Menanti Pasangan Hati

Menanti Pasangan Hati
Cobaan


__ADS_3

Amora segera berlari keluar kelas menuju toilet ketika bel masuk berbunyi. Ia tak mau orang-orang melihatnya menangis, terutama Fani. Tak apalah jika ia bolos satu pelajaran. Masa bodo dengan image dia yang baik selama ini dalam pandangan para guru. Toh, tadi pagi pun ia sudah terkena hukuman. Amora sudah tak peduli lagi.


Bryan yang hendak kembali ke dalam kelas tak sengaja melihat Amora yang tengah berlari ke arah toilet. Ia pun diam-diam mengikutinya. Apa yang terjadi pada Amora? tanyanya dalam hati.


Amora langsung masuk ke dalam toilet dan menutup salah satu pintu toiletnya. Seketika tangisnya langsung tumpah, menggema ke seisi toilet. Untung saja toilet sedang dalam keadaan kosong sehingga Amora bisa leluasa menumpahkan sedihnya.


Bryan yang berada di luar toilet mendengar suara tangisannya. Tangisan yang sangat menyayat hati. Ada apa dengannya? Padahal sebelum istirahat dia baik-baik saja. Pikir Bryan.


*


Deri tiba-tiba ditelpon oleh nomor yang tidak dikenal. Ia mengerutkan keningnya bingung.


"Kenapa lo? Ditelpon siapa?" tanya Bondan. Deri hanya mengangkat kedua bahunya dan langsung menjawab panggilan tersebut.


"Halo?" tanya Deri.


"Ini gue." jawaban dari sambungan. Deri terkejut mendengar suara yang sudah sangat ia hafal itu.


"Bara?" pertanyaan Deri sukses membuat Bondan dan Yuda langsung menoleh dan menghampirinya.


"Ini beneran elo?" tanya Deri antusias.


"Iya ini gue," ucap Bara dengan nada tertawa.


"Wah gila elo kemana aja?" tanya Bondan langsung merebut ponsel Deri.


"Iya nih kalau ngilang bilang dulu dong. Kita kan jadi bingung." tutur Yuda sambil meraih ponsel itu dari Bondan.


Namun yang ditanya hanya tertawa. Ia sama sekali tak menjawab pertanyaan ketiga sahabatnya itu. Hening sesaat. Mereka tak ada yang berani buka suara. Tampak sedang dalam pikirannya masing-masing.


"Gue mau pergi." ucap Bara pada akhirnya.


"Pergi kemana? Ke luar negeri? Kan elo bisa balik lagi." ucap Deri sambil menekan tombol loud speaker agar Bondan dan Yuda juga bisa mendengar jawabannya. Hening. Tampaknya Bara menimang jawaban yang tepat untuk diutarakan.


"Nyokap gue kena tembak." Seketika Bondan, Deri dan Yuda membelalakkan bola matanya terkejut.


"Maksud lo?"


"Ada orang yang mau nyelakain nyokap gue." sambung Bara."

__ADS_1


"Terus sekarang gimana keadaannya?"


"Masih kritis."


Deri bukannya tidak tahu. Bara dan Amora sudah menjalin hubungan semenjak ia pergi untuk turnamen ke luar negeri. Mau tak mau ia memberanikan diri untuk bertanya.


"Terus, elo mau ninggalin si Amora gitu aja?" pertanyaan Deri membuat semuanya terkejut. Termasuk Bara. Sementara itu Bondan dan Yuda memasang telinganya lekat-lekat untuk mendengar jawaban Bara. Bara tampak menghela nafas dan kemudian berkata.


"Gue udah putus sama dia." jawabannya sangat mencengangkan ketiganya.


"Kok bisa?" tanya Bondan tak percaya. Ia berpikir bahwa Bara dan Amora adalah pasangan yang sangat serasi. Tapi tiba-tiba mereka malah harus berpisah.


"Gue terpaksa harus ninggalin dia." jawab Bara seolah pasrah. Bondan, Deri dan Yuda terkejut mendengarnya.


"Gue sih sebenernya gak mau ikut campur. Tapi, apa elo gak mikirin perasaan dia?" tanya Deri lebih intens.


"Kalau gue terus melanjutkan hubungan ini, gue takut Amora bakal jadi incaran orang yang berniat jahat ke keluarga gue, termasuk orang-orang yang deket sama gue. Gue udah pikirin ini mateng-mateng. Gue takut ada sesuatu yang buruk terjadi padanya jika gue terus mempertahankan hubungan ini." jelas Bara.


Deri yang mendengar jawaban Bara mencoba untuk lebih rasional. Memang sudah banyak berita yang menyiarkan tentang isu yang sedang menimpa perusahaan Atmanaja Group. Perusahaan ayah Bara, yang cepat atau lambat, Bara sendiri yang akan menjadi penerusnya.


"Sebelumnya sorry udah nyuruh kalian buat jagain dia. Gue sangat berterimakasih. Tapi untuk sekarang, tolong jangan ganggu dia." tutur Bara.


Aneh. Rasanya tak ikhlas jika hubungan Bara dan Amora berakhir. Padahal mereka awalnya sangat serasi bersama. Namun kenapa harus berpisah seperti ini? Mereka tak habis pikir sama sekali.


*


"Aduh, mata aku bengkak." gumam Amora di depan cermin wastafel. Ia membasuh wajahnya yang terlihat merah. Apalagi di bagian matanya terlihat sangat jelas.


Beberapa kali ia menarik dan menghembuskan nafasnya secara berulang. Ia mencoba tersenyum menatap pantulan dirinya di depan cermin tersebut. Ia harus kuat menghadapi ini semua. Karena hanya itu yang bisa ia lakukan untuk sekarang.


Dan ketika Amora berjalan keluar, ia dikagetkan dengan Bryan yang tiba-tiba muncul tepat di depannya. Kenapa dia ada disini? Batin Amora. Apa ia mendengar tangisannya? Karena Amora cukup lama menangis di dalam toilet.


"Bryan? Ngapain elo disini?" tanya Amora dengan suara lemah dan serak. Bryan malah tak menjawab. Ia hanya memandangi wajah Amora dari dekat.


"Ayo ikut gue." ucap Bryan menarik lengan Amora untuk mengikutinya.


"Kita mau kemana?" namun pertanyaannya sama sekali tak digubris oleh Bryan. Amora pun hanya pasrah mengikutinya.


Bryan menuju ruang UKS yang ia pernah lihat sebelumnya. Walaupun baru hari pertama di sekolah ini, Bryan tampak hafal dengan letak beberapa ruangan, salah satunya ruang UKS. Karena sebelumnya ia juga pernah dikenalkan oleh Amora saat acara pensi. Walau hanya sekedar menunjukkan beberapa ruangan saja.

__ADS_1


Bryan mengetuk pintu ruang UKS tersebut dan langsung memasukinya. Tampak seorang siswi yang tengah berjaga di ruangan tersebut. Ia tampak terkejut melihat kedatangan Bryan dan Amora.


"Ada yang sakit?" tanyanya.


"Ada. Boleh minta air es untuk mengompres?" pinta Bryan.


"Oh, tunggu sebentar." ucap siswi itu kemudian membawakan apa yang dimintanya.


"Thank you yah," ucap Bryan dan langsung dijawab oleh anggukan.


"Ayo sini," panggil Bryan pada Amora yang sedari tadi hanya diam mematung. Ia sama sekali tak tahu bahwa dirinya akan dibawa ke ruang UKS.


"Duduk sini," tutur Bryan langsung menarik lengan Amora pelan agar ia bisa mengompres wajahnya yang terlihat bengkak. Tampak sangat jelas di kedua matanya.


"Tutup mata lo." perintah Bryan membuat kening Amora mengkerut.


"Tenang aja, gue gak akan ngapa-ngapain elo kok." ucapnya seolah mengerti kegelisahan Amora.


Mau tak mau Amora menuruti perintah Bryan. Ia memejamkan kedua matanya. Wajahnya tampak merah karena habis menangis saat Bryan menatap wajah Amora lekat-lekat. Ia pun langsung mengompres wajah Amora pelan.


Rasa dingin menjalar dari seluruh wajah Amora yang sebelumnya terasa panas. Ini sangat menenangkan. Nyaman sekali rasanya.


"Gue boleh sambil tiduran gak?" pinta Amora dengan suara lemahnya.


"Boleh." Setelah itu Amora langsung membaringkan tubuhnya di atas ranjang yang memang sudah tersedia di ruangan tersebut.


Bryan pun melanjutkan kembali mengompres wajah Amora. Kali ini Amora tampak memejamkan matanya tanpa diperintah. Sebenarnya ia ingin sekali menanyakan penyebab dirinya menangis. Namun urung.


Tak lama Bryan selesai membantu mengompresnya. Ia menyerahkan kembali alat kompresnya pada siswi penjaga UKS.


"Makasih ya." ucap Bryan.


"Sama-sama, Kak." jawab siswi itu.


"Itu pacar kakak yah? So sweet banget." tuturnya sambil melihat ke arah Amora yang tampak tertidur.


Bryan tidak menjawab pertanyaan siswi itu dan malah menghampiri Amora. Ia menatap wajah Amora yang tertidur. Beban apa sebenarnya yang Amora hadapi? Tampaknya sangat berat. Namun semua pertanyaannya itu hanya bisa ia pendam seorang diri. Menunggu waktu yang tepat.


Bryan pun mengelus pelan rambut Amora.

__ADS_1


"Tidur yang nyenyak yah." ucapnya sambil memakaikan selimut pada tubuh Amora.


***


__ADS_2