Menanti Pasangan Hati

Menanti Pasangan Hati
Berdua Bersamamu


__ADS_3

Amora merasa senang karena ternyata Bara memang selalu ada di sampingnya walau melalui perantara. Tapi kenapa ia sama sekali tak mau menemuinya? Sejak kapan ia pulang ke Indonesia? Dan pertanyaan yang paling ia ingin tahu jawabannya, apakah Bara masih mencintainya?


Dengan pelan Amora membuka pintu kamar dan melihat Bara tengah mengobati lukanya sendirian. Perlahan ia berjalan menghampirinya. Walau rasa sesak di dadanya sulit ia kendalikan. Apa penglihatannya tidak salah dan Bara benar-benar ada di sini, bersamanya?


Bara yang merasakan seseorang mendekatinya perlahan bangkit dan berbalik. Ia melihat Amora tengah menahan tangis sambil menghampirinya. Tiba-tiba ia berhenti seolah ia ragu untuk mendekatinya. Namun Bara yang menyadari hal itu perlahan mendekati Amora.


Mata mereka saling pandang dengan sangat intens. Berbagai macam rasa bergulat dalam hatinya. Berbagai pertanyaan meraung-raung di kepala Amora namun ia hanya mampu menatap sang kekasih pujaannya dalam diam. Sulit untuk mengeluarkan satu patah kata pun.


Begitu pun dengan Bara yang hanya memandang Amora dalam diam. Ia bingung harus menjelaskannya mulai darimana. Ia juga tahu sepertinya Amora memiliki banyak pertanyaan terhadapnya namun saking banyaknya pertanyaan tersebut membuatnya jadi bisu dan kelu.


Setelah lama saling memandang dalam diam, akhirnya Bara langsung mendekati Amora dan memeluknya. Tangis Amora pun mulai menjadi dan membalas pelukan tersebut dengan erat. Rasanya penantiannya selama ini telah terobati.


“Maaf,” ucap Bara sambil mengecup puncak kepala Amora. Hanya satu kata itu yang mampu keluar dari mulutnya. Mulai saat ini Bara bertekad akan menjaga Amora dari dekat. Tak mau memakai perantara lagi untuk melindunginya. Karena hal itu telah gagal menjaganya dengan baik.


“Aku akan melindungimu mulai saat ini,” janji Bara. Ia pun merasakan pergerakan kepala Amora yang mengangguk dalam pelukannya. Bara tersenyum lega. Amora mendongakkan kepalanya berusaha menatap wajah Bara.


“Ini beneran kak Bara? Aku gak sedang bermimpi kan?” tanya Amora sambil menyentuh wajah Bara dengan kedua telapak tangannya. Ia ingin memastikan orang yang ada di hadapannya ini benar-benar nyata dan bukan mimpinya. Karena ia pernah bermimpi bersentuhan dengan Bara namun mimpi itu pun terasa sangat nyata seperti saat ini.


“Aku tahu apa yang akan membuatmu sadar bahwa ini bukanlah mimpi,” tutur Bara. Amora mencoba mencerna kata-katanya. Namun tiba-tiba Bara menarik tengkuknya dan mencium bibirnya. Seketika Amora membulatkan kedua matanya terkejut dengan hal tersebut.


Namun seiring waktu ia pun terbawa suasana dan membalas ciuman tersebut. Semakin lama ciuman tersebut lebih menuntut. Dengan sekali gerakan, Bara langsung membopong tubuh Amora tanpa melepaskan cumbuannya, membawanya ke dalam kamarnya.


Namun saat melakukan cumbuan tersebut, perut Amora berbunyi. Awalnya baik Amora maupun Bara tak mau menghiraukannya. Mereka hanya ingin menikmati momen panas tersebut.

__ADS_1


Kruyuuuuuk! Kruuuukkk! Akhirnya mereka menghentikan kegiatan tersebut dan saling tertawa.


“Sepertinya aku mendengar suara bom,” ucap Bara menyentuh hidung Amora dengan hidungnya. Gemas mendengar suara keroncongan tersebut. Amora pun hanya tersenyum malu tak mampu berkata apa-apa.


“Baiklah tunggu sebentar. Aku akan memasak makanan untukmu, my Queen.” tutur Bara keluar dari kamar tersebut menuju dapur. Amora pun hanya mengangguk. Rasanya masih seperti mimpi berada di apartemen milik Bara.


Kamarnya bernuansa putih abu dengan disain yang sangat elegan. Seluruh apartemennya bernuansa putih membuat siapapun yang melihatnya merasa nyaman dan aman. Apalagi tempatnya sangat bersih dan terawat. Amora juga melihat beberapa bunga hidup yang tampak dirawat dengan baik dan menambah kesan yang segar di apartemennya.


Apartemennya benar-benar membuat Amora sangat nyaman dan bahagia. Ia jadi membayangkan bagaimana rasanya kalau sudah menikah dengan Bara dan tinggal bersama. Pasti ia akan merasa menjadi perempuan paling beruntung karena sudah memilikinya.


Amora pun berjalan ke arah dapur dan duduk di meja makan sambil memperhatikan Bara yang sedang fokus memasak untuknya. Lengan kemeja putihnya digulung hingga ke siku menampilkan dengan jelas otot-otot di tangannya.


Amora pun senyum-senyum sendiri membayangkan Bara sudah menjadi suaminya dan membuatkan makanan untuknya. Karena Bara terlihat sangat seksi dengan memegang spatula dan berkutat dengan alat masak.


“Hehe.. Soalnya kak Bara kelihatan seksi banget kalau lagi masak,” ucap Amora sambil cengengesan. Bara pun hanya tersenyum menanggapinya. Ia langsung berbalik dan kembali fokus memasak, berusaha menyembunyikan rona merah di wajahnya.


Akhirnya mereka berdua duduk di meja makan dan memakan makanan hasil Bara memasak. Baru pertama kali ini Bara menggunakan dapur lagi untuk alasan pribadi. Selama ini ia hanya memesan makanan dari luar untuk memenuhi kebutuhannya.


“Bagaimana makanannya?” tanya Bara. Amora langsung mengacungkan kedua ibu jarinya.


“Enak banget kak. Nasi goring sama telurnya enak banget. Bumbunya juga pas,” ucap Amora dengan mulut sedikit penuh. Menambah kesan imutnya di mata Bara.


“Ya sudah. Makan yang banyak yah,” ucap Bara sambil mengacak pelan rambut Amora gemas.

__ADS_1


Dan dengan lahap Amora pun menyantap nasi gorengnya hingga habis tak tersisa. Nasi goring dan telur mata sapi buatan Bara memang menggugah seleranya. Membuatnya makan hingga dua porsi. Bara sangat senang melihat Amora makan dengan begitu berselera. Rasanya ia ingin sekali mengurung Amora agar tetap bersamanya. Namun ia memiliki keadaan darurat lain untuk segera ditangani.


“Kak Bara mau kemana?” tanya Amora melihat Bara mengenakan pakaian rapih.


“Aku akan pergi keluar kota sebentar. Ada pembukaan cabang baru disana.” jawab Bara.


Hal itu membuat Amora menunduk tiba-tiba dan memasang wajah murung karena akan ditinggal begitu saja. Padahal ia baru saja merasa senang bisa menikmati waktu berdua bersamanya. Tapi kenapa ia harus ditinggal lagi?


Melihat hal itu Bara mencoba menghiburnya dengan mengatakan bahwa besok siang ia akan segera kembali. Ia pun sebenarnya tidak mau meninggalkan Amora lagi. Ia sudah sangat bahagia bisa bersamanya. Namun tanggung jawabnya dalam mengurus perusahaan tak bisa ditinggalkan begitu saja.


“Berjanjilah jangan pernah mencoba untuk pergi lagi,” pinta Amora dengan mata yang berkaca-kaca.


“Aku janji mulai sekarang akan selalu menjagamu,” jawab Bara sambil mengecup kening Amora dengan cukup lama. Ia benar-benar tak bisa meninggalkannya sendirian.


“Jangan keluar sendirian, oke? Aku akan menyuruh orangku untuk menjagamu.” tutur Bara yang langsung mendapat anggukan dari Amora.


“Baiklah aku pergi dulu yah,” pamit Bara. Walau dengan berat hati Amora pun harus rela ditinggalkan lagi. Tapi setidaknya saat ini ia sudah sangat bahagia dengan kembalinya Bara dalam hidupnya.


Setelah kepergian Bara, Amora jadi sendirian di dalam apartemen. Walaupun begitu, ia merasa senang berada di apartemen ini karena masih bisa merasakan kehadiran Bara.


Waktu sudah menunjukkan pukul 1 dini hari. Sebaiknya ia tidur karena besok pagi ia harus pulang dulu untuk menyerahkan hasil skripsinya kepada dosen pembimbingnya. Ia harus segera lulus dan membantu Bara dalam menjalankan perusahaannya. Setidaknya ia ingin belajar agar kelak ia bisa merebut kembali perusahaan kedua orang tuanya.


***

__ADS_1


__ADS_2