
“Elo tadi kemana aja? Si Bara nyariin elo, Ra,” Ucap Deri sambil mengirim pesan lewat ponselnya mengabari tentang keberadaan Amora.
“Amora cuma bantuin kak Anna aja tadi. Makanya ke kantin dulu mau beliin sesuatu.” Papar Amora.
"Emang kenapa?" tanyanya.
“Gak papa, tapi sebaiknya lo jelasin itu ke si Bara nanti. Itu anak kalau udah protektif nyereminnya minta ampun.” tutur Deri.
“Amora? Kamu ngapain disini? Kita nyariin kamu loh dari tadi.” Ucap Fani yang disusul Fio dan Della dari belakang.
“Iya, kak Deri juga bilang gitu.” Ucap Amora. Ia jadi merasa tak enak hati seperti ini. Padahal dia tak kemana-mana hanya menolong Anna karena memang perlu dibantu.
Tak lama Bara menghampiri Amora dengan nafas yang masih tersengal. Ia mendesah lega melihat Amora dalam pandangannya, tak ada sesuatu yang terjadi padanya. Namun rasa protektifnya membuat dia dikuasai amarah.
“Ikut gue.” Ucap Bara menahan emosinya dan langsung menarik lengan Amora. Amora pun hanya mengikuti Bara karena lengannya berada dalam cengkraman Bara. Sementara itu teman-teman Amora hanya melihatnya dengan pandangan khawatir, begitu pun dengan Deri. Ia sangat tahu betul bagaimana watak Bara jika sudah serius seperti itu, apalagi sifat aslinya mulai keluar.
*
Amora dibawa ke belakang gedung sekolah. Setelah sampai disana, Bara melepaskan cengkraman tangannya. Rasa khawatir, lega, cemas, protektif, marah, semuanya bercampur aduk menjadi satu. Namun Bara mencoba tetap tenang.
“Bisa gak kalau mau kemana-mana, hp nya jangan di non aktifin?” ucap Bara akhirnya mulai mengeluarkan laharnya. Amora melihat ponselnya dan ternyata tak sengaja dimode silent.
“Iya, maaf.” Ucap Amora. Ia juga merasa antara kesal dan bingung dengan sifat Bara yang seperti itu.
“Kalo ngomong lihat sini.” Titah Bara yang mulai kesal karena sifat Amora yang mulai menunjukkan perlawanan. Amora yang mendengarnya pun tersulut emosi.
“Kenapa sih Amora harus terus nurutin apa kata kak Bara? Kenapa juga kak Bara harus terus bareng sama Amora? Risih tau!” ucap Amora hampir mengeluarkan semua ganjalan di hatinya.
“Amora udah ngikutin saran kakak buat belajar bela diri. Tapi kenapa kakak gak pernah ngasih ruang buat Amora untuk bebas melakukan apa yang Amora mau? Kalau kayak gini terus, kakak kayak ngurung Amora tau gak? Amora juga pengen bebas!” teriak Amora menahan tangisnya yang hampir keluar.
__ADS_1
Seketika Bara langsung tertampar oleh kata-kata Amora. Apa selama ini perlindungan yang diberikannya hanya terlihat sebagai kurungan untuknya? Padahal Bara tak ada maksud seperti itu. Ia hanya tahu bahwa saat ini Amora sedang menjadi incaran seseorang dan Bara hanya mencoba untuk melindunginya.
“Jadi selama ini, perlindungan gue cuma sebatas itu?” tanya Bara getir. Amora yang mendengar Bara sudah ber elo-gue tahu bahwa dirinya pun marah pada Amora. Tapi Amora tidak takut sama sekali. Dia harus mengakhiri ini semua.
“Lo bukan siapa-siapa gue! Jadi pergi jauh-jauh dari hidup gue!” teriak Amora ber elo-gue dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Semua beban dalam hatinya seolah terluapkan. Semua kebimbangannya seolah tertuntaskan. Karena ia harus menegaskan hal ini padanya. Amora tak mau berada dalam sebuah hubungan tanpa status, hanya menyakitinya saja.
Ketika Amora hendak pergi meninggalkan Bara, tiba-tiba tangannya digenggam. Mau tak mau Amora menengok ke belakang. Hatinya seketika tersentuh saat melihat sorot mata Bara. Ia melihat penyesalan di dalamnya. Namun tekad Amora sudah bulat, ia tak mau berada dalam hubungan yang tak pasti ini.
Amora pun melepaskan genggaman Bara di lengannya dan pergi meninggalkan Bara yang tengah menatapnya dengan pandangan sendu. Haruskah berakhir seperti ini? Namun Amora tak goyah sedikit pun dan tetap pergi meninggalkannya walau hatinya pun terasa berat.
Bara menatap kepergian Amora dengan penuh tanda tanya. Hatinya sangat tak rela untuk melepaskan Amora. Namun ia pun tersadar bahwa selama ini perilakunya sudah mulai ke arah menuntut. Ia benar-benar menyesal akan kesalahannya itu. Tapi ia juga harus menghormati keputusan Amora yang ingin jauh darinya. Mungkin hanya dengan itu cara agar bisa memperbaikinya, yaitu menuruti keinginan Amora untuk menjauh dari Bara.
*
Keesokan harinya, semua murid sudah berada di area sekolah pada pagi hari saking antusiasnya dengan acara. Para anggota OSIS pun sudah berkumpul untuk mengawasi keberlangsungan acara tersebut agar tetap tertib. Pasalnya murid-murid dari sekolah lain pun bisa memasuki dan mengikuti acara tersebut dengan membayar tiket masuk sebagai dana konstribusi.
Oleh sebab itu pengawalan dan pengawasan dalam memantau acara sangat diperlukan. Namun hanya ada satu anggota OSIS lagi yang mereka tunggu. Penanggung jawab tertinggi, sang ketua OSIS, yaitu Bara. Batang hidungnya belum terlihat di seluruh area sekolah.
*
“Ssut, itu ada cewek cantik banget!”
“Mana?”
“Itu yang dicepol.”
“Alamak. Ada orang korea kesini ya? Kayak artis korea gak sih?”
“Wah gila pokoknya kalo gue sampe bisa jadi pacarnya.”
__ADS_1
“Mimpi, lo!” hardiknya.
Seorang lelaki yang berada di samping mereka tak sengaja mendengar percakapannya dan langsung menatap ke arah perempuan yang dimaksud. Seketika lelaki itu pun terpikat oleh kecantikannya.
Siapakah dia? Kenapa gue baru menemukan perempuan secantik dan semanis dirinya? Gumam lelaki tersebut dalam hati sambil memandangi sosok cantik yang berada tak jauh di depannya
*
“Ri, dia sekarang lagi sendiri. Cepet sonoh! Jadi gue gak usah pura-pura baik sama dia. Elo tinggal culik aja itu anak.” Ucap Stella pada Ari, karena sebelumnya Stella disuruh untuk mendekati Amora dan berpura-pura berubah menjadi orang baik.
Tapi kini situasinya seolah-olah sedang berpihak pada mereka berdua. Mereka melihat Amora yang tanpa pengawasan Bara. Itu merupakan kesempatan yang sangat langka baginya.
*
"Kemaren gimana, Ra? Kak Bara marah sama kamu?" tanya Fani. Amora hanya diam menunduk. Sebenarnya tidak sepenuhnya Bara marah padanya, malah sebaliknya. Amora sangat menyesal dengan kejadian kemarin.
"Sabar yah," ucap Della sambil mengelus bahu Amora.
"Gak papa, Ra. Mungkin kak Bara marah kayak gitu karena sayang dan khawatir sama kamu." ucap Fio yang malah membuat Amora merasa semakin bersalah pada Bara.
Namun suasana sendu itu dipecahkan oleh kedatangan seorang lelaki yang menghampiri mereka berempat.
"Halo semuanya, boleh kenalan? Gue dari SMA sebelah. Nama gue Bryan." ucap lelaki tersebut mengulurkan tangannya dengan memperlihatkan senyuman.
Della yang melihat lelaki itu langsung terkejut.
"Dia Bryan cowok populer dari SMA sebelah loh," bisik Della pada teman-temannya.
"Oh, hai. Namaku Amora. Ini Fani, Della dan Fio." ucap Amora sambil membalas jabatan tangannya dan memperkenalkan teman-temannya.
__ADS_1
Sementara teman-temannya itu merasakan hal yang sama, bahwa lelaki di depannya itu sangat jelas menampakkan ketertarikannya terhadap Amora.
***