
Bara yang ditatap tajam itu sama sekali tak gentar. Namun setelah mengetahui pria itu diam-diam mengeluarkan pisaunya, Bara langsung waspada. Pria tersebut tersenyum sinis melihat keterkejutan Bara. Namun Bara tak mau menunjukkannya terlalu lama, ia malah tertawa dengan terbahak-bahak.
“Really? Di tempat umum seperti ini?” tanya Bara seolah menantangnya.
“Banyak ba cot kau!” teriak pria itu dan langsung menendang meja ke arah Bara. Sementara itu, Bara yang menyadari pergerakkan meja tersebut langsung menghindar mundur. Kursi yang ia duduki pun ikut mundur.
Para pengunjung restoran langsung terkesiap dengan kejadian tersebut, namun tak ada satu pun yang berani menghalaunya. Mereka semua bergidik ngeri menyaksikan pergulatan tersebut. Sementara pihak restoran yang melihat kejadian itu langsung menghubungi pihak berwajib untuk segera datang ke lokasi.
Pria itu mendekati Bara dan hendak menusuk perutnya, namun Bara bisa menangkisnya. Beberapa kali mencoba pun, nampaknya Bara bukanlah lawan yang mudah baginya. Ia menyesal sudah meremehkannya. Tapi tentu saja hal itu tak membuatnya berhenti untuk terus menyerangnya.
Bara sengaja mempermainkan pria tersebut untuk mengukur tingkat kesabarannya. Tiap Bara akan diserang menggunakan pisau tajamnya, ia pun berhasil berkelit dan terus menghindar. Namun setelah kesabarannya habis, pria itu seakan menyerang Bara secara membabi buta.
Ketika pisaunya mengarah pada dada Bara, hendak menusuk jantungnya, suara sirine membuat pergerakan pria itu terhenti.
“Sial!” gerutunya kemudian berbalik hendak kabur. Bara yang mengetahui hal itu tak mau melepaskannya.
Ia segera menahan tangannya dan memelintir ke arah belakang sehingga pisau yang masih berada dalam genggamannya terjatuh ke lantai. Pergerakkannya dikunci oleh Bara dan meminta pihak restoran untuk memberikan tali agar ia bisa mengikatnya.
*
“Bagaimana dengan Bara?” tanya Arman pada ajudannya.
“Sepertinya dia berhasil meringkus pria itu.” Jawabnya mengetahui hal tersebut dari satu pengawal yang memang sengaja berada di lokasi Bara. Pengawal tersebut ditugaskan untuk mengawasi dan melindungi Bara jika ia berada dalam kondisi butuh bantuan.
“Syukurlah. Berikan alamat tujuan kita padanya.” Titah Arman sambil melihat ke arah luar jendela kaca mobil.
“Baik, Pak.” Ajudan itu langsung mengirimkan lokasi keberadaan Mona pada Bara maupun pada pengawal itu.
*
Beberapa polisi berdatangan menghampiri Bara dan pria berhoodie. Pria itu tak bisa bergerak karena tubuhnya masih dikunci oleh jurus Bara. Mau tak mau ia hanya pasrah ketika dirinya ditangkap oleh para polisi. Bara pun tersenyum lega melihat pria itu tampak berontak saat dirinya dipaksa ikut ke kantor polisi, namun ia hanya pasrah menerimanya.
Satu pria sudah Bara selesaikan, selanjutnya adalah mendatangi markas tempat penculikan ibunya berada. Namun ia bingung harus kemana, karena tampaknya ayahnya sudah pergi cukup jauh meninggalkannya. Tiba-tiba ponselnya berdering tanda pesan masuk.
Bara membaca isi pesan tersebut ternyata menunjukkan lokasi yang akan dituju Arman. Ia segera menyambungkan dengan maps dan mulai mengikutinya. Ia berjalan ke luar restoran menuju parkiran motor dan segera menstarternya.
__ADS_1
Tak lama ponselnya berdering kembali secara berturut-turut menandakan beberapa pesan masuk ke dalam ponselnya. Ia terkejut ketika banyak pesan yang dikirim Amora yang tampaknya sangat mengkhawatirkannya. Ia tak sadar bahwa sedari tadi Amora mengirimkan pesan padanya. Hati Bara mencelos, rasa rindu yang membuncah menginginkan ia untuk menemui Amora sekarang juga.
Namun ia harus menyelesaikan satu misinya untuk menyelamatkan ibunda tercintanya. Akhirnya Bara membalas pesan Amora untuk membuatnya tak mengkhawatirkannya lagi.
‘Everything okay, don’t worry. I will come to you, soon. (Semuanya baik-baik saja, jangan khawatir. Aku akan datang kepadamu, segera).’
Kemudian Bara bergegas menyusul Arman menuju tempat ibundanya berada. Pengawal Arman pun mengikuti Bara dari belakang tanpa sepengetahuannya. Dalam pikiran Bara, tak dapat dipungkiri bahwa ia sudah sangat merindukan Amora, kekasih sekaligus cinta pertamanya itu.
*
Suasana di villa milik orang tua Amora itu cukup ramai. Villa tersebut terdiri dari beberapa bangunan bertingkat yang terpisah oleh taman bunga.
“Ada yang perlu dibantu, neng Amora?” tanya lelaki pengurus villa membuyarkan lamunan Amora.
“Oh, mang Ujang?! Gak apa-apa, Mang. Semuanya udah diurus sama teman-teman Amora.” Ucap Amora pada mang Ujang. Ia tak melihat kedatangan pengurus villa itu sehingga membuatnya terkejut.
“Oh iya, Mang. Itu di sebelah lagi ada yang sewa bukan?” tanya Amora.
“Iya, Neng. Di gedung depan juga ada yang sewa. Makanya mang Ujang kosongin gedung yang ini khusus buat neng Amora sama teman-temannya. Soalnya si ibu udah nelpon mamang kalau neng Amora mau main kesini.” Tutur mang Ujang panjang lebar. Amora hanya mengangguk mendengarnya. Ia jadi penasaran siapa yang menyewanya karena dari tadi ia melihat sepertinya yang menyewa tersebut seumuran dengannya.
“Iya, Mang. Makasih ya.” Kemudian penjaga villa itu pergi meninggalkan Amora.
Sementar itu Della dan Fio tengah asyik membakar ikan dan beberapa daging. Bondan dan Deri membantu memberikan bumbu pada bahan-bahan tersebut. Mereka tampak sangat menikmati suasana. Sedangkan Fani dan Yuda tak terlihat ada di tempat, membuat Amora mengerutkan keningnya.
“Guys, kak Yuda sama Fani kemana ya?” tanya Amora sambil membantu memisahkan ikan dan daging yang sudah dibakar ke dalam tempat yang berbeda.
“Oh, tadi mereka beli snack ke supermarket.” Jawab Deri.
“Nanti malem kita mau ngadain acara gak?” tanya Amora.
“Gimana kalau kita main game aja?” usul Fio dan didukung Della.
“Gimana kalau kita main truth or dare? Atau nonton film horror bareng?” tambah Della.
“Aku sih setuju aja. Gimana yang lainnya?” tanya Amora ke arah Deri dan Bondan.
__ADS_1
“Gue sih setuju.”
“Gue juga ngikut aja.” Jawab mereka sambil terus membolak-balik ikan yang sedang dipanggang.
“Kira-kira kak Yuda sama Fani setuju gak yah? Soalnya kalau gak semua yang ikut, gak akan seru.” Ucap Amora.
“Si Yuda pasti ikut kok. Apalagi kalau tau incerannya juga ikut. Iya gak?” tanya Bondan kepada Deri. Deri hanya mengangguk-angguk sambil mencicipi daging dan sayuran yang sudah matang. Bondan menepuk kepala Deri jengah dengan kelakuan kawannya yang satu itu.
“Laper, Dan. Ah elah. Nih elo juga makan,” Tutur Deri menciptakan tawa diantara mereka. Deri sengaja menyumpal mulut Bondan dengan daging yang masih panas. Bondan yang tak menduga hal itu melepehkan daging karena lidahnya seolah terbakar.
“Kampret lo!” gerutu Bondan menower kepala Deri.
“Lidah gue melepuh nih.” gerutunya. Tak lama Fani dan Yuda kembali menghampiri mereka yang tengah tertawa.
“Ada apa nih? Kayaknya seru tuh,” tanya Yuda menyimpan beberapa kantung belanja yang berisi makanan ringan.
Amora, Della dan Fio menghampiri Fani. Amora sengaja memandang Fani dengan tatapan menggoda.
“Apa sih, Ra,” ucap Fani dengan gelagat tersipu malu.
“Kok bisa lama gitu sih?” goda Della.
“Apa jangan-jangan mampir dulu ke tempat lain?” Fio ikutan menggoda Fani dengan kerlingan matanya.
Fani yang langsung diserbu oleh pertanyaan mereka langsung kabur mencoba menghindar agar ia tak harus menjawabnya. Namun tanpa mereka sadari, dibalik gelak tawa mereka, ada seorang laki-laki yang tengah memperhatikan pergerakan mereka.
“Gue harus bisa gabung sama mereka.” Gumam laki-laki tersebut sambil menatap sang peluluh hatinya, Amora.
***
(Tinggalkan jejak kalian di kolom komentar)
(Jangan lupa like nya untuk menambah semangat author)
(Terima kasih)
__ADS_1