Menanti Pasangan Hati

Menanti Pasangan Hati
Dunia Fantasi


__ADS_3

Bryan masih terengah ketika keluar dari area wahana Kereta Misteri. Sementara itu Amora belum menghentikan tawanya melihat ketakutan Bryan saat di dalam wahana tersebut. Namun tanpa mereka sadari, banyak pasang mata yang melihat ke arah mereka berdua.


“Gila! Gue baru tau ada wahana itu.” Ucap Bryan dengan nafas yang mulai stabil.


“Ekspresi elo lucu banget sih sumpah,” tutur Amora masih dengan sisa-sisa tawanya.


“Udah ah sekarang giliran elo yang ikutin gue.” Tantang Bryan dengan sorot dendam yang membara.


“Oke, siapa takut!” balas Amora dengan percaya diri.


Namun beberapa menit kemudian Amora dilanda kekhawatiran ketika melihat dari kejauhan wahana yang dihampiri Bryan. Nyalinya seketika ciut menyadari bahwa ia harus ikut menaiki wahana yang dipilihnya itu. Belum apa-apa tubuhnya sudah terasa dingin.


“Em.. e.. elo mau kita naik itu?” tanya Amora dengan gugup.


“Iya dong. Jangan bilang elo takut.”


“Enak aja. Gue udah biasa kali naik wahana ekstrim kayak gitu.” Bohongnya.


“Masa? Kok muka lo gak meyakinkan gitu sih?” ledek Bryan.


Dengan terpaksa Amora memberanikan diri mendekati wahana yang menjulang tinggi tersebut. Jantungnya berdebar tak karuan mendengar teriakan orang-orang yang menaiki wahana itu. Akan seperti apa rasanya nanti? Dirinya dipentalkan tinggi ke atas, lalu dijatuhkan dengan kecepatan yang sangat tinggi pula. Rasanya ia tak sanggup walau hanya membayangkannya saja.


Namun tanpa Amora sadari, dirinya dan Bryan saat ini sudah berada di wahana tersebut. Penjaga wahana itu pun tengah memastikan orang-orang untuk memakai pengamannya dengan baik. Amora duduk tepat di sebelah Bryan yang dari tadi menatap Amora dengan senyum jahil.


"Yakin nih berani?" goda Bryan.


"Ka.. kayaknya enggak deh." ucap Amora cengengesan sambil memandang melas pada Bryan. Berharap ia diperbolehkan untuk turun sebelum wahana dimulai.


"Em, gimana ya?" namun ketika Bryan hendak bicara, terdengar suara instruksi bahwa wahana tersebut akan segera dimulai.


"Bryan! Please gue gak mau naik ini. Oke gue nyerah. Gue nyerah!" Bryan melihat wajah Amora yang sangat panik. Ia segera memanggil penjaga wahana namun nihil. Penjaga itu sama sekali tak mendengar suara panggilan Bryan. Ia pun berbalik menatap Amora yang memejamkan matanya.

__ADS_1


"Bryan, gue takut." ucap Amora dengan mata tertutup rapat.


"Pegang tangan gue." tutur Bryan sambil menggenggam tangan Amora dan langsung dibalas dengan genggaman yang kuat.


"Bryan, gue gak mau mati konyol disini." gumamnya pelan namun membuat seulas senyum di bibirnya.


"Tenang aja, bokap nyokap lo pasti gak ngijinin elo mati konyol di wahana ini kok." balas Bryan.


Dan wahana pun bergerak naik dengan perlahan. Amora mencengkram tangan Bryan dengan erat. Semakin naik, semakin tinggi pula ia berada. Saat itu juga tiba-tiba wahana itu naik ke atas dengan kecepatan yang sangat tinggi membuat semua orang termasuk Amora menjerit histeris.


Nyawa Amora serasa ditarik ke atas saat itu juga. Pandangannya melihat ke bawah. Ia bergidik ngeri betapa tingginya saat ini ia berada. Ia menoleh ke arah Bryan yang tampaknya sangat mengkhawatirkan dirinya.


"Sekarang elo tarik nafas. Dan menjerit lah." ucap Bryan dan tepat saat itu juga dengan kecepatan sangat tinggi wahana itu dijatuhkan ke bawah.


"Aaaaaaaaa!!" jantung Amora serasa ditarik dan dijatuhkan dengan cepat. Nafasnya tak beraturan. Tubuhnya pun langsung lemas seiring berhentinya wahana tersebut. Ia sudah tak merasakan lagi tubuhnya.


"Elo gak papa kan?" tanya Bryan khawatir. Ia merapihkan rambut Amora yang berantakan tapi masih tetap terlihat manis. Namun hal yang janggal pun terjadi. Amora sama sekali tak bergerak sedikit pun. Tentu saja Bryan langsung panik.


"Amora, sadarlah!" teriak Bryan di sela-sela membopongnya.


"Baringkan di ruangan itu saja." ucap salah satu pegawai itu.


Amora pun dibaringkan di salah satu ranjang yang ada di ruangan tersebut. Bryan meminta pegawai itu untuk mengambilkan segelas air putih. Dan syukurlah ia pun menurut tak keberatan sama sekali.


Bryan balik menatap wajah Amora yang masih pucat. Ia menggenggam tangannya yang sangat dingin. Namun apa yang terjadi selanjutnya akan membuat Bryan terkejut.


Di balik wajah pucat Amora, bibirnya menyunggingkan senyum. Dan tak lama tawanya mulai terdengar. Bryan syok.


"Elo nipu gue ya?" tanya Bryan disela-sela keterkejutannya. Amora masih tertawa melihat ekspresinya.


"Cieee, khawatir banget sih lo sama gue," goda Amora. Kini matanya penuh dengan kemenangan.

__ADS_1


"Gak lucu, Ra." ucap Bryan membuang muka. Tak lama seseorang kembali dengan segelas air putih.


"Ini minumnya. Loh, mbaknya udah sadar ya?" tanyanya.


"Iya," jawab Amora dengan senyuman.


"Dia emang udah sadar dari tadi." ucap Bryan membuat pegawai itu malah jadi kebingungan.


Di tengah-tengah itu Bryan langsung keluar meninggalkan Amora. Tahukah dia bahwa tadi dirinya sangat mengkhawatirkannya? Rasanya seolah ia mau mati melihat kondisi Amora seperti tadi. Sebenarnya ia sangat lega melihatnya baik-baik saja. Tapi rasa kesal karena telah dipermainkan membuat ia tak mau memaafkan Amora begitu saja.


"Bryan, udah dong ngambeknya," tutur Amora sambil berjalan di belakangnya. Ia menjaga jarak aman dulu karena yakin orang di depannya itu marah kepadanya karena keusilannya.


Amora memang syok saat wahana itu berhenti. Ia tak kuasa menggerakkan badannya. Pas sekali kondisinya saat itu memang sedang lemah, langsung saja sebuah ide terlintas di pikirannya. Tapi ternyata dugaannya salah, Bryan malah marah padanya.


"Iya deh gue ngaku salah." ucap Amora namun nampaknya Bryan masih terus berjalan ke arah depan tanpa memperdulikan ucapan Amora.


"Akh!" teriak Amora refleks merasakan kram di kakinya.


Sontak Bryan langsung balik badan dan menghampiri Amora yang tengah berjongkok menahan kakinya yang kesakitan.


"Kenapa?" tanya Bryan tanpa ekspresi namun nadanya sarat akan kekhawatiran.


"Kaki gue kram. Sakit banget." rintih Amora.


Bryan langsung membantu Amora namun masih dengan diam dan tanpa ekspresi. Ia membuka sepatu Amora dan membantu meluruskan kakinya yang kram. Jari jemari kakinya ditekuk hingga membuat Amora sedikit mengaduh kesakitan. Namun tak lama kakinya merasa sudah lebih baik. Ajaib sekali tangannya, pikir Amora.


"Sorry yah. Gue gak ada maksud bikin lo marah. Habisnya gue lemes banget dari wahana sebelumnya. Tapi elo malah bawa gue naik wahana ekstrim lagi." tutur Amora memberikan penjelasan.


"Gue yang salah udah ajak lo buat naik wahana itu. Lo tau gak sih? Gue benar-benar khawatir banget tadi." ucap Bryan namun masih dengan mimik wajah datar. Antara rasa ingin marah, khawatir, sayang dan kesal. Semuanya bercampur menjadi satu.


***

__ADS_1


__ADS_2