Menanti Pasangan Hati

Menanti Pasangan Hati
Lepas Kontrol


__ADS_3

Bryan memasuki kamar Amora dengan ragu. Sebenarnya ia sudah pernah ke kamarnya waktu kedua orang tua Amora meninggal dulu. Itu pun tak hanya ada dia melainkan ada teman-temannya juga. Tapi sekarang suasana itu tampak berbeda. Hanya ada ia dan dirinya saja. Sebisa mungkin ia akan menahan gejolak di dadanya.


“Elo mau minum apa?” tanya Amora tanpa menatap Bryan. Ia tengah fokus dengan ponselnya mengontak para sahabatnya untuk segera datang.


“Apa aja deh.” Jawabnya sambil duduk di salah satu kursi santai di ruangan tersebut. Amora pun pergi ke mini pantry di lantai atas untuk mengambil minuman dikarenakan tak ada bi Siti di rumah. Mungkin ia sedang membeli sesuatu di luar, pikirnya.


“Nih, minumnya.” Amora menyerahkan segelas jus strawberry untuknya. Bryan pun menenggak habis minuman untuknya itu.


“Haus lo?” Amora terkejut melihat kelakuan Bryan.


“Iya haus gue. Pake banget!” jawab Bryan. Ia memang haus. Namun haus dalam makna lain.


“Harusnya ngomong dong dari tadi. Atau elo ngambil sendiri aja di pantry. Anggap aja rumah sendiri.” Ujar Amora sambil fokus kembali ke ponselnya.


“Kagak bisa, gue masih kagok. Lagian di rumah elo lagi sepi gini, gue takut aja.”


“Ya elah, Bryan. Gue gak akan nuduh elo macem-macem kok.” Kening Bryan berkerut. Sepertinya Amora salah paham maksud perkataannya. Tapi biarlah.


“Oh iya sambil nungguin yang lain dateng, ceritain dong tentang elo waktu jaman dulu.” Ucap Amora antusias.


“Cerita apaan?” kening Bryan mengkerut.


“Ya soal percintaan elo, atau soal kelakuan nakal elo gitu.” Tuturnya.


Bryan pun mendekat ke arah Amora yang sedang telungkup di kasurnya. Perlahan ia duduk di samping Amora. Hanya duduk. Tak mau lebih. Bergerak pun rasanya kaku. Kenapa Amora malah telungkup seperti itu memperlihatkan kaki putihnya yang mulus. Yang lebih menggoda imannya lagi, roknya tersingkap hampir naik ke atas.


“Sialan. Badan gue makin panas aja.” Batin Bryan langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain.

__ADS_1


“Kok diem aja sih? Sini sama gue. Katanya mau cerita kan?” tutur Amora menepuk kasurnya memberikan kode agar Bryan berada di sampingnya. Padahal tanpa Amora ketahui, Bryan tengah bergelut dengan hasratnya. Mencoba menahan godaan yang ada di depannya. Yaitu dirinya.


“Bryan! Sini ih!” pinta Amora. Bryan menyerah. Kesabarannya sudah diangka 0. Ia tak bisa menahannya lagi. Amora berguling sehingga posisinya kini telentang bebas. Hal yang akan membuatnya menyadari kebodohannya telah memancing harimau yang sedang kelaparan. Memancing orang yang sedang kehausan akan penuntasan.


Mata Amora membelalak sempurna menyadari apa yang sedang Bryan lakukan padanya. Gak. Gak mungkin. Ini salah. Tapi kenapa? Kenapa tubuhnya seolah tak mampu menolak apa yang sedang Bryan lakukan padanya?


Refleks mata Amora terpejam merasakan bibirnya yang lembut bagai kue mochi dan manis bagai strawberry menyentuh bibirnya. Ah, ia ingat bahwa Bryan memang baru saja meminum jus strawberry sehingga rasa bibirnya sangat manis. Lenguhan itu mulai keluar dari mulut Amora tatkala Bryan mengabsen lehernya.


Bryan makin kalap. Hasratnya semakin membuncah. Gak bisa! Gue harus bisa kontrol! Ah sial! Tubuhnya tak bisa diajak berkompromi untuk menyudahi ini semua. Namun dengan semua tekad dan akal sehatnya, ia pun menghentikan aksinya itu dengan sekuat tenaga. Nafasnya masih terengah sambil memandang wajah Amora yang berada di bawahnya.


“Elo harus tahu, kalau gue itu cowok. Gue punya hasrat sebagai lawan jenis lo.” Tutur Bryan dengan nada yang terdengar sensual. Namun Amora hanya menatapnya dengan nafas yang juga masih tak beraturan.


“Jangan pernah pancing gue lagi.” Ucapnya.


Amora menjawabnya dengan anggukan yang kaku. Wajahnya pun masih memerah. Bekas remasan tangan di baju Bryan menjadi saksi bisu bahwa mereka berdua sudah terlena dalam permainan. Bryan pun bangkit dari ranjang tersebut. Mengambil tasnya yang tersampir di atas kursi santai. Ia harus cepat-cepat pergi dari situ, agar hal yang tak diinginkan tak terjadi lagi.


Sementara itu Amora masih mengerjapkan kedua matanya. Berusaha meraih kesadarannya kembali setelah kejadian yang singkat itu menelan kewarasannya. Ia terlena. Terbawa suasana yang Bryan ciptakan. Dan sedetik kemudian ia berteriak dengan histeris dibalik selimutnya.


“Aaaaaaa! Amora bodoh! Amora bego! Kenapa malah diem aja sih?!” teriaknya sambil memukul kepalanya. Ia terdiam dan mengingat kejadian barusan. Nafasnya pun kembali membara. Wajahnya memerah membayangkan peristiwa singkat yang menimpa dirinya.


“Aduuuuh! Aaa! Malu banget sih! Mana tubuh gue refleks ngikutin ritme dia lagi. Ya ampun! Astaga!” Tak bisa dipungkiri kini hati Amora berdebar. Ia bingung kenapa seperti ini jadinya. Bryan itu adalah temannya. Tapi kenapa malah begini? Batin Amora bertanya-tanya.


Sore hari pun tiba. Fani, Della dan Fio baru sampai di rumah Amora. Mereka meminta maaf sudah datang terlambat karena ada urusan mendadak. Amora sangat tahu betul apa urusan mendadak yang mereka maksud. Tak lain dan tak bukan pasti bersangkutan dengan Deri, Bondan dan Yuda. Sudah bisa ditebak.


“Ini kita bawain tteokbeokki dan milkshake strawberry deh sebagai permintaan maaf.” Ucap Fio mewakili yang lain. Amora masih tak bergeming sambil melipatkan kedua tangannya. Berpura-pura sedang berpikir.


“Hem.. Oke deh deal.” Jawab Amora membuat suasana menjadi nyaman kembali.

__ADS_1


“Untung kalian bawain makanan dan minuman favorit aku. Kalau gak bawa, mau ngambek aja deh sama kalian.” Ucap Amora sambil menyantap tteokbeokki nya yang sedari tadi sudah membuatnya ngiler.


“Emang si Bryan gak disini? Aku kira dia mau ikut kumpul.” Ucapan Fani membuat Amora terdiam seketika.


“Dia udah balik, Ra?” tanya Fani. Namun Amora masih bungkam. Dan tak lama setelah beberapa saat menimbang-nimbang, akhirnya Amora buka suara.


“Dia.. Em..." Amora pun menceritakan kejadian tadi siang kepada para sahabatnya. Semuanya sontak membulatkan matanya lebar-lebar dan mulutnya menganga terkejut.


"Ya ampuuuun!"


"Astagaaaaaa!


"Gilaaaaa!"


Ketiga kawannya sontak terkejut mendengar penuturan Amora. Mereka mengira bahwa Bryan tidak akan senekat itu pada Amora. Tapi tampaknya memang Amora lah disini yang memancingnya karena ketidaktahuannya. Ya, mau bagaimana lagi. Yang terjadi sudah terjadi.


"Aku juga masih gak nyangka dia bisa kayak gitu, Guys. Padahal kan kami berdua itu teman. Kenapa bisa kayak gitu coba?" tanya Amora sambil berpikir.


"Ya elah, Ra. Emang kamu gak tahu apa kalau si Bryan itu suka sama kamu?" ucapan Della membuat Amora terkejut tak percaya.


"Suka? Gak mungkin, Del. Dia gak mungkin suka sama aku." ucap Amora cengengesan.


"Semua orang tahu kalau dia selalu perhatian sama kamu, Ra." tutur Fio.


"Tapi kan emang kami berdua itu teman. Jadi sudah sewajarnya dong untuk saling perhatian?" pernyataan Amora langsung membuat ketiga kawannya itu tepuk jidat. Tak menyangka bahwa kawannya yang satu ini benar-benar tak peka sama sekali.


***

__ADS_1


__ADS_2