Menanti Pasangan Hati

Menanti Pasangan Hati
Firasat


__ADS_3

Liburan kali ini selain ditemani para sahabatnya, Amora juga ditemani oleh teman-teman Bara, seperti Deri, Bondan dan Yuda. Amir dan Faisal yang tadinya hendak ikut, namun berhalangan hadir karena suatu hal. Namun Amora sudah sangat senang karena bisa ditemani liburan oleh teman-teman Bara. Ada banyak hal yang ingin diketahuinya tentang Bara.


“Gimana persiapannya udah semua?” tanya Deri pada Fio dengan gelagat sok cool.


“Kayaknya udah deh, Kak.”


“Oke kalau gitu biar kakak yang bawain.” Ucap Deri dan malah mendapat pukulan di kepalanya.


“Modus lo!” sembur Bondan mengetahui gelagat kawannya itu.


“Sialan. Namanya juga usaha. Elo diem aja dah!” ketus Deri. Fio dan Amora yang melihatnya hanya geleng-geleng kepala.


Sementara itu Fani dan Della tengah membawa peralatan lain untuk disimpan ke dalam mobil jenis van itu. Yuda yang melihat mereka langsung menghampirinya.


“Ada yang perlu kakak bantu?” tawar Yuda dengan seringai khas penggodanya. Tapi malah mendapat kerlingan dari keduanya.


“Cewek itu gak suka ditanya, Kak. Harusnya langsung dibantuin aja.” Ucap Fani. Yuda yang mendengarnya hanya menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal. Kenapa masih ada spesies cewek aneh kayak gini sih, gerutu Yuda dalam hati.


“Oke kalau gitu kakak bantu angkatin yah,” tawar Yuda mencoba memperbaiki harga dirinya.


“Gak usah kak, udah beres kok.” Ucap Fani meninggalkannya. Rasanya Yuda ingin sekali berteriak. Apa pesona gue udah mulai luntur yah? batin Yuda. Selama ini ia sudah mendekati banyak perempuan tapi baru kali ini ia diperlakukan acuh oleh seorang perempuan.


*


“Udah beres semua berarti yah.” Ucap Amora memastikan semua barang bawaannya sudah diangkut ke dalam mobil.


“Udah kayaknya. Terus siapa yang mau bawa mob….” Sebelum Yuda menanyakan siapa yang akan membawa mobilnya, ia langsung ingat perkataan Fani.


Wanita itu tidak suka ditanya, batinnya. Kata-kata itu seakan terngiang di telinganya.


“Gue yang bawa mobilnya yah.” Tawar Yuda dan langsung duduk di kursi kemudi. Kali ini dia gak akan salah lagi, pikirnya.

__ADS_1


“Bi, Amora sama yang lain mau pamit liburan dulu yah,” ucap Amora pada bi Siti.


“Yah, bibi jadi sendirian dong.” Amora yang mendengar itu hatinya langsung terenyuh.


“Apa bibi ikut aja sama kami?” tawar Amora.


“Gak usah, Neng. Bibi cuma bercanda kok.” Ucap bi Siti sambil tertawa.


“Lagian hari ini bakal ada banyak layanan servis buat beres-beres rumah sama taman. Neng Amora seneng-seneng aja, biar bibi jaga rumah di sini.” Papar bi Siti.


Akhirnya merekapun berpamitan dan masuk ke dalam mobil. Yuda berada di belakang kemudi mobil dan Amora duduk di samping kemudi. Sementara Della, Fio dan Fani duduk di seat tengah, Bondan dan Deri duduk di kursi belakang. Perjalanan liburan pun dimulai.


*


Penerbangan Bara telah dilalui dengan aman. Kini ia sudah berada di Indonesia dan langsung mencari-cari keberadaan papahnya. Tak lama Bara langsung menemukan siluet papahnya dan segera menghampirinya.


Ia melihat orang tuanya itu dalam keadaan kusut dengan jas dan kemejanya yang jauh dari kata rapih. Berbeda sekali dengan penampilannya selama ini.


“Pah?” panggil Bara. Ketika berbalik, Arman langsung memeluk anaknya itu. Sementara itu Bara sangat canggung dipeluk olehnya. Ia selalu menganggap papahnya adalah sosok yang kuat dan tak tergoyahkan. Namun saat ini sosok tersebut hilang dan sorot matanya penuh dengan kesedihan.


Mereka pun menaiki mobil yang sudah disiapkan di luar bandara. Pandangan orang-orang yang ada disana tertuju pada Bara yang terlihat seperti seorang artis yang tengah dijemput ajudannya. Namun terkaan mereka salah, karena yang terjadi sebenarnya jauh dari perkiraan mereka.


Bara dan Arman duduk bersama dan sopir pun mulai melajukan kendaraannya. Bara melihat ke arah belakang, terdapat mobil yang selalu mengikuti mereka.


“Pah?” tanya Bara seolah memberikan kode bahwa di belakang mobil mereka sedang ada yang mengintai.


“Tenang saja, itu orang suruhan papah. Di depan kita juga ada satu mobil lagi. Mereka untuk sementara akan mengawal kita.


“Memangnya kita mau kemana?”


“Ke tempat persembunyian papah.”

__ADS_1


Setelah percakapan itu suasana di mobil kembali hening. Seolah mereka semua berada dalam pikirannya masing-masing. Sementara itu firasat Bara sangat tidak enak sekali. Seolah dia akan merasakan kesedihan yang teramat dalam nantinya. Semoga ia tidak menerima hal buruk, batinnya.


*


Di perjalanan menuju puncak, Amora tiba-tiba teringat dengan Bara. Hatinya merasa tak tenang, seolah ada sesuatu yang buruk terjadi padanya. Sebenarnya ia tak mau menjadi pacar yang terlalu protektif dengan mengiriminya pesan beruntun hanya untuk mengetahui keadaannya.


Namun saat ini Amora tak bisa menahannya lagi. Ia pun mengirim pesan pada Bara.


(Kak, it’s everything okay?) tulisnya di pesan.


"Oh iya, kak Bara baik-baik aja kan?" tanya Amora pada Yuda yang ada di sampingnya.


"Tenang aja, dia baik-baik aja kok. Semalem kita udah video call." jawab Yuda namun pandangannya tetap fokus ke depan sambil mengemudi.


"Iya, Ra. Tenang aja. Itu anak gak mungkin kenapa-napa. Orang yang mau jahatin dia harus mikir dua kali buat ngadepinnya."


Memang benar sih. Amora tahu bahwa Bara sangat pandai bela diri dan hal itu sudah terbukti dengan jelas. Namun tetap saja hati Amora masih tidak tenang.


"Iya juga sih. Tapi kenapa ya, perasaan aku kayak gak enak gitu,"


"Semuanya bakal baik-baik aja kok, Ra. Tenang aja." ucap Fani sambil menepuk pelan bahu Amora.


"Mungkin itu cuma efek dari rasa kangen aja kali," goda Bondan mencoba memecah suasana.


"Ehem. Biasanya yang baru pacaran itu masih anget-anget nya. Iya kan?" ucap Deri ikut menggoda Amora.


Amora yang mendengarnya hanya mendesah, semoga terkaan mereka itu benar. Ia hanya merindukannya saja dan berharap tidak ada sesuatu yang buruk terjadi padanya.


"Santai aja, Ra. Dia pasti baik-baik aja. Udah, sekarang saatnya kita liburan, iya gak guys?" tanya Yuda lewat kaca spion dan langsung mendapat seruan dari Deri dan Bondan.


Amora melihat ke arah belakang, ketiga temannya seolah memberikan kode penyemangat untuknya. Memang benar, mungkin ini hanya efek dari rasa rindunya yang sudah menumpuk. Amora tidak boleh merusak suasana liburan ini.

__ADS_1


"Ayo kita ke puncak!" teriak Amora dan mendapat seruan dari seluruh penghuni mobil. Tawa riang dari ketiga teman Amora membuat suasana di mobil saat itu kembali ceria.


***


__ADS_2