Menanti Pasangan Hati

Menanti Pasangan Hati
Mengurai Rasa


__ADS_3

Amora berbalik ke belakang melihat Bryan yang sudah duduk di kursinya. Namun yang ditatap hanya melemparkan senyum getirnya. Sorot mata Amora seolah bertanya akan kejadian barusan.


“Tenang aja, ini bukan masalah besar kok. Cowok kan emang suka gitu. Hobi berantem.” Ucap Bryan tersenyum.


“Berantem itu bukan hobi, tapi harus dihindari.” Tutur Amora tak habis pikir.


“Iya, iya,”


Pembelajaran pun dimulai. Guru tersebut menjelaskan materi yang tengah dibawanya. Tak ada yang berani mengganggu saat pembelajaran karena guru tersebut memang terkenal killer dan tak mau ambil pusing jika ada siswa yang mengacau atau bahkan sekadar ngobrol. Pasti akan terkena hukuman.


“Sssuut.” Bryan mencoba mengganggu Amora yang duduk di depan mejanya. Namun Amora tidak menoleh. Ia tetap fokus menatap ke arah depan memahami pelajaran. Bryan yang melihat itu langsung memajukan duduknya dan mencoba menggapai telinga Amora dan berbisik.


“Gimana ya kalau kita pacaran?” bisik Bryan tepat di telinga Amora. Saat itu juga Amora yang mendengarnya matanya langsung membulat. Terkejut dengan ucapan Bryan.


“Apaan sih! Gak lucu bercandanya. Ini lagi belajar! Bukan waktunya ngobrol!” ucapan Amora tampak tegas walau hanya berbisik.


“Tapi elo mau gak?” tanya Bryan dengan nada bercanda namun sarat akan keseriusan. Masa bodo sama janji-janjinya itu. Ia tak bisa menahan lagi rasa yang sudah membuncah pada Amora.


“Kagak. Gue udah punya pacar.” Jawab Amora sedikit menoleh pada Bryan. Ia tak mau ketahuan mengobrol di pelajaran bu Sri yang terkenal killer itu. Bisa kena hukum kalau kepergok.


Hening sejenak. Amora lega karena Bryan tidak mengganggunya lagi. Mungkin ucapannya sudah cukup membuat ia terdiam. Syukurlah kalau begitu. Amora pun bisa fokus kembali pada pelajaran. Namun tak disangka Amora kembali mendengar bisikan Bryan tepat di telinganya.


“Gue gak papa kok dijadiin yang kedua.” Ucapannya membuat Amora segera menoleh kepadanya.


“Bryan!” teriaknya tercekat. Ia tak menyangka kata-kata tersebut keluar dari mulut Bryan. Amora sangat heran dengannya.


“Amora!” panggil bu Sri. Seketika itu juga Amora langsung berbalik menghadap depan. Ia terkejut melihat ekspresi bu Sri yang terlihat marah padanya. Duh, kena kan. Batin Amora.


“Dan kamu! Kamu siapa?” tanya bu Sri melihat Bryan.

__ADS_1


“Dia murid baru disini, Bu.” Timpal siswa lain yang melihat kebingungannya.


Tampaknya guru tersebut menimang-nimang hukuman yang akan diberikannya. Setelah cukup yakin, ia pun buka suara.


“Amora! Kamu saya hukum untuk berdiri di luar kelas selama pelajaran ini berlangsung!” nada final bu Sri membuat nyali Amora ciut.


“Dan kamu! Karena kamu murid baru, kali ini saya maafkan. Tapi untuk ke depannya tidak akan saya tolerir lagi.” Ucapnya tegas.


Namun tak disangka Bryan malah berdiri dan mengucapkan sesuatu yang membuat seisi kelas heboh.


“Saya yang salah, Bu. Karena sudah mengajak Amora mengobrol. Soalnya saya masih kebingungan soal pelajaran ini.” Dan jawaban Bryan tersebut membuat bu Sri jadi berubah pikiran. Sepertinya Amora tidak salah. Dan Bryan juga tak tahu bagaimana sistem pembelajarannya sehingga dia bertanya ditengah-tengah ia mengajar.


Namun bu Sri tampaknya berpikir kembali. Jika Amora dan murid baru itu tak jadi dihukum, gelar guru killer yang disematkan padanya bisa luntur karenanya.


“Ya sudah, kalian berdua berdiri di depan kelas sampai pelajaran saya selesai.” Ucap bu Sri akhirnya.


“Baik, Bu.” Jawab Amora dan Bryan serempak.


Namun tanpa Amora sadari, Bryan malah tersenyum senang. Seolah semua ini sudah ia rencanakan dan membuatnya terkena hukuman.


“Kok elo kayak seneng gitu dihukum?” tanya Amora yang menyadari raut Bryan yang malah terlihat sumringah.


“Seru aja rasanya. Dihari pertama gue masuk, gue langsung kena hukum. Sama orang yang gue sayang lagi,”


“Elo kan yang menawarkan diri buat ikutan dihukum. Ya salah sendiri lah,” tutur Amora. Ia sama sekali tidak menggubris kalimat terakhir Bryan.


“Tapi elo seneng kan ditemenin sama gue?” goda Bryan.


“Idih, najis.”

__ADS_1


“Najis najis gini gue banyak yang naksir loh. Gak takut direbut gitu?” sambung Bryan dengan senyumnya.


“Kayaknya mereka belum tahu aja watak asli elo.” Balas Amora.


Mereka pun berdiri di depan kelas selayaknya orang yang sedang dihukum. Bryan mengangkat satu kakinya dan memegang kedua telinganya. Sedangkan Amora hanya berdiri tanpa melakukan apa yang Bryan lakukan.


“Heh, angkat kaki lo!” Bryan memprotes. Sebenarnya ia juga tak tega melihat Amora yang terkena hukuman karenanya. Namun disisi lain ia pun merasa senang secara bersamaan bisa berduaan dengan Amora.


“Gue gak bisa.” Jawab Amora lemah. Ia pun mencoba mengangkat satu kakinya. Tak lama keseimbangan Amora pun runtuh dan kedua kakinya menapak kembali. Sontak hal itu membuat Bryan tertawa melihatnya. Tawanya makin menjadi ketika Amora menunjukkan raut kesalnya.


“Tuh, kan! Gue itu paling gak bisa jaga keseimbangan, tahu.” Ujarnya. Bryan menghentikan tawanya.


“Kelihatan jarang olahraga banget.” Sudut Bryan.


“Emang!” jawab Amora sewot.


Entah kenapa sisi Amora yang seperti ini malah menambah tingkat kekagumannya di mata Bryan. Imut. Batinnya. Ia bingung dengan perasaannya sendiri. Dulu ia pernah menjalin kisah cinta dengan seorang perempuan. Namun perasaannya itu tak seperti apa yang dirasanya saat ini. Perasaan yang tak ingin kehilangan, namun ia pun tak menuntut untuk memiliki. Sungguh ia tak mengerti.


*


“Bagaimana sudah ketemu identitasnya?” tanya Reno, detektif yang menangani kasus kecelakaan orang tua Amora. Sebelumnya ia curiga dengan satu mobil yang ia lihat dalam rekaman cctv. Ia merasa sangat familiar. Dan setelah diteliti, ia baru ingat bahwa saat mengunjungi rumah korban, secara tak diduga ada mobil tersebut terparkir.


“Sudah, Pak. Ini informasinya. Sepertinya ia adalah salah satu keluarga korban.” Tutur anak buahnya yang bernama Yoga. Ia pun memberikan hasil print an yang memuat profil orang yang atasannya itu curigai.


Satu kecurigaan Reno harus ia tuntaskan. Dengan teliti ia mengamati hasil print an tersebut. Ia harus segera menemui orang yang ada di dalam profil ini. Harus. Sepertinya ini akan menjadi kasus yang cukup signifikan.


“Indera Kinsyahranu.” Gumamnya.


“Saya harus segera menemuinya. Buat janji bertemu dengannya. Kabarkan jika ini hal yang mendesak.” Titah Reno dan Yoga langsung bergegas menelpon pihak terkait.

__ADS_1


Lagi-lagi kasus yang hampir sama dengan kasus-kasus yang sering ia tangani. Kasus pembunuhan karena harta dan jabatan. Namun ia tak mau gegabah karena bisa saja kasus ini lebih besar dari dugaannya. Atau malah terkaannya bisa jadi salah.


***


__ADS_2