
Bara langsung menelpon Paul untuk menyiapkan mobil menuju landasan. Ia akan segera keluar kota menggunakan pesawat pribadinya. Sebelum itu ia mampir ke rumah sakit tempat para anak buahnya dirawat karena luka setelah pertempuran yang terjadi.
Setelah dirasa semuanya baik-baik saja dan pembayaran administrasi sudah diurusnya, ia pun segera pergi. Namun salah satu anak buah kepercayaannya yaitu Gery, menahan lengan Bara. Ia pun mengerutkan keningnya.
“Ada apa?” tanya Bara.
“Maaf, tuan Bara. Ijinkan saya melindungi anda. Luka saya tidak terlalu parah jadi masih bisa menjaga anda jika ada penyerangan lagi,” ucap Gery dengan raut wajah khawatir. Ia tahu bahwa Bara memang pandai bela diri tapi ia merasa tetap memiliki kewajiban untuk melindunginya.
Ia sangat malu karena saat itu membiarkan Bara melawan puluhan lawan yang bersenjata. Tuan nya itu pasti juga mendapatkan luka yang cukup parah. Ia merasa gagal karena tidak bisa menjaga tuannya dan malah membuatnya melawan para musuh seorang diri.
“Tak apa. Saya bisa menjaga diri sendiri. Tapi jika kamu tak keberatan, tolong lindungi Amora. Dia sedang berada di apartemenku.” tutur Bara. Ia sangat memperhatikan para anak buahnya seperti keluarga. Sehingga para anak buahnya pun sangat menghormati Bara dan selalu menurutinya.
“Baik, tuan Bara. Saya akan menjalani perintah anda,” jawab Gery takjim. Setidaknya ia bisa melakukan sesuatu yang bisa membuatnya berguna untuk saat ini. Walau tak bisa melindungi sang tuan secara langsung, setidaknya ia bisa melindungi orang yang disayang oleh tuannya itu.
Bara pun ditelpon oleh Paul memberitahukan untuk segera bergegas karena masih banyak persiapan yang membutuhkan persetujuan Bara mengenai peresmian pembukaan cabang tersebut. Ia pun langsung bergegas menuju landasan dimana Paul sedang menunggunya.
Tak sampai setengah jam, akhirnya Bara sampai di landasan dan langsung disambut oleh para bawahannya dan juga Paul. Ia pun langsung keluar setelah pintunya dibukakan untuknya. Di sana sudah ada Paul dan awak pilot menantinya. Semua para bawahannya berbaris dan menundukkan kepalanya memberikan hormat pada Bara.
“Kita harus segera bergegas sekarang, bukankah begitu?” tanya Bara melihat raut wajah Paul yang tampak cemas namun berusaha terlihat tenang.
“Ada sedikit masalah soal persiapannya,” jawab Paul sedikit menunduk. Ia bingung harus menjelaskannya darimana.
“Sebaiknya kita bahas sambil di jalan saja,” jawab Bara dan langsung menaiki helikopter yang sudah siap untuk diterbangkan.
Paul pun mengikutinya dari belakang dan duduk di belakang pilot. Ia langsung menyerahkan beberapa dokumen pada Bara untuk dimintai tanda tangannya. Tampaknya hari ini akan sedikit banyak rintangan, pikirnya. Karena ada beberapa hal yang membuatnya khawatir mengenai pembukaan cabang perusahaan tersebut.
*
__ADS_1
Pagi hari pun tiba. Ponsel Amora berdering dengan cukup keras membuatnya terbangun dari mimpi indahnya. Dengan malas, Amora langsung mengangkat panggilan tersebut. Dan seketika Amora bangkit karena ia merasa ada yang aneh dengan kamar yang ia tempati.
‘Oh iya, ini kan lagi di apartemen kak Bara. Berarti aku gak mimpi. Aku benar-benar sudah bersama kak Bara.’ batinnya senang.
“Halo, Ra? Kok lo kayak terkejut gitu? Segitu kagetnya ditelpon sama gue?” ucap seseorang di seberang sambungan dengan cengengesan.
“Sorry, Sat. Tadi gue lagi kaget aja. Ada apa?” tanya Amora mulai meraih-raih tingkat kesadarannya kembali. Ia pun tersenyum menyadari ia tengah berada di kamar kekasih hatinya.
“Jadi gimana? Lo mau ke kampus jam berapa?”
“Hah? Gimana, Sat?”
“Et dah dengerin ngapa. Pak Anas katanya ada urusan dulu jadi masuk kampusnya siang. Padahal gue udah nungguin beliau dari pagi,” jelas Satria sedikit mengeluhkan dosen pembimbingnya yang merubah jadwal bimbingannya.
Sedetik kemudian Amora baru sadar bahwa hari ini ia ada bimbingan dengan dosen pembimbing yang sama dengan Satria. Ia pun langsung bergegas keluar dari ruang kamar tersebut. Namun terdengar bel apartemen berbunyi. Dengan bingung Amora mendekatinya dan melihat di layar monitor.
“Halo, Ra? Ada apa?” tanya Satria.
“Nanti gue hubungi lagi ya,” ucap Amora dan langsung mematikan sambungan ponselnya.
Kenapa tiba-tiba ada seorang laki-laki berjas hitam yang menunggu di depan pintu? Apa laki-laki itu adalah orang yang dikirim Bara untuk menjaganya? Kemungkinannya sih begitu. Tapi entah kenapa perasaannya tak enak, karena laki-laki tersebut hanya menunduk tak menunjukkan wajahnya.
Sekali lagi bel berbunyi kembali membuat Amora sedikit terperanjat. Mau tak mau dengan perlahan ia membuka pintu apartemen tersebut. Dan setelah membuka pintu itu, seorang laki-laki berjas hitam langsung jatuh menimpa tubuh Amora. Membuatnya ikut terjatuh ke lantai.
Degh! Amora terkejut mendapati tubuh limbung yang menimpanya. Dengan perlahan ia menyandarkannya di lantai. Dan betapa terkejutnya lagi ketika Amora membalikkan tubuh orang tersebut ternyata banyak darah di perutnya. Tangannya pun tak sengaja menyentuh darahnya.
Ini tak bisa dibiarkan! Ia harus segera melaporkannya ke polisi. Pasti laki-laki ini korban pembunuhan. Dengan tangan gemetar, ia mencoba meraih ponselnya. Namun ketika Amora hendak menelpon nomor polisi, ia merasakan seseorang mengancam lehernya dengan sebilah pisau hingga membuat Amora tak mampu bergerak bahkan menoleh sedikit pun.
__ADS_1
“Jangan banyak bicara jika kau ingin selamat. Mengerti?” ancam seorang laki-laki tepat di telinga Amora. Sementara itu Amora hanya bisa mengangguk pelan dan mengikuti instruksinya. Ia diseret agar segera bergegas meninggalkan apartemen itu.
*
“Bagaimana? Apa kamu sudah berhasil membawanya?”
“Saya sudah membawanya. Kami akan segera kesana.”
“Kamu memang bisa diandalkan,” dan sambungan pun terputus.
“Apa yang selama ini Papah lakukan!” teriaknya masuk sambil mendobrak pintu.
“Apa yang Papah maksud adalah menculik Amora?!”
“Bryan!!!” bentaknya.
“Jangan berani ikut campur!” kemudian Barda memberikan kode kepada anak buahnya untuk menyeret Bryan ke kamarnya.
“Pah, Bryan mohon tolong jangan lampiaskan dendammu pada orang yang tak bersalah. Pah, dia adalah perempuan yang Bryan cintai. Tolong….” belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Bryan sudah diseret jauh oleh anak buah Barda.
“Cinta hanya akan membuatmu menjadi lemah,” gumam Barda mengepalkan kedua tangannya mengingat saat ini istrinya menjauhi dirinya karena keinginannya untuk balas dendam. Walau sempat rapuh, ia pun bangkit kembali meneruskan dendamnya tanpa mempedulikan lagi istrinya itu.
Ia tak mau terlihat lemah oleh cinta karena hal itu hanya akan menghambat misi balas dendamnya yaitu untuk menghancurkan keluarga Atmanaja. Terutama Arman. Ia akan melihat kehancurannya sebentar lagi. Saat anaknya sendiri bertekuk lutut di hadapannya.
Seringai Barda membuat Indera yang berada di ruangan tersebut bergidik ngeri. Tampaknya apa yang selama ini dikhawatirkannya akan terjadi. Tapi ada satu kesempatan yang bisa ia lakukan untuk membantu menyelamatkan keponakannya itu, yaitu dengan memanfaatkan Bryan. Tampaknya anak Barda itu memiliki perasaan spesial pada Amora dan hal tersebut harus ia manfaatkan dengan sebaik mungkin.
***
__ADS_1