Menanti Pasangan Hati

Menanti Pasangan Hati
Menyembunyikan


__ADS_3

"Oke, sekarang kalian pergilah ke rumah Amora. Urus beberapa wartawan dan polisi untuk dimintai keterangan. Kalau ada apa-apa, segera hubungi gue," perintah Bryan dan langsung mendapat anggukan.


"Lalu gimana dengan Amora?" tanya Fani khawatir.


"Biar dia jadi tanggung jawab gue. Sebisa mungkin jangan sampai dia tahu. Gue yang akan urus Amora." ucap Bryan mantap. Matanya selalu bersinar setiap berbicara dengan tegas. Fani, Fio dan Della pun terdiam seolah tersihir untuk mengikuti instruksi dari Bryan tanpa bisa membantahnya.


"Oke kalau gitu, kami akan langsung ke rumahnya." ucap Fani mulai menyalakan mobilnya.


"Titip Amora ya," ucap Fio dengan wajah memohon.


"Tentu saja." tutur Bryan dan langsung keluar dari mobil Fani menuju mobilnya.


Ia berjalan ke arah mobil sambil memberikan sebuah senyuman kepada Amora yang terlihat sedang kebingungan di depan kaca mobilnya. Bryan memutar otak mencari cara membuat Amora agar tidak pulang ke rumahnya terlebih dahulu.


"Ada apa?" tanya Amora saat Bryan sudah duduk di kursi kemudi.


"Oh gak papa. Sebaiknya kita makan dulu gimana? Gue tau tempat desert terbaik disini." ucap Bryan.


"Oh ya ampun. Bibi kayaknya kelupaan ngambil baju kotor neng Amora. Bibi balik ke rumah sakit dulu ya. Neng Amora sama den Bryan aja. Titip Amora ya, Den."


"Kita tungguin aja, Bi." tawar Amora dan langsung mendapat gelengan bi Siti.


"Bibi naik ojol aja nanti. Neng Amora duluan aja sama den Bryan. Titip ya, Den."


"Oke bi, hati-hati ya." ucap Bryan dan mulai menyalakan mobilnya.


Bi Siti pun langsung keluar dari mobil Bryan. Sedangkan di dalam mobil kini tinggal Amora dengan Bryan saja.


"Kita pergi ya." Amora hanya mengangguk dan mobil pun melaju meninggalkan halaman rumah sakit.


Amora bukannya tidak tahu, ia merasa ada yang disembunyikan antara Bryan dengan teman-temannya. Chat dia pun tak dibalas sama sekali oleh ketiga temannya itu saat Amora menanyakan apa yang sedang terjadi.


Namun sebisa mungkin ia menepis pikiran buruk yang bersarang di otaknya. Ia hanya tak mau berlarut dalam dugaan yang bisa saja hanya kemungkinan.

__ADS_1


"Ngelamunin apaan elo? Ngelamunin gue ya? Bilang aja kalau elo degdegan jalan sama gue," ucap Bryan cengengesan.


"Gak usah pede," jawab Amora. Walaupun kalau boleh ia akui, Bryan memang sangat tampan dengan style trendy tanpa cela. Namun ia sama sekali tak memiliki perasaan lebih padanya. Hati memang tak bisa dibohongi bahwa Amora masih menyayangi kekasih hatinya.


"Emang elo gak tertarik sama gue?" tanya Bryan sambil melihat ke arah Amora.


"Enggak." jawab Amora tegas.


"Kayaknya susah banget yah buat nyuri hati lo,"


"Emang." ucap Amora membuat suasana menjadi riang kembali. Bryan memang tahu cara mencairkan suasana.


Tak berapa lama mereka sampai di Desert Cafe yang cukup besar dan unik. Bryan memarkir mobilnya di halaman kafe tersebut. Ia segera keluar mobil dan membukakan pintu untuk Amora.


"Thank you." ucap Amora.


Beberapa orang yang berada di dalam kafe tersebut tampak memperhatikan kedatangan Amora dan Bryan. Bryan menyadari bahwa mereka berdua tengah diperhatikan oleh beberapa pengunjung.


Tanpa aba-aba, Bryan langsung membuka jaketnya dan memakaikannya pada Amora.


"Apa baju gue terlalu tipis?" tanya Amora melihat tepat ke manik mata Bryan mencoba mencari jawaban jujurnya.


"Em, sedikit," ucap Bryan menyatukan ibu jari dan telunjuknya membentuk huruf o.


"Apa karena itu mereka ngeliatin gue?"


"Mereka ngeliatin lo karena kecantikan dan kemanisan lo."


"Elo pandai ngegombal yah," Dan mereka pun tertawa.


Diam-diam Bryan tersenyum mendengar perkataan Amora. Bahkan tanpa Amora sadari, pernyataan Bryan barusan adalah pernyataan jujur dari dalam hatinya, namun ia hanya tersenyum menanggapi ketidakpercayaan Amora.


"Mereka tampak serasi banget yah?" ucap salah satu pengunjung perempuan di kafe itu.

__ADS_1


"Iya betul. Cowoknya asli cakep banget gak sih? Rela deh gue jadi yang kedua juga." ucap teman di sebelahnya dan malah mendapat cubitan dari temannya.


Sementara itu pengunjung laki-laki hanya bisa mencuri pandang melihat ke arah Amora. Mereka sama sekali tak bisa menyangkal bahwa laki-laki yang disebelah Amora tak dapat ditandinginya. Karena selain tampan, Bryan juga mapan dilihat dari jenis mobil terbaru yang ia bawa. Sehingga para laki-laki yang ada di kafe tersebut hanya bisa mengagumi Amora dan minder melihat Bryan.


"Mau pilih menu apa?" tanya Bryan memperlihatkan buku menu pada Amora. Sementara itu Amora memilih cake mango with cream dengan segelas milkshake strawberry.


"Sepertinya elo suka banget sama milkshake strawberry yah?" tutur Bryan setelah memberikan catatan pesanan pada pelayan. Ia ingat waktu acara pensi Amora juga memesan minuman yang sama.


"Entahlah. Gue suka karena waktu kecil ayah gue selalu membelikannya setiap pulang kerja. Setiap ingat rasa milkshake strawberry, secara otomatis gue ingat kenangan saat kami sekeluarga sedang bersama." cerita Amora.


"Tapi, saat ini mereka selalu saja sibuk bekerja. Bahkan terkadang dalam setahun hanya sekali saja pulangnya. Setelah itu mereka pergi bekerja kembali." sambung Amora mengingat momen itu membuatnya murung. Bryan mengelus punggung tangan Amora mencoba menghiburnya.


"Tapi gak papa sih. Mereka selalu menyempatkan menghubungi gue lewat telpon bahkan video call. Bahkan Bunda juga suka menyempatkan waktunya untuk pulang walau ketemu gue cuma beberapa menit saja. Itu sih yang bikin gue tetap merasakan kehadiran mereka." ucap Amora kini dengan senyum senang.


Bryan yang mendengarnya mengeraskan rahangnya menahan gejolak yang ada di dadanya. Bagaimana mungkin ia sanggup untuk memberitahukan pada Amora bagaimana kabar tentang kedua orang tuanya saat ini. Ia benar-benar khawatir. Cemas. Dan tak tahu harus bagaimana menghadapinya. Namun yang ia tahu, sebisa mungkin ia mencoba membuat Amora bahagia sebelum akhirnya ia mengetahui kebenarannya.


"Kok malah bengong sih?" tepukan Amora menyadarkan Bryan dari lamunannya.


"Oh, gak papa. Gue ke toilet sebentar ya," ucap Bryan dan langsung berjalan ke arah toilet pria. Ia harus menanyakan sesuatu pada Fani terlebih dahulu tentang kebenaran yang akan diungkapkannya pada Amora. Karena informasi apapun yang ia terima akan berdampak cukup besar pada Amora.


"Bagaimana keadaan disana?" tanya Bryan ketika panggilannya diangkat.


"Beberapa wartawan udah diurus sama Fio dan Della. Aku juga udah tanya soal informasi kematian orang tuanya sama pihak polisi."


"Terus apa katanya?"


Terdengar suara Fani yang menghela nafas. Kemudian ia pun menjelaskan secara rinci bagaimana kejadian nahas yang menimpa kedua orang tua Amora. Penyebab dan bukti-bukti yang telah ditemukan oleh pihak polisi yang memperkuat dugaannya. Bahkan ada beberapa pihak yang mengaitkan hal tersebut dengan hal mistis yang tengah beredar.


"Oke thank's infonya. Kabari gue kalau keadaan udah cukup tenang. Untuk sementara Amora akan gue bawa keluar dulu sampai situasi sudah cukup kondusif." Dan sambungan pun terputus. Bryan menghela nafas. Cepat atau lambat, ia harus segera memberitahu hal tersebut pada Amora.


Setelah dirasa cukup siap dan yakin, Bryan pun keluar dari toilet dan berjalan menuju mejanya. Tapi betapa terkejutnya ia saat Amora tidak ada di tempatnya seperti semula. Ia mengedarkan pandangannya ke penjuru kafe, namun Amora sama sekali tak ada di sana.


"Ini gawat!"

__ADS_1


***


__ADS_2