Menanti Pasangan Hati

Menanti Pasangan Hati
Mencoba Hal Baru


__ADS_3

Setelah kejadian itu, Amora dan Bryan tidak lagi bersama. Bryan memutuskan untuk pergi dari hidup Amora demi kebaikannya. Walaupun Amora tak menginginkan hal itu, tapi ia juga tak mau menjadi orang yang egois. Mungkin benar keputusan untuk saling menjauh, karena jika terus bersama hanya akan menorehkan rasa sakit dihatinya.


“Lebih baik kita akhiri hubungan ini. Aku tak mau makin menyiksa dirimu lagi.”


“Enggak, Bryan. Aku gak mau kehilangan siapapun lagi.” pinta Amora.


“Ini untuk kebaikan kita.” Tampaknya Bryan sangat berat mengatakan hal itu. Matanya berkaca-kaca.


“Kabari aku kalau kamu butuh bantuan. Aku akan langsung menghampirimu.” Ucapnya sambil memeluk Amora. Pelukan yang mungkin akan menjadi yang terakhir baginya.


“Ra?” tepukan di bahu Amora membuyarkan lamunannya.


“Sekarang giliran elo yang presentasi.” Ujar Satria.


“Oh.. Em.. Iya.” Amora tergagap. Ia lupa bahwa dirinya sedang melangsungkan presentasi.


Amora pun maju ke depan untuk memaparkan materi yang akan ia bawakan di hadapan para mahasiswa angkatannya. Sementara dosen mata kuliahnya fokus memperhatikan performa kelompok Amora yang sedang presentasi itu. Karena hal sekecil apapun akan menjadi penilaian nantinya.


Penuturan yang Amora jelaskan mudah dipahami. Dengan santai ia mampu menjelaskan rincian data yang didapatnya dari sumber yang dapat dipercaya. Namun bukan mahasiswa namanya jika tidak kritis. Selalu ada yang mengangkat tangannya disela-sela Amora sedang menjelaskan.


“Sorry, itu datanya dapat darimana ya? Kok bisa akurat banget?” tanya mahasiswi yang mengangkat tangannya. Pertanyaan yang penuh dengan jebakan. Namun dengan santai Amora pun menjawabnya.


“Kami mendapat data-data tersebut dari beberapa jurnal di situs resmi. Sorry Dimas, bisa pindah ke slide terakhir?” titah Amora pada Dimas.


Setelah layar tersebut menampilkan slide yang berisi link dari sumber-sumber ternama, semua mahasiswa tercengang dan saling berbisik. Begitupun dengan sang dosen.


“Bukankah link itu berbayar? Dan cukup mahal ya?” ujar salah satu mahasiswa menimpali.


“Menurut saya letak ke akurat an suatu data tidak bisa dibandingkan dengan mahal atau tidaknya. Bukankah harga tersebut sudah sesuai dengan data valid dan akurat yang kita dapat? Lantas, jika membuat suatu proposal tanpa data yang valid, apakah hal tersebut bisa dikatakan proposal yang baik?”


Pertanyaan Amora langsung membungkam para mahasiswa saat itu juga. Banyak yang merasa minder apalagi bagi mahasiswa yang hanya membuat proposal atau bahan materi presentasi yang asal-asalan. Bahkan sumbernya hanya dari satu artikel yang belum tentu akurat datanya. Berbanding terbalik dengan kelompok Amora yang melakukannya dengan sempurna.


Amora pun langsung melanjutkan kembali materi yang tengah dibahasnya hingga selesai. Sedangkan sang dosen yang menyaksikannya diam-diam memberikan nilai A+ di kolom nama Amora. Ia salut dengan mahasiswi kebanggaannya itu. Dan kelompoknya pun mendapatkan nilai yang sempurna.


“Baiklah. Hari ini terimakasih untuk kelompok-kelompok yang sudah mempresentasikan hasil materinya. Untuk ke depannya kalian mungkin akan disibukkan dengan pengurusan skripsi. Untuk dosen pembimbingnya sudah ada di mading. Kalian bisa lihat sendiri dosen pembimbing kalian masing-masing.”

__ADS_1


“Baik, Pak. Terimakasih.” Seru para mahasiswa.


Sepeninggal sang dosen, para mahasiswa langsung berhamburan meninggalkan kelas. Ada yang langsung melihat ke arah mading untuk mengetahui dosen pembimbing skripsinya, bahkan ada yang tidak terlalu perduli dan malah pergi ke kantin.


“Ra, kita dapat dosen pembimbing yang sama. Pak Arkan.” Ucap Satria memberitahu Amora yang hendak pergi melihat mading.


“Oh yah? Bagus dong.”


“Udah bikin list judul-judul skripsinya?”


“Belom. Baru nyari sedikit referensi aja.” Jawab Amora.


“Ehem ini couple bikin iri aja deh. Jalan yuk guys. Boring nih. Gimana kalau kita dugem aja? Tanggung udah mau malem nih.” Ucap Erin.


“Jangan pengaruhi dia sama pergaulan elo yang bebas deh.” Balas Satria mendorong kening Erin agar menjauhi Amora. Namun Erin tak bisa menyerah begitu saja.


"Ayo, Ra. Please mau yah? Kita happy-happy pokoknya," rengek Erin sambil memeluk Amora. Ia hanya ingin temannya itu sejenak melepaskan stres dan depresi yang ia duga sedang dialaminya.


"Ya udah oke gue ikut."


"Seriusan, Ra?"


"Gak papa lah, Sat. Gue mau coba." jawab Amora.


Akhirnya Amora, Erin dan Satria pergi ke klub malam itu. Amora dipinjamkan baju oleh Erin yang sedikit terbuka sehingga menampilkan belahan dadanya dan paha atasnya yang putih mulus.


Walaupun Amora sempat risih mengenakannya, namun ternyata di dalam klub masih banyak orang yang memakai pakaian yang lebih terbuka dibandingnya. Bahkan ada yang hampir tidak berpakaian karena saking terbukanya.


Sementara itu Satria tak bisa berkata apa-apa lagi melihat penampilan Amora yang sangat terbuka itu. Penampilan yang baru pertama kali dilihatnya. Sangat seksi dan cantik sekali. Bahkan pandangan matanya hanya tertuju pada Amora.


Sejak pertama kali Amora memasuki klub, dentum musik yang keras memekakkan telinganya. Namun setelah beberapa menit berada di dalam, ia mulai terbiasa dan mencoba melakukan hal-hal baru yang belum pernah ia lakukan dalam hidupnya.


"Ra, jangan terlalu banyak minum. Nanti lo mabuk berat." ucap Satria menahan tangan Amora yang hendak mengangkat gelasnya.


"Gak papa, Sat. Gue berasa enjoy sekarang." tutur Amora dengan suara mabuknya.

__ADS_1


"Iya ih. Elo ganggu aja sih, Sat. Udah Ra, ayo kita minum lagi." ujar Erin memberikan gelas Amora padanya lalu bersulang dan menenggak minumannya masing-masing.


"Ya elah kalau gini caranya, gue jadi harus jagain kalian berdua nih." keluh Satria namun yang ia khawatirkan tentunya adalah Amora. Dia masih awam di dunia seperti ini, berbeda dengan dirinya maupun Erin.


"Tenang aja, Sat. Gue udah minta cowok gue buat jemput gue kok. Elo jagain Amora aja yah. Inget, jangan bawa ke hotel." tutur Erin dengan mata yang mulai sayu.


"Iya tenang aja." jawab Satria.


Makin malam suasana klub makin ramai. Amora dan Erin pun sudah sangat mabuk, namun Satria memilih tidak ikut minum untuk berjaga-jaga jika sesuatu hal buruk terjadi. Ia hanya memperhatikan tak mau ikut menikmati suasana klub saat itu.


Dan yang tak diharapkan pun terjadi. Amora benar-benar sudah mabuk dan mulai tak sadarkan diri. Minuman yang menurutnya pahit itu kini mulai membuatnya tak sadarkan diri. Rasa mual pun mulai menyerangnya.


"Aduh gue mual banget." keluh Amora mencoba menahan sesuatu yang hendak keluar dari mulutnya.


"Ke toilet aja disana." tunjuk Erin dan seketika langsung ambruk tak sadarkan diri. Refleks Satria menahan tubuh Erin dan menyandarkannya di kursi.


"Gue anter yah," tawar Satria melihat Amora berjalan sendirian dengan sempoyongan.


"Gak usah gak papa, Sat. Elo jagain Erin aja."


"Ra..." Satria tak melanjutkan kalimatnya ketika Amora sudah mulai menjauh.


Amora pun berjalan sendirian menuju ke arah yang ditunjuk Erin tadi. Walau tingkat kefokusannya sudah mulai menurun, ia tetap menjaga agar dirinya tidak salah masuk ruangan.


Namun Amora yang berjalan dengan mata yang terpejam dan sempoyongan malah membawanya masuk ke lorong ruangan VVIP yang ada di klub tersebut. Amora sudah tak fokus dan kepalanya makin berdenyut hebat ditambah suara dentum musik dan cahaya yang remang.


Brugh! Sesuatu yang tak diduga pun terjadi. Amora menabrak seorang laki-laki yang tiba-tiba ada di hadapannya. Ia mendongak memicingkan matanya, melihat siapa yang berada di depannya itu. Amora mengerjap-ngerjapkan matanya, namun tubuhnya langsung rubuh dan pandangannya langsung gelap. Amora tak sadarkan diri di hadapan seorang laki-laki.


Siapakah laki-laki itu?


Apakah ia orang jahat ataukah seseorang yang Amora kenal?


Bagaimanakah kisah selanjutnya?


Dukung terus novel ini ya..

__ADS_1


***


__ADS_2