
Reno mendatangi kantornya kembali dengan didampingi oleh Yoga. Ia hendak menemui pak Kepala untuk menunjukkan perihal bukti yang telah didapatkannya. Walau ia tak mau berharap banyak, setidaknya perkataan dan dugaan dia hampir tak pernah meleset sedikitpun.
“Pak Reno yakin mau ketemu sama pak Kepala? Emang dia bisa langsung percaya sama kita?” tanya Yoga ragu dengan usul Reno.
“Tenang aja, gue gak terlalu berharap banyak bahwa pak Kepala akan memihak kita. Tapi yang jelas saya tidak pernah main-main jika sudah menangani kasus seperti ini. Setidaknya saya ingin membuktikan kecurigaan saya selama ini.” Ucap Reno tegas.
Yoga pun yang sebelumnya ragu tampak bersemangat kembali. Atasannya itu memang selalu mengetahui momen yang bisa membuatnya menghilangkan keraguan di dalam hatinya. Ia sangat mengagumi atasannya itu karena ketegasan dan kecakapannya dalam menangani kasus. Bahkan di situasi yang hampir berbahaya sekali pun.
Reno memasuki ruang pak Kepala dengan Yoga yang mengikutinya dari belakang. Namun ketika memasuki ruangannya, Reno langsung memicingkan matanya melihat pak Kepala tengah berbincang dengan seseorang yang ia tak ketahui. Ia merasa harus menyelidikinya. Setelah orang itu keluar, Reno langsung berjalan menghampiri pak Kepala.
“Syukurlah kau kembali.” Ucap pak Kepala namun dengan sorot mata yang terlihat waspada.
“Apa saya mengganggu percakapan kalian?” tanya Reno dengan sorot mata tajam.
“Tentu saja tidak. Ada yang mau kalian katakan? Katakanlah.” Ucapnya mencoba mengalihkan perhatian Reno yang seolah tengah menyelidikinya walau hanya dengan tatapannya saja.
Saat itu juga Reno langsung membuka laptopnya dan menayangkan sebuah tayangan dari hasil kamera CCTV. Pak Kepala sangat terkejut melihat percakapan yang sedang didengarnya dari rekaman tersebut. Sementara itu ekspresi wajahnya tengah direkam lekat-lekat oleh Reno.
“Jadi, dugaan saya tidak salah kan?” tanya Reno ketika telah selesai memutar video tersebut. Pak Kepala tampak diam sejenak seolah menimbang-nimbang harus berkomentar apa. Ia akui bahwa Reno benar-benar sangat ambisius. Tiba-tiba ID Card milik Reno disimpan di atas meja.
“Ambil ID Card kamu kembali.” ucap pak Kepala. Reno pun mengambilnya.
“Tapi, jika hanya satu bukti ini saja tidak akan cukup untuk menangkapnya.” Tutur pak Kepala membuat Reno berpikir.
“Saya tahu, ke depannya saya akan mencoba mendapatkan bukti lebih banyak lagi.” Ucap Reno hendak meninggalkan ruangan namun pak Kepala mengatakan sesuatu yang membuatnya berhenti.
__ADS_1
“Kenapa kamu tidak menyelidiki tentang penyebab kebangkrutan perusahaan besar Atmanaja Group?” tawar pak Kepala.
Atmanaja Group? Gumam Reno dalam hati. Setahu ia, perusahaan besar itu beberapa bulan yang lalu hampir bangkrut diterpa isu miring. Walau ia yakin pasti ada dalang di balik ini semua. Ternyata kejahatan tak hanya menimpa yang lemah, tapi juga yang kuat untuk dilemahkan.
“Menurut bapak, kenapa saya harus menyelidiki perusahaan itu? Apa hubungannya dengan kasus ini?” tanya Reno.
“Karena jika kamu ingin menangkap dalangnya, mulailah dari pemilik kekuasaan yang besar terlebih dahulu.” Ucap pak Kepala seolah sedang memberikan clue. Kening Reno mengkerut.
“Dari sana kamu bisa melihat dengan lebih jelas. Bahkan pelaku dari kasus kamu kemungkinan hanya pion saja. Tapi jika kamu bisa mengungkap pelaku kejahatan kelas kakap, maka semua pion-pionnya pun akan tertangkap dengan sendirinya.” Ucapan pak Kepala membuat Reno banyak berpikir. Mungkin saja semua ini ada hubungannya. Pak Kepala pun mengambil sebuah dokumen di dalam laci mejanya dan memberikannya pada Reno.
“Selidiki ini, maka semua rantainya akan terurai. Dan jika kamu bisa menyelesaikan kasus ini, kamu bisa langsung mendapat promosi jabatan.” Ucapnya. Setelah itu Reno mengambil sebuah map yang berisi beberapa dokumen dan segera meninggalkan ruangan tersebut. Dirinya merasa tertantang dan bersemangat.
Ternyata pak Kepala tak seperti yang diduganya. Ia malah tampak membantu dirinya. Namun walau seperti itu, ia tak boleh lengah dengan kemungkinan apa saja yang bisa terjadi. Semangatnya seketika membakar dirinya untuk secepatnya mengungkapkan dan memecahkan kasus ini.
*
"Selamat datang di tanah kelahiranku, Paul." ucap Bara lebih kepada dirinya sendiri, seolah sedang menyambut tanah kelahirannya. Seketika rasa rindu itu menyergapnya kembali. Rindu setiap momen bersama keluarga, teman-temannya, maupun tambatan hatinya.
Mobil mewah sudah menunggu kedatangan Bara di luar bandara. Tampak seorang perempuan tengah menyambut Bara beserta para pengawal Bara. Penampilan perempuan itu terbilang sangat terbuka jika hanya bertujuan untuk menyambutnya saja. Menurut Bara rasanya ada yang aneh.
"Silahkan ikuti saya pak wakil direktur. Saya diperintahkan pak Arman untuk menyambut anda." ucap perempuan tersebut sambil mengarahkan jalan pada Bara.
"Panggil saja Bara. Sepertinya kita seumuran." ucap Bara masih dengan sifat sopannya. Sang perempuan itu tentunya menyeringai senang mendengarnya.
"Silahkan naik pak Bara." ucap sang perempuan mempersilahkan. Senyumnya makin mengembang tatkala wajah tampan Bara melewatinya.
__ADS_1
Wanita itu duduk di depan sebelah sopir, sedangkan Bara duduk bersama Paul di belakang. Insting Paul menangkap seperti ada sesuatu hal yang aneh pada perempuan itu. Ia harus segera memberitahu Bara apa yang mungkin saja terjadi.
"Bara, I think..."
"Sssuutt.. I know what are you thinking." potong Bara agar mereka berdua tidak terlalu kentara mencurigai perempuan itu.
Paul pun tak menyangka bahwa Bara juga merasakan kegelisahan yang sama dengan dirinya. Instingnya ternyata lebih cepat menangkap keanehan tersebut. Ia merasa perlu menolak dan menghentikan laju mobil itu agar tidak semakin terjebak, namun ditahan oleh Bara.
Sementara itu Bara malah ingin melihat apa yang sedang perempuan itu rencanakan. Ia akan mencoba masuk ke dalam permainannya dan mengikutinya. Sama sekali tak ada rasa takut yang menyelimutinya setelah sekian banyak yang terjadi padanya selama ini.
Bara pun menghentikan niat Paul yang ingin menggagalkan rencana perempuan itu, namun selama hal ini masih dalam batas normal dan wajar, ia akan memperhatikannya saja. Strategi harus dibalas dengan strategi pula.
Mobil yang ditumpangi Bara pun akhirnya berhenti tepat di salah satu gedung hotel yang cukup terkenal dengan kemewahannya. Mobil pengawal Bara nampaknya masih tertinggal di belakang karena laju mobil yang ditumpanginya itu memang melaju dengan sangat kencang. Sangat mencurigakan seolah sengaja ingin memisahkan Bara dengan para pengawalnya.
"Mari ikut saya pak Bara." titah perempuan itu masih dengan sebuah senyum yang terus menghiasi wajahnya. Bara dan Paul saling pandang dan hanya mengikuti arahan perempuan tersebut.
Setelah sampai di dalam lift, mereka nampaknya dibawa menuju lantai 27. Tanpa diberi instruksi apapun, Bara dan Paul sudah memasang tingkat kewaspadaannya. Dan tak lama lift itu berhenti dan membuka.
"Pak Bara silahkan ikut saya." titah perempuan seksi itu. Sementara ia menyuruh Paul untuk mengikuti laki-laki paruh baya yang bertugas menjadi sopirnya tadi.
Ini fiks pasti jebakan. Karena Bara benar-benar dipisah dari rombongannya. Baik dengan para pengawalnya maupun dengan asisten pribadinya. Walaupun Paul sempat menunjukkan penolakannya, namun Bara membuatnya tenang dan menyuruhnya untuk mengikuti saja apa yang mereka instruksikan.
Batin Bara bertanya-tanya. Apa yang sebenarnya mereka inginkan? Kalau ternyata mereka ada sangkut pautnya dengan seseorang yang menjadi target Bara, mungkin hal ini malah akan sangat menguntungkannya.
***
__ADS_1