Menanti Pasangan Hati

Menanti Pasangan Hati
Konsekuensi dan Tugas


__ADS_3

Amora duduk di samping Bryan dengan canggung. Seharusnya ia merasa senang dengan kehadiran seseorang yang selama ini menyandang gelar pacarnya. Namun ada desir aneh setiap berada di dekatnya. Bukan cinta, tapi ia tak tahu apa.


Perlahan tangan Bryan menggenggam tangan Amora yang masih terasa dingin. Ia bukan orang bodoh, tapi rasanya Amora kini sedang membangun tembok besar di hatinya. Dan ia sama sekali tak diijinkan untuk mengetahui apa yang selama ini terjadi padanya.


“Apa kamu masih mencintaiku?” pertanyaan Bryan membuat Amora terpaku. Selama ini kehadiran Bryan sama sekali tak pernah ia anggap. Rasa bersalah menyelimuti hatinya. Apakah selama ini ia hanya memanfaatkan Bryan?


“Kenapa kamu nanya gitu? Bukannya sudah jelas?”


“Aku hanya merasa kalau kamu sedikit menjauh dariku. Apa selama ini masih ada dia di hati kamu?” tanya Bryan menatap sendu manik mata Amora. Hal itu sontak membuat Amora terkejut. Karena memang benar ia masih belum bisa melupakan cinta pertamanya. Dan hal itu yang membuatnya merasa bersalah.


“Maafkan aku.” Ucap Amora langsung memeluk Bryan. Ia menangis karena hal bodoh yang selama ini ia lakukan. Menyakiti hati Bryan dan mengecewakannya. Ia tak mampu mengungkapkan isi hati yang sesungguhnya karena tak mau menyakiti perasaan Bryan. Namun ternyata hal itu justru salah. Ia tak seharusnya membuat harapan semu.


Bryan pun membalas pelukan itu dengan sangat erat. Ia mengecup puncak kepala Amora dengan penuh sayang. Walau hatinya merasa sakit, tapi entah kenapa ia sangat berat jika harus meninggalkan Amora. Dalam pandangannya, Amora adalah sosok yang rapuh sehingga membuatnya ingin terus melindunginya.


“Jangan minta maaf padaku. Karena aku akan terus selalu memaafkanmu.” Ucap Bryan pelan namun malah membuat Amora semakin merasa bersalah padanya. Ia benar-benar merasakan rasa sayang yang Bryan berikan padanya itu tulus. Walau sudah berusaha sekuat tenaga untuk menumbuhkan rasa cinta padanya, namun semuanya sia-sia. Ternyata Amora sama sekali tidak bisa melupakan cinta pertamanya. Bara Atmanaja.


Bryan menatap wajah Amora dan mengusap air matanya dengan kedua ibu jarinya. Wajah cantik dengan mata yang selalu bersinar itu kini tampak mendung. Senyum manis yang selalu menghiasi wajahnya pun kini seolah menghilang. Ia merasa sudah gagal menjadi kekasihnya karena tidak berhasil menghadirkan senyuman indahnya.


“Aku harus bagaimana untuk menebus kesalahan ini semua? Aku minta maaf Bryan. Aku…”


“Sssuut, jangan bicara apapun lagi.” Potong Bryan menempelkan telunjuk di bibirnya.


“Aku gak pernah menyesal sedikitpun sudah mencintaimu. Selama ini aku merasa menjadi orang yang paling bahagia menjadi kekasihmu.”


“Tapi….”


Sebelum Amora menyelesaikan kalimatnya, Bryan langsung mendaratkan bibirnya di bibir Amora. Amora terkejut menyadari hal itu. Bryan menarik tengkuk Amora dan menciumnya lebih dalam. Amora pun hanya pasrah dan menikmati momen ini. Konsekuensi yang harus ia terima. Dan ciuman itu semakin lama semakin menuntut.


*

__ADS_1


“Bara, apa kamu sudah menemukan petunjuk siapa yang melakukannya?” tanya Arman.


“Belum bisa Bara pastikan, Pah. Tapi ada satu petunjuk yang bisa kita selidiki.” Jelasnya.


“Apa itu?”


“Sepertinya kita harus menyelidiki firma hukum yang ada di sini.” Ucapan Bara membuat Arman terkejut.


Ia jadi teringat kejadian 26 tahun yang lalu. Saat sahabatnya meminta tolong pada perusahaan Atmanaja Group untuk menyokong firmanya karena saat itu sedang dilanda masalah hutang dan harus segera melunasinya.


Namun Arman tidak mampu menolongnya karena saat itu ia akan bersiap untuk melangsungkan pernikahannya. Ia sangat menyesal karena tidak bisa membantu sahabatnya itu hingga kini ia sama sekali tak tahu dimana sahabatnya itu berada.


“Pah?” panggilan Bara membuyarkan lamunannya. Ia pun jadi gelagapan.


“Sampai dimana kita tadi?” tanyanya.


“Tidak, Bara. Papah akan ikut melakukan penyelidikannya.”


“Baiklah kalau itu mau papah.”


Dan setelah itu Bara menjelaskan rancangan rencananya. Paul pun ikut andil untuk membantu mengungkapkan kasus yang selama ini belum terpecahkan. Baginya, keluarga Atmanaja sudah seperti keluarganya sendiri sehingga ia menawarkan diri sebagai bentuk abdinya terhadap keluarga yang selama ini sudah menaungi dirinya dan keluarganya.


“Kamu yakin mau ikut? Ini bukanlah pertempuran biasa, bahkan nyawa kamu bisa jadi taruhannya.” Ucap Bara menegaskan kemungkinan yang bisa terjadi dalam misi ini.


“Aku yakin. Bahkan nyawaku pun rela aku korbankan demi mengungkap kasus ini.” Jawab Paul tegas.


“Baiklah kalau begitu. Kita harus menemukan siapa dalang dibalik penembakan ibuku. Ada tiga tugas pertama yang harus kita lakukan.” Ungkap Bara sambil menatap satu persatu lawan bicaranya.


“Tugas pertama mendatangi ketua mafia. Aku yakin bahwa mereka bisa mengetahui siapa saja yang pernah menyewa jasanya. Itu bisa kita jadikan petunjuk ke depannya.” Sambung Bara menegaskan.

__ADS_1


“Biar saya yang melakukan tugas itu.” Tawar Arman.


“Pak direktur?” Paul tak menyangka Arman berani menghadapi ketua mafia yang terkenal sangat berbahaya.


“Anda yakin?” tanya Bara ragu.


“Serahkan semuanya pada Papah, Nak. Papah sudah cukup berpengalaman menghadapi dunia hitam seperti itu.” Jawab Arman sambil tersenyum penuh arti. Hening sejenak.


“Baiklah untuk tugas kedua, kamu yang menanganinya, Paul.” Ucap Bara menatap Paul lekat-lekat. Namun ia sama sekali tak melihat keraguan di matanya. Sepertinya tugas ini akan cocok untuk Paul karena jika berhasil akan sangat menguntungkan juga bagi perusahaan.


“Tugas yang kedua yaitu mendatangi beberapa lembaga firma hukum.” Paul yang mendengarnya cukup paham kenapa ia harus menyelidikinya.


“Baiklah, aku mengerti.” Jawab Paul tegas. Bara pun sedikit memberi tahu taktik yang harus dipakainya dalam menyelidiki beberapa lembaga firma hukum yang menjadi target sasarannya.


“Lalu tugasmu apa, Nak?” kali ini giliran Arman yang buka suara.


“Aku akan menyelidiki wanita itu.” Ucap Bara sambil menerawang menatap ke depan.


“Aku harus memastikan dia berada dipihak siapa. Karena aku masih belum bisa mempercayainya.” Paul dan Arman yang mendengarnya merasa bahwa Bara memang bukanlah orang yang gampang mempercayai orang lain. Ia benar-benar orang yang penuh dengan perhitungan, pikir mereka.


“Dia bisa menjadi senjata bermata dua. Disisi lain kita bisa mengunakannya untuk melawan musuh, namun disisi lain bisa saja senjata itu malah menusuk tuannya.” Ucapan Bara diakhiri dengan pemantapan misi yang akan mereka bertiga lakukan.


Arman bertugas untuk menyelidiki sang ketua mafia apakah ia memiliki hubungan dengan orang yang selama ini dicarinya atau malah mafia itu sendiri ternyata dalang dari penyerangan yang dilakukan terhadap perusahaan maupun istrinya. Memang bukan tugas yang sulit namun tetap berbahaya baginya.


Sementara itu Paul bertugas untuk menyelidiki beberapa lembaga firma hukum sesuai dengan petunjuk dari wanita yang pernah hampir mencelakai Bara waktu dulu. Walaupun sempat bungkam beberapa tahun, namun petunjuk itu akhirnya keluar dari mulutnya. Taktik yang ia lakukan yaitu berpura-pura menjalin aliansi dengan beberapa lembaga firma hukum sambil menyelidiki keterkaitan mereka dengan target.


Sedangkan Bara akan menyelidiki wanita yang menjadi sumber informasi itu. Ia ingin memastikan keberpihakan dirinya dan ingin mengetahui asal-usul wanita itu berada. Karena ia tak mau dijebak untuk yang ke sekian kalinya. Namun hal ini cukup berat karena Bara masih memegang prinsipnya, yaitu untuk tidak menyakiti wanita. Apakah ia mampu untuk menyakiti seorang wanita walau dirinya sedang dalam keadaan terdesak? Itu yang selama ini dikhawatirkannya


***

__ADS_1


__ADS_2