Menanti Pasangan Hati

Menanti Pasangan Hati
Antara Cinta dan Harta


__ADS_3

Dengan perlahan Amora membuka matanya. Pandangannya tampak kabur dan hanya melihat kegelapan di depannya. Ia terkejut karena menyadari bahwa dirinya tengah duduk di sebuah kursi dengan posisi diikat. Ruangan tersebut sangat gelap dan hanya ada sebuah lampu temaram tepat di atas kepalanya.


Ia hanya bisa meronta-ronta tanpa bisa bersuara karena mulutnya pun disumpal. Gangguan kecemasannya mulai timbul kembali. Rasa panik dan ketakutan yang mendalam kini mendominasi pikirannya. Apa yang akan terjadi padanya? Siapa yang menculiknya? Apa yang diinginkannya? Apakah ia akan mati?


Tak lama ia mendengar suara langkah seseorang mendekatinya. Dengan panik Amora mencari-cari asal suara namun tak melihat siapapun di depannya dan hanya kegelapan yang ia lihat. Semakin lama suara langkah tersebut makin terdengar jelas. Artinya keberadaan orang itu semakin dekat.


Perlahan siluet orang itu sedikit terlihat karena terkena sinar lampu. Orang yang tak ia sangka sama sekali tampak tersenyum melihatnya. Seringai yang sangat mengerikan.


“Om Barda?” batin Amora seketika matanya membulat sempurna karena tak menyangka.


Ayahnya Bryan tega melakukan ini padanya? Kenapa? Apa salahnya? Bukankah selama ini Barda yang ia kenal adalah sosok ayah yang penyayang? Apa Bryan tahu bahwa ayahnya bisa sejahat ini? Apa yang akan ia lakukan padanya?


Dan sebuah serangan tak terduga terjadi. Tengkuk Amora dipukul dengan keras sehingga membuatnya tak sadarkan diri. Walaupun begitu, Amora sedikit menangkap percakapan mereka.


“Apa kau sudah menghubunginya?”


“Sudah, Tuan Barda.”


“Bagus. Kita lihat siapa yang akan dia pilih. Perusahaannya atau kekasihnya.”


Dan percakapan itu pun tak Amora dengarkan lagi. Ia sudah berada dalam kehampaan. Pingsan dalam posisi di ikat di kursi.


*


Suara ketukan pintu terdengar saat Bryan sedang emosi membabi buta. Pecahan barang berserakan di kamarnya. Dengan kasar ia menarik handle pintu dan melihat Indera berada di depan pintu kamarnya. Ekspresi wajahnya sama sekali tak bisa terbaca. Namun mau tak mau Bryan mempersilahkannya masuk.


“Kenapa kau tak menghentikannya?” tanya Bryan dengan suara mengancam sambil membelakangi Indera. Sementara Indera yang menyadari hal itu terlihat sedikit terkejut melihat kamarnya sangat berantakan. Tampaknya anak ini benar-benar menyukai keponakannya itu. Tentu saja hal itu sangat bagus untuk saat ini.

__ADS_1


“Bukankah kau adalah pamannya? Kenapa kau juga bertindak sampai sejauh ini?” pertanyaan Bryan sempat menusuk hati Indera.


“Tenanglah. Kita berada dipihak yang sama.” ucap Indera membuat Bryan berbalik dan menatapnya dengan tajam.


“Bagaimana aku bisa percaya kalau ternyata kau adalah seorang pembunuh? Bukankah kau yang telah membunuh kedua orang tua Amora?” tanya Bryan dengan sinis dan jijik. Seolah seseorang yang ada di hadapannya itu adalah orang yang tak tahu malu dan menjijikkan.


“Kamu memang benar. Aku adalah seorang pembunuh,” ucap Indera mencoba menyembunyikan rasa sesak di dadanya.


“Setidaknya aku memiliki kesempatan untuk melindungi anak mereka, yaitu keponakanku, Amora.” ucap Indera menunduk.


“Jadi, bantulah aku. Aku ingin menyelamatkan keponakanku. Aku akan melakukan apa saja untuk menyelamatkannya,” ucap Indera dengan mantap.


Bryan yang mendengar pengakuannya cukup terkejut. Sebuah ide pun terlintas di kepalanya. Ada satu hal yang harus ia lakukan jika Indera benar-benar mau membantunya menyelamatkan Amora. Ia harus mengajaknya untuk menemui seseorang yang juga bakal menghancurkannya.


*


“Jadi apa benar bapak pernah melakukan scandal dengan seorang perempuan saat anda memiliki seorang kekasih?” tanya salah satu wartawan dengan sangat mendesak.


“Apa anda bisa menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi?”


Dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan dari para wartawan terhadap Bara. Sementara itu seseorang dari jauh sedang memperhatikan kejadian tersebut dengan seringai liciknya. Dengan sekejap nilai saham Atmanaja Group turun sangat drastis karena berita kebohongan tersebut.


“Anda mendapat telepon dari nomor tak dikenal, Pak.” seseorang itu lalu menyerahkan ponselnya pada Bara. Dengan ragu ia mengambil ponsel tersebut dan mendekatkannya ke telinga. Firasat yang buruk langsung menyergapnya.


“Bagaimana situasi di sana?” suara dari seberang sambungan diiringi dengan tawa penuh kemenangan. Bara yang mendengarnya langsung geram dan mengepalkan tangannya.


“Jadi ini semua karena ulahmu?” tanya Bara dengan tenang.

__ADS_1


“Siapa lagi?” suara tersebut terdengar sombong.


Barda memang selalu menjadi hambatan dalam setiap kemajuan yang hendak Atmanaja Group kembangkan. Ia mengirimkan berbagai macam gangguan di tiap kemajuan tersebut untuk membuat perusahaan Atmanaja Group gagal melakukan pengembangan. Namun Bara dan tim khusus di perusahaannya selalu berhasil mengatasi masalah tersebut.


“Pasti ada wartawan sewaanmu yang membuat berita bohong itu tersebar di media. Caramu sangat menjijikkan sekali.” ucap Bara dengan tenang namun tepat sasaran. Pintu ruangan tersebut terbuka. Paul masuk dan melilhat Bara masil teleponan dengan orang itu.


“Tolong anda bersiap karena konferensi pers akan dimulai beberapa menit lagi,” ucap Paul memberitahu Bara. Bara langsung melakukan tindakan yang sangat tepat di saat kondisi seperti ini. Paul pun telah mempersiapkan ruangan konferensi pers untuk memberikan keterangan sekaligus menyanggah rumor tersebut.


Namun suara dari seberang sambungan menertawakan hal tersebut. Bara mengernyit, sepertinya masalah kali ini akan sedikit lebih berat. Ia pun menyuruh Paul pergi untuk menghubungi beberapa rekan wartawan yang memang berada dipihak mereka.


“Kali ini kau tidak akan bisa menyelamatkan perusahaanmu, Bara!” masih dengan sisa-sisa tawanya, Barda menggertak Bara. Bara makin kalut, berharap terkaannya tidak benar. Karena satu-satunya kelemahan Bara adalah orang yang sangat dicintainya, Amora.


“Perempuan cantik yang ada di apartemenmu tampaknya sedang sendirian. Jadi aku membawanya untuk…”


“Berani kau sakiti dia, akan kukejar kau sampai mati!” potong Bara dengan amarah penuh emosi.


“Tenang anak muda, saat ini perempuan cantikmu sedang tertidur jadi dia tidak akan bisa mendengar teriakanmu,” ucapnya dengan tawa sarkasnya.


“Lepaskan dia!”


“Pak, konferensi persnya sudah mau dimulai,” ucap Paul saat masuk ke dalam ruangan. Namun Bara tampaknya tidak menggubris dirinya. Pasti ada hal yang lebih penting hingga ia mengabaikannya padahal konferensi pers ini adalah rencana Bara sendiri.


“Aku akan segera kembali,” ucap Bara setelah menutup panggilan ponsel tersebut dan bergegas keluar. Paul masih kebingungan dengan sikap Bara. Apa yang bisa membuatnya mengabaikan kepentingan perusahaan padahal situasi saat ini benar-benar sangat genting.


Bara langsung ke basement dan menggunakan mobil sportnya yang sengaja ia simpan di bagasi khusus di basementnya untuk situasi darurat seperti saat ini. Mobil yang cukup bisa diandalkan kecepatannya untuk mengejar apapun yang bisa membahayakan keselamatan orang tercintanya.


Satu hal yang ia tahu, bahwa Barda menyebutkan keberadaan mereka di sebuah rumah di atas bukit dengan pemandangan laut yang luas. Hanya ada satu tempat yang sesuai dengan ciri-ciri tersebut. Dan ia pun langsung tancap gas tanpa memperdulikan apapun untuk saat ini karena hanya ada Amora di dalam pikirannya.

__ADS_1


***


__ADS_2