
Satria yang merasa tak enak dengan perasaannya langsung bergegas menyusul Amora ke bawah. Ia sama sekali tak memperdulikan teman-temannya yang memanggil dirinya karena terlihat melamun.
"Gue ke bawah dulu ya." ucap Satria langsung bergegas. Ia menuruni tangga dengan panik saat melihat sesuatu yang ia khawatirkan ternyata terjadi. Amora tergeletak di lantai tak sadarkan diri.
"Amora!" Satria berlari menghampiri Amora dan langsung menepuk-nepuk pelan pipinya. Amora tampak dingin dengan wajah yang sangat pucat. Dengan sangat khawatir, Satria langsung membopong Amora untuk dipindahkan ke kamarnya.
"Hah, dia kenapa, Sat?" kaget Dimas melihat kondisi Amora yang tak sadarkan diri. Padahal tadi ia melihatnya baik-baik saja.
"Pindahin ke kasur, Sat," Erin pun tampak khawatir melihat kondisi Amora.
Dengan pelan Satria merebahkan tubuh Amora yang lemas itu di atas kasurnya. Ia mengambil selimutnya dan memakaikannya pada Amora. Lalu Satria hanya menatap lurus ke arah Amora. Ia tak tahu harus melakukan apa lagi disaat seperti ini.
“Panggil dokter aja, Sat,” usul Erin seolah tahu kegundahan hati Satria. Langsung saja ia menghubungi dokter pribadinya untuk segera datang ke rumahnya saat ini juga. Tak berselang lama, sang dokter pun datang ke dalam kamar milik Satria dan segera melakukan pemeriksaan medis. Erin, Dimas dan termasuk Satria sendiri menanti hasil dari pemeriksaan tersebut.
“Bagaimana dengan kondisinya?” tanya Satria sudah tak sabar.
“Tidak ada yang aneh. Hasil pemeriksaannya bagus. Tapi sepertinya dia memiliki panic attack. Ia akan bereaksi pada sesuatu hal yang bisa mengingatkannya kembali dengan traumanya.” Jelas sang dokter.
“Panic Attack?” tanya Dimas.
“Bisa dijelaskan bagaimana kronologi kejadiannya?” tanya balik sang dokter.
“Tadi sih dia lagi ngobrol sama kurir. Apa dia takut sama abang kurir itu ya?” jelas Dimas sedikit ngaco.
“Gak mungkin sih, Dim. Masa ada orang yang takut sama tukang kurir,” bantah Erin.
“Tadi sih gue denger ada suara ambulan. Apa mungkin ia takut dengan suara sirine tersebut karena bisa mengingatkannya dengan kematian kedua orang tuanya?” analisis Satria.
“Sepertinya itu lebih masuk akal dibanding dia takut dengan tukang antar paket. Kalau begitu saya akan resepkan obat untuknya.” Ucap dokter tersebut memberikan secarik kertas pada Satria yang tertulis nama-nama obat.
__ADS_1
“Terimakasih, Dok.” Ucap Satria sambil menerima secarik kertas tersebut.
“Baiklah kalau begitu saya pamit dulu,”
“Biar saya antar bu dokter,” usul Dimas dan langsung mengantar sang dokter.
“Sat, sekarang kita harus gimana?” Tanya Erin karena saat ini mereka tidak mungkin melanjutkan kerja kelompoknya lagi. Melihat kondisi salah satu temannya yang tengah terbaring tak berdaya tak mampu lagi untuk menyelesaikan tugas mereka, padahal deadline nya adalah besok.
“Biar gue yang urus sisanya. Elo sama Dimas kalau mau pulang duluan aja. Gue yang bakal jaga Amora sampai dia sadar.” Tutur Satria tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah Amora yang kini tidak terlalu pucat seperti sebelumnya. Tak lama Dimas pun kembali dan langsung berpamitan pulang begitu pun dengan Erin.
“Gue titip temen gue yah. Awas jangan elo macem-macemin!” ancam Erin.
“Gue gak sehina itu. Tenang aja.” Jawab Satria mantap.
“Kita balik dulu ya, Sat. Kalau kondisi dia masih gak baik, mending elo langsung bawa aja ke rumah sakit.” Ucap Dimas sedikit memberi saran.
Setelah acara pamitan itu, Satria kembali menghampiri Amora dan duduk di sebelahnya. Sebenarnya apa yang selama itu terjadi padanya? Ia sangat penasaran dengan masa lalu Amora. Karena yang ia tahu selama ini Amora hidup sebatang kara tanpa kedua orang tuanya. Ia menyangka bahwa orang tuanya sudah meninggal dunia.
Tak lama suara ponsel berdering dengan keras. Suara itu berasal dari tas milik Amora. Dengan ragu Satria mengambilnya karena siapa tahu ada hal yang penting. Namun ketika ia melihat satu nama yag tertera di layar ponselnya, ia jadi sedikit ragu untuk mengangkatnya. Bryan. Pacar Amora yang ia tahu dan tak sengaja pernah bertemu dengannya waktu itu.
“Halo?” akhirnya Satria mencoba menjawab panggilan tersebut. Hening sejenak. Tak terdengar suara dari seberang sambungan.
“Dimana cewek gue?” balas suara dari seberang dengan suara pelan namun sangat mengancam.
“Dia ada di rumah gue,”
“Bangsat! Lo apain cewek gue hah?!”
“Slow, Bro. Gue gak mungkin ngelakuin hal hina itu sama dia. Karena gue sangat menghormatinya.” Bantah Satria. Terdengar deru nafas membara dari seberang sambungan. Sudah ia duga pasti akan terjadi sedikit kesalahpahaman.
__ADS_1
“Kasih tahu gue alamat elo sekarang juga.” Pinta Bryan masih dengan nada rendahnya namun terdengar mengancam.
“Oke,” jawab Satria dan langsung memutus sambungan ponselnya.
*
Suasana sangat aneh saat itu. Amora tak tahu dirinya sedang berada dimana karena hanya ada cahaya putih di sebelah kanannya sementara itu kegelapan berada di sebelah kirinya. Ia duduk persis diantara keduanya.
Tak lama terdengar sayup-sayup suara orang berjalan dari arah kegelapan. Amora memicingkan matanya melihat ke arah kirinya. Lambat laun siluet itu mulai terlihat dan memunculkan wujudnya. Hal yang sama sekali tak Amora duga.
“Ayah? Bunda?” Amora langsung berlari menghampirinya masuk ke dalam kegelapan.
Namun semakin ia memasuki kegelapan, ada rasa tertekan dalam dadanya dan kepalanya pun terasa seperti ditusuk ribuan jarum. Semakin masuk semakin berat juga langkahnya namun Amora memilih tak menghiraukannya.
Ia hanya fokus ingin memeluk kedua orang tuanya itu untuk meluapkan segala sesak yang selama ini ia rasa. Dan pada akhirnya Amora sudah berada tepat di hadapan kedua orang tuanya itu. Dan ketika Amora hendak memeluk ayah dan bundanya, sebuah suara menghentikannya.
“Jangan, Amora!!” teriak seseorang dari arah cahaya. Dan betapa terkejutnya Amora melihat ayah dan bunda nya ada dua. Di sisi bagian kegelapan dan di sisi yang penuh dengan cahaya putih. Keanehan pun terjadi setelahnya.
Ketika Amora berbalik menatap ayah dan bunda nya yang berada di dalam kegelapan, wajah kedua orang tuanya itu berubah menjadi rusak dan menakutkan. Lelehan darah yang keluar dari sudut matanya mengalir ke bawah hingga ke kakinya.
Amora panik, namun ia sama sekali tak mampu menggerakkan tubuhnya. Ia menangis melihat perubahan yang terjadi pada tubuh kedua orang tuanya.
“Jangan takut, Nak. Itu hanyalah ketakutanmu. Keluarlah dari kegelapan itu!” suara sang ayah dari arah ruangan yang memiliki cahaya putih.
“Pejamkanlah matamu, Nak. Dan dengarkan suara bunda.” Kali ini giliran suara sang bunda yang terdengar dari arah cahaya itu.
Dengan tekad yang kuat, Amora pun memejamkan matanya mengikuti instruksinya. Dengan perlahan ia melangkah ke depan. Satu, dua, tiga langkah, ia berhasil mengayunkan kakinya yang berat untuk keluar dari kegelapan itu. Namun sesuatu yang buruk pun terjadi.
***
__ADS_1