Menanti Pasangan Hati

Menanti Pasangan Hati
Mimpi Itu Nyata


__ADS_3

Dalam cahaya redup, Amora perlahan membuka matanya. Pandangannya masih kabur, namun samar-samar ia melihat seseorang yang membuatnya terkejut. Di hadapannya berdiri seorang laki-laki yang selama ini sangat dirindukannya. Apakah ini mimpi?


“Ka…kk..aa..kk.. Baa..raa..” Amora berusaha berteriak memanggilnya walau suaranya hampir tak keluar. Laki-laki itu hendak pergi meninggalkannya. Tidak boleh! Ia tak boleh membiarkannya pergi. Walau hanya dalam mimpi pun ia ingin sekali memeluknya dan tak mau melepaskannya.


Sosok itu pun berhenti dan perlahan menghampiri Amora. Sementara itu pandangan Amora yang masih belum jelas masih terasa belum nyata. Ia pun memfokuskan pandangannya menatap sosok laki-laki yang sekarang sudah berada tepat di hadapannya. Hati Amora terasa tercabik tak percaya dengan seseorang yang ada di hadapannya. Kak Bara? batinnya. Ia mencoba meraih wajah sosok laki-laki itu.


Air matanya luruh ketika kedua tangannya menyentuh wajahnya. Andai ini bukan mimpi, Amora pasti akan merasa sangat bahagia. Sosok yang ada di depannya itu hanya terdiam. Namun sinar di matanya masih tetap sama, mata elang yang tegas namun lembut. Begitu pun wajahnya yang semakin tampan dan tegas.


“Kak Bara, ijinkan aku memelukmu, Kak.” Pinta Amora sambil berlinang air mata pada sosok Bara dalam mimpinya itu.


Sosok Bara mengangguk. Dan seketika itu juga Amora langsung berhambur memeluknya. Tubuhnya terasa sangat hangat saat ia peluk. Aliran darahnya terasa kembali hidup dengan kehangatannya itu.


Sosok itu ternyata membalas pelukan Amora dengan erat. Seolah rasa yang dia miliki sama seperti apa yang dirasakan oleh Amora. Seketika senyumnya mulai mengembang menjadi ketenangan. Ia ingin mimpi ini tak usai. Bahkan berharap bisa menjadi kenyataan.


Selama ini Amora tidak pernah memimpikan Bara walau ia sangat merindukannya dan terus berdoa untuk berjumpa dengan sang pujaan hati di dalam mimpi. Namun yang diharapkannya tidak pernah terjadi. Ia tak pernah sekalipun bermimpi bertemu dengan Bara. Namun kini mimpi itu hadir setelah bertahun-tahun berharap. Ia tak bisa membiarkannya dan ingin memanfaatkan momen ini dengan sebaik mungkin.


“Kak Bara?” tanya Amora memastikan sambil menatap wajahnya dari jarak yang sangat dekat. Bahkan deru nafas dan detak jantungnya pun terdengar dengan jelas.


“Apa?” tanya sosok itu dengan lembut. Persis seperti suara Bara yang asli.


“Andai mimpi ini adalah kenyataan, aku ingin sekali melakukan satu hal.” Jawab Amora sedikit berandai-andai pada sosok laki-laki itu.


“Lakukanlah apa yang ingin kamu lakukan.” Jawab laki-laki itu sambil menatap tepat di manik mata Amora.


Tak mau membuang sedikit pun momen ini, Amora langsung menarik tengkuknya dan mendaratkan bibirnya tepat di bibir sosok Bara tersebut. Kedua matanya terpejam merasakan sensasi mendebarkan itu. Lembut dan hangat bibirnya terasa begitu nyata. Dan yang lebih tak disangkanya lagi, laki-laki itu pun membalas ciumannya begitu dalam.


Rasa itu semakin lama semakin menuntut. Menuntunnya untuk melakukan permainan lebih jauh lagi. Menuntaskan rasa rindu yang menggebu, menghancurkan akal sehatnya untuk tak berhenti melakukannya. Amora tidak akan menyesal sedikit pun karena ia yakin bahwa mimpi seperti ini tak akan pernah terulang kembali. Jadi ia hanya ingin menikmatinya.


Tak lama kesadaran Amora perlahan mulai hilang kembali. Ia terjatuh ke alam mimpi yang sebenarnya. Sementara sosok Bara yang menyadari itu tersenyum dan mengecup bibirnya sekilas sebelum akhirnya meninggalkan Amora.


*

__ADS_1


Amora terbangun karena merasakan sentakan hebat di perutnya. Ia langsung berlari ke dalam toilet dan memuntahkannya. Kepalanya terasa sakit dan berat. Apa yang sudah terjadi pada dirinya? Seingat dia, semalam dia sedang berada di sebuah klub bersama teman-temannya. Namun kenapa sekarang dia berada di kamar hotel seorang diri?


Bau alkohol tercium dari tubuhnya. Sepertinya Amora baru sadar bahwa dirinya sudah mabuk berat. Dan sekarang kepalanya terasa berat. Ia pun langsung menyalakan ponselnya dan menelpon Erin.


“Halo, Rin?”


“Ya ampun Amora! Elo sekarang dimana? Kami berdua dari semalem nyariin elo tau! Hp elo gak aktif dan gak ada yang tau dimana elo berada. Sekarang elo dimana? Kasih tau gue cepat!” Belum saja Amora mengumpulkan nyawanya, tiba-tiba Erin nyerocos panjang lebar membuat Amora menjauhkan ponselnya dari telinganya.


“Iya, iya. Gue juga gak tahu lagi ada dimana. Yang jelas kayaknya lagi di hotel deh.” Ucap Amora sambil memandang berkeliling. Terdengar percakapan dari seberang sambungan.


“Halo, Ra. Ini gue. Tolong share lokasi elo sekarang. Biar kita yang kesana.” Ucap Satria.


“Oh, oke.” Amora pun mematikan sambungan ponselnya dan langsung membagikan lokasi dia berada saat ini.


*


“Anda tidak ingin menemuinya?”


“Ini bukan salah anda. Pertemuan yang tidak disengaja artinya kehendak Tuhan. Tampaknya nona Amora memang sudah ditakdirkan untuk bertemu dengan anda.”


“Tidak sebelum misi ini berhasil. Aku tak ingin menyeretnya selagi kita sedang menjalankan misi ini.”


Alphard hitam itu pun melaju meninggalkan gedung hotel miliknya. Masih ada urusan berbahaya yang harus dijalaninya untuk menemukan dalang dibalik kasus beberapa tahun lalu. Jika misi ini sudah selesai, ia berjanji akan menemuinya.


Namun keraguan itu muncul kembali. Apakah Amora mau memaafkan keegoisannya? Apakah ia masih mau menerima cintanya? Dan yang paling penting, apakah ia masih pantas untuk mencintainya?


Rasa penyesalan yang semakin lama semakin dalam membuatnya tak mau berharap terlalu tinggi akan pengampunannya. Sejauh ini ia merasa sudah jahat karena meninggalkannya sendirian. Namun rasanya sangat bahagia walau hanya melihatnya saja. Cukup hanya seperti itu, ia tak mau berharap lebih.


*


“Gimana udah gak terlalu mual kan?” tanya Satria sambil mengendarai mobilnya. Amora mengangguk.

__ADS_1


“Gue ngerasa hidup kembali.” Ucap Amora bersemangat.


“Tuh, kan. Kata gue juga apa. Biarin dia bebas.” Ucap Erin sambil menepuk bahu Satria.


“Iye dah.”


“Oia, Rin. Gak papa nih gue pinjem baju elo lagi? Gue ngerepotin elo mulu.”


“Ya elah, Ra. Santai aja lagi. Kayak ke siapa aja.”


“Oh iya ini si Dimas chat katanya pak Muklis kayaknya telat masuk. Kemungkinan 20 menit lagi selesai rapatnya. Kita keburu kali yah masuk kampus?”


“Keburu lah. Bentar lagi juga nyampe.” Jawab Satria.


Entah kenapa Amora merasa seperti mendapatkan kekuatan dan semangat baru dalam hidupnya. Setiap kali ia ingat dengan mimpi itu, hatinya berbunga-bunga, jantungnya berdebar dan pipinya terasa panas. Mimpi yang cukup erotis dan menggairahkan. Membuat rasa rindunya jadi semakin besar padanya. Kak Bara, kapan ya kita akan bertemu? Aku merasa kak Bara berada dekat di sekitarku. Batinnya.


“Ehem ada apa nih? Senyum-senyum mulu dari tadi,” goda Satria memergoki Amora yang sedang melamun.


“Iya nih. Sekarang elo jadi keliatan lebih hidup dan bersemangat.” Timpal Erin. Amora hanya tersenyum penuh arti menanggapinya.


“Oh iya, abis ngampus kita ke mall yuk?! Temenin gue belanja.” Ajak Amora.


“Ayo ayo. Gue juga pengen belanja nih,” jawab Erin antusias.


“Gue gak diajak nih?” gerutu Satria sambil memutar mobilnya menuju halaman kampus.


Amora dan Erin pun saling pandang. Amora tersenyum memberikan kode pada Erin. Erin pun tersenyum penuh arti mengetahui maksud dari kode yang diberikan padanya. Ia pun mengangguk setuju.


“Tentu dong kita ajak elo,” tutur Erin dengan senyuman penuh arti.


***

__ADS_1


__ADS_2