
Keluarga Atmanaja merupakan keluarga konglomerat yang berhasil meraup banyak pundi-pundi rupiah. Hingga kini tak banyak yang mengetahui kesuksesan Atmanaja Group, sehingga hampir tak memiliki musuh ataupun pesaing.
Perusahaannya sudah berdiri sejak kakek moyangnya masih hidup yang membangun perusahaan Atmanaja Group. Cabangnya sudah banyak berdiri di beberapa wilayah di Indonesia, Rusia, London, Dubai dan Jepang. Nilai sahamnya pun semakin naik dari tahun ke tahun.
Atmanaja sendiri adalah kakek kandung Bara. Sedangkan ayah kandung Bara adalah Arman Atmanaja yang sengaja mendidik anak semata wayangnya itu untuk tak mengekspos harta kekayaannya dan mengajarkannya untuk hidup sederhana. Hal tersebut juga bertujuan untuk melindungi keluarganya dari sasaran para oknum yang iri dengan hasil kerja kerasnya.
Arman sendiri sangat sibuk dengan beberapa perusahaan yang harus dihandle nya. Kadang ia lupa dengan jam makannya saking sibuk dan ambisiusnya ia dalam memimpin perusahaan. Karena jika dia malas sedikit saja, akan banyak ribuan karyawannya yang kena dampaknya.
Walaupun begitu, prioritas utamanya sekarang adalah anak dan istrinya. Ia mengajarkan kepada Bara sedikit demi sedikit betapa pentingnya perusahaan tersebut bagi keluarga Atmanaja. Namun ditengah-tengah itu ia juga diajarkan untuk menghormati dan menghargai orang lain. Tidak sombong dan selalu rendah hati.
“Kalau kamu sudah besar nanti, kamu harus bisa jaga diri dan jaga orang yang kamu sayangi yah. Termasuk mamah kamu.” Nasehat Arman pada Bara kecil.
“Baik, Pah.” Angguk Bara saat itu.
Hal itu lah yang membuat Bara hingga kini terus menggeluti seni bela diri. Sudah banyak beberapa penghargaan yang ia raih. Banyak juga lomba bela diri yang sudah ia menangkan. Tak lain dan tak bukan hal ini berkat dorongan dari kedua orang tua nya yang selalu mensupport segala kegiatannya itu.
Mona merupakan ibu kandung Bara yang selalu menemani tumbuh kembang anak satu-satunya itu hingga saat ini. Mona merupakan gadis desa lugu yang sangat mencintai Arman pada waktu itu. Ia sangat takut untuk mendekati Arman karena perbedaan kasta yang sangat jauh.
Namun ternyata kedua orang tua Arman tak memandang hal tersebut. Mereka cukup terpesona dengan sosok Mona yang sangat sopan dan menjaga tutur bahasa sehingga membuat mereka menyetujui hubungan antara Mona dengan Arman.
Oleh sebab itu akhirnya Arman dan Mona diperbolehkan untuk menikah. Dan merekapun dikarunia seorang anak yang sangat tampan yang bernama Bara Atmanaja. Seorang penerus perusahaan Atmanaja Group.
Mona menjunjung tinggi nilai agama dan etika sehingga mengajari Bara tentang pentingnya dua hal tersebut sedari kecil. Kedua orang tua Arman sangat mempercayai Mona untuk mendidik Bara dengan didikannya itu.
__ADS_1
Karena bagi keluarganya, nilai tertinggi dalam kehidupan adalah nilai kemanusiaan. Karena percuma jika hanya mampu beribadah dengan baik namun tidak bisa menjaga tutur bahasa dalam beretika dengan sesama manusia.
Bara sangat beruntung memiliki kedua orang tua seperti mereka. Ia tidak dituntut untuk melakukan hal-hal yang hanya diinginkan oleh kedua orang tuanya saja, namun malah memberi support terhadap apapun minat Bara. Sehingga Bara tumbuh menjadi anak yang sangat penurut terhadap orang tua.
*
“Gimana disana, sayang?” tanya Mona pada anaknya di panggilan video call. Arman dan Mona tengah video call untuk memberikan dukungan kepada Bara agar tetap semangat dalam lombanya.
“Sama aja, Mah. Disini gak ada yang spesial. Bara malah kangen sama Indonesia.”
“Kangen sama Indonesia atau kangen sama dia?” goda Mona, karena dia tahu bahwa putranya itu akhir-akhir ini sering antar jemput seorang perempuan. Arman yang mendengarnya langsung menghentikan kegiatannya dan menatap layar ponsel.
“Perempuan? Namanya Amora ya?” telisik Arman mengingat kejadian saat Bara pernah menyebut satu nama kepadanya waktu dulu. Bara yang panik karena kedua orang tuanya mengetahui nama Amora mencoba tenang agar tidak terlihat gugup.
Namun wajah Bara yang terlihat memerah di balik layar ponsel itu berhasil tertangkap Mamahnya.
“Ternyata anak kita lagi jatuh cinta, Pah.” Ucap Mona tersenyum menggoda Bara. Arman hanya tersenyum sambil memainkan laptopnya. Ia terlihat sangat sibuk namun selalu menyempatkan waktu untuk keluarganya.
Bara yang wajahnya sudah seperti kepiting rebus langsung berpamitan kepada kedua orang tuanya dan mengakhiri panggilan video callnya. Bisa-bisanya mereka malah menggoda Bara disaat yang seperti ini, batinnya. Namun tak ayal Bara sangat senang melihat kedua orang tuanya tampak tak mempermasalahkan soal kedekatannya dengan Amora.
Tiba-tiba dirinya jadi merindukan Amora dan saat itu juga ia mengambil ponselnya dan berfoto dengan gaya selfie. Ia memotret dirinya beberapa kali sebelum akhirnya ia kirim pada Amora. Dulu dia selalu mengatai teman-temannya dengan sebutan bucin alias budak cinta hanya karena tingkah mereka menjadi aneh setelah mengenal perempuan.
Namun kini Bara mengetahui alasan mengapa mereka sampai berbuat seperti itu. Cinta memang tak masuk akal dan tak memandang waktu. Kapanpun cinta bisa datang walau dalam hitungan detik. Bagi Bara, cinta adalah hal indah yang pertama kali dirasakan oleh hatinya.
__ADS_1
Kadang ia tersenyum sendiri memikirkan sifat Amora yang sangat ceroboh itu. Kadang ia juga dilanda gelisah hanya dengan memikirkan keadaannya saja. Begitulah cinta. Terasa aneh namun juga indah secara bersamaan. Bunga yang mekar di hatinya seolah sedang bersemi.
Namun ada satu hal pasti yang menunggu penikmat cinta. Satu kata yang bisa saja membuat keduanya hancur dan rapuh dalam satu waktu. Perpisahan. Tak ada yang mau mengalami hal tersebut karena sejatinya orang yang jatuh cinta tak akan sedetik pun memikirkan hal tersebut. Padahal satu kata itu adalah kemungkinan yang sangat besar bisa terjadi dalam setiap hubungan.
Berbeda dengan Bara. Ia sangat takut dengan satu kata itu. Saat ini pun ia harus rela berpisah dengan Amora walau hanya sebentar. Hanya sejenak pun Bara merindukan Amora, apalagi hingga beberapa minggu lamanya. Itu pun dapat dikatakan sebagai perpisahan. Hanya saja ia masih bisa bertemu dengan Amora.
*
Namun, di suatu tempat yang jauh dari sana, terdapat beberapa orang yang sedang menyusun niat jahatnya terhadap keluarga Atmanaja.
“Kita sekarang sudah mengetahui kelemahan keluarga Atmanaja.” Ucap seseorang.
“Benar pak Direktur. Sebaiknya kita harus segera mengambil tindakan sebelum perusahaannya berkembang lebih maju lagi.” Ucap seseorang yang diduga adalah bawahannya.
“Lakukanlah. Kamu tahu apa yang harus kamu lakukan.” Ucap direktur tersebut penuh dendam dan ambisi.
“Baik, pak Direktur. Akan saya jalankan perintahnya dengan baik.” Ucap bawahannya mantap, kemudian pergi.
Direktur itu kemudian berjalan ke arah jendelanya, memandang ke arah luar dengan tatapan sinis.
“Sebentar lagi kamu akan hancur, Arman!” teriaknya kemudian tertawa dengan sangat keras. Seolah rencananya kini sudah hampir terselesaikan.
***
__ADS_1