Menanti Pasangan Hati

Menanti Pasangan Hati
Orang Itu


__ADS_3

"Astaga mata gue udah gak suci lagi." ucap Bondan menutup wajahnya namun ia tetap melihat video itu di sela-sela jarinya.


"Anjir, kok gue jadi tegang?" tanya Deri lebih tepatnya pada diri sendiri.


Bara dan kedua temannya merasakan tegang dikarenakan menonton video tersebut. Sementara Amir dan Faisal tertawa melihat ketiga temannya itu.


"Ternyata bener kata si Yuda. Mereka masih polos, harus dipoles." ujar Faisal.


"Bener, Bro. Baru kali ini gue temenan sama spesies langka kayak mereka. Jaman gini men, video kayak gitu udah ditonton sama anak kelas SMP kali." tambah Amir.


*


Keesokan harinya pada pagi hari di sekolah. Suasana cukup ramai karena para murid masih berada di luar kelas sebelum akhirnya bel masuk berbunyi. Yuda yang baru datang ke dalam kelas tiba-tiba langsung dihantam oleh ketiga temannya tanpa aba-aba.


Bara, Deri dan Bondan yang sengaja menunggunya untuk memberi pelajaran pada teman kampretnya itu langsung saja menyerangnya tanpa aba-aba.


“Aduh, ampun ampun.” Ucap Yuda namun dengan tertawa yang sangat mengejek.


“Dasar sialan! Mata kami jadi ternodai gara-gara elo!” ucap Bondan.


“Mata gue udah gak suci lagi tau gak?” teriak Deri dan malah membuat Yuda makin terbahak.


“Kita harus beri dia pelajaran.” Ucap Bara terdengar seperti menggumam dan langsung diangguki oleh Bondan dan Deri.


Sepertinya kali ini Yuda akan menyesali perbuatannya karena telah melakukan kesalahan pada ketiga temannya itu. Murid-murid kelas yang menyaksikannya hanya tertawa dan menikmati kejadian menarik yang Bara dan teman-temannya lakukan pada Yuda.


Yuda yang memang tidak mahir bela diri, hanya bisa pasrah melihat teman-temannya melampiaskan kebrutalannya itu pada dirinya. Ia kini digulung oleh kain dari taplak meja guru dan diikat erat. Yuda hanya pasrah, daripada ia harus menerima bogeman dari ketiga temannya yang lihai dalam bela diri itu.


“Nah, lemper kalian sudah jadi guys, silahkan dinikmati.” Ujar Bara dan membuat seisi kelas langsung tertawa terbahak-bahak melihat hasil karya Bara, Bondan dan Deri tengah tersaji di atas meja guru. Banyak yang mengabadikan momen itu membuat Bara dan yang lain puas dengan hasil karyanya.


Tak lama pintu kelas terbuka dan seorang guru nampak masuk ke dalam kelas. Namun kedua mata guru itu langsung dikejutkan oleh pemandangan yang ada tepat di hadapannya. Yuda hanya nyengir kuda dengan tatapan meminta pertolongan. Seketika guru itupun langsung tertawa sambil memegangi perutnya.

__ADS_1


“Ulah siapa ini?” tanyanya tanpa berhenti tertawa.


“Itu, Bu. Si anak polos yang sekarang udah gak polos lagi.” Ucap Yuda menunjuk Bara dengan dagunya sebab kedua tangannya diikat.


*


Sementara di kelas Amora, ia dikejutkan oleh sebuah box berwarna merah muda yang ada di atas kursinya.


“Ini punya siapa, Fan?” tanya Amora dan dibalas gelengan.


“Coba buka aja, Ra. Mungkin itu emang buat kamu. Aku juga penasaran isinya apa.”


Box itu langsung saja dibuka penutupnya dan menampilkan kue cantik dengan hiasan bunga rose di atasnya.


“Wah, cantik banget kuenya!” Fani antusias melihat kue yang imut dan cantik itu.


Saat itu juga seorang siswa yang entah dari mana masuk ke dalam kelas Amora dan menghampirinya.


“Kamu….” Amora tidak melanjutkan perkataannya hanya melihat ke arah kue dan lelaki itu bergantian.


“Iya, itu kue dariku untukmu. Kue yang cantik dan manis, persis seperti dirimu.” Ujar lelaki yang tidak Amora kenali itu. Kata-katanya sangat puitis sekali bagi Amora. Kemudian lelaki itu berjongkok di hadapan Amora dan mempersembahkan sebuket bunga.


“Maukah kamu menjadi kekasih hatiku?” ucapannya langsung mendapat tanggapan terkejut dari seisi kelas termasuk Amora. Ia bingung harus menjawab apa. Tambatan hatinya sudah dimiliki seseorang. Dan orang itu bukan lelaki yang ada di hadapannya.


“Jika kamu mau jadi kekasihku, kamu terima kue dan bunganya. Namun jika kamu menolakku, kamu ambil bunga ini dan injaklah.” Ucap lelaki itu saat Amora hendak berbicara. Amora pun perlahan mengambil buket bunga. Bagaimanapun ia harus menegaskan bahwa dirinya tidak ingin menjadi kekasih hati lelaki tersebut.


Amora meraih buket bunga yang langsung dilemparnya ke lantai olehnya dan membuat tatapan lelaki itu terlihat nanar. Amora jadi tidak tega jika dirinya harus melihat hati lelaki tersebut hancur dengan cara menginjak bunga itu.


Tak ada pilihan lain. Namun Amora merasa kasihan pada lelaki di hadapannya. Kemudian ia mengambil kembali bunga yang hendak Amora injak itu dan memberikannya pada sang pemiliknya.


"Ambillah. Aku kembalikan bunga ini. Aku hanya menolakmu, tidak mau menghancurkan mu." ucap Amora puitis seolah terbawa suasana.

__ADS_1


"Baiklah. Aku mengerti keputusanmu. Terimakasih karena telah menghargai perasaanku. Namun aku akan tetap selalu mengagumimu." ujarnya kemudian berlalu.


Bertepatan saat itu juga ada guru yang memasuki kelas dan membubarkan kerumunan yang menyaksikan kejadian Amora dan lelaki pengagumnya.


*


Jam pelajaran pertama berlangsung dengan lancar. Semua murid tengah fokus dengan pelajaran yang gurunya terangkan. Bel pelajaran pertama pun berbunyi menandakan akan memasuki pembelajaran pelajaran kedua.


Kebetulan di kelas Bara gurunya sedang absen dan membuat satu kelas tengah menikmati euphoria nya. Ada yang berhamburan ke kantin atau hanya sekedar nongkrong di belakang sekolah. Bara dan teman-temannya memilih pergi ke kantin karena memang tidak sempat sarapan.


Bara, Deri dan Bondan memesan mie ayam langganan mereka. Tak lama Yuda datang dengan wajah cengengesannya.


“Si monyet datang.” Ucap Bondan.


“Ayolah guys, kalian itu harusnya berterimakasih sama gue, udah ngenalin kalian sama dunia…”


“Bacot loh,” potong Bondan yang langsung menyumpal mulut Yuda dengan tishu yang ada di sana.


“Mengenalkan kita dengan dunia percabulan maksud lo?” tanya Deri lebih sarkas. Bara tak terlalu menggubris dan langsung memilih memakan mie ayam nya yang sudang terhidang.


“Halah gue yakin kalian bertiga bakalan ketagihan nantinya. Dan saat itu juga jangan harap gue kasih bahan lagi.” Ucap Yuda yang dibalas kerlingan acuh oleh ketiganya. Yuda pun hanya terdiam menanti pesanannya datang. Setelah mereka berempat selesai memakan mie ayamnya, mereka hendak kembali ke kelas namun dihadang oleh segerombolan siswi.


“Ada apa?” tanya Bara melihat gerak-gerik para siswi itu yang seperti ketakutan.


“Em.. kak Bara ditungguin sama kak Stella di belakang sekolah,” ucap satu siswi dan diangguki oleh teman-teman siswi lainnya. Mereka pun segera pergi setelah menyampaikan amanatnya itu.


“Ada apaan, Bar?” tanya Bondan.


“Ada yang nungguin gue katanya.” Jawab Bara segera menuju ke tempat yang dimaksud. Deri, Bondan dan Yuda yang penasaran mencoba mengikuti Bara dari belakang.


“Halo, darling.” sambut Stella setelah Bara dan teman-temannya datang. Ia menyemburkan asap rokok yang tengah ia nikmati bersama dua kawannya itu ke arah mereka. Sebuah pemandangan yang benar-benar tak patut dicontoh oleh para murid lainnya. Bara dan teman-temannya hanya geleng-geleng kepala melihat tiga orang siswi di depannya yang tengah menikmati hisapannya itu.

__ADS_1


***


__ADS_2