
"Anton, apa semuanya sudah beres?" tanya Bryan lewat sambungan telepon.
"Semuanya sudah saya urus. Sebentar lagi saya akan sampai di sekolah anda. Tunggu saja."
"Oke, kerja bagus." tutur Bryan dan langsung mematikan sambungan.
Ia sudah menugaskan kepada Anton untuk mengurus masalah Ari dan Stella yang hampir saja melakukan hal yang buruk pada Amora. Sudah jelas kelakuan mereka tak bisa ditolerir lagi. Mereka berdua pantas mendapat hukuman yang setimpal dengan perbuatannya.
Hari itu suasana kelas tampak tak biasa. Amora dan Fani masih saling diam. Canggung, tak tahu harus kapan mulai bicara. Fani sudah tahu bahwa kemarin Amora hampir kena celaka jika saja tak ditolong oleh Bryan. Ia pun tahu hal tersebut darinya lewat telepon. Tapi Fani masih bingung untuk buka suara.
"Fani, maafin aku yah. Kemarin harusnya aku jujur aja sama kamu." ucap Amora yang akhirnya memulai pembicaraan.
"Iya, gak papa." ucap Fani namun masih dengan ekspresi kaku.
"Sebagai permintaan maaf aku, ini aku beliin kamu sesuatu." ujar Amora sedikit gugup sambil menyerahkan sebuah paperbag padanya.
Fani mengetahui semua yang terjadi pada Amora dari Bryan. Semuanya. Ia pikir semua yang terjadi padanya kemarin karena saat itu Amora ingin membelikan sesuatu untuknya. Secara tak langsung Fani menyalahkan dirinya sendiri. Karena bisa jadi gara-gara Amora ingin membelikan sesuatu untuknya, hal buruk itu pun terjadi pada Amora.
Andai saja kemarin ia tak marah padanya. Mungkin saja Amora tidak akan mengalami pelecehan itu. Dan saat ini apa yang barusan ia dengar? Kata maaf itu terucap dari mulut Amora, bukan dari dirinya. Seharusnya Fani sendiri yang mengatakan maaf itu, bukan dia. Batin Fani bergelut.
"Kamu m.. mau kan maafin aku?" tanya Amora kembali. Dan sedetik kemudian Fani langsung memeluk Amora dengan erat. Tangisnya luruh seiring linangan air matanya yang mulai mengalir.
"Harusnya kemarin aku gak kayak gitu sama kamu." ucap Fani di balik punggung Amora. Ia merasa sangat menyesal.
"Enggak kok. Emang aku yang salah udah gak jujur sama kamu." air mata Amora pun mulai menggenang di pelupuk matanya. Berusaha menahan tangis.
Cekrek! Dan tiba-tiba sebuah suara terdengar. Della dan Fio pelakunya. Mereka lega melihat kedua sahabatnya yaitu Amora dan Fani kini sudah bersatu kembali. Dan dengan inisiatif mereka mengabadikan momen mengharukan tersebut.
"Syukurlah kalian berdua udah akur lagi." ucap Della menghampiri Amora dan Fani yang sudah melerai pelukannya.
"Iya nih, si Fani semaleman terus-terusan ngedumel. Takut kamu malah membencinya." ucap Fio membongkar rahasia Fani. Fani memberikan kode agar ia diam namun sama sekali tak digubris oleh Fio. Alhasil mereka pun tertawa bersama.
"Oh iya, ini aku juga beliin sesuatu buat kalian." ucap Amora sambil menyerahkan masing-masing satu paperbag pada Della dan Fio.
__ADS_1
"Wah, keren! Thank you ya, Ra." Fio melihat satu buah lip balm warna soft pink kesukaannya dengan antusias.
"Padahal gak usah repot-repot gini loh, Ra. Yang banyak aja beliin nya." ucap Della dengan cengengesan.
"Ye, ini orang malah ngelunjak." tutur Fani menjitak kepalanya. Amora hanya tertawa menyaksikan para sahabatnya itu. Untung saja Bryan menemukan paperbag tersebut. Kalau tidak, momen seperti ini tak akan bisa terwujud.
Tak lama Bryan muncul ke dalam kelas. Sosoknya sangat mendominasi sekitar. Seolah-olah semua orang akan terkesima dengan kehadirannya.
"Aduh, sorry ya guys harus ganggu momen kalian. Gue mau pinjem Amora nya sebentar." ucap Bryan sambil menghampiri Amora.
"Ada apa?"
"Ini soal Stella dan Ari." jawab Bryan dengan nada rendah seolah hanya ingin Amora yang mendengarkan.
"Oke." jawab Amora sambil mengangguk penuh penekanan. Apa yang akan terjadi pada mereka berdua? Hati Amora bertanya-tanya.
"Aku pergi dulu ya guys." ucap Amora.
"Kalau ada apa-apa kabarin kita ya," teriak Della.
Sementara Fani hanya menatap punggung Amora yang mulai menjauh dengan tatapan sendu. Semoga tak ada lagi kejadian buruk yang menimpanya. Dia Fani dalam hati.
Setelah sampai di kantor para guru, Amora melihat sudah banyak orang di dalam sana. Ada kepala sekolah beserta jajaran guru lainnya yang duduk melingkar. Sementara di tengah-tengah mereka sudah ada Stella dan Ari yang tampak tertunduk. Matanya hanya menatap ke bawah.
Amora juga melihat seorang wanita paruh baya duduk di samping Ari. Dan seorang laki-laki yang hampir seumuran dengan almarhum ayahnya tengah duduk di sebelah Stella.
Tampaknya ia adalah ayah Stella dan di sampingnya adalah ibunya Ari. Karena Amora pernah melihat ibunya Ari saat kasus pemerkosaan yang Ari lakukan waktu dulu (episode 12).
Amora berjalan masuk dengan didampingi Bryan. Semua mata tampak tertuju ke arahnya ketika memasuki ruangan tersebut. Ia pun melihat seorang lelaki memasuki ruangan itu lalu melangkah ke jajaran depan.
"Itu siapa?" tanya Amora.
"Pengacara gue. Tapi sekarang dia berperan jadi pengacara elo." tutur Bryan membuat anggukan di kepala Amora.
__ADS_1
"Baik, karena semuanya sudah berkumpul, rapat komite kekerasan sekolah akan segera dimulai." ucap sang kepala sekolah dengan lantang.
"Silahkan kepada pak pengacara untuk memaparkan tuntutannya." sambungnya.
"Baik. Sebelumnya terimakasih pada pak kepala sekolah. Saya disini sebagai pengacara dari korban, yaitu Amora Yunda Mortis. Ada beberapa tuntutan yang akan saya layangkan. Yang pertama, yaitu penculikan, dengan cara memberikan obat bius pada korban sehingga korban tak sadarkan diri."
Amora yang mendengarnya mengepalkan kedua tangannya. Emosi. Rasanya saat itu ingin sekali menampar kedua pelaku itu yang sudah melakukan pelecehan padanya. Namun tiba-tiba Bryan menggenggam tangan Amora. Seolah memberikan kekuatan padanya.
"Are you okay?" tanya Bryan dengan senyum yang sangat menenangkan. Amora mengangguk dan berusaha tersenyum. Nafas Amora pun perlahan normal kembali. Dan ia berusaha untuk tetap tenang melihat sidang itu.
"Kedua, pelecehan. Korban yang tak sadarkan diri dilecehkan oleh pelaku laki-laki sementara pelaku perempuan merekamnya."
"Gak! Gue gak setuju!" teriak Stella. Namun langsung mendapat peringatan dari guru yang bertugas menjaga ketertiban selama sidang berlangsung.
"Mohon untuk tidak bicara sebelum dipersilahkan." Alhasil setelah itu Stella kembali duduk dengan wajah penuh emosi.
"Silahkan dilanjutkan." tuturnya. Sang pengacara pun kembali membuka suara.
"Dan yang terakhir, pencemaran nama baik. Pelaku perempuan sudah terbukti mengirim hasil video tersebut dengan sadar ke media sosial. Namun hal itu sudah berhasil dicegah agar tidak tersebar luas." ucapnya dengan tegas.
"Ada pun bukti yang saya miliki saat ini adalah dua ponsel dari pelaku yang di dalamnya terdapat video pelecehan terhadap korban. Dan ada pula isi percakapan para pelaku mengenai rencana pelecehan tersebut."
Degh! Wajah Ari dan Stella memucat. Sial! Kenapa juga mereka bisa sampai berurusan dengan Bryan! Berabe. Tak ada yang mampu melawan kekuasaannya. Bahkan hanya mengerahkan satu orang pengacara saja mereka langsung ciut.
"Jika demikian, pelaku dapat diberikan hukuman yang berat, yaitu dikeluarkan dari sekolah. Bagaimana tersangka, apakah ada bantahan? Karena bukti yang diberikan sudah cukup kuat." tanya sang kepala sekolah. Kini giliran para pelaku melakukan pembelaan atau pun penyanggahan.
"Saya tidak setuju!" ibu dari Ari angkat suara. Tampaknya ia akan mengungkapkan penolakannya.
"Anak saya tidak akan jera jika hanya dikeluarkan dari sekolah!" ungkapnya.
Semua yang hadir tampak terkejut dengan penuturannya, terutama Amora. Kenapa ia malah ingin Ari dihukum lebih berat? Amora sangat tahu kasus yang menyangkut Ari sebelumnya. Ibunya itu akan membelanya mati-matian padahal ia sudah tahu bahwa anaknya itu salah. Namun kali ini anehnya ia malah membebankan hukuman berlipat untuk anaknya itu. Bukan malah membelanya.
***
__ADS_1