Menanti Pasangan Hati

Menanti Pasangan Hati
Rangkaian Suatu Peristiwa


__ADS_3

Flashback On


Bryan berlari dengan sangat kencang mencari-cari restoran tempat Amora berada. Ia celingak-celinguk dan setelah melihat restoran yang dimaksud, tanpa aba-aba ia langsung menghampirinya. Namun pintu kaca tersebut tak bisa dibuka, didorong ataupun digeser olehnya. Padahal tanda buka masih jelas terlihat dari arah luar.


Ini sih udah jelas ada yang gak beres. Ia langsung mengeluarkan ponselnya menghubungi seseorang yang biasa ia panggil ketika dalam keadaan darurat. Sang bodyguard sekaligus pengacaranya. Anton. Bryan mencium keanehan di restoran tersebut. Tentu saja ia butuh penjamin untuk keselamatannya dan juga untuk keselamatan Amora jika sesuatu hal yang buruk terjadi.


Setelah menutup panggilan tersebut, Bryan langsung menatap kembali ke arah restoran. Ia yakin bahwa Amora berada di dalam sana. Ciri-ciri yang Amora berikan padanya persis dengan apa yang sedang dilihatnya kini. Namun tak disangka restoran tersebut terlihat sepi sekali. Mewah namun tak ada satu orang pelanggan pun disana.


Tak berselang lama, akhirnya Anton sang bodyguard sekaligus pengacaranya datang menemui Bryan. Baginya, Anton sudah seperti saudaranya sendiri karena dilihat dari umurnya yang hanya berbeda beberapa tahun saja darinya. Walau Anton lebih tua tapi ia juga menghormati Bryan sebagai klien maupun sebagai atasannya.


“Ada yang perlu gue pastiin ke dalem. Gue yakin dia ada disana.” Ucap Bryan sambil menatap Anton menunggu aba-aba. Ketika ia melihatnya mengangguk, barulah Bryan melancarkan aksinya. Ia mengambil ancang-ancang mundur. Dan langsung berlari untuk menendang jarak jauh pintu kaca tersebut.


Drakk! Suara itu terdengar cukup kencang. Namun pintu kaca yang ia tendang hanya terbuka setengah. Mungkin satu kali tendangan lagi baru ia bisa dengan leluasa masuk ke dalam. Namun ketika hendak melakukannya, suara peluit dari seseorang terdengar nyaring seiring hentakan langkah yang mendekati mereka berdua.


Priiiittt! Priiitt! Priiit!! Bunyi peluit yang nyaring menghentikan aktifitas yang akan Bryan lakukan. Tampak semua pengunjung di dalam mall mencurahkan perhatiannya pada asal suara peluit tersebut.


“Ada apa ini?” dua security menghampiri dengan tatapan tajam.


“Ton,” Bryan mengedikan kepalanya memberikan kode pada Anton untuk mengurus dua security tersebut. Dan ia pun mengangguk.


“Kami sedang melakukan investigasi. Ini adalah kasus tertutup. Jadi lebih baik bapak-bapak tidak usah ikut campur.” Ucap Anton. Kedua security itu saling pandang, tampak ragu. Melihat keraguan itu, Anton langsung mengeluarkan kartu identitasnya sebagai pengacara.


Setelah melihat situasi tampaknya sudah terkendali, Bryan kembali menendang pintu kaca itu.


Drakk! Prang! Pintu itu hancur. Sedetik kemudian Bryan langsung masuk ke dalam restoran. Ia mencari-cari ke semua ruangan yang cukup luas itu untuk menemukan Amora.


Setelah lantai satu sudah dijelajahinya, namun tak ada siapapun disana, lantas Bryan langsung berfokus ke arah tangga. Tampaknya ada sesuatu di lantai atas. Tanpa pikir panjang ia langsung bergegas menaiki anak tangga tersebut. Namun setelah sampai disana, suasana masih terlihat hening. Tak ada siapapun. Kosong.


Ditengah kekhawatirannya, ia berusaha untuk tetap tenang, lalu memejamkan kedua matanya. Telinganya fokus untuk menangkap satu suara. Suara sekecil apapun itu. Dan tak lama, sayup-sayup ia mendengar suara tawa seseorang. Kecil, namun telinganya menangkapnya dengan jelas. Bryan pun bergegas mengikuti asal suara tersebut.


Dan ketika ia sudah berada di suatu ruangan, Bryan langsung mendobrak pintu bercat putih itu. Brakkk!!! Betapa terkejutnya ia melihat apa yang sedang terjadi di dalam ruangan tersebut. Matanya membelalak merah. Rahangnya mengeras. Tangannya mengepal.


"Apa-apaan ini!" teriak Bryan menggema.

__ADS_1


"E.. elo? Kok bisa disini sih?" Stella terkejut bukan main. Pasalnya, restoran milik orang tuanya itu sudah dikunci. Jadi seharusnya tak ada yang bisa masuk kemari.


"B.. Bryan?" Ari yang tak menduga akan kedatangannya sontak mundur perlahan. Panik karena hal ini tak ada dalam rencana mereka. Namun mata Bryan makin nyalang ketika melihat kondisi Amora yang mengenaskan. Hampir tanpa busana.


Dan dalam hitungan detik, sebuah bogem melayang tepat di rahang Ari. Buagh! Pukulan itu begitu keras dan kencang. Hingga melemparkan tubuhnya ke arah belakang. Ia mengaduh merasakan kucuran darah keluar dari sudut bibir dan hidungnya. Tubuhnya limbung hanya dengan satu pukulan yang diterimanya.


“Ide gila siapa ini?” tanya Bryan dengan sorot mata memburu. Seolah dua orang di hadapannya itu adalah dua ekor rusa yang siap diterkam olehnya.


“Siapa?!” teriaknya. Stella langsung menunjuk ke arah Ari dengan tubuh gemetaran. Bayangkan saja kondisi Ari yang sudah bonyok, jika saja ia menerima bogeman itu, bagaimana jadinya?


“Cewek sialan. Ini kan ide elo!” teriak Ari ditengah ringisannya menahan wajah berdarahnya yang kesakitan.


“Tapi elo yang mau ngapa-ngapain cewek itu kan!” bela Stella tak mau disalahkan.


“Justru ini keinginan elo buat hancurin harga diri dia. Elo sampe rela buat lakuin apa aja asalkan dia bisa hancur. Elo gak inget?” ucap Ari menyeringai tak mau kalah.


“Elo yang duluan pengen cewek itu hancur! Gue cuma bantuin doang! Gak usah ngaco!”


Namun Bryan mengabaikan mereka dan menghampiri Amora. Pandangannya menyendu. Sedih. Karena ia telah gagal dan tak bisa menjaganya.


“Maafin gue, Amora.” Gumamnya sambil menggulung tubuh Amora dengan selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya yang hanya berbalut baju dalam saja.


Setelah memastikan tubuhnya sudah tertutup seutuhnya, Bryan langsung mengangkat Amora dengan kedua tangannya. Ia berjalan keluar dengan membopong tubuh seseorang yang disayanginya itu, mengabaikan dua orang yang masih saling adu mulut.


“Anton, tolong urus mereka berdua.” Tutur Bryan dan langsung mendapat anggukan. Ia pun pergi membawa Amora keluar dari ruangan tersebut. Sementara itu, Anton menatap punggung Bryan yang mulai menjauh. Ia heran sekaligus bingung. Karena baru pertama kali ini ia melihat sosok Bryan yang sangat berbeda dari biasanya.


Flashback Off


Amora yang mendengar cerita dari Bryan sontak membelalakkan bola matanya. Ia terkejut dengan cerita akhir dari pemaparannya itu. Sedetik kemudian ia menyilangkan kedua lengannya di depan dadanya. Bryan hanya tersenyum geli menyaksikan perubahan sikap Amora.


“Berarti elo udah liat….” Amora menggantungkan kalimatnya.


“Ya mau gimana lagi? Masa gue bopong elo sambil merem?” ujar Bryan sambil menahan senyum.

__ADS_1


“Tapi kan tetep aja…”


“Udah, udah. Yang penting kan elo aman. Mending sekarang elo tidur aja. Gue udah telpon pembantu lo”


“Bi Siti?” Potong Amora.


“Iya, bi Siti biar gak khawatir sama lo. Soalnya dari tadi hape elo bunyi terus.” Sambungnya.


“Elo gak bilang apa-apa kan sama bi Siti?” tanya Amora was-was. Ia tak mau membuatnya khawatir.


“Tenang aja, gue cuma bilang elo lagi ada urusan penting aja. Sisanya serahin sama gue.” Ucapan Bryan langsung membuat hati Amora tenang. Syukurlah.


Suasana cukup canggung sekarang. Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Dengan ragu Amora memecah keheningan dengan berkata.


“Udah malem. Elo gak mungkin tidur disini kan bareng gue?” tanya Amora dengan nada rendah. Hampir seperti berbisik.


“Emang elo mau? Gue sih pasrah aja.” tutur Bryan dengan senyum penuh arti.


“Idih, ogah.” Jawab Amora sewot.


“Ya udah sana keluar! Gue pengen istirahat.” Ucap Amora mulai membaringkan tubuhnya dan menyelimutinya.


“Oke, gue keluar. Tapi sebelum itu ada yang mau gue omongin.” Ucap Bryan ketika hendak berbalik. Amora masih diam tak bergeming dibalik selimut yang dipakainya. Namun ia memasang telinganya tajam. Hening sejenak.


“Ternyata, punya elo gede juga yah,” tutur Bryan. Amora yang mendengarnya sangat terkejut. Ia pun langsung bangkit dari posisi berbaringnya.


“Bryan!!!!” teriak Amora sambil melemparkan sebuah bantal padanya yang ternyata ia sudah kabur duluan dan menghilang dari balik pintu.


"Dasar cowok mesuuuum!!!" teriakan Amora terdengar sampai keluar kamar. Sementara Bryan tertawa terbahak-bahak mendengar teriakan tersebut.


***


***

__ADS_1


__ADS_2