Menanti Pasangan Hati

Menanti Pasangan Hati
Rencana


__ADS_3

Ruangan itu tiba-tiba hening membuat kegugupan diantara mereka semakin menjadi.


“Ada luka yang lainnya lagi?” tanya Bara mencoba menetralkan suasana.


“Gak ada, Kak.” Jawab Amora menggelengkan kepala.


“Syukurlah.” Ucap Bara lembut, sangat berbeda dengan suaranya yang menyeramkan beberapa menit yang lalu.


“Kenapa gak dilawan?” tanya Bara pada akhirnya.


“Amora gak berani, Kak.” Ucapnya sambil menunduk. Bara hanya menghela nafas.


“Untuk ke depannya, jangan pergi ke daerah kelas 12 sendirian, oke?” Amora yang mendengarnya hanya mengangguk.


“Gak semua anak kelas 12 itu sebaik orang yang ada di depanmu ini.” Ucap Bara dengan narsistik yang akhirnya membuat Amora tertawa. Ekspresi inilah yang Bara inginkan daripada harus melihatnya menangis.


“Gitu, dong.” Ucap Bara sambil mengelus rambut Amora. Sementara Amora selalu gugup setiap Bara melakukan itu.


“Coba lihat mana lukanya?” Amora langsung memberikan lengan kanannya ke arah Bara. Luka sudutan rokok itu sangat jelas terlihat di kulit Amora yang putih.


“Kata kak Anna sih bakal sembuh dengan cepat, tapi bekasnya mungkin akan cukup lama hilangnya.” Tutur Amora.


“Makasih ya kak, udah nolongin Amora. Kalau gak ada kak Bara. Amora gak tahu akan seperti apa nantinya.” Ucap Amora saat melihat Bara mengepalkan tangannya. Ia tak mau ada sesuatu hal buruk yang terjadi padanya jika Bara terus menerus melindunginya.


*


Bara langsung menemui pak Ferdi yang dari tadi memanggil dan menunggunya. Beliau merupakan Pembina OSIS serta bagian kesiswaan.


“Kenapa lama sekali?” tanya pak Ferdi.


“Tadi ada urusan dulu, Pak.” Jawab Bara santai.


“Sudah sejauh mana persiapan acara nanti?” tanya pak Ferdi sambil memeriksa laporan yang Bara berikan.


“Sejauh ini sudah 70% persiapannya, Pak. Untuk proposal dan band yang akan diundang masih kami diskusikan.” Papar Bara.


“Kapan kalian akan rapat lagi?”


“Kemungkinan besok sore. Karena hari ini ada jadwal pengayaan untuk kelas 12 nya.”


“Oke, nanti kabarin bapak yah.”


“Baik, Pak.”

__ADS_1


*


"Kok bisa kayak gini, Ra?" tanya Fani histeris melihat luka yang ada ditangan Amora.


"Wah ini sih udah parah banget." timpal Della.


"Apa kita gak sebaiknya laporin ke guru? Biar kak Stella dihukum!" usul Fio yang langsung mendapat tanggapan setuju.


"Gak usah gak papa. Kak Bara udah urus semuanya kok." ucap Amora tersenyum sambil membayangkan kejadian di UKS saat dirinya tengah bercanda dengan Bara.


"Iya deh tau kok, yang lagi kesemsem sama kak Bara."


"Perasaan jaketnya lengket banget deh dipakai mulu. Lama-lama pemiliknya juga nih yang mulai lengket." goda ketiga teman Amora membuat wajahnya bersemu.


"Gak usah mulai deh. Lagian Amora bukan siapa-siapa kak Bara. Jadi gak usah mikir yang aneh-aneh."


"Ya, siapa tau kan kak Bara bakalan nembak kamu pas acara pensi nanti?" tutur Fani.


*


Disisi lain, Stella tengah bergabung dengan Genk nya yang salah satunya adalah Ari. Suasana di markas mereka sangat kental dengan kebebasan, termasuk **** bebas, minuman dan segala jenis obat terlarang.


"Ngapa muka lo ditekuk gituh?" ujar Ari.


"Siapa?" tanya Ari sambil duduk dan merangkul Stella.


"Si ****** Amora. Dia udah ngerebut Bara dari gue." Stella yang mengucapkan itu tiba-tiba teringat dengan kata-kata Bara yang mengatakan bahwa dirinya bukanlah selera Bara karena bekas dipakai orang.


"Cewek sialan!" teriak Stella yang tiba-tiba emosi setelah mengingatnya.


"Wow calm down girl! Gue bisa lakuin apapun buat lo asal lo mau nemenin gue malam ini." ujar Ari tepat di telinga Stella.


"Gue bisa hancurin itu cewek dengan satu kali tegukan." ucap Ari menyeringai sambil menunjukkan satu jenis obat pada Stella.


Stella yang seolah tahu apa maksudnya langsung tersenyum nakal dan menyetujui syaratnya. Apapun akan dia lakukan untuk menghancurkan perempuan yang sudah merebut Bara darinya. Dan perempuan itu tak lain adalah Amora.


*


Keesokan harinya, sekolah digemparkan oleh kabar yang tidak sedap. Semua murid tengah sibuk membicarakan berita itu.


"Siapa yang hamil?"


"Anak IPS katanya."

__ADS_1


"Pelakunya siapa?" dan ia langsung membisikkan satu nama, yang saat ini sudah menjadi buah bibir diseantero sekolah.


"Ada yang hamil katanya." Fio memulai gosip.


"Seriusan? Siapa?" tanya Amora penasaran.


"Anak kelas IPS."


"Seangkatan sama kita?" tanya Fani.


"Iya." jawab Fio.


"Wah parah yah. Sekolah kita bisa jadi tercoreng gara-gara itu." ujar Della.


"Siapa yang ngelakuinnya?"


"Kata anak-anak sih kak Ari."


Jantung Amora langsung berdegup kencang mendengarnya. Tiba-tiba saja perasaannya jadi tak enak. Ia ingat saat Ari hendak melakukan sesuatu pada dirinya, namun untung saja ada Bara yang menolongnya.


"Kak Bara." gumam Amora mengingat satu nama itu. Entah kenapa rasanya ia ingin menemui Bara sekarang juga.


*


Sementara itu di ruang guru sedang berlangsung perdebatan antara orang tua Ari dan orang tua yang menjadi korbannya.


"Gak bisa gitu dong! Anak saya juga gak akan mau ngelakuin itu sama anakmu kalau anak kamu gak menggodanya." ucap ibunya Ari membela anaknya. Namun yang dibela bukannya menunjukkan rasa penyesalan, Ari malah berdiri dengan tingkah pongah.


"Astaghfirullah, anak saya anak baik-baik. Selama ini saya yang mengurusnya. Jadi saya tahu persis bagaimana anak saya." ucap ibu itu sambil berlinangan air mata. Hati ibu mana yang tak sakit melihat putri satu-satunya menjadi korban perkosaan.


Bara yang menyaksikan perdebatan itu sangat miris melihat seorang ibu yang meminta keadilan untuk anak perempuannya, namun nampaknya keadilan hanya berpihak pada yang berkuasa.


Orang tua Ari memang termasuk orang berpunya, selalu memberi sumbangan untuk sekolah sehingga mau tak mau sekolah pun membela apa yang menurutnya menguntungkan.


Ingin rasanya Bara menghajar Ari di hadapan orang tuanya itu, namun ia urung melakukannya. Rasa ibanya lebih besar daripada amarahnya.


Setelah perdebatan itu berakhir, sekolah memutuskan untuk mengeluarkan putrinya dan hanya memberikan skors pada Ari. Benar-benar keputusan yang tak adil sama sekali.


Ari menatap Bara dengan tajam. Ia ingin menegaskan dengan sorot matanya bahwa seorang Ari akan selalu menang dalam urusan apapun. Bara yang menangkap siluet itu menatap Ari dengan sorot amarah dan juga benci. Ari yang ditatap balik langsung menyeringai. Pandangannya sangat mencurigakan.


Seketika itu juga Bara langsung teringat pada Amora. Tak boleh ada yang mengganggu wanitanya, apalagi menyentuhnya. Karena hal itu tak akan pernah terjadi selama dirinya masih ada.


Bara berputar otak menyusun strategi untuk melindungi Amora. Karena sebelumnya Amora pernah jadi incaran Ari, hal itu tak terpungkiri bisa terulang kembali. Dan sebelum hal itu terjadi, sebisa mungkin Bara akan terus menjaganya.

__ADS_1


***


__ADS_2