau. Hingga akhirnya Amora ditelan oleh cahaya putih itu. Dan perlahan-lahan ia seperti ditarik kembali ke dalam raganya. Merasakan realitanya kembali hadir.
__ADS_1
Seseorang terasa sedang menepuk-nepuk pelan pipinya. Amora merasa tubuhnya seperti sedang berada di sebuah ranjang. Dan tak lama kesadarannya perlahan mulai kembali. Ia membuka matanya perlahan. Pandangannya mengedar dan menatap ke sekeliling. Ruangan yang benar-benar asing.
“Syukurlah elo baik-baik aja,” ucap seseorang menyadarkan Amora.
“Bryan?” Amora langsung menoleh ke asal suara itu. Apakah dia yang dari tadi memanggil namanya?
“Elo udah bikin gue khawatir tau gak sih?” ucapnya dengan deru nafas yang tak stabil. Tampak terengah karena panik. Namun rasa lega itu kini terpancar dari raut wajahnya.
“M.. maaf.” Ucap Amora dengan suara serak. Bryan langsung mengambil segelas air putih dan menyerahkannya pada Amora.
“Ini, minum dulu.” Tanpa berpikir panjang Amora langsung menenggak meminumnya dengan habis. Air itu terasa sekali membasahi kerongkongannya yang kering. Seluruh tubuh Amora seperti bertenaga kembali hanya dengan segelas air putih.
“Ini dimana?” tanya Amora memandang ke seluruh penjuru ruangan. Arsitekturnya sudah jelas bukan sembarangan. Gordennya saja sudah bisa dipastikan bahwa harganya tidak murah. Mungkin paling murah seharga dua digit. Ia sangat hafal karena sebelumnya pernah ditawari oleh kedua orang tuanya untuk membeli barang-barang mewah demi menghiasi kamar anak kesayangannya. Namun Amora menolak. Ia tak suka dengan sesuatu yang bersifat glamor.
“Ini kamar gue.” Ucap Bryan setelah menyimpan gelas tersebut dan kembali duduk di samping Amora.
“Kok bisa?” Amora terkejut dan langsung bangkit dari posisinya. Kini ia duduk bersandar menatap tepat ke arah Bryan meminta penjelasan. Kenapa ia bisa berada di kamar Bryan? Lalu bagaimana dengan kak Stella dan kak Ari? Hatinya terus bertanya-tanya menuntut jawaban.
“Sebaiknya istirahat dulu. Kondisi tubuh elo masih lemah.” Ucap Bryan dengan nada dingin. Amora bingung kenapa sikapnya seperti ini. Ternyata Bryan bisa juga bersikap begitu. Aura yang dirasakannya benar-benar sangat berbeda sekali dengan yang biasanya. Kali ini Bryan terlihat serius, tak terdengar bercandaannya yang selalu ia lakukan selama ini.
__ADS_1
“Lalu gimana sama kak Stella? Terus kak Ari? Aku denger suaranya saat aku pingsan. Tapi setelah itu aku gak inget apa-apa lagi,” Amora langsung memberondongnya dengan pertanyaan. Ia tak bisa menahan lagi untuk tak bertanya.
***