Menanti Pasangan Hati

Menanti Pasangan Hati
Pertandingan


__ADS_3

“Bara, lawan kamu di babak final adalah perwakilan dari negara Jepang. Kamu masih bisa menggunakan taktik yang pernah kita bahas.” Ucap Sensei.


“Baik Sensei. Saya yakin akan menang.” Ucap Bara mantap.


“Semangat yang bagus,” tutur Sensei menepuk kedua bahu Bara memberikan semangat.


Bara sudah sampai dititik ini, ia bertekad harus menang. Walau lawan sebelumnya sudah cukup sulit, tapi ia tak boleh menyerah dan harus membawa medali emas ke negara asalnya. Tiba-tiba saja ia langsung teringat wajah Amora yang tengah menangis menatap wajahnya.


“Kakak akan pulang dengan cepat.” Gumam Bara membakar semangat juangnya. Dan suara dari peluit wasit berbunyi menandakan pertarungan di babak final ini akan segera dimulai. Banyak delegasi dari Indonesia yang sebelumnya gugur saat pertandingan, mendukung Bara dengan meriah.


Suara riuh dari para penonton mulai tenang saat pertandingan dimulai. Bara dan lawan memberikan salam OSH sebelum melakukan pertandingan. Suara peluit kembali ditiup dan pertarungan pun dimulai. Semua penonton hening.


Teknik pertama yang Bara lakukan adalah memberi jarak dengan lawan. Kemudian ia menatap mata lawannya dengan tajam, memperhatikan gerak-gariknya. Langkah apa yang akan dia lakukan untuk pertama kali.


Bara terus memberikan jarak dan lawanpun ternyata melakukan hal yang sama. Jika begini terus pertandingannya akan memakan waktu yang lama. Untuk itu harus ada yang memulai gertakan pertama.


Bara pun langsung bertindak mengambil langkah pertama penyerangan. Lawan yang mengetahui hal itu langsung menangkis serangan Bara dan hendak melakukan penyerangan fatal pada tubuh Bara. Beruntung Bara bisa langsung menghindar dengan refleks.


Bara mengambil jarak aman terlebih dahulu agar lawan tidak langsung menyerangnya. Ia mengetahui satu teknik yang sangat dikenalnya. Sepertinya lawan kali ini agak menyusahkan. Dari tadi lawannya hanya menunggu satu gerakan dari Bara kemudian sasarannya adalah menyerang area vital. Lawan kali ini memang sangat berbahaya bagi Bara.

__ADS_1


Sensei yang melihat Bara kesulitan, langsung memberikan kode pada Bara untuk mengganti taktiknya. Karena taktik tersebut sudah tidak akan mempan untuk lawannya saat ini. Bara mengangguk pelan melihat kode yang diberikan Sensei. Ia pun kini mencoba melakukan taktik yang lain.


Bara mencoba mendekat perlahan ke arah lawan untuk mengukur dari jarak berapakah lawan bisa langsung tergoda untuk menyerangnya. Ini adalah teknik memancing lawan untuk mengetahui rencana yang dipakai lawan.


Dan ternyata dari jarak satu meter Bara langsung mendapat serangan hingga menariknya hendak terjatuh ke bawah. Namun tentu saja Bara mampu menghindar dari serangan tersebut. Hal itu secara tidak langsung membuat Bara mengetahui berapa meter jarak amannya.


Lawan pun mulai jengah dengan taktik Bara yang rapih. Ia mencoba melakukan serangan maju untuk langsung melumpuhkan lawannya. Bara yang terkejut dengan pergerakan tersebut tak sempat menghindar dan tak mampu menangkisnya. Alhasil rusuk Bara terkena serangan yang cukup fatal.


“Arg!” Bara meringis merasakan rusuknya yang terkena jurus lawan. Ia terus memeganginya mencoba menahan rasa sakit yang dideritanya. Para penonton langsung riuh dan pendukung Bara pun meringis melihat Bara terkena serangan tersebut. Sensei memandang Bara dengan wajah khawatir. Titik penyerangan yang sangat fatal itu bisa saja membuat Bara sulit untuk melanjutkan pertandingan.


“Are you still able to continue the game?” (Apa kamu masih sanggup melanjutkan pertandingan?) tanya wasit saat itu melihat Bara meringis kesakitan.


“Yes,” ucap Bara tak pernah tebersit kata menyerah dalam hidupnya. Ia harus terus maju apapun yang terjadi.


Peluit kembali dibunyikan tanda pertandingan akan terus berlanjut setelah luka fatal yang diterima Bara. Bara pun cukup kesulitan bergerak karena luka tersebut. Namun ia mencoba melupakan sakit yang dirasakannya dan tetap fokus pada lawan.


Kali ini serangan tiba-tiba yang Bara terima langsung bisa ditepisnya. Lawan yang mengetahui bahwa Bara bisa menangkisnya langsung melancarkan serangan keduanya hendak mengenai tubuh Bara yang terluka. Cara yang sangat licik memang. Namun Bara yang menduga akan diserang seperti itu langsung menghindar dan kesempatan itu pun muncul.


Tak banyak pikir panjang, ketika ada celah lawan yang lengah, Bara langsung menjatuhkannya dengan tekniknya, mengunci tubuh serta pergerakannya. Satu serangan fatal pun akan segera Bara luncurkan tepat mengenai rusuknya, membalas serangan yang sudah diterimanya.

__ADS_1


Namun sebelum Bara menyikutnya, nuraninya seketika membuatnya terhenti. Ia tak jadi melumpuhkan lawan dengan satu serangan mematikannya, namun hanya membuatnya kesakitan sementara saja. Teknik melumpuhkan tapi tidak mematikan.


Sensei yang melihatnya sudah tak aneh karena sejatinya Bara bukanlah orang yang suka dengan balas dendam. Ia pun sangat bangga dengan karakter muridnya itu. Karena kemenangan yang sejati tak harus membuat lawan lumpuh dan tumbang. Tapi dengan pengakuan bahwa sang pemenang memang hebat pun sudah cukup.


“Why don't you attack me? (Kenapa kau tidak menyerangku?)” tanyanya.


“Because I never considered the opponent is my enemy. (Karena aku tak pernah menganggap lawan adalah musuhku.)” tegas Bara dan langsung memberikan serangan terakhir pada lawannya itu.


Tepukan tiga kali pada lantai menandakan bahwa lawan menyerah. Tim lawan salut dengan etika Bara, dan lebih memilih menghargai itu. Karena bisa saja Bara langsung melumpuhkannya dengan satu kali serangan disikunya yang bisa mengenai area vital bahkan area jantungnya sekalipun.


Berbeda dengan kebanyakan orang dalam bertanding, bisa saja ia melakukan hal mematikan tadi dan membuat nyawa lawan melayang. Namun prinsip tersebut tidak berlaku bagi Bara. Ia tak mau menodai arena pertandingan dengan pertumpahan darah yang hanya menodai nama karate itu sendiri. Bara tak mau hal itu terjadi.


“Why did you choose to give up? (Kenapa kau memilih menyerah?)” bisik Bara pada lawan.


“Because I value ethics and I respect you. (Karena aku menghargai etika dan aku menghormatimu.)” jawabnya dengan menatap tajam lawan bicaranya.


Setelah mendengar jawabannya, Bara mengulurkan tangannya membantu lawan untuk berdiri. Lawannya pun menerima uluran tangan Bara dan berdiri sambil meringis kesakitan karena serangan yang diterimanya. Wasit akhirnya meniupkan peluitnya tanda bahwa pertandingan sudah berakhir dan dimenangkan oleh Bara sebagai perwakilan Indonesia.


Tentu saja hal tersebut langsung disambut meriah oleh para penonton dan pendukung Bara. Akhirnya kini ada perwakilan dari Indonesia yang pertama kali menjuarai pertandingan karate tingkat internasional. Bara pun sangat terharu mendengar riuh bahagia yang mendukungnya. Medali emaspun langsung dikalungkan ke lehernya. Suatu kebanggan yang tak bisa diungkapkan oleh kata-kata.

__ADS_1


“Amora, tunggulah. Kakak akan segera menemuimu.” Gumamnya dalam hati. Tiba-tiba terlintas wajah senyum Amora dalam benaknya. Senyum yang manis dan sangat cantik. Rindunya sudah tak terbendung lagi. Akhirnya ia bisa menghadiahkan medali emas sesuai janjinya.


***


__ADS_2