Menanti Pasangan Hati

Menanti Pasangan Hati
Teman Lama


__ADS_3

Kali ini perhatian Bara tercurah seutuhnya. Karena selain fokus pada serangan yang akan mengarah padanya, ia juga harus memperhatikan gerakan pisau yang diayunkan lawannya. Sementara lawannya yang banyak mamanfaatkan kelemahan Bara dengan mengayunkan pisau ke arah samping. Bara yang tengah lengah itu pun terkena sayatan di perut sebelah kananya.


Syaaaaatt! Darah mengucur dari tubuh Bara.


Nnyyyutt! Rasa sakitnya membuat Bara sedikit lemah karena badan sebelah kanannya jadi sulit digerakkan karena luka sayatan tersebut. Paul refleks maju ke depan melihat Bara yang terluka. Masa bodo jika dirinya bakal terluka juga. Untuk saat ini setidaknya Paul bisa sedikit menghambat serangan yang mengarah pada Bara.


“Hentikan!!!” suara tersebut menggema ke seluruh ruangan dan sontak menghentikan pertarungan sengit yang tengah terjadi. Bara berbalik dan terkejut melihat sang ayah keluar dari ruangan tersebut dengan memasang wajah marah.


“Pak Arman?” gumam Paul. Bara hanya menatapnya sedang berjalan mendekati sang ketua mafia.


“Aku hanya mengijinkanmu untuk menguji anakku, bukan untuk menyakitinya!” ucap Arman pada ketua mafia tersebut.


‘Bapak sama anak sama saja. Sama-sama suka menantang maut!’ gerutu Paul dalam hati. Setelah melihat Bara yang nekat, ternyata ayahnya pun sama-sama orang yang nekat. Berani mengancam ketua mafia itu sama saja menantang maut. Paul hanya mendesah pasrah. Akan sebesar apa lagi bahaya yang menimpanya.


“Ayolah kawan. Kamu kan tahu kalau dari dulu aku sangat mengnginkan anak laki-laki. Aku hanya mengujinya sedikit lebih keras saja,” jawab katua mafia itu seolah sedang membantah.


“Tunggu, Pah. Ini sebenarnya ada apa?” tanya Bara kebingungan.


“Dia adalah teman lamaku, William.” Ucap sang ayah memperkenalkan ketua mafia tersebut.


“Maaf, maksud pak Arman, ketua mafia itu teman anda?” tanya Paul ingin lebih memastikan.


“Benar. Dia temanku, ya walau pun saat ini aku tak ingin mengakuinya.” Ucap Arman sarkas.


Kemudian Arman menceritakan kejadian awal pertemanan mereka saat dirinya masuk ke dunia mafia. Dan William menyelamatkannya dari incaran klan mafia lain yang ingin memanfaatkannya. Hingga kini mereka dipertemukan kembali di negara ini, walau William berasal dari negara luar.


“Baiklah, aku dengan William mau membicarakan sesuatu dulu. Tolong obati lukanya.” Ucap William menyuruh salah satu anak buahnya untuk mengobati luka Bara.


Tak lama semua anak buah William saling berhamburan meninggalkan ruangan dan ada yang pergi ke luar gedung untuk membantu para penjaga yang terluka akibat perkelahian dengan Bara dan Paul tadi. Sementara itu satu anak buahnya menghampiri Bara.

__ADS_1


“Kau sangat mahir bela diri. Belajar dimana?” tanya pria yang hampir seumuran dengan Bara. Ia sangat cekatan dalam membantu mengobati luka sayatan di perut Bara.


“Aku hanya sedikit belajar..”


“Dia juara karate tingkat internasional.” Potong Paul menjelaskan.


Sementara pria itu mengangguk-angguk tanda mengerti. Tampaknya ia paham kenapa kemampuannya itu sangat bagus jika dibandingkan dengan orang yang jago berkelahi pada umunya. Ternyata ia memang sudah mahir beladiri.


“Baiklah, sudah selesai. Kamu harus mengganti perbannya sehari sekali.” Ucapnya.


“Terimakasih,” balas Bara.


“Paul, kamu tunggulah di mobil. Aku akan menemui ayahku dulu.”


“Baik,” jawab Paul dengan khidmat. Ia pun langsung menuruti titah Bara.


*


Semua mata langsung menatap ke arahnya membuat Amora semakin gugup. Terdapat satu dosen pembimbingnya dan dua dosen penguji. Sementara itu di belakangnya banyak mahasiswa dari berbagai angkatan untuk menyaksikan sidang proposalnya.


“Silahkan langsung perkenalan terlebih dahulu dilanjut pembahasan materi.” Ucap sang moderator acara. Dengan sedikit gugup Amora membuka sidang proposalnya dengan sedikit perkenalan. Dilanjut membahas hasil proposalnya. Slide demi slide ia jelaskan dengan cukup detail mengenai poin-poin tersebut.


Setelah sampai pada akhir pembahasan, Amora kini sudah cukup tenang dan dapat mengatasi rasa gugupnya. Teman-teman kelasnya yang hadir pun mengisyaratkan kode untuk memberi dukungan padanya.


“Baik, mungkin itu saja yang dapat saya sampaikan dari pembahasan proposal saya. Saya kembalikan ke moderator,” ucap Amora diakhir pembahasan.


“Terimakasih untuk ananda Amora yang telah memaparkan hasil proposalnya. Untuk dosen penguji dipersilahkan jika ada yang ingin ditanyakan.” Kata-kata moderator itu berhasil membuat Amora kembali gugup.


“Jangan gugup ya, Amora.” Ucap salah satu dosen penguji agar suasana tidak terlalu tegang. Amora hanya tersenyum malu mananggapinya.

__ADS_1


“Bisa anda jelaskan kenapa mengambil judul skripsi ini?” tanyanya singkat.


Seperti yang sudah ia duga, pasti ada satu dosen penguji yang menanyakan hal tersebut. Untung saja dosen pembimbingnya memberitahukan kemungkinan pertanyaan itu akan keluar. Maka dari itu Amora yang sudah mempersiapkannya mampu menjawab pertanyaan tersebut dengan baik.


“Menurut saya judul skripsi ini sudah banyak ya di luaran sana. Jadi apa yang membedakan judul skripsi anda dengan yang lainnya?” tanya dosen penguji yang satunya lagi. Beliau memang sering dikenal dosen killer oleh yang lain dikarenakan setiap ucapannya selalu tajam dan menusuk.


“Seperti yang bapak ketahui, bahwa judul saya ini memang sudah banyak yang meneliti. Tapi ada faktor-faktor lain yang belum disebutkan dan dibahas dalam judul skripsi ini. Maka dari itu saya menambahkan beberapa indkator lain di dalamnya untuk dibahas. Selain itu juga, responden yang saya ambil bukan dari luar tapi dari para mahasiswa disini.” Jelas Amora.


“Lalu kenapa anda mengambil responden mahasiswa disini? Bukankah anda hanya ingin mempermudah skripsi anda saja?” pertanyaannya kini mulai menusuk. Walau Amora sedikit geram, tapi ia memaksakan seulas senyuman kemudian menjawabnya dengan penuh percaya diri. Suasana di ruangan itu pun tampak menegangkan saat ini.


“Alasan saya mengambil responden mahasiwa disini karena universitas dan fakultas yang saya pilih untuk dijadikan sebagai responden adalah akreditasi yang dimiliki oleh fakultas ini lebih baik dibandingkan fakultas lain dari universitas luar. Kenapa kita harus memilih universitas lain kalau universitas sendiri saja lebih baik? Maka dari itu bukan saya ingin mempermudah skripsi saya, tapi saya juga memperhatikan kualitas dan kuantitas hasil skripsi saya ke depannya.” Jawab Amora membungkam dosen killer tersebut.


Pertanyaan demi pertanyaan yang terlontar makin sengit. Namun lagi-lagi Amora menjawabnya dengan penuh percaya diri. Walau ada beberapa pertanyaan yang sedikit menyimpang dari jalur pembahasannya, namun ia mampu menjawabnya dengan baik.


“Bagaimana untuk pak Anas sebagi dosen pembimbingnya, ada yang mau ditanyakan lagi?” tanya sang moderator.


“Tidak. Saya sudah cukup bangga dengan Amora. Ia sudah mampu menyiapkan proposalnya hanya dalam waktu satu hari. Tapi ia mampu menjawab semua pertanyaannya dengan baik.” Ucapannya itu membuat kedua dosen pengujinya terkagum.


Pada akhirnya Amora dinyatakan lulus dalam sidang proposal ini dengan nilai A karena mampu menjawab pertanyaan para dosen dengan baik dan karena keuletannya itu bisa menjadi contoh untuk yang lainnya.


“Ciee selamat ya udah melewati satu tahapan yang menyeramkan,” ucap Satria sambil menyerahkan buket snack padanya.


“Thank you loh. Padahal gak usah repot-repot. Elo sidang nanti siang ya? Semangat pokoknya.”


“Ah, kalau diingetin suka jadi down gue.”


“Jangan gitu dong, biar cepet lulus,” ucap Amora menyemangati.


Tanpa Amora sadari, teman-teman SMA nya menghampiri Amora hendak memberikan kejutan padanya. Mereka tiba-tiba memeluk Amora dari arah belakang. Sontak Amora berbalik dan sangat terkejut.

__ADS_1


“Fani? Fio? Della?!” Amora langsung berteriak histeris dan memeluk mereka. Bahagia sekali rasanya melihat semua temannya datang ke kampusnya. Tanpa sadar Amora menangis dalam pelukannya.


***


__ADS_2