
Bara dan Paul bersiap-siap akan menemui sang ketua mafia. Ia menerima pesan dari ayahnya, namun isi pesan tersebut seperti ada yang tak beres. Sang ayah menyuruh Bara datang seorang diri. Namun tentu saja Paul menolak dan tetap ikut dengan Bara.
“Apa kita harus membawa para pengawal?”
“Tidak perlu. Mereka akan merasa terancam jika kita membawa para pengawal.” Jawab Bara.
“Tapi bagaimana jika kita dihadang oleh puluhan anak buahnya?” tanya Paul karena hanya mereka berdua yang akan mendatangi tempat berbahaya itu.
“Bahkan puluhan orang belum ada apa-apanya untukku,” jawab Bara dengan santai.
Paul lupa bahwa atasannya itu adalah seorang juara karate tingkat internasional. Jadi kenapa dia harus mengkhawatirkannya? Justru yang harus ia khawatirkan adalah dirinya sendiri.
Tak lama mereka pun sampai di depan markas mafia tersebut. Tempat ini seolah mengingatkan Bara dengan kejadian beberapa tahun lalu saat ia hendak menyelamatkan sang ibu. Bangunan gedung itu tampak gelap. Hanya cahaya dari sinar rembulan yang meneranginya.
“Bersiap-siaplah. Kita akan memasuki area yang cukup berbahaya.” Ucap Bara melirik ke arah belakang melihat Paul yang sedikit ragu.
“Jika kau takut, tunggu lah di dalam mobil.”
“Tidak mungkin saya meninggalkan anda sendirian menghadapi mereka.” ucap Paul walau ia sedikit ragu.
“Aku tidak butuh seseorang yang meragukan kemampuannya sendiri untuk menemaniku.” Ucapan Bara membuat Paul tersadar. Ia pun membulatkan tekadnya untuk melangkah maju menemani Bara. Ia pun menghela nafas sejenak kemudian berkata.
“Saya siap menghadapi siapapun musuh di hadapan saya nanti,” ucapnya bersemangat.
“Bagus.” Jawab Bara tersenyum menyadari perubahan pada Paul.
__ADS_1
Gerbang itu pun dibukanya. Walau baru melangkah masuk, sudah ada belasan penjaga yang menghalau Bara. Refleks Bara mundur dan menangkis serangan mendadak itu. Tanpa jeda, mereka semua menyerang ke arah Bara secara serentak. Paul pun langsung menangkis beberapa serangan yang mengarah kepadanya.
Pergulatan itu pun terjadi di halaman depan bangunan tersebut. Paul cukup kewalahan melawan lima orang yang menyerangnya. Namun sebisa mungkin ia bertahan dari serangan-serangan tersebut. Dan jika ada celah, ia membalas menyerang mereka.
Sementara itu Bara diserang oleh sepuluh orang berbadan besar dan kekar sekaligus. Namun hal ini malah membuat Bara tersenyum karena ia sangat tahu kelemahan mereka. Rata-rata orang yang memiliki badan besar sangat lambat dalam melakukan penyerangan karena bobot badannya. Dengan kegesitannya, Bara langsung menyerang area-area vital mereka dan melumpuhkannya hingga mereka tumbang.
Ia melihat ke arah Paul yang tengah kewalahan dan segera membantunya. Dengan sekali serangan dan gerakan yang terlatih, tak sulit untuk melumpuhkan mereka. Paul melihat Bara yang tengah membantunya. Padahal lawan yang Bara hadapi lebih banyak dibandingkan lawan Paul. Tapi hanya beberapa menit saja ia mampu menumbangkan mereka.
Tak lama seorang laki-laki yang cukup tinggi dengan perawakan kekar menghampiri Bara dan Paul. Laki-laki itu sedikit kagum dengan kemampuan Bara yang mengalahkan para penjaga itu dalam sekejap.
“Tuan sudah menunggu anda. Silahkan ikuti saya,” ucap ajudan tersebut. Bara melihat ke arah Paul memberikan kode untuk mengikutinya. Setelah mengangguk yakin, mereka berdua pun mengikuti langkah laki-laki tersebut memasuki gedung.
Ruangan yang dimasukinya sangat luas bahkan lapangan sepak bola pun akan kalah dengan luasnya ruangan ini. Dari jauh sudah tampak seseorang yang memakai setelan hitam dipadu dengan jas hitam sedang duduk seolah menunggu kehadiran mereka. Tampaknya itulah sang ketua mafia.
“Saya memenuhi panggilan ayah saya untuk datang kemari. Apa dia ada disini?” tanya Bara tak gentar. Berbeda dengan Paul, ia menahan kakinya yang gemetar hebat karena melihat ancaman yang begitu besar di hadapannya.
Di belakang ketua mafia itu sudah berdiri para pengawal yang jika dihitung hampir 50 orang tengah berdiri sambil menatap tajam ke arah Paul dan Bara. Badan mereka pun dipenuhi oleh tato. Bisa mati ia jika langsung diserang oleh orang-orang menyeramkan itu, batin Paul.
“Ayahmu? Dia tidak ada disini,” ucap ketua mafia itu dengan tersenyum sinis.
“Jangan permainkan saya. Lepaskan dia jika tak mau kuhancurkan tempat ini.” Ucapan Bara sedikit membuat ketua mafia itu bergidik dengan keberaniannya.
‘Jangan Bara! Kita akan mati jika melawannya! Apalagi orang-orang itu sangat menyeramkan.’ Tentu saja hal itu hanya Paul ucapkan dalam hati. Untuk membuka suara saja rasanya sangat sulit. Tapi Bara malah menyiram bensin ke dalam api. Ini bahaya!
“Tampaknya kau sama sekali tak takut dengan kami.” Ucap ketua mafia pelan namun dengan tatapan tajam. Walau Bara ditatap seperti itu ia sama sekali tak gentar dan membulatkan tekad untuk menyelamatkan sang ayah.
__ADS_1
Padahal sorot mata ketua mafia itu bisa membuat nyali lawannya menjadi ciut. Tapi berbeda dengan Bara, sang ketua mafia sangat takjub dengan tekad dan keberanian yang dimiliki oleh orang yang ada di hadapannya ini. Suasana pun semakin tegang dan mencekam.
“Kita lihat seberapa hebat dirimu.” Dengan hanya satu kalimat yang terlontar dari ketua mafia, semua anak buah yang sedari tadi berdiri di belakangnya langsung menerkam ke arah Bara secara serentak.
“Mundurlah,” titah Bara pada Paul untuk menjauhi arena pertempuran.
Haa! Dugh! Brakk!! Syuuutt!!
Kini Bara melawan puluhan anak buah mafia itu sekaligus. Dia langsung membuat pertahanan yang kuat karena jumlah lawannya yang tak seimbang. Namun serangan demi serangan yang ditangkisnya membuat energinya perlahan terkuras. Sebisa mungkin ia harus bertahan dengan mengandalkan beberapa teknik yang dipelajarinya dalam bertarung.
Dan ketika lawannya sudah mulai kelihatan kewalahan menyerang Bara, saat itulah Bara beraksi dan memanfaatkan situasi.
Bruak! Daghh!! Braakkh!
Menendang area vital, mematahkan tangan, meninju ulu hati, meninju rahang dan segala jenis serangan lain Bara lakukan dengan sangat gesit dan lihai. Ketua mafia yang menyaksikan hal itu sangat takjub dengan kemampuan yang dimiliki Bara. Selain hebat, tampaknya ia benar-benar anak yang berbakti pada ayahnya.
Cihh! Dia sangat iri sekali dengan hal itu. Dari dulu ia sangat menginginkan anak laki-laki agar ia bisa melatihnya hingga hebat seperti Bara. Tapi sayang sekali anaknya adalah seorang perempuan. Benar-benar beruntung sekali temannya itu, karena mempunyai seorang putra yang sangat membanggakan.
Paul yang sejak tadi hanya menyaksikan Bara bertarung hanya terdiam tak mampu membantunya. Ia sudah cukup bersyukur karena para anak buah mafia itu tidak melihat ke arahnya. Karena saat ini sasaran empuk adalah dirinya.
“Gunakan senjata kalian!!!” gema sang ketua mafia membuat pergulatan itu terhenti sejenak. Bara cukup terkejut saat melihat semua lawannya itu mengeluarkan senjata tajam mereka.
‘Sial! Kalau begini aku akan kewalahan.’ Gerutu Bara dalam hati.
***
__ADS_1