Menanti Pasangan Hati

Menanti Pasangan Hati
Quality Time With Friends


__ADS_3

“Pakeeeeeeeet!” teriak seseorang dari balik gerbang rumah Amora.


“Ra, itu ada tukang paket tuh di depan.” Ucap Fio melihat ke depan gerbang lewat jendela kamar Amora.


“Eh masa sih itu tukang paket? Motornya kebagusan untuk ukuran tukang paket.” Sembur Della yang ikut melihat.


“Oke deh aku ke bawah dulu yah. Kayaknya itu paket bi Siti deh.” Ucap Amora menghentikan memakan camilannya kemudian langsung ke bawah tanpa melihat ke luar jendela. Ia pun bergegas memanggil bi Siti untuk menemaninya menemui orang yang diduga sebagai tukang paket itu.


Amora dan bi Siti segera keluar rumah dan berjalan menuju gerbang depan. Saat itu Amora menyadari siluetnya seperti pernah melihat sosok itu dari arah belakang. Matanya memicingkan ke arah depan.


“Bryan?” tanyanya seolah memastikan pada diri sendiri bahwa apa yang dilihatnya itu memang benar.


Ketika sosok itu berbalik dan melepas helmnya, seringainya pun muncul.


“Halo Amora sayang. Iya ini gue.” Ucap Bryan memasang wajahnya yang sok cool.


“Idih najis. Beralih profesi jadi tukang paket lo?” sembur Amora. Bryan pun hanya tertawa.


Sementara itu bi Siti hanya menyaksikan Amora dan laki-laki yang bernama Bryan tersebut tengah berbincang-bincang. Keningnya berkerut karena baru pertama kali ia melihat sosok Bryan dan tutur kata Amora pun rasanya ada yang berbeda.


“Ada urusan apa elo kemari?” tanya Amora sambil membuka pintu gerbang namun tidak mempersilahkan Bryan masuk. Ia harus tahu terlebih dahulu apa tujuan Bryan ke rumahnya. Bryan pun melihat-lihat ke arah rumah Amora yang dari luar saja terlihat sangat besar.


“Ini rumah elo?” tanya balik Bryan. Amora yang mendengarnya mengerlingkan matanya jengah.


“Bukan. Ini rumah orang tua gue.” Jawab Amora sambil melipat kedua tangannya. Bryan hanya mengangguk-angguk sambil memperhatikan lagi rumah tersebut.


“Oh enggak. Ini gue bawain makanan pesanan elo.” Amora mengernyit bingung. Pasalnya ia sama sekali tak ingat pernah memesan apapun padanya.


“Gue gak pesen apa-apa tuh.” Timpal Amora sengit.


“Udah ambil aja. Kalo gitu gue cabut yah.” Ucap Bryan menyerahkan sebuah bungkusan kepada Amora dan langsung menyalakan motornya, kemudian melesat pergi meninggalkan Amora yang masih mematung. Dasar cowok aneh, batin Amora sambil melihat bungkusan yang telah diterimanya itu.


Ia pun langsung membuka box tersebut yang telah disodorkan Bryan padanya. Dan ternyata isinya adalah satu lusin donat dari brand ternama. Walaupun Amora merasa aneh dengan sikap Bryan, ia tetap harus menerima pemberiannya itu. Ia pun membawa box donat tersebut ke hadapan teman-temannya.

__ADS_1


*


Sementara itu ada satu hal yang Bryan dapatkan, bahwa kini ia sudah mengetahui dimana rumah Amora. Tujuan awalnya memang hanya itu. Mengetahui dimana Amora tinggal. Entah kenapa ia makin terobsesi dengan Amora. Kesempatan yang seperti ini harus ia manfaatkan semaksimal mungkin.


Ia pun tersenyum penuh kepuasan saat dirinya melihat dari arah kaca spion motornya. Bryan melihat Amora sepertinya menerima pemberian darinya. Satu step sudah berhasil dia lakukan. Tinggal melakukan step selanjutnya. Ia pun jadi tak sabar untuk menemuinya lagi.


*


Fani, Della dan Fio saat itu langsung terkejut mendengar penjelasan yang Amora paparkan. Mereka terlihat tak percaya dengan apa yang sudah terjadi.


“Dia gak ngelakuin yang aneh-aneh kan sama kamu, Ra?” tanya Della pada Amora. Ia jadi sedikit takut setelah mengetahui cerita kenakalan Bryan yang Fani paparkan.


“Gak ada yang aneh. Biasa aja. Lagian sebelum dia ngelakuin yang aneh-aneh, kalian sendiri kan tahu kalau aku pernah belajar bela diri sama kak Bara.” Tutur Amora sambil menggigit donat yang ia pegang.


“Iya juga sih. Untung kamu belajar kayak gitu sama kak Bara. Jadi kita juga gak terlalu khawatir.” Timpal Fio sambil memakan donatnya juga.


“Tapi tetep aja, Ra. Si Bryan itu orangnya licik. Soalnya aku punya kenalan di sekolah dia. Banyak yang bilang dia itu playboy yang suka ganti-ganti pasangan loh. Mantannya aja ada banyak.” Tutur Fani yang mengetahui hal tersebut dari beberapa informan kenalannya.


“Tenang aja guys, aku yakin dia gak bakalan ngelakuin yang aneh-aneh kok. Lagian udah keliatan dari gelagatnya juga kalo dia itu playboy cap kadal.” Ucap Amora tersenyum sinis. Ketiga temannya pun ikut tertawa mendengarnya. Setidaknya Amora bisa mengetahui bahwa Bryan itu bukan orang baik seperti yang mereka duga.


*


“Enaknya kemana ya?” tanya Amora sambil membolak-balikkan majalah yang menampilkan tempat-tempat wisata.


“Gimana kalo ke Disneyland?” usul Fani sambil melihat-lihat rekomendasi tempat wisata yang lainnya.


“Males ah bosen. Aku tuh capek kalo harus jalan-jalan jauh tuh.” Keluh Fio yang memang sangat manja dan malesan.


“Idih dasar manja,” Della menoyor kepala Fio.


“Panas tau,” balas Fio mengungkapkan alasannya.


“Gimana kalau kita ke puncak aja?” usul Amora langsung membuat Fio mengacungkan tangannya setuju.

__ADS_1


“Aku juga setuju sih. Kita butuh healing ke tempat yang sejuk gitu kayaknya.” Ucap Fani dan dijawab anggukan Della.


“Oke kalau gitu aku telpon Bunda dulu mau minta ijin pakai villa nya.” Ucap Amora. Tentu saja hal itu membuat ketiga temannya langsung berseru riang.


"Halo sayang, ada apa?" jawab seseorang lewat sambungan.


"Bun, Amora mau ijin liburan ke puncak sama temen-temen. Boleh gak kami pakai villa yang disana?" tanya Amora lewat sambungan telepon.


"Boleh dong sayang. Uang jajannya masih ada?"


"Masih kok, Bun. Uang jajan yang bulan lalu juga masih banyak kok." jawab Amora jujur.


"Oke kalau gitu udah dulu yah. Bunda masih banyak kerjaan. Have fun sayang," dan sambungan pun terputus.


"Yes, akhirnya kita bisa liburan. Sumpek ngurusin remedial mulu soalnya." keluh Fani sambil tiduran di kasur Amora yang empuk. Tak lama ponsel Amora berbunyi notifikasi. Amora sudah menduga satu hal. Setelah membuka ponselnya seperti dugaan Amora, terrnyata notifikasi tersebut menunjukkan uang transfer dari orang tua Amora masuk dalam jumlah yang besar.


Kemudian sebuah pesan masuk ke ponselnya.


(Jangan lupa belanja dan bersenang-senang ya sayang.


Bunda dan Ayah sayang kamu)


(Makasih Bunda dan Ayah. Padahal uang jajan Amora juga sudah cukup, kok.)


Amora bukanlah tipe yang senang menghambur-hamburkan uang. Justru ia lebih senang menabung semua uangnya. Namun orang tuanya selalu mentransfer dana yang tak sedikit untuknya. Mau tak mau Amora pun jadi sering berbagi untuk teman-temannya, karena tabungannya memang sudah cukup banyak.


"Oh ya, barusan aku dapet transferan. Gimana kalau disana kita barbeque-an?"


"Wah setuju pake banget!"


"Pesta barbeque! Asyik!.


"Tapi gimana kalau kita ajak cowok? Biar ada yang bagian bakar-bakarnya. Kita-kita sih slay aja, segala macam barang bawaan biar cowoknya yang bawain. Gimana?" usul Fio.

__ADS_1


Saat itu juga Amora langsung teringat dengan Bara. Kenapa rasanya ia sangat merindukan Bara. Andai dia ada disini, mungkin Amora akan mengajaknya tanpa pikir panjang.


***


__ADS_2