
Sebuah bisikan terdengar tepat di telinga Amora. Saat itu juga bulu kuduknya merinding hebat. Rasa takut menjalar di seluruh tubuhnya membuat ia tak bisa bergerak sama sekali.
“Dasar anak durhaka. Kamu yang sudah membunuh kami.” Bisik sosok yang menyerupai ibunya itu.
“Harusnya kamu mati juga dengan kami.” Kali ini bisikan itu berasal dari sosok yang menyerupai ayahnya.
Amora berusaha menutup kedua telinganya dan berteriak dengan kencang. Semua itu memang salah dirinya. Andai waktu bisa diputar, lebih baik ia ikut mati bersama kedua orang tuanya itu. Tangisnya yang pecah membuat nafasnya terasa semakin sesak dan berat.
“Kamu adalah anak yang tidak pernah kami inginkan.”
“Kamu seharusnya mati untuk menebus kesalahanmu itu.”
“Terusnya merasa bersalah atas ini semua.”
Suara bisikan itu masih saja terdengar. Semakin ia menutup rapat telinganya, suara itu semakin terdengar seolah muncul dari dalam pikirannya sendiri. Tak lama tangisnya sedikit terhenti dan teralihkan ketika cahaya putih itu mulai menyinari ruang gelap itu.
“Kamu akan tetap menjadi kebanggan kami, Sayang.” Ucap sang bunda lembut sambil membelai kepala Amora. Pendar cahaya yang berasal dari ibunya itu menyinari dirinya. Dan seketika bisikan-bisikan itu pun tak terdengar lagi.
“Jangan pernah menyalahkan dirimu atas kematian kami berdua. Itu sudah takdir dari yang maha kuasa.” Ucap sang ayah yang memiliki pendar cahaya yang sama dengan sang bunda.
“Ta.. tapi Amora merasa hampa dalam hidup ini. Lebih baik Amora ikut ayah sama bunda saja. Percuma Amora hidup. Orang-orang yang Amora sayang pergi meninggalkan Amora sendirian.”
“Kamu salah, Nak. Jangan pernah berbicara seperti itu, oke? Kami selalu ada bersamamu.” Ucap sang ayah sambil mengusap sisa air mata di kedua pipi Amora.
Air mata Amora kembali mengalir dan langsung memeluk ayah dan bunda nya. Rasa sesak di dadanya perlahan menghilang menjadi perasaan lega. Selama ini ia selalu memendam rasa bersalahnya terhadap apa yang sudah menimpa kedua orang tuanya itu.
Pikiran buruk, rasa cemas dan trauma terhadap kejadian beberapa tahun yang lalu terkadang masih menghantuinya. Apalagi saat sirine ambulan terdengar, ia langsung teringat saat jenazah kedua orang tuanya yang saat itu diantar oleh mobil ambulan dalam kondisi yang sudah mengenaskan.
Hal itu selalu mengingatkannya dengan perasaan kehilangan yang mendalam apalagi saat itu seseorang yang ia sayangi pun tak berada di sampingnya. Satu hal yang membuatnya bertahan hingga saat ini adalah harapan. Amora berharap suatu saat nanti ia akan bertemu dengan seseorang yang selama ini masih bertahta di hatinya.
*
__ADS_1
“Dimana dia?” tanya Bryan yang sudah sampai di depan rumah Satria.
“Dia ada di kamar gue.” Jawab Satria. Seketika wajah Bryan memerah setelah mendengarnya.
“Apa yang udah elo lakuin sama dia, hah?!” geram Bryan menarik kerahnya.
“Gue udah jelasin kalau gue gak ngelakuin apa-apa sama cewek lo!” Balas Satria dengan nada tinggi.
“Dia pingsan. Gue juga gak tahu kenapa.” Jelasnya membuat Bryan melepaskan cengkraman di kerahnya.
“Awas aja elo kalau macem-macem sama cewek gue,” ancam Bryan masih tak bisa mempercayai laki-laki di depannya itu. Karena sebagai seorang laki-laki, ia sangat tahu wataknya. Apalagi melihat Amora seorang diri dan di tempat yang hanya ada mereka berdua. Mana mungkin ia tak berpikir negatif.
Setelah itu Bryan diajak untuk menemui Amora di kamarnya. Namun ternyata Amora sudah sadarkan diri. Ia memegang kepalanya seolah menahan rasa nyeri yang sedang ia rasakan. Refleks Bryan langsung berlari menghampiri Amora.
“Apa yang terjadi sama kamu, Beb?” Amora langsung mendongak mendengar suara tersebut.
“Bryan, kepala aku sakit banget,” ucap Amora masih memegangi kepalanya.
Amora pun dibopong Bryan tanpa menghiraukan sang empunya rumah sama sekali. Namun Satria pun tak bisa berkata apa-apa lagi melihat kondisi Amora. Ia juga bingung harus menyerahkan obat yang sudah ia beli atau tidak. Obat yang sebelumnya diresepkan untuk Amora. Tapi ia memilih untuk diam saja.
Setelah sampai di dalam mobil Bryan, Amora menghentikan niat Bryan untu membawanya ke rumah sakit. Ia merasa hanya ingin istirahat saja.
“Kamu yakin mau pulang aja?” tanya Bryan dengan lembut.
“Iya. Obat sakit kepala aku juga ada di rumah.” Jawab Amora dengan pelan.
Bryan hanya mendesah pelan. Terkadang Amora akan menjadi orang yang keras kepala seperti ini. Tapi ia pun tak mampu untuk menentang atau pun menolak permintaannya. Namun tiba-tiba terlintas sebuah ide di kepalanya.
“Pokoknya ada dua pilihan. Pertama, kita ke rumah sakit dan aku akan nemenin kamu. Kedua kita ke rumah dan aku akan tetap nemenin kamu. Gimana?”
“Bryan, aku lagi gak mau becanda.”
__ADS_1
“Ini bukan bercanda. Aku serius,”
“Aku cuma pengen pulang, Bryan.”
“Oke kalau gitu kita pulang.” Tutur Bryan langsung menyalakan mesin mobilnya dan melesat menuju rumah Amora.
Selama di dalam perjalanan Amora terus menatap keluar jendela. Pikirannya mulai berkelana mengingat mimpi yang ia hadapi saat ia sedang tak sadarkan diri. Apa benar selama ini kedua orang tuanya selalu ada bersamanya?
“Kamu tadi kenapa?” pertanyaan Bryan membuyarkan lamunannya.
“Em sepertinya tadi aku pingsan.” Jawab Amora kemudian kembali berbalik menatap ke arah luar jendela.
Bryan sudah tahu dari Satria bahwa Amora pingsan sehingga bukan jawaban itu yang dia ingin dengar. Namun sekali lagi ia hanya mampu terdiam. Dan sisa selama perjalanan pun hanya diisi dengan keheningan.
"Aku masuk duluan yah," ujar Amora setelah mobil memasuki halaman rumahnya.
"Oke." jawab Bryan sambil berjalan mengikuti Amora. Ia berjalan tepat di belakang Amora.
Dengan santai Amora masuk ke dalam rumahnya dan segera menaiki tangga menuju kamarnya. Badannya terasa lelah entah kenapa. Sesampai di kamarnya, Amora langsung mencari obat sakit kepalanya dan meminumnya setelah memakan sepotong roti selai yang ada di atas meja dekat tempat tidurnya.
Tak lama rasa kantuk langsung menyerang dirinya. Namun ketika Amora hendak memejamkan kedua matanya, terdengar suara gaduh dari arah ruang tamu. Ada apa ini? Jantung Amora langsung berpacu dengan cepat.
"Siapa disana?" tanya Amora sambil berjalan dengan perlahan ke arah ruang tamu. Ia berjalan dengan mengendap-endap. Dan betapa terkejutnya ia saat melihat siapa yang ada di depannya.
"Bryan! Aku kira kamu udah pulang." ucap Amora dengan suara satu khas orang yang sudah mengantuk.
"Aku hanya ingin memastikan mu aman. Boleh aku menginap disini?" pinta Bryan dengan wajah memohon.
Amora langsung dilanda kegalauan. Disisi lain ia merasa senang karena merasa ada yang menemani. Namun disisi lain ia merasa takut jika sesuatu hal yang tak diinginkan terjadi.
***
__ADS_1