
"Bryan! Turunin gue!" teriak Amora panik.
"Apa? Gue gak denger." Bryan pura-pura dan hanya mengabaikannya.
"Bryan!!" bentakan Amora sama sekali tak digubris dan Bryan malah terus membopongnya menuju mobil.
Amora yang kesal dengan kelakuannya itu memilih menyembunyikan wajahnya dibalik leher Bryan. Berusaha untuk menyembunyikan rasa malunya. Karena kini semua murid menatap ke arah mereka dengan intens.
Setelah sampai di mobilnya, Bryan membuka pintu penumpang dan menurunkan Amora disana. Perlahan Bryan menatapnya dan sedetik kemudian tersenyum seolah mengejeknya. Amora dibuat kesal jadinya. Dasar cowok gila!
Kemudian Bryan memutari mobilnya dan duduk di kursi kemudi. Senyumnya belum juga hilang dari bibirnya. Berbanding terbalik dengan Amora yang memasang wajah bete dan jutek. Namun, Bryan malah menikmati momen itu.
"Gak lucu bercandanya," ucap Amora jutek tanpa melihat ke arah Bryan yang mulai mengemudikan mobilnya.
"Lah, siapa juga yang bercanda? Itu kan keinginan elo sendiri," jawab Bryan sok polos.
"Gak usah berkelit!!" teriak Amora sambil menatap tajam.
"Itu tadi pelanggaran banget tahu!" Namun tak disangka ucapan Amora malah membuat Bryan tertawa dengan terbahak-bahak.
"Nyebelin banget sih," gumam Amora membuang pandangannya ke arah luar jendela. Percuma saja rasanya memarahi spesies di sampingnya itu. Emang dasar cowok barbar. Telinganya seperti kebal sama sindiran.
Setelah tawanya perlahan mulai berhenti, akhirnya Bryan angkat suara melihat ekspresi Amora yang tampak serius. Namun sedetik kemudian ia tiba-tiba memarkirkan mobilnya dan berhenti di pinggir jalan. Bryan melepas sabuk pengamannya dan mendekat ke arah Amora. Amora terkejut melihat Bryan mendekatinya dengan jarak yang sangat dekat.
"Macem-macem lagi, gue bunuh lo." ucap Amora dengan nada antara khawatir, takut dan degdegan. Semuanya menjadi satu.
"Ya elah. Ge-er banget sih. Orang mau bantu pasangin seat belt." tutur Bryan sambil memasangkan sabuk pengaman Amora. Setelah selesai, ia malah menggodanya kembali.
"Dasar cewek mesum." bisik Bryan tepat di telinga Amora. Mata Amora seketika membulat. Tak terima dengan ucapannya barusan. Emosinya mulai menggebu. Namun ia mencoba untuk menenangkan dirinya kembali karena percuma saja melawannya, ia tak akan menang.
Bryan pun kembali melajukan mobilnya tanpa menghentikan tawanya. Rasanya senang sekali melihat Amora yang sedang kesal. Seperti ada sensasinya tersendiri. Gila! Tampaknya ia benar-benar sudah jatuh hati pada cewek di sampingnya itu.
__ADS_1
*
Jadi bagaimana, Pak?" tanya Reno memulai pertanyaannya.
"Silahkan langsung dimulai saja. Karena setelah ini saya harus bergegas kembali ke perusahaan." jawab Indera.
Reno dan asistennya saling pandang seolah memberikan kode kemudian Reno mengangguk dan kembali menatap ke arah Indera dan melemparkan beberapa pertanyaan.
"Maaf pak sebelumnya. Kami ingin tahu, waktu tanggal 28 kemarin pada jam 11 sampai jam 2 malam, bapak ada dimana ya?" pertanyaan Reno membuat Indera mengganti posisi duduknya.
Reno yang sangat hafal dengan gerak-gerik itu seolah tahu bahwa pertanyaannya tersebut tampaknya membuat Indera tak nyaman. Gerak tubuh seseorang terkadang bisa lebih jujur dibanding perkataan. Lidah bisa bohong, namun gerak tubuh tak akan bisa.
"Tanggal 28 yah?" ulangnya seolah tengah berpikir.
"Sepertinya waktu itu saya lagi sama istri saya di rumah sampai pagi." ucapnya namun sambil menatap Reno dengan gugup berusaha menghindari tatapan matanya dan malah menatap ke arah yang lain. Tentu saja hal itu pun tak luput dari pengamatan Reno.
"Kalau begitu, bapak bisa jelaskan ini?" Reno menyodorkan sebuah foto pada Indera. Ia pun meraih foto tersebut dengan kaget, terlihat dari bola matanya. Namun usahanya berhasil untuk tetap terlihat tenang.
"Setahu saya, plat nomor mobil tersebut sama seperti plat nomor mobil anda. Apa itu benar?"
Indera kembali melihat foto tersebut seolah sedang mengamati.
"Saya tidak tahu." ucap Indera lagi. Sayangnya ucapannya malah terlihat bahwa ia tahu sesuatu.
Reno melemparkan kembali beberapa pertanyaan pada Indera namun selalu berhasil dibantah. Walau sebenarnya tanpa ia ketahui, Reno sesudah mendapatkan jawaban dari pertanyaan - pertanyaannya itu lewat gerak tubuh Indera. Mudah baginya membaca itu semua.
"Baik kalau begitu. Sepertinya kami sudah cukup mendapatkan jawaban dari bapak. Terimakasih atas waktunya." ucap Reno berpamitan.
“Sama-sama. Jangan sungkan untuk datang lagi kemari,” balas Indera sambil tersenyum dan berjabat tangan. Senyumnya. Seperti menyimpan ribuan rahasia.
Reno hanya tersenyum getir melihatnya. Apa katanya? Untuk datang lagi kemari? Ada-ada saja. Ini kan bukan rumahnya. Batin Reno. Instingnya menangkap sesuatu yang ganjil. Jika memang ia hanya ingin menghibur korban, tak harus tinggal di kediamannya juga. Bukankah begitu?
__ADS_1
*
Di dalam mobil suasananya jadi hening. Amora hanya melamun selama dalam perjalanan. Ia masih kepikiran kata-kata Fani. Amora harus melakukan sesuatu untuk membuat Fani mau memaafkannya. Seharusnya dari awal ia tidak menyembunyikannya. Harusnya ia jujur saja saat itu.
“Oh iya, Bryan! Anterin gue ke mall dulu ya,” ucap Amora antusias seolah mendapat sebuah ide. Bryan hanya mengerutkan keningnya, namun akhirnya ia berkata.
“Oke,” jawabnya. Dan tanpa Amora ketahui, Bryan juga mendapatkan sebuah ide. Ide yang bisa membuat Amora menjadi terbuka padanya.
Sambil mengemudi, ia memainkan ponselnya. Mencoba memesan sebuah tiket nonton untuk dua orang. Tampaknya hari ini hanya ada film horor yang sedang tayang. Padahal ia ingin sekali menonton film romantis dengan Amora. Tapi ya sudahlah. Ia pun akhirnya membeli tiket film horor.
Setelah sampai di basemant sebuah mall besar, Amora dan Bryan turun dari mobil. Dengan sigap, Bryan membukakan pintunya untuk Amora. Sementara itu Amora hanya memandang Bryan dengan pandangan aneh. Ia merasa diperlakukan spesial sekali hari ini. Bahkan Bryan memberikan kode untuk menggandeng tangannya seperti di film-film.
“No, thank’s.” ucap Amora dan malah berjalan mendahului Bryan. Biar dia tahu rasa udah mempermalukannya tadi. Namun Bryan sama sekali tak menyerah. Ia berjalan berdampingan dengan Amora. Ketika tangannya bersentuhan, rasanya ingin sekali Bryan menggandeng tangan Amora yang bebas itu. Cukup sampai sini dulu, ia tak mau melewati batas.
Bagi Amora, Bryan benar-benar tak seperti yang biasanya. Ia merasa diperlakukan dengan spesial hari ini. Namun Amora hanya membiarkannya saja. Mungkin Bryan memang seperti itu aslinya. Pantas saja kalau banyak perempuan yang naksir dia.
“Ayo ikut gue,” titah Amora. Bryan menurut dan mengikutinya dari belakang.
“Oh iya, gue pergi sebentar ya. Elo mau kemana sekarang?” tanya Bryan.
“Gue mau ke toko kosmetik. Emang elo mau kemana?”
“Ke lantai atas. Nanti gue temuin elo.”
“Oke.” Jawab Amora.
Setelah kepergian Bryan, Amora langsung ke toko kosmetik salah satu brand ternama. Ia pun langsung disambut ramah oleh pelayan toko tersebut. Amora ingat bahwa Fani sangat menyukai lip balm. Ia pun langsung menuju ke tempat yang menjajarkan macam-macam lip balm, lip tint dan juga lip cream. Banyak sekali warna-warna yang cantik.
Ia langsung mengambil dua warna nude dan dua warna soft pink. Dua warna nude untuk Fani, sedangkan dua warna soft pink untuk Fio dan Della. Ini sebagai ucapan terimakasihnya karena telah menemaninya ketika Amora dalam masa berkabung. Semoga saja mereka suka, batinnya. Terutama Fani, Amora membelikan ia cushion juga sebagai permintaan maafnya. Semoga idenya ini berhasil meluluhkan hati sahabatnya itu.
***
__ADS_1