
Yuda, Bondan dan Deri sudah berada tepat di hadapan Bryan. Sementara itu Bryan hanya menatap bingung ke arah mereka bertiga. Ia pun berancang-ancang jika saja terjadi serangan mendadak terhadapnya. Namun tampaknya hal itu tak akan terjadi melihat raut wajah yang cukup bersahabat dari ketiganya.
“Thank’s ya. Berkat lo, sekolah ini jadi lebih aman sekarang.” Ujar Yuda menjulurkan tangan kanannya. Walau bingung, Bryan pun langsung menyambut uluran tangan tersebut.
“For what?” tanya Bryan sedikit memicingkan matanya. Karena ia cukup terkejut dengan perlakuan mereka. Mereka yang dulu selalu membenci dirinya kini malah memasang wajah yang ramah.
“Ari dan Stella. Ini berkat elo kan?” tanya Deri. Mencoba memastikan hal yang menjadi dugaan mereka.
“Iya,” ucap Bryan sedikit mengangguk. Persidangan tersebut memang usul darinya untuk upaya memberikan efek jera pada mereka berdua karena hampir mencelakai Amora.
Yuda, Deri dan Bondan tampak saling pandang. Seolah memberikan kode. Setelah anggukan kepala terlihat dari Yuda dan Bondan, Deri langsung menghampiri Bryan. Tangannya sudah terangkat. Bryan yang menyadari hal itu refleks bergeser.
“Elah takut banget sama kita. Emang lo pikir gue mau ngapain? Mukul lo?” ucap Deri menertawai tingkah Bryan yang waspada.
“Ngapain juga gue takut sama kalian?” elaknya. Namun perasaannya kini berubah dari waspada menjadi berusaha mempercayai apa yang akan mereka lakukan padanya.
“Selamat. Sekarang elo diterima disini.” Ucap Deri sambil menepuk-nepuk bahu Bryan. Apa yang baru saja ia dengar? Diterima disini? Itu artinya ia boleh dengan bebas untuk dekat dengan Amora kan?
Tak ayal senyum Bryan langsung mengembang dengan sempurna. Membayangkan bahwa ke depannya sudah tak ada lagi rintangan yang harus dihadapinya. Karena kini ketiga orang yang dianggap oleh Bryan rintangan itu sudah bisa menerima dirinya. Itu adalah hal yang sangat baik untuknya.
Amora yang bersembunyi di balik tembok merasa senang mendengar percakapan mereka. Syukurlah tampaknya Bryan dan ketiga teman dekat Bara itu sudah berdamai. Bryan memang sudah membuat perubahan besar di sekolahnya ini. Jajaran pihak sekolah pun tampak sudah berpihak pada kebenaran. Ya walaupun ia tak tahu perubahan itu terjadi karena apa.
Namun walaupun begitu, rasanya masih ada yang kurang bagi Amora. Kekosongan di hatinya. Bara. Hatinya masih terasa sakit ketika mengingat kenangan saat harus berpisah dengannya. Satu-satunya bukti nyata bahwa ia sangat menyayanginya. Tapi ia yakin bahwa Bara pasti memiliki alasan yang kuat kenapa ia harus berpisah dengannya.
Tak masalah bagi Amora. Ia akan tetap menunggu. Amora sudah bertekad hanya akan menyimpan satu nama di hatinya. Tak boleh ada nama lain yang berani memasukinya. Hanya cinta pertamanya saja. Kak Bara. Gumamnya di dalam hati.
Rindu. Amora sangat merindukan sosoknya yang hangat dan menenangkan. Sosok yang selalu hadir menolongnya setiap ia dalam situasi bahaya. Saat pertama kali ia memanjat gerbang depan, saat ia hendak dicelakai Stella, saat ia hendak dilecehkan Ari, sampai saat ia sedang latihan karate dengan Bara terlintas lagi dalam benaknya.
__ADS_1
“Nguping lo yah?” bisik Bryan tepat di telinga Amora membuatnya terkejut setengah mati.
“Sial! Elo ngagetin gue aja sih!” bentak Amora mencoba menenangkan detak jantungnya yang berdegup kencang karena kaget. Sementara itu Bryan malah senyum-senyum melihatnya.
“Elo bahaya banget sih nyari tempat sembunyi nya,” Ucap Bryan sambil melihat-lihat ke sekeliling. Tampak sepi. Ia pun kembali menatap wajah Amora yang masih terlihat kaget karenanya. Yuda, Bondan dan Deri juga sudah pergi meninggalkannya. Kini hanya ada Amora dan Bryan saja di sana.
“Elo gak kabur? Disini cuma ada kita berdua loh,” goda Bryan mendekat ke arah Amora hingga tanpa sadar ia pun mundur perlahan dan kaki Amora tampak menyentuh tembok di belakangnya. Amora tersudut. Terkungkung oleh tubuh Bryan yang memang tinggi.
“Bryan! E.. elo mau ngapain?” tanya Amora tergagap. Posisinya sangat tak menguntungkan.
Kedua tangan Bryan sengaja direntangkan ke arah tembok untuk mengunci pergerakan tubuh Amora. Dan sekarang Amora tak bisa kemana-mana karena sudah berada dalam kungkungan kedua tangannya. Dengan menatap tajam mata Bryan, Amora mengancamnya.
“Berani macem-macem, I kill you.” ucapnya tajam sarat akan ancaman. Bryan hanya mendengus geli.
“Yang sekarang terancam itu justru elo.” Senyum Bryan menyeringai.
“Gila lo ya,” ucap Amora sambil mendorong dahi Bryan dengan telunjuknya. Dan sedetik kemudian Amora langsung melepaskan dirinya. Lalu berjalan cepat ke arah kelasnya karena melihat Bryan tak ada pergerakan lagi. Kesempatan yang bagus untuk kabur dari cowok aneh itu. Sementara itu Bryan malah tersenyum geli melihat kepergian Amora. Lucu sekali ekspresi kagetnya saat ia hendak melakukan hal itu. Membuat ia hampir saja tak bisa menahan diri.
“Ah sial. Kayaknya gue bener-bener gila karena dia.” Monolognya. Dan tak lama ponselnya berdering tanda panggilan masuk. Ia pun langsung mengangkatnya.
“Semuanya sudah beres. Untuk bu Siska, ibunya Ari, apa kita akan tetap mau memberikan kucuran dana ke firma nya?” tanya seseorang di seberang.
“Berikan saja. Selama dia menuruti perintah kita, kita berikan saja. Setidaknya kita punya penjamin untuk sekarang. Thank you, Ton.” Jawab Bryan kemudian memutus sambungan. Pengacara pribadinya itu memang sangat bisa diandalkan.
*
“Gila. Gila. Gila!”
__ADS_1
“Apanya yang gila, Ra?” tanya Fani melihat teman sebangkunya itu tiba-tiba datang sambil ngedumel.
“Itu, si Bryan. Aneh banget itu orang.”
“Lah, kenapa sama dia?”
“Dia…..” selanjutnya Amora membisiki Fani apa yang baru saja dialaminya.
“Anjir!! Seriusan?!” Fani terkejut mendengarnya. Amora mengangguk.
“Wah, itu anak kudu dikasih pelajaran. Awas aja itu orang!” tutur Fani sambil mengepalkan kedua tangannya. Namun sebenarnya ia juga penasaran dengan perasaan Amora saat ini. Sebaiknya ia bertanya sekarang, mumpung timingnya lagi bagus.
“Oh iya, aku mau nanya sesuatu dong.”
“Nanya apa, Fan? Tumben nih mimik mukanya serius kayak gini.”
“Sebenernya kamu ada perasaan gak sih sama dia?” tanya Fani hati-hati sambil menanti jawaban.
“Apa? Aku? Sama dia? Idih najis deh.” Ucap Amora dengan sedikit tertawa membayangkan ia dengan Bryan. Bagi Amora, Bryan memang lelaki baik dan teman yang solid. Tapi untuk memiliki perasaan padanya, rasanya tidak mungkin sekali.
“Ya, siapa tahu kan tiba-tiba di hati kamu udah gak ada kak Bara lagi.” Amora yang mendengarnya langsung menjawab.
“Gini ya Fan, di hati aku masih tersimpan nama kak Bara. No one else. Tersimpan dengan baik.” Ucap Amora dengan sorot mata tegas.
“Tapi bisa jadi kan tiba-tiba dia nyusup ke hati kamu gitu,” tutur Fani sambil cengengesan.
“He will never, ever, forever into my heart.” Tutur Amora membuat Fani yakin bahwa sepertinya memang cinta Bryan bertepuk sebelah tangan. Kasihan sekali ia. Namun bagi Fani, apapun keputusan yang Amora buat, ia harus mendukungnya. Apapun itu.
__ADS_1
***