Menanti Pasangan Hati

Menanti Pasangan Hati
Kejadian Tak Terduga


__ADS_3

Bara dan semua delegasi dari Indonesia kembali ke hotel penginapan mereka. Setelah perayaan kemenangan itu, semua orang kembali ke kamar hotelnya masing-masing. Namun masih ada beberapa pelatih yang masih berada di ruangan untuk merayakan kemenangan tim Indonesia.


Bara memilih kembali ke kamarnya dan membersihkan badannya terlebih dahulu. Setelah rapih, ia pun langsung memilih duduk bersandar di kursi santai yang ada di kamar tersebut. Medali emas itu ia tatap lagi sambil tersenyum senang. Ia akan menunjukkannya pada Amora dan kedua orang tuanya.


Tak lama ponselnya berdering, ada panggilan video di grupnya. Bara langsung mengangkatnya.


"Gimana, Bar? Juara gak? Kita-kita kepo nih." ucap Deri. Bara langsung menunjukkan medali emas yang ada di genggamannya.


"Emas nih, Bro." ucap Bara dengan bangga.


"Widih, selamat ya Bar, gue bangga sama elo." ucap Amir sangat senang mengetahui Bara menjuarai karate tingkat internasional.


"Akhirnya Indonesia punya jagoan nih." timpal Faisal. Iapun bangga karena teman satu pelatihannya itu bisa sampai ke tahap ini.


"Bar, cewek-cewek disana gimana? Cakep-cakep gak?" berbeda dengan yang lainnya, Yuda malah menanyakan seputar perempuan.


"Otak elo emang cuma isinya cewek doang yah." sergah Deri.


"Lah kan gue normal. Kecuali kalau gue nanyain cowok, baru gue gak normal."


"Terserah elo aja dah."


Pertengkaran kecil itu malah membuat Bara tertawa. Tawa pertama kali setelah beberapa rangkaian pertandingan yang ia lalui. Bara merasa beruntung mempunyai kawan seperti mereka. Tapi tiba-tiba terlintas bayangan Amora di dalam pikiran Bara, tentang bagaimana kabarnya, ia sedang melakukan apa, Bara sangat penasaran tentang itu semua.


"Oh iya guys, gue mau minta tolong satu hal sama kalian. Ini mengenai Amora." ucap Bara mulai serius. Teman-temannya pun langsung memakai mode serius mendengar permohonan Bara.


"Tolong apa, Bar?" tanya Bondan.


Bara pun memberitahukan tentang permohonannya untuk Amora. Walaupun merasa sungkan, akhirnya Bara meminta teman-temannya untuk membantu ia untuk mengawasi Amora. Bara juga merasa dirinya sangat aneh setelah ungkapan cintanya pada Amora saat di bandara waktu itu.


Sebenarnya saat itu Bara melihat seorang laki-laki berdiri tepat di belakang Amora. Tatapannya sangat berbeda dengan tatapan orang pada umumnya. Bara melihat ada hal lain dari tatapan laki-laki tersebut. Maka dari itulah Bara terdorong untuk mencium kening Amora saat akan berpisah dengannya di bandara.


Mungkin bisa dikatakan ia mulai Protektif karena kini Bara dan Amora bisa dikatakan sudah memiliki hubungan. Sehingga Bara akan sekuat mungkin untuk menjaga apa yang sudah menjadi miliknya.


"Ah elah, Bar. Gue kira apaan. Tenang aja, gue udah jadi informan terpercaya nih." ucap Deri berbangga diri.

__ADS_1


"Seriusan loh?" tanya Bara tak percaya.


"Gimana gak jadi informan, ini anak lagi pedekate sama si Fio." jelas Bondan.


"Serius si kutu buku sekarang udah mulai tertarik sama cewek?" ujar Yuda tak percaya.


"Kayaknya gara-gara elo kasih video itu deh." ucap Amir dan dibalas kerlingan Faisal.


"Sejak kapan elo deket sama dia?" tanya Bara mulai penasaran.


"Sejak acara pensi." jawab Deri.


"Nah setahu gue, dia sama temen-temennya mau ada acara di puncak." sambungnya.


"Kapan?" tanya Bara.


"Besok. Kita-kita sih udah diajak." jawab Deri dengan senyum menyeringai.


"Yah, elo gak diajak dong." ucapnya berpura-pura bersedih untuk mengerjai Bara.


Setelah percakapan yang cukup lama itu, mereka pun mengakhiri panggilan videonya. Satu hal yang membuat Bara tenang, sekarang Amora sudah aman bersama teman-temannya. Karena bagi Bara, mereka adalah mata-mata yang sangat bisa diandalkan.


Tiba-tiba ponsel Bara berdering kembali, tanda ada panggilan masuk. Bara melihat nama kontaknya dan langsung tersenyum sambil mengangkat panggilannya.


“Bara dapet juara satu dong, Mah.” ucap Bara menyombongkan dirinya pada Mamahnya.


Namun tak ada jawaban di seberang sambungan. Malah terdengar suara tangis yang menyayat hati. Jantung Bara langsung berdegup kencang tak karuan. Feeling nya mengatakan ada yang tidak beres pada mamahnya.


“Den Bara. Nyonya….” Ucap seseorang di seberang sambil menahan tangisan.


“Ada apa, Bi?” tanya Bara mulai khawatir dengan Mamahnya.


“Nyonya tadi pergi, Den. Gak tau kemana. Terus tiba-tiba ada telepon masuk dari ponsel nyonya, tapi suaranya malah laki-laki.” Jelas ART tersebut. Ia menjelaskan bagaimana kejadian awal mula mereka kehilangan majikannya itu hingga dugaan penculikan.


“Makasih infonya, Bi.” Ucap Bara menutup ponselnya. Rasa khawatir menyergap pikirannya. Ia langsung mencari-cari jadwal penerbangan tercepat untuk saat ini. Dan ternyata ia menemukannya dan langsung melakukan pembelian tiket pesawat secara online. Ia harus segera pulang ke Indonesia.

__ADS_1


*


Di suatu tempat, seseorang tengah merencanakan niat liciknya untuk menghancurkan perusahaan yang selama ini menjadi saingannya. Laki-laki itu duduk sambil menyemburkan asap rokoknya dan menatap perempuan yang tengah diikat oleh anak buahnya. Kondisinya masih belum sadar akibat obat bius yang diberikan kepada perempuan itu.


“Kita tunggu kabar dulu dari dia. Buat kesepakatan sesuai dengan harga nyawa perempuan itu.” Ucapnya. Tak lama perempuan tersebut bergerak dan membuka matanya.


"Siapa kalian? Apa mau kalian?" tanyanya dengan nada ketakutan menyadari kondisi dirinya dan dimana ia berada.


"Kamu gak usah tahu siapa kami. Jika kamu ingin tahu, tanyakan pada suamimu yang sudah merebut banyak investor dariku." ucap lelaki itu dengan mata penuh dendam.


*


Bara langsung menghubungi papahnya, namun sepertinya papahnya sedang berada dalam panggilan lain saat ia mencoba menghubunginya. Bara pun mencoba menghubunginya kembali. Dan tak lama panggilannya langsung diangkat.


"Pah, mamah sepertinya dalam keadaan bahaya." ucap Bara mencoba menjelaskan informasi yang didapat dari ART nya.


"Papah sudah tahu. Sebaiknya kita segera ke Indonesia. Setelah sampai, kita ketemu di bandara. Untuk sekarang jangan pernah berpencar dulu. Kita gak tau apa rencana mereka ke depannya."


"Baik, Pah." ucap Bara dan segera bergegas mengemas barang bawaannya ke dalam koper. Tak lupa juga ia meminta ijin untuk pulang duluan pada Sensei dan menjelaskan alasannya. Teman-temannya yang sama-sama dari delegasi Indonesia pun tak luput untuk mengucapkan salam perpisahan terlebih dahulu.


Bara tak mau mengganggu acara perayaan walaupun yang menjadi tokoh utama dalam perayaan tersebut harus pulang lebih awal ke negara asalnya. Yang ada dibenak Bara saat ini adalah rasa khawatirnya terhadap mamahnya.


"Sapa gue kalau ketemu di jalan yah."


"Gue gak akan lupa sama jasa elo udah mengharumkan nama negara kita."


"Iya, semoga kita gak terputus tali silaturahmi nya."


"Hubungi gue kalau perlu bantuan."


"Thank you semuanya. Gue balik duluan yah." ucap Bara bergegas meninggalkan teman-teman barunya itu.


"See you next time." Bara pun langsung pergi meninggalkan teman-teman dan pelatihnya setelah acara pamitan tersebut.


***

__ADS_1


__ADS_2