Menanti Pasangan Hati

Menanti Pasangan Hati
Keputusan #2


__ADS_3

Sekretaris Arman datang menghampiri dengan tergesa.


"Maaf, Pak. Saya datang terlambat," ucapnya sambil terengah.


"Tidak papa. Bagaimana dengan berkas-berkas yang saya minta?" tanya Arman.


"Semuanya sudah saya urus. Untuk pengobatan Bu Mona juga sudah disiapkan disana."


"Bagus." ucap Arman karena memang sekretarisnya itu sangat bisa diandalkan untuk urusan perusahaan maupun urusan pribadinya.


Bara yang mendengarkan percakapan itu bingung dengan maksud yang mereka bicarakan.


"Maaf, Pah. Maksudnya apa ya?" tanya Bara.


"Kita harus segera meninggalkan Indonesia." ucapnya sibuk dengan layar ponselnya.


"Enggak, Pah." tolak Bara tegas. Ia tak mau meninggalkan Amora. Ia bahkan belum berkencan setelah mereka menjalani hubungan. Bara tak mau hubungannya berakhir seperti ini.


"Berita perilisannya terbit besok pagi. Waktu kita hanya sedikit. Kita harus segera bergegas." ucap sang sekretaris.


"Berita apa maksudnya?" tanya Bara makin bingung.


"Perusahaan Atmanaja Group sedang diberitakan kabar tak enak. Ada yang memfitnah tentang kita. Sehingga nilai perusahaan sedang turun dengan drastis." jelas Arman.


"Satu-satunya cara menyelamatkan perusahaan adalah dengan meminta bantuan para investor di luar negeri. Itu pun jika mereka bersedia membantu." sambungnya.


Bara sama sekali tak berniat untuk meninggalkan Amora. Ia akan tetap berada di Indonesia. Biarlah kedua orang tuanya berada di luar negeri, tapi ia akan tetap tinggal disini.


"Bara gak akan kemana-mana," ucap Bara hendak pergi.


"Bara!" teriak Arman membuat Bara terhenti. Karena baru kali ini ia dibentak seperti itu.


"Oh, jadi sekarang Papah lebih memilih perusahaan dibanding keluarga?" tanya Bara mulai membantah. Ia pun heran kenapa sang ayah bisa sampai membentaknya. Karena seumur hidup, sang ayah selalu memberi wejangan yang membuatnya selalu mengagumi ayahnya itu. Namun saat ini wibawanya terasa luntur seiring sentakan dari sang ayah.


"Ini demi keselamatanmu dan demi keselamatan orang yang kamu sayang!" ucap Arman dengan nada tak bisa dibantah


"Kamu tahu kenapa hal ini bisa terjadi? Karena Papah udah gagal menyembunyikan identitas kalian!" ucap Arman dan membuatnya seolah menyesal. Tubuhnya hampir ambruk namun berhasil ditahan oleh sekretarisnya dan membawanya untuk duduk.

__ADS_1


"Banyak pesaing perusahaan yang terus mencari kelemahan papah demi menghancurkan nama baik Atmanaja Group. Entah itu melukai anggota keluarga bahkan membunuhnya." ucap Arman mulai meredakan amarahnya.


"Papah gak mau terjadi apa-apa terhadapmu karena gak ada dalam jangkauan papah jika kamu tetap disini. Dan secara tidak langsung, kamu juga akan membahayakan orang yang kamu sayang." ucap Arman tepat di manik mata Bara.


Jantung Bara langsung berdetak dengan kencang. Seketika itu juga ia takut terjadi sesuatu hal yang buruk pada Amora. Tapi ia pun sangat berat untuk meninggalkannya.


"Baiklah, terimakasih." ucap sekretaris Arman yang bernama Haris sambil menutup panggilan ponselnya.


"Kita harus segera pergi. Pesawat kita sudah hampir siap." tutur Haris pada Arman.


"Bara, kita harus segera.."


Bara langsung berlari sebelum Arman sempat memerintahkannya untuk segera pergi. Ia berlari keluar rumah sakit dengan cepat.


"Bara!" teriak Arman melihat punggung Bara yang mulai menjauh.


"Pergilah. Awasi dia," titah Arman pada Haris.


"Baik, Pak." ia pun segera bergegas mengikuti Bara.


Sementara itu Arman kembali menatap Mona yang tengah berjuang mengatasi kritisnya.


*


"Neng Amora belum tidur?" tanya bi Siti melihat Amora yang masih duduk di kursi ruang tamu.


"Amora belum ngantuk, Bi." ucap Amora dengan seutas senyuman.


"Kalau gitu bibi tidur duluan yah, soalnya udah malem. Kalau ada apa-apa bangunin bibi aja."


"Iya, Bi."


Sepeninggal bibinya, Amora kembali berpacu dengan pemikirannya. Ia terus menatap ponselnya berharap seseorang yang ia tunggu mengabarinya. Apakah ia masih di luar negeri atau sudah di Indonesia?


Walaupun begitu Amora malu untuk menanyakannya, ia hanya akan menunggu saja. Tapi tiba-tiba ponselnya berdering tanda pesan masuk. Dan betapa terkejutnya Amora melihat siapa yang mengiriminya pesan.


"Kak Bara?" gumam Amora sambil membuka isi pesannya

__ADS_1


(Kakak udah di Indonesia. I will come to you right now.)


Amora langsung menutup mulutnya tak menyangka bahwa Bara akan menemuinya saat ini juga. Rasa senang dan bahagia langsung menyelimuti dirinya. Rindu yang selama ini menghantui pikirannya akan segera tertuntaskan.


Amora langsung merapihkan pakaiannya dan rambutnya. Ia tidak boleh menemui Bara dengan penampilan yang tak rapih dalam pandangannya. Jantungnya berdetak dengan cepat membayangkan pertemuan pertama kali mereka setelah menjalin hubungan.


Setelah Amora merasa penampilannya sudah siap untuk menemui Bara, bel rumahnya tiba-tiba berbunyi. Jantung Amora makin tak karuan. Ia pun segera berlari keluar rumah dan ke halaman depan untuk membukakan pintu gerbang.


*


Rasanya malam ini merupakan pertemuan pertama dan terakhir kalinya bagi Bara setelah menjalin hubungan dengan Amora. Ia tak mau meninggalkannya sama sekali. Tapi Bara harus tetap melakukannya demi keselamatan Amora. Berat memang, tapi ini adalah jalan terbaik untuknya.


Setelah sampai di depan gerbang rumah Amora, hatinya sakit tak tertahan merasakan perpisahan yang menyakitkan ini. Memencet bel rumahnya pun terasa berat baginya.


*


"Kak Bara?" mata Amora membulat melihat Bara yang saat ini sudah berada tepat di hadapannya. Sementara itu tanpa basa-basi Bara langsung memeluk Amora dengan sangat erat, begitupun sebaliknya.


Amora begitu nyaman berada dalam dekapannya. Aroma maskulin dari tubuh Bara membuat candu dirinya, teringat pertama kali ia didekap oleh Bara saat kejadian bersembunyi dari penjaga gerbang karena mereka telat masuk sekolah. Amora beribu kali sangat bahagia karena kini lelaki itu sudah menjadi kekasihnya.


Sementara itu Bara memeluk erat Amora, namun hatinya berdenyut sakit karena harus meninggalkan Amora untuk yang kedua kalinya. Namun untuk kali ini, ia tak tahu kapan Bara akan kembali bertemu dengannya.


"Kakak kapan kembali? Kok gak ngabarin Amora?" tanya Amora mendongak menatap wajah Bara. Entah kenapa rasanya Amora sangat nyaman jika bermanja dengannya.


"Baru tadi." ucap Bara menutupi apa yang sedang terjadi padanya.


"Jadi kakak kebelet kangen sama Amora yah sampai-sampai langsung nemuin Amora kemari," ucap Amora memperlihatkan senyuman termanisnya.


"Kenapa gak besok aja kakak kesini? Kita kan punya banyak waktu," ucapan Amora membuat hati Bara tertusuk. Ia hanya diam tak mampu menanggapi Amora. Ia tak mau membuat senyum Amora pudar. Karena rasanya nyaman dan bahagia hanya karena melihat senyumannya.


"Besok kita kencan yah. Pokoknya besok adalah hari kita bersama-sama seharian. Titik. Kak Bara harus bayar hutang rindu yang udah menumpuk sama Amora." ucap Amora panjang lebar. Bara hanya terdiam mendengarkan. Bagaimana ini? Ia tak mampu membuatnya kecewa.


"Pertama-tama kita harus pergi nonton, makan, ke tempat rekreasi, terus...." sebelum Amora melanjutkan penuturannya, Bara langsung menarik dagu Amora dan mendaratkan bibirnya di bibir Amora.


Mata Amora membulat sempurna menyadari apa yang sedang terjadi saat bibirnya dikecup. Tubuhnya seketika kaku, kedua tangannya meremas baju Bara. Apa ini? Batin Amora. Kenapa rasanya sangat manis merasakan sentuhan bibir Bara yang lembut ******* bibirnya.


Kecupan itu lebih menuntut dan dalam. Amora yang mulai terbuai secara alamiah memejamkan kedua matanya dan mulai membalas ciuman Bara. Baginya itu adalah ciuman pertama Amora, namun bagi Bara ciuman itu merupakan ciuman perpisahannya.

__ADS_1


***


__ADS_2