
Bara dan keluarganya beserta para pengawalnya sudah berada di luar gedung dengan selamat. Hanya beberapa pengawal yang terluka karena tergores reruntuhan bangunan.
"Syukurlah kita semua selamat." ucap Bara melihat kedua orang tuanya. Namun tanpa mereka sadari, ada seseorang yang berada dalam mobil tengah memantau mereka, terutama Bara dan orang tuanya.
Orang itu menatap tajam ke arah Arman. Ia tak menyangka semua anak buahnya bisa dikalahkan oleh mereka. Tak bisa menerima hal itu, ia mempunyai ide jahat yang bisa membuat Arman terpuruk.
Menurutnya, kelemahan Arman adalah istrinya yaitu Mona. Tak berlama-lama ia langsung mengeluarkan pistol yang ada dalam mobil tersebut dan membidik tepat ke arah jantung Mona. Namun Bara yang tengah berdiri menghalangi pandangannya, membuat dia kesusahan untuk membidik Mona.
"Sialan! Dia menghalangiku." gerutunya karena bidikan dia terhalang tubuh Bara.
"Arg! Siapapun itu, harus ada salah satu keluarga dia yang mati!" teriaknya dari dalam mobil. Ia pun beralih menjadikan Bara sebagai bidikannya.
"Mati kau!" orang itu menarik pelatuknya dengan seringai menyeramkan. Saat itu salah satu pengawal melihat gelagat mencurigakan dari salah satu mobil yang terparkir di luar halaman gedung tersebut.
"Awas!" teriak pengawal itu pada Bara. Dorr! Seketika terdengar suara tembakan. Saat itu Mona yang berada dekat dengan Bara, refleks mendorong Bara agar jatuh. Dan alhasil peluru itu langsung menembus dada sebelah kanan Mona.
"Mah!"
"Mona!" teriak Bara dan Arman secara bersamaan. Mona langsung ambruk ke atas tanah setelah satu peluru mengenainya. Darah bercucuran dengan sangat deras. Semuanya bagaikan mimpi. Shock, tak percaya, terkejut dan rasa khawatir menyerang Bara secara bersamaan. Arman terjatuh di atas tubuh Mona yang ambruk tak mempercayai apa yang baru saja terjadi.
Para pengawal Arman langsung berlari mengejar mobil yang tengah melaju dan pergi meninggalkan jejak pelurunya. Mereka masuk ke dalam mobil dan mengejar orang yang menjadi tersangka penembakan itu.
"Siapa itu?" tanya salah satu pengawal.
"Dia pasti bos Yus," ucap pimpinan pengawal itu sembari mengemudi mengejar sang tersangka.
Sementara itu Mona dibopong Arman dan segera dibawa masuk ke dalam mobil untuk secepatnya dibawa ke rumah sakit. Bara mengepalkan tangannya menahan amarah pada orang yang menembak sang ibunda. Namun rasa khawatirnya menghantui perasaannya. Semoga semuanya baik-baik saja.
Mobil itu melaju dengan kecepatan yang cukup tinggi, seiring aliran darah yang terus keluar dari tubuh Mona. Bara makin khawatir saat sang ibu mengeluarkan darah dari mulutnya. Bara berinisiatif ke jok kemudi.
__ADS_1
"Pak, biar saya yang bawa mobilnya," pinta Bara pada sopirnya itu. Tak berpikir lama, sang sopir langsung berpindah ke kursi di sampingnya.
Kini kemudi dikendalikan oleh Bara. Tanpa banyak membuang waktu, ia langsung menginjak pedal gas dengan maksimal memecah jalanan kota saat itu. Arman merasa sangat tertolong ketika Bara melajukan mobil dengan kecepatan maksimal melihat kondisi Mona yang sudah hampir sekarat. Sementara itu sang sopir terus berdoa merasakan laju mobil yang sangat gila.
Tak sampai satu jam Bara sudah sampai di halaman rumah sakit dan langsung menghentikan laju mobilnya. Sang dokter yang sudah menunggu pasien setelah mendapat telepon dari Arman segera membawa Mona ke ruang gawat darurat.
Bara dan Arman ikut berlari mengikuti, namun setelah sampai di ruangan tersebut, mereka tidak diijinkan masuk dan hanya menunggu di kursi luar. Menanti dengan rasa cemas dan gelisah yang sangat tinggi.
*
Amora telah sampai di depan gerbang rumahnya dengan diantar oleh Deri, teman dekat Bara.
"Makasih kak Deri." ucap Amora sambil membuka pintu mobil. Setelah berpamitan, ia pun masuk ke dalam rumah. Namun saat menginjakkan kaki ke dalam halaman rumah, perasaannya tiba-tiba tak enak. Tapi ia langsung menepisnya.
"Amora pulang!" sambil membuka pintu rumahnya, Amora melihat kedua orang tuanya tengah berada di ruang tamu seolah sedang menunggunya.
"Halo sayang," sapa Bunda memaksakan seutas senyum.
"Begini, Amora." ucapan ayahnya membuat suasana langsung tegang.
"Ada yang mau ayah jelaskan sama kamu."
"Memangnya ada apa, Yah?" tanya Amora mulai tak enak.
"Ikutlah bersama kami ke luar negeri." ucapnya tegas tanpa penuh keraguan.
Anne menepuk tangan Gavin seolah memberikan kode agar ia yang menjelaskan pada anak semata wayangnya itu.
"Begini, sayang. Kami memiliki proyek yang cukup besar sehingga kemungkinan tidak bisa pulang dalam waktu yang cukup lama. Tapi jika kamu ikut kami ke luar negeri, kami.."
__ADS_1
"Enggak, Mah." potong Amora.
"Amora sudah biasa menunggu Ayah sama Bunda dalam jangka waktu lama. Amora mau tetap disini." ucap Amora mantap.
"Tapi jika kamu ikut, kamu bisa terus menerus bersama kami disana." bujuk Anne sang ibunda.
Amora menunduk memikirkannya. Ia ingin sekali merasakan kebersamaan dengan orang tuanya. Impian yang sangat ingin dicapainya. Tapi kini ia tak mau meninggalkan seseorang yang Amora sayang. Karena ia sedang menunggu sang kekasih, yaitu Bara. Alasan kuat Amora untuk tak meninggalkan negara tempat kelahirannya ini.
"Jika memang itu keputusanmu, kami tak bisa memaksanya." ucap Gavin berusaha tak memaksa sang buah hatinya. Namun tak bisa dipungkiri, ia pun sangat berharap Amora ikut bersama mereka untuk tinggal di luar negeri.
"Apa kalian akan segera pergi malam ini juga?" tanya Amora memastikan karena pakaian yang dipakai Ayah dan Bunda nya masih pakaian setelan kerja. Karena jika akan menginap di rumahnya, mereka tak mungkin masih memakai setelan kerjanya itu.
"Iya sayang. Kami harus segera pergi menangani beberapa hal. Karena ke depannya kami akan sangat sibuk." jelas Anne.
Mau tak mau Amora hanya bisa mengikhlaskan mereka walaupun terasa berat.
"Kami berangkat dulu ya sayang." ucap Anne berpamitan.
"Apa kalian tak bisa meninggalkan pekerjaan demi Amora?" tanya Amora sendu. Anne langsung memeluk Amora.
"Maafkan kami sayang, kami akan selalu mengingatmu. Kami janji jika sudah selesai akan segera kembali."
"Iya." gumam Amora dibalik punggung Anne.
Anne melepas pelukan Amora dan mengusap air mata Amora yang mulai berlinang. Giliran Gavin memeluk Amora erat dengan penuh kasih sayang. Rindu akan buah hatinya yang saat ini sudah tumbuh menjadi gadis yang cantik.
"Ayah sayang kamu. Tetap jaga dirimu dan jangan sampai putus asa. Kami akan selalu bersamamu." ucap Gavin dan langsung membuat perasaan Amora makin tak enak.
Setelah itu mereka pun berpamitan. Amora menatap punggung mereka yang mulai menjauh. Ada rasa sesal namun seolah ia tak bisa kemana-mana dan hanya bisa diam di tempat. Apakah keputusannya sudah tepat? Tapi kenapa hatinya malah tak tenang?
__ADS_1
***