Menanti Pasangan Hati

Menanti Pasangan Hati
Alasan Balas Dendam


__ADS_3

“Kenapa anda jadi berubah seperti ini?” tanya Amora. Barda menghirup nafas dan mengeluarkannya dengan kasar. Hembusan nafasnya terdengar berat.


“Kau tahu? Dulu aku pernah berada dalam keadaan yang sangat terpuruk. Kebangkrutan perusahaanku membuat semua asetku hilang dan rumah satu-satunya yang aku tempati terancam disita.” Barda mengambil nafas lalu menghembuskannya dengan sedikit keras.


“Saat aku dalam keterpurukan itu, teman dekatku satu-satunya, Arman menjadi tujuanku untuk meminta pertolongan. Tapi bukannya menolongku, dia malah pergi meninggalkanku makin jatuh dalam kehancuran.” Barda mengepalkan tangannya sangat benci mengingat momen saat itu.


“Bagiku, dia adalah harapanku satu-satunya. Dia punya keluarga yang kaya tapi tak mau menolongku sedikitpun. Menoleh padaku saat itu saja tidak. Dia benar-benar laki-laki busuk.” ucapnya dengan nada tertekan.


“Akhirnya semua aset yang aku punya telah musnah. Harta yang aku kumpulkan setengah mati hilang begitu saja dan aku jatuh miskin. Dan yang lebih parah lagi, aku hampir menjadi seorang gembel!” teriak Barda seolah Amora adalah sosok yang ia bicarakan itu.


“Tapi anda salah jika harus balas dendam seperti ini!” balas Amora. Air matanya mulai mengalir. Jika memang penyebab Barda melakukan balas dendam adalah karena kehilangan harta, lalu bagaimana dengan Amora? Ia jauh lebih banyak kehilangan dengan meninggalnya kedua orang tua Amora. Harta atau apapun tak akan sanggup untuk menebus kebahagiaannya saat kedua orang tuanya masih hidup.


“Lalu bagaimana denganku? Aku sudah kehilangan kedua orangtuaku, juga kehilangan perusahaan yang sudah mereka bangun selama ini. Anda tahu bagaimana hancurnya saat sudah tak ada lagi semangat untuk melanjutkan hidup?” Amora makin tak bisa mengendalikan emosinya.


“Yang anda lakukan ini salah. Kau hanya sedang menuju kehancuranmu sendiri.”


“Diam! Kau tidak tahu apa-apa. Aku sudah bertekad untuk menghancurkan keluarga Atmanaja bahkan semua yang dekat dengan mereka. Termasuk kau! Orang yang selalu Bara jaga. Kau tidak tahu bahwa dia selama ini selalu menlindungimu tiap aku hendak membuat celaka padamu. Itu membuatku muak karena mengingatkanku dengan kelakuan ayahnya. Aku benar-benar sangat membencinya.”


Amora hanya bisa diam. Ia tak mampu membuat Barda sadar akan perilakunya yang salah. Dendamnya sudah merambat sampai ke akar. Sangat sulit untuk disadarkan. Dan ia pun hanya bisa pasrah saat dirinya diseret masih dengan posisi tubuh yang diikat dengan kencang.

__ADS_1


Kini Amora berada di sebuah ruangan. Ia didudukkan di sebuah kursi menghadap ke arah pintu. Di dalam ruangan tersebut sudah banyak orang yang berjaga di tiap sudut ruangan seperti sedang menunggu kedatangan seseorang. Semua orang tampak menyampirkan senjata tajam di samping saku celana bawahnya.


Brakkk! Seseorang datang dengan menendang pintu tersebut hingga hancur dan terjatuh ke lantai. Semua orang yang berada dalam ruangan dengan sigap langsung menangkap orang yang baru saja menghancurkan pintu tersebut.


“Kak Bara!” teriak Amora tak percaya dengan apa yang ia lihat. Oh Tuhan, kenapa kak Bara bisa sampai kesini? Dia hanya akan membahayakan dirinya sendiri. Batin Amora cemas. Ia melihat Bara diringkus tanpa perlawanan seolah Bara sengaja menyerahkan dirinya begitu saja. Dasar kak Bara bodoh!! teriak Amora dalam hati. Kenapa dia sampai bertindak seperti itu?


Namun tanpa Amora sadari, Bara tak mampu melawan para pengawal itu karena yang dijadikan sandera adalah dirinya. Bara tak mungkin melawan karena hal itu bisa saja malah membuat Amora semakin terancam. Maka dari itu ia memilih untuk menyerahkan dirinya. Itu lebih baik, pikirnya saat ini.


Bara langsung disuruh bertekuk lutut di hadapan Barda. Tubuhnya pun diikat, membuat Amora berontak dan menyuruhnya berhenti melakukan itu. Satu hal yang membuat Bara sontak terkejut adalah saat tiba-tiba satu tamparan melayang tepat di pipi Amora dan langsung membuatnya pingsan seketika.


“Brengseek! Jangan sakiti dia, Bangsaat!!” teriak Bara melihat Amora pingsan. Namun Barda malah tertawa mendengarnya. Jiwanya benar-benar sudah mati rasa, dibutakan oleh dendam dan amarah.


“Mati.”


Jantung Bara berdegup dengan kencang. Ia sangat marah namun tak mampu berbuat apa-apa jika Amora masih menjadi sanderanya. Bara mencoba menenangkan hatinya memilih menggunakan akal sehatnya karena saat ini kemampuan berkelahinya tak bisa ia gunakan.


“Kita buat kesepakatan!” teriak Bara saat sebuah ide hinggap di pikirannya.


“Jangan macam-macam kau!”

__ADS_1


“Bukankah kau hanya ingin melihat kebangkrutan Atmanaja Group? Lepaskan Amora dan kau bisa mendapatkan apa yang kau inginkan.” namun Barda hanya tertawa mendengarnya.


“Kau tak akan berhasil menipuku, Bara Atmanaja. Kau hanya bocah ingusan yang kebetulan tengah mengurus sebuah perusahaan saja.” ucap Barda tepat di telinga Bara. Bara masih bertekuk lutut dengan posisi diikat seluruh tubuhnya. Walau sebenarnya ikatan tersebut bisa saja Bara lepas dengan mudah.


“Pikirkanlah. Aku sekarang sudah menjadi seorang diretur utama pemilik Atmanaja Group. Kekuasaan penuh sudah ada di tanganku. Jika kau mau, aku akan memberikannya asal kau lepaskan Amora saat ini juga.” ucap Bara mantap.


Sementara itu Barda tampak berpikir setelah mendengarkan ucapan Bara yang sepertinya sangat masuk akal. Ia bisa saja mengambil alih perusahaan tersebut dan menghancurkannya. Tapi Barda tak sebodoh itu. Mana ada perpindahan kepemilikan perusahaan terjadi dengan begitu saja.


“Kau ternyata cukup pintar yah. Kau tahu, rencanamu itu terlalu mendadak sekali.” ucap Barda menyeringai. Sial! Rencana Bara tampaknya tak berhasil untuk mengelabui Barda. Ia lupa kalau Barda adalah pemimpin firma hukum yang cukup terkenal di negara ini. Jadi ia pasti sudah tahu tentang aturan hukum dan betapa rumitnya jika perusahaan hendak berpindah tangan. Justru malah akan membuat para petinggi di perusahaan tersebut menjadi curiga.


“Sebuah rencana yang gegabah sekali, Bara. Kau hampir saja menipuku maka kau harus diberi pelajaran. Pukul dia hingga sekarat!” titah Barda pada para pengawalnya yang memang memiliki tubuh besar. Tak terhitung jumlahnya para pengawal yang ada di ruangan tersebut. Ruangan besar itu hampir terpenuhi oleh semua anak buah Barda.


Bruagh! Bugh!! Pukulan bertubi-tubi diterima Bara dengan posisi tubuh terikat. Ia tak mampu melindungi area tubuh bagian depannya sehingga pukulan tepat di ulu hatinya membuat ia batuk darah.


“Arrgh,” erang Bara menahan pukulan tersebut. Ia rubuh ke lantai karena banyaknya pukulan yang ia terima. Dan kini tendangan demi tendangan diterima Bara. Ia hanya meringkuk mencoba melindungi area perutnya dan menutupi wajahnya dengan kedua sikunya.


Teriakan serta erangan Bara ternyata membangunkan Amora dari pingsannya. Seketika matanya langsung membulat sempurna. Terkejut karena melihat kekasih hatinya tengah dipukuli oleh orang-orang berbadan besar. Amora menjerit histeris.


“Hentikan!!!” teriak Amora, namun teriakannya sama sekali tak digubris. Bara masih tetap dipukuli tanpa melakukan perlawanan. Melihat hal itu sontak Amora bangun dan mendekat ke arah Bara. Hal yang kini membuat Bara terkejut karenanya.

__ADS_1


***


__ADS_2