
Setelah pelatihan itu, sedikit demi sedikit Amora mulai mengerti akan pentingnya bela diri terutama untuk perempuan. Karena banyak terjadi kejahatan seperti pelecehan, penjambretan, penodongan dan kejahatan lainnya yang korbannya rata-rata adalah perempuan.
Maka dari itu Amora sangat antusias ketika dirinya belajar ilmu bela diri. Setidaknya untuk pertahanan, karena selama ini yang ada dipikirannya adalah kabur dan berlari sebagai bela dirinya.
Namun hal itu tentu saja kurang efektif jika lawan dalam jumlah banyak, lawan yang menggunakan senjata atau malah lawannya bisa bela diri juga.
Hari demi hari pun mulai berganti, kini sudah tiga minggu berlalu. Semua murid di sekolah telah menyelesaikan ujian tengah semesternya masing-masing. Perasaan lega dari tiap murid terlihat jelas dari raut wajahnya, karena kini perjuangannya sudah berakhir.
Hari bebas sudah menanti para murid dan acara yang ditunggu-tunggu pun sebentar lagi akan datang. Acara pensi yang tengah disiapkan Bara dan anak OSIS lainnya sudah tinggal di depan mata. Panggung yang sudah ditata, serta band favorit pun sudah ditetapkan.
“Band yang datengnya siapa?”
“Gak tau. Kayaknya sama sih kayak tahun lalu.”
“Wah, udah gak sabar!” antusias para siswi perempuan.
*
“Kak Bara, mau Amora bantuin?” tanya Amora melihat Bara sedang sibuk.
“Oh, boleh.” Ucap Bara di tengah kesibukannya.
“Kamu bawa yang ringan-ringan aja yah. Terus simpan di meja besar sana.”
“Oke, Kak.” Ucap Amora antusias membantu.
Setelah pembelajaran ilmu bela diri beberapa minggu yang lalu, kedekatan Amora dan Bara semakin intim. Pulang pergi sekolah pun hampir setiap hari bersama-sama. Amora pun tak ayal senang karena perhatian yang Bara berikan padanya selama ini.
Namun, disisi lain Amora juga bingung dengan hubungan mereka yang sebenarnya. Bara sama sekali tak pernah mengutarakan perasaannya seperti yang diharapkan, begitupun Amora. Ia tak berani mengungkapkannya. Tapi ia tak mau ambil pusing karena hanya dekat dengan Bara saja ia sudah merasa nyaman, walaupun hubungan mereka tanpa status.
*
“Kenapa sih elo gak langsung eksekusi aja itu anak?” gerutu Stella pada Ari.
“Calm aja lagi. Kita tunggu mereka lengah.” Jawab Ari sambil memperhatikan gerak-gerik Bara dari jauh dengan tatapan yang tajam.
“Mereka mana mungkin lengah. Langsung aja sih. Penakut banget, lo!” Stella mulai tak sabar.
Selama ini mereka selalu berusaha untuk mendekati Amora dan menjebaknya sesuai rencana yang selama ini mereka rancang. Namun hal itu selalu digagalkan oleh Bara yang bisa membaca rencana mereka. Maka dari itu sampai saat ini Amora masih aman karena selalu berada dalam jangkauannya.
__ADS_1
“Kita ubah taktik kita.” Ucap Ari menatap Stella dengan seringai licik. Ia pun berbisik pada Stella dan memaparkan rencana baru nya.
“Ih, ogah gue!” tolak Stella setelah mendengarkan penuturan Ari.
“Kalo lo mau rencana ini berhasil, lo harus bisa ngelakuin itu.” Tuntut Ari melihat penolakan Stella.
Stella sangat tidak setuju dengan rencana baru yang Ari jelaskan. Tapi rasa balas dendamnya yang sangat besar pada Amora mendorongnya untuk melakukan apapun. Apalagi saat ini ia sangat cemburu melihat kedekatan Bara dengan Amora, ia sangat tidak terima. Bara harus tetap jadi miliknya.
“Ya udah deh, gue usahain.” Ucap Stella akhirnya menyetujui rencana itu.
“Nah gitu dong.” Balas Ari dengan seringai licik.
Ari sendiri pun sangat terobsesi dengan Amora. Hanya saja Bara selalu menggagalkan rencananya walau hanya sekedar mendekatinya saja. Tentu hal itu malah membuat perburuannya jadi sangat seru dan menantang.
*
“Abis darimana, Ra?” tanya Fani yang melihat Amora baru kembali. Mereka sedang santai di taman sekolah di bawah pohon rindang sambil menikmati jajanan.
“Tadi lagi bantuin kak Bara dulu.” Jawab Amora kemudian duduk bergabung.
“Cie. Lengket banget sih sama kak Bara? Kayak kop surat sama perangko aja.” Goda Fio sambil tersenyum. Mereka seolah-olah tak ada hentinya, senang sekali menggoda Amora.
“Ih, kalian ini! Gak mungkin lah Amora ngelupain kalian!” Sentak Amora kemudian memeluk ketiga temannya itu dan langsung dibalas mereka. Mereka bertiga langsung berhampur memeluk Amora membuat Amora jatuh telentang di atas hamparan rumput taman. Namun mereka semua malah cekikikan menyadari tingkahnya yang menjadi pusat perhatian murid di sekitar.
*
“Bar, elo gak nyadar dari tadi dipantau si Ari?” tanya Deri dengan ekor matanya yang terus memperhatikan gerak-gerik Ari.
“Gue udah tahu.” Ucap Bara santai tanpa melihat ke arah yang ditunjukkan Deri.
“Sampai saat ini gue gak denger kasus tentang dia lagi. Apa dia udah tobat ya?”
Bara hanya mendengus mendengar penuturan Deri. Temannya itu tak menyadari bahwa sebenarnya Ari sedang merencanakan sesuatu namun tidak diketahui olehnya.
“Justru dia sekarang makin terobsesi.” Ucap Bara.
“Maksud lo?” tanya Deri bingung, namun yang ditanya malah pergi.
“Eh, si kampret! Tunggu gue!” teriak Deri mengejar Bara.
__ADS_1
Setelah selesai mempersiapkan acara pensi yang akan digelar besok, Bara langsung mencari-cari Amora. Ia kini merasa sangat protektif padanya, entah kenapa.
"Guys, ada yang liat Amora?" tanya Bara menemui teman-teman Amora.
"Bukannya tadi dia mau ketemu kak Bara ya?" tanya balik Fani membuat mereka kebingungan.
Pasalnya mereka memang tahunya bahwa Amora pergi dan mengatakan akan menemui Bara. Tapi sekarang Bara malah mencari Amora.
"Kakak gak liat dia tuh." ucap Bara mulai khawatir. Fani, Della dan Fio juga saling pandang seolah memiliki satu pemikiran yang sama.
"Ada yang gak beres." Tanpa pikir panjang Bara langsung berlari mencari Amora ke arahnya pergi tadi. Ia mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Der, lo liat Amora gak?"
"Lah kan gue dari tadi di sini kagak liat ada dia lewat." ucap Deri.
"Oh, oke." Bara langsung mematikan ponselnya dan kembali mencari.
*
Sementara itu Amora tengah membantu seseorang yang meminta bantuannya.
"Ini pembalutnya, Kak." ucap Amora mencoba memberikan pembalut tersebut lewat bawah pintu toilet.
"Aduh makasih loh, Ra. Kakak ngerasa terbantu banget. Kakak lupa kalau hari ini adalah jadwal periode kakak." ucapnya dari dalam toilet sambil mengambil pembalut yang disodorkan Amora.
"Sama-sama kak. Ya udah kak Anna, Amora balik dulu yah, mau ketemu kak Bara." ucap Amora dari balik pintu toilet yang sedang Anna gunakan.
Amora pun keluar dari toilet dan tak sengaja bertemu Deri yang memasang wajah panik.
"Kak Deri nyari siapa? Kok panik banget?"
"Astaga, Amora! Lo tau gak sih dari tadi kita nyariin?"
Amora mengernyitkan keningnya. Dari tadi ia tak kemana-mana. Lagian Amora juga masih berada di lingkungan sekolah. Kenapa dia sampai harus dicariin seperti ini? Batinnya.
Tak lama Deri langsung mengambil ponsel dan menghubungi Bara.
"Bar, di toilet deket gedung depan." ucap Deri dan langsung menutup sambungan.
__ADS_1
***