
Amora masih terbayang kejadian yang baru saja ia lihat secara jelas. Apa yang sedang Stella dan Ari lakukan di dalam perpustakaan membuatnya bergidik. Pantas saja ruang perpustakaan saat itu gelap, mungkin saja mereka sengaja melakukannya.
“Heh, ngelamun aja,” Deri membuyarkan lamunan Amora. Ia pun hanya cengengesan.
“Gimana kakinya? Udah baikan?”
“Udah, Kak. Makasih ya,” ucap Amora sambil menggerak-gerakkan kakinya setelah sebelumnya dibantu Deri untuk sedikit dipijat. Deri hanya mengangguk menanggapinya dan melanjutkan sesi belajarnya.
Perpustakaan mulai ramai pengunjung. Sang penjaga perpustakaan pun sudah datang dan mulai merapihkan meja kerjanya. Amora hanya tersenyum menyapanya setelah mata mereka saling pandang.
Deri terkadang akan menggantikan tugas penjaga perpustakaan jika ia kemungkinan datang siang seperti saat ini. Karena Deri adalah yang paling sering datang ke perpustakaan, sehingga sang penjaga memberikan kepercayaan padanya.
Sebenarnya Deri merasa aneh ketika ia datang ke perpustakaan, pintunya ditutup dulu karena ia hendak pergi ke toilet sebentar. Namun setelah kembali, pintunya dalam posisi terbuka. Walau sedikit waspada, akhirnya ia merasa lega ketika melihat Amora sudah berada di dalam perpustakaan. Mungkin itu ulah Amora, pikirnya.
Namun tanpa Deri ketahui, sebenarnya yang memasuki perpustakaan dan membuat pintunya terbuka adalah kelakuan Stella dan Ari. Hanya Amora yang memergokinya, namun ia memilih untuk tidak menceritakan hal tersebut demi menjaga aib kedua kakak kelasnya itu walau sebenarnya ia tidak menyukainya.
Amora pun mulai berdiri dan berjalan ke arah rak yang menampilkan beragam novel best seller. Bagi Amora rak tersebut adalah surga baca baginya. Rasanya ia ingin sekali membawa semua novel yang ada disana. Karena jenis-jenis novel tersebut sudah jarang ditemukan di toko-toko atau gerai buku lainnya.
“Segitu sukanya ya elo sama novel?” tanya Deri disela-sela belajarnya. Deri memang kategori orang yang tak bisa ketinggalan mata pelajaran sedikit pun. Walau hari bebas sekalipun, ia tak kan bisa melewatkan jadwal rutinitas di perpustakaan hanya untuk menulis beberapa rumus yang belum ia pahami.
Amora mengangguk menanggapi pertanyaan Deri.
“Terus kak Deri juga segitu sukanya ya sama belajar?” tanya Amora balik.
“Kalau gue gak belajar, gue gak akan bisa masuk universitas favorit gue.” Jawabnya. Amora hanya manggut-manggut. Ia juga sebenarnya bingung mau ke universitas mana jika lulus nanti.
“Elo harus tahu apa minat dan tujuan hidup elo karena itu yang akan nuntun elo mau melangkah kemana.” Tutur Deri. Amora langsung memikirkan omongannya barusan. Minat? Tujuan hidup? Sepertinya ia harus memikirkan hal itu dengan matang.
“Sepertinya tujuan hidup aku….” Kata-kata Amora menggantung. Pikirannya teringat akan kekasih hatinya, Bara. Ia hanya ingin bertemu dengannya. Bisakah hal itu disebut dengan tujuan hidup?
“Elo harus fokus sama kebahagiaan diri sendiri. Jangan pikirin orang lain dulu. Elo harus punya tujuan hidup yang bermanfaat, entah untuk masyarakat atau untuk keluarga elo sendiri.” ucap Deri melihat Amora hanya diam tak berkutik.
__ADS_1
“Entahlah, Kak. Aku gak tahu tujuan hidupku saat ini apa.” Ucap Amora tak bersemangat.
“Entar juga elo tahu sendiri kok.”
Amora sebenarnya ingin menanyakan sesuatu pada Deri, namun ia ragu untuk menanyakannya. Tapi hatinya mendorong ia untuk bertanya.
"Em, kak Deri? Aku mau tanya. Apa kakak tau dimana kak Bara berada? Soalnya aku gak bisa hubungi kak Bara sama sekali." tanya Amora ragu-ragu.
Pertanyaan itu sukses membuat Deri membeku. Ia langsung menghentikan aktivitasnya dan menatap ke arah Amora. Ia bingung harus menjawab apa karena ia pun sama sekali tak tahu kabar sahabatnya itu.
"Gue juga gak tahu," ucap Deri dengan pandangan nanar. Rasanya ada sesuatu yang hilang di sekolah ini tanpa kehadiran Bara. Amora yang mendengarnya mendesah kecewa. Bahkan para sahabat Bara tak mengetahui keberadaannya. Ia jadi makin bingung dan kesal.
*
“Jadi ke perpusnya, Ra?” tanya Fani yang sudah berada di dalam kelas.
“Iya. Tadi kamu ke kantin beli apa? Maaf ya aku lama di perpusnya,” ujar Amora cengengesan.
"Siswa baru? Siapa?" tanya Amora dan Fani hanya mengangkat kedua bahunya.
"Nanti juga tahu." ucap Fani.
Tak berapa lama seorang guru perempuan masuk ke dalam kelas dan membuat seisi kelas langsung terdiam. Seorang laki-laki yang dibawa oleh guru tersebut seketika menjadi pusat perhatian.
"Bryan?" gumam Amora melihat laki-laki yang ada di depan kelasnya itu.
"Anak-anak, hari ini kita kedatangan siswa baru. Silahkan perkenalkan dirimu."
"Halo semuanya, nama gue Bryan Frishky. Kalian bisa panggil gue Bryan." ucap Bryan memperkenalkan.
"Udah punya pacar belom?!" teriak siswi kelas dengan nyaring.
__ADS_1
"Huuuuuu!" Namun ia langsung mendapat sorakan dari teman-teman lainnya. Bryan hanya tersenyum menanggapinya.
"Em, gimana ya? Sayangnya gue belom punya tuh," ucap Bryan sambil menatap ke arah Amora. Ia pun mengedipkan matanya dan malah membuat Amora bergidik melihatnya.
"Dasar cowok aneh," gumam Amora pelan. Suara riuh para siswa-siswi di dalam kelas semakin menjadi-jadi. Mereka malah mempertanyakan pertanyaan pribadi pada Bryan. Seperti pertanyaan punya mantan berapa, ukuran sepatu berapa, tipe ceweknya seperti apa, bahkan guru yang memperkenalkannya pun kewalahan untuk mengantisipasi pertanyaan yang dilontarkan para siswa-siswi kelas.
"Sudah, sudah. Kalian bisa menanyakan hal lainnya nanti." ucap guru itu menghentikan sesi tanya jawab yang mulai menyimpang.
"Yaaahh, ibu," gerutu para siswi.
"Nah sekarang, nak Bryan duduk saja di sebelah sana," tunjuk sang guru.
Beliau menunjuk tempat duduk Bryan tepat di belakang tempat duduk Amora yang memang kosong. Kebetulan macam apa ini? Amora benar-benar tak menyangka bahwa Bryan akan pindah sekolah dan bahkan sekelas dengannya.
Kemudian guru tersebut berpesan untuk berteman baik dengan Bryan. Walaupun ia siswa baru, harus saling mengayomi satu sama lain. Setelah jawaban setuju dari para siswa-siswi kelas itu, sang guru pun pergi meninggalkan kelas dan membiarkan Bryan untuk berbaur dengan teman-teman barunya.
"Kok elo pindah kesini? Ada angin macam apa bisa kebetulan gini?" tanya Amora langsung, ketika Bryan duduk di belakang kursinya.
"Entahlah. Mungkin karena magnet elo yang kuat, menarik gue agar tetap disamping lo." ucap Bryan dengan cengengesan.
"Idih, males," bantah Amora mengerlingkan matanya.
Amora hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan absurd Bryan. Sementara itu Bryan merasa sangat senang karena tujuannya untuk dekat dengan Amora berhasil terlaksana. Namun tampaknya rintangan yang harus ia hadapi akan lebih besar dari dugaan.
Fani menyadari akan perasaan Bryan yang sangat jelas terhadap Amora. Ia pun tak tahu harus mendukung siapa. Hubungan Amora dengan Bara? Ataukah hubungan Amora dengan Bryan? Sebagai sahabat yang baik, ia hanya mampu mendukung siapapun yang bisa membuat Amora bahagia.
Berita tentang kepindahan Bryan ke kelas Amora pun sudah menyebar bagai kilat. Bahkan kabar tersebut sudah sampai ke telinga para senior mereka, yaitu kelas 12. Dan orang yang pertama kali menyadari kabar kepindahan Bryan adalah Deri. Tak menunggu lama, ia pun langsung bergegas menuju kelas Amora.
"Kenapa dia dibiarin malah makin berani?" gumam Deri di tengah-tengah berlarinya. Ia sangat kenal dengan perangai Bryan ketika di SMP dulu. Ia dikenal dengan seseorang yang punya tekad tinggi. Segala keinginannya harus ia gapai, apapun rintangan yang akan dihadapinya.
Tapi kali ini ia tak bisa mendukung keputusan temannya itu. Ini sudah kelewatan. Sebisa mungkin ia harus membuat Bryan untuk keluar dari sekolah ini. Bagaimanapun caranya.
__ADS_1
***