Menanti Pasangan Hati

Menanti Pasangan Hati
Berita


__ADS_3

Bryan menyerahkan file rekaman itu pada Deri. Ia pun menekan alat perekam tersebut dan terputarlah suara Amora yang sedang bercakap-cakap dengan Bryan.


'Sebenernya ada yang mau gue omongin.' suara Bryan.


'Gue mau minta maaf. Soal waktu di villa. Gue udah gak sopan sama elo. Sekarang gue serahin semuanya sama elo. Kalau elo mau, gue bisa hilang dari hidup elo seolah gue gak pernah ada. Dan…'


'Enggak! Jangan pernah lakuin itu!' Deri, Bondan dan Yuda yang mendengarnya langsung mengernyitkan dahinya.


'Elo udah gue anggap temen gue sendiri sama kayak yang lainnya. Untuk apa gue nyuruh elo pergi dan menghilang dari hidup gue? Gak! Gue gak akan ijinin siapapun pergi dari hidup gue!' suara Amora dalam rekaman tampak hendak menangis.


'Maaf.' suara Bryan dan rekaman pun berhenti. Semuanya menatap Bryan dengan penuh kecewa. Apa boleh buat, Deri yang awalnya mengusulkan rencana ini hanya pasrah menerima kenyataan.


"Gue udah janji sama kalian akan pergi dari hidup dia kalau dia juga ngijinin gue buat pergi. Bahkan gue rela diusir untuk menebus kesalahan yang pernah gue perbuat. Gue ikhlas." jelas Bryan dengan sorot mata tegas.


"Tapi kalian dengar sendiri. Gue juga gak bisa apa-apa karena dia yang mau gue gak pergi kemana-mana dalam hidupnya."


"Tapi elo juga harus penuhin janji elo!" sergah Yuda. Ia geram karena Bryan masih saja mendekati kekasih sahabatnya itu.


"Tenang aja, gue gak akan pernah ingkar janji. Seperti yang pernah gue katakan sebelumnya. Gue gak akan mengharapkan hubungan yang lebih, hanya sekedar berteman."


"Gue pegang janji lo. Asal elo tahu, Amora itu udah punya cowok. Dan dia adalah sahabat kami. Bara. Jadi jangan pernah melewati batas."


"Kalian bisa pegang janji gue," ucap Bryan dengan nada final dan berbalik hendak meninggalkan mereka.


"Tapi, selama dia menganggap gue sebagai temannya juga." ucap Bryan lewat sudut matanya dan kemudian pergi dari hadapan mereka. Yuda mengepalkan tangannya hendak mengejar Bryan namun ditahan oleh Deri.


"Biarkan dia. Gak ada gunanya kita menghajarnya. Lebih baik kita hubungi Bara secepatnya." ujar Deri mencoba menenangkan keadaan.


"Gue udah coba hubungi dia tapi nomornya gak aktif. Sebenarnya dia kenapa? Padahal kemarin-kemarin dia baik-baik aja." ucap Bondan sambil menatap ponselnya yang banyak mengirim pesan pada Bara namun hanya centang satu.


"Di rumahnya juga gak ada siapa-siapa. Kosong. Dia ngilang udah kayak ditelan bumi." ucap Deri. Mereka bingung dengan keberadaan Bara yang sama sekali tak diketahui oleh siapapun.


*


Pagi hari pun tiba. Sang mentari sudah menyembulkan cahayanya. Hari baru, cerita baru. Amora membuka matanya perlahan. Ia melihat bi Siti masih tertidur di sofa yang ada di ruangan itu. Amora sengaja membiarkan bi Siti dan tak mau membangunkannya.


Amora bangkit dari ranjang rumah sakit dan berjalan ke arah jendela. Ia membiarkan cahaya mentari menerpa wajahnya. Rasa sakit itu masih terasa di dalam hatinya. Namun ia akan mencoba menerimanya dan bersabar menunggu sang pujaan hati.

__ADS_1


Ia akan berusaha untuk menjaga hatinya untuk Bara. Selama apapun ia harus menunggu, selama itu pula ia akan menjaga namanya agar tetap berada dalam hatinya. Walau rindu kian menerpa dirinya, ia akan terus mencoba menahannya sekuat tenaga.


Tok tok tok! Suara ketukan pintu membangunkan bi Siti yang tengah tertidur. Bryan muncul dan masuk ke dalam ruangan.


"Oh, sorry, Bi. Kebangun ya?"


"Gak papa. Bibi emang harus bangun pagi."


"Tumben elo dateng pagi banget? Bahkan temen-temen gue juga belum pada dateng."


"Kalau matahari udah bersinar kayak gini, itu tandanya udah siang." sergah Bryan.


"Terserah elo deh."


"Sini biar gue bantu beresin."


"Thank's ya."


"Anything for you." ucap Bryan membuat Amora tersenyum padanya. Senyuman yang sangat hangat, batin Bryan.


"Oh iya. Nanti biar gue yang anterin elo pulang. Hari ini gue bawa mobil."


"Kita kan teman. Sudah seharusnya kan?" pertanyaan Bryan membuat Amora geleng-geleng kepala.


Semuanya sudah siap untuk kembali pulang. Amora pun sudah mengganti pakaiannya dengan pakaian santai. Ia mengenakan celana jeans dengan shirt lengan panjang dan rambut diikat ke belakang. Penampilannya selalu menjadi perhatian orang-orang. Bukan karena pakaiannya, namun Amora akan tampak cantik dengan mengenakan apapun.


"Elo kok tambah cantik aja walau udah beres sakit?" tanya Bryan sambil membawa barang bawaan menuju mobilnya, begitupun dengan bi Siti yang membawa Tupperware bekas wadah makanan semalam.


"Elo nanya atau ngejek? Orang yang baru beres sakit itu masih keliatan banget kucelnya."


"Gak ada kamus kucel yang gue liat di diri elo. Mungkin elo belum mandi juga gue akan nyangka elo udah mandi."


"Apaan deh lebay banget lo," balas Amora tersenyum.


Ketika sampai di depan rumah sakit, Bryan menuntun Amora menuju mobilnya. Begitu pun dengan bi Siti yang mengikutinya dari belakang.


"Thank you," ucap Amora ketika Bryan membukakan pintu mobil untuknya.

__ADS_1


Ia duduk di sebelah kursi kemudi, sedangkan bi Siti berada di kursi belakang. Setelah semua bawaan dirasa sudah selesai disimpan di bagasi mobil Bryan, ia pun masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi kemudi.


"Saatnya kita pulang." ucap Bryan langsung menstarter mobilnya. Namun ketika hendak melaju, tiba-tiba sebuah mobil berhenti tepat di depannya menghalangi mobil Bryan. Ia mengerutkan dahinya melihat hal itu.


Dan ternyata Fani, Fio dan Della keluar dari mobil tersebut dengan tergesa. Amora dan Bryan langsung keluar melihat mereka yang panik seperti itu.


"Ada apa?" tanya Amora pada Fani. Namun yang ditanya tampak ragu untuk mengatakannya. Lalu Bryan seolah memberi kode pada Fani untuk memberitahukan terlebih dahulu padanya. Fani yang melihat kode itu langsung menyetujui lewat sorot matanya.


"Em, aku mau bicara sama Bryan dulu. Boleh kan, Ra?" tutur Fani gugup.


"Oh aku kira ada apa. Bikin kaget aja." tutur Amora.


"Kami mau ngomongin sesuatu sama Bryan." ucap Della membantu meyakinkan Amora bahwa urusannya ini tidak ada hubungannya dengan dirinya.


"Ra, elo tunggu di mobil gue ya," ucap Bryan dan membantu Amora untuk duduk kembali ke dalam mobilnya.


"Tunggu sebentar ya." ucap Bryan tersenyum mencoba membuat Amora tak berpikir macam-macam dengan mereka. Dan Amora pun hanya mengangguk pasrah.


Bryan pun kembali menghampiri Fani, Fio dan Della.


"Mereka mau ngapain, Neng?" tanya bi Siti yang tampak curiga.


"Entahlah, Bi. Amora juga gak tahu." jawab Amora pasrah.


Mereka semua memasuki mobil Fani untuk membicarakan sesuatu yang penting.


"Ada apa?" tanya Bryan memulai pembicaraan.


"Ada berita yang mencengangkan."


"Apa ini menyangkut Amora?" tanya Bryan.


"Benar. Tadi sebelum kesini, kami bertiga melewati rumah Amora. Di sana banyak sekali wartawan dan polisi."


"Apa yang terjadi?" tanya Bryan makin penasaran.


"Kedua orang tua Amora dikabarkan meninggal dunia." jawab Fani. Della dan Fio pun tak tahan lagi menahan isakannya. Karena temannya itu dilanda masalah yang bertubi-tubi. Mereka tak berani mengatakan kabar duka itu pada Amora. Rasanya tak tega melihat kondisinya yang baru saja pulih, namun masalah pun datang menghampirinya lagi.

__ADS_1


***


__ADS_2