
Sepeninggal Bryan, Amora langsung menikmati cake pesanannya yang telah dihidangkan di atas mejanya. Rasanya baru pertama kali lagi ia memakan cake yang manisnya pas seperti ini. Memang benar ucapan Bryan bahwa kafe ini adalah kafe terbaik untuk desert.
Namun sebuah berita yang tengah tayang di televisi kafe tersebut membuat Amora langsung menghentikan makannya.
‘Sebuah kabar duka baru saja terjadi pagi ini. Pemilik perusahaan Maurine Group dikabarkan meninggal dunia. Polisi menemukan mobil CEO Maurine Group beserta istrinya tenggelam di dalam danau.’
Jantung Amora berdetak dengan sangat kencang. Matanya terasa berkunang-kunang. Keringat dingin langsung membanjiri tubuhnya.
“Gak mungkin.” Gumam Amora ketika melihat tayangan televisi itu menampilkan mobil yang dipakai kedua orang tuanya ketika pamit padanya.
“Kenapa bisa seperti ini?” air matanya tak dapat dibendung lagi. Hatinya beribu kali seperti dihujam kenyataan pahit yang bertubi-tubi. Mengapa rasanya dunia sedang tidak adil padanya.
‘Beberapa bukti yang polisi temukan menyimpulkan bahwa kejadian ini murni akibat kecelakaan tunggal. Untuk informasi selengkapnya, kami akan mewawancarai pihak polisi yang berhasil menemukannya.’
Siaran yang ada di televisi kafe tersebut tampaknya membuat hampir seluruh pelanggan disana tertarik dengan beritanya. Sedangkan Amora yang masih berada dalam lamunannya mulai mengerti mengapa ketiga teman dekatnya itu tidak membalas pesannya. Ia harus segera pulang.
Tanpa aba-aba Amora langsung bergegas meninggalkan kafe tersebut. Setelah di luar, ia segera menghentikan taksi yang hendak melewatinya. Amora langsung memberi tahu alamat yang dituju pada sopir tersebut dan mobil pun melaju mengantar Amora ke rumahnya. Hatinya masih berdebar tak karuan, berharap berita yang didengarnya itu hanya mimpi. Tak boleh jadi kenyataan.
*
Bryan kelimpungan mencari-cari keberadaan Amora. Kemudian ia bertanya kepada kasir kemana Amora pergi.
“Oh, barusan dia keluar sepertinya langsung pergi naik taksi.” Papar kasir perempuan tersebut. Setelah Bryan membayar makanannya, ia pun bergegas keluar dan masuk ke dalam mobilnya.
Mobilnya langsung dipacu dengan kecepatan tinggi. Ia merasa gagal untuk melindungi Amora. Namun harus ia akui, berita tentang kedua orang tuanya pasti sudah menyebar di beberapa stasiun televisi. Jadi cepat atau lambat ia memang akan mengetahui hal ini. Semoga saja Amora tetap tegar menghadapinya, doa Bryan dalam hati.
“Kayaknya dia udah tahu soal orang tuanya,” tutur Bryan di sambungan teleponnya.
“Terus sekarang Amora dimana?” tanya Fani dengan nada khawatir.
“Di taksi, menuju sana.” Ucap Bryan dan langsung menutup sambungannya. Pikiran ia hanya tertuju pada Amora yang masih belum pulih sepenuhnya. Ia langsung menginjak gas melaju dengan kencang.
__ADS_1
*
Taksi yang Amora tumpangi sudah berhenti tepat di depan gedung rumahnya. Beberapa pihak polisi berlalu lalang keluar masuk ke dalam rumah Amora. Ia pun turun dan mendatangi salah satu polisi yang tampak sedang mengeluarkan beberapa barang bukti yang ditinggalkan kedua orang tua Amora. Langkah kaki Amora sangat ringan dengan pandangan yang masih buram.
“Apa yang terjadi?” tanya Amora dengan suara bagai angin saat menghampiri sang polisi.
“Apa anda nona Amora?” tanya balik polisi tersebut seolah memastikan. Amora hanya mengangguk dengan lemah.
“Bisa ikut saya sebentar?” tawar sang polisi dan Amora hanya mengikutinya dari belakang.
Setelah mereka sampai di salah satu gajebo yang ada di taman rumah Amora, sang polisi langsung menjelaskan maksud dan tujuannya.
“Perkenalkan, nama saya Reno. Panggil saja mas Reno. Saya detektif yang akan menyelidiki kasus orang tua anda.” Ucap lelaki tersebut yang ternyata adalah seorang detektif.
“Mohon maaf, apa saya boleh mewawancarai anda sebentar?” tanya Reno melihat Amora yang seolah pikirannya entah kemana. Tak lama Fani menghampiri mereka berdua dengan terengah.
“Maaf mas Reno, biar saya saja yang diwawancara.” Ucap Fani.
Fani melihat wajah Amora yang pucat dengan pandangan kosong. Ia pun berbisik tepat di telinga Reno.
“Dia baru pulang dari rumah sakit. Jadi saya mohon untuk tidak mewawancarainya untuk saat ini.” Mohon Fani ketika mengucapkannya. Reno pun seolah baru menyadari raut wajah Amora yang pucat.
“Maaf nona Amora. Mungkin lain kali saja saya akan wawancaranya.” Ucapnya dan saat itu juga panggilan telepon membuatnya meninggalkan Amora dan Fani karena ada urusan lainnya.
Dengan perlahan Fani menepuk bahu Amora agar ia tersadar dari lamunannya.
“Ra?” panggil Fani pada Amora.
“Fani?” ucap Amora ketika melihat Fani tiba-tiba ada di depannya. Seketika itu juga ia langsung memeluk sahabatnya dengan penuh tangisan. Ternyata semua ini bukanlah mimpi. Fani yang melihat Amora terguncang hanya bisa mengelus-elus punggungnya mencoba memberi kekuatan padanya.
Ayah dan Bunda benar-benar pergi dari kehidupan Amora. Rasa sakit di dadanya membuat Amora makin tersadar bahwa kejadian ini memang nyata. Ia kini tinggal sebatang kara. Pandangannya mulai berkabut dan perlahan menjadi gelap. Fani menyadari tubuh Amora yang limbung dan langsung ditahannya. Namun tubuhnya tak mampu bertahan lama menahan tubuh Amora.
__ADS_1
“Amora!” teriak seseorang dan langsung menghampirinya.
“Bryan? Tolong Amora pingsan,”
“Biar gue yang bawa dia.” Ucap Bryan dan langsung mengangkat tubuh Amora membopongnya.
“Tunjukin gue kamar dia,”
Fani yang mendengarnya langsung mengangguk dan segera menuntun Bryan ke kamar Amora yang terletak di lantai atas. Nampak bi Siti tengah turun dari lantai atas baru saja diwawancarai oleh pihak polisi. Ia pun kaget melihat Amora dalam keadaan tak sadarkan diri.
Setelah sampai di dalam kamar Amora, Bryan membaringkan tubuh Amora perlahan di atas kasurnya. Ia pakaikan selimutnya untuk menutupi Amora agar tetap hangat.
“Aku ambil minum sama minyak angin dulu yah.” Ujar Fani langsung keluar kamar menemui bi Siti.
Sementara itu Bryan melepaskan alas kaki yang dikenakan Amora agar dirinya bisa nyaman dalam tidurnya. Baru saja sampai, Bryan langsung dikagetkan dengan kondisi Amora yang langsung drop ketika melihatnya. Untung saja ia bisa datang tepat waktu untuk menolongnya.
“Ra, bangun,” Bryan menepuk-nepuk pelan pipi Amora yang dingin. Tangan Amora juga terasa dingin saat ia genggam. Bryan mencoba menggosokkan kedua tangannya memberi kehangatan pada telapak tangan Amora.
“Ini minumnya.” Ucap Fani sambil menyodorkan segelas teh manis hangat pada Bryan. Ia pun langsung menggunakan sendok untuk membantu meminumkannya pada Amora. Fani menggenggam tangan Amora dengan wajah sedih melihat keadaan sahabatnya itu.
Tak lama Amora membuka matanya perlahan. Bryan langsung membantu Amora untuk duduk bersandar.
“Mau minum lagi?” tawar Bryan menyodorkan teh manis di hadapan Amora. Amora hanya mengangguk pelan dan meminumnya. Enarginya terasa sedikit pulih kembali setelah teh manis hangat itu membasuhi kerongkongannya.
“Amora pengen bareng ayah sama bunda.” ujarnya tiba-tiba berkata seperti itu pada kekosongan. Hati Bryan seolah teriris mendengar perkataannya barusan. Pandangan mata Amora kosong. Tangannya tiba-tiba terangkat ke depan seolah hendak menggapai sesuatu. Bryan yang merasa khawatir dengan keganjilan tersebut langsung menarik tangan Amora yang terangkat itu ke dalam pelukannya.
“Gak boleh.” Tutur Bryan dibalik punggung Amora. Ia memeluk Amora erat seolah tak mau kehilangan dirinya.
“Elo harus kuat. Ada gue disini,” saat Bryan mengucapkan kata-kata itu, Amora langsung terisak dan membalas pelukan Bryan. Tangisannya pecah tak bisa terbendung lagi. Bryan merasakan dadanya menghangat karena lelehan air mata Amora. Ia makin mendekap erat Amora, seolah memberikan kekuatan padanya. Bahwa masih ada orang yang menyayanginya.
***
__ADS_1