
Ibunya Ari menggaungkan ucapannya untuk memberikan hukuman yang lebih berat pada anaknya. Ari sontak membelalakkan bola matanya menyadari keanehan sang ibu.
"Mom, kok bukannya belain Aku sih?" tanya Ari pelan hampir berbisik.
"Kamu diam saja. Dasar anak gak tau diri. Kamu sudah salah berurusan sama orang itu." ucap sang ibu sambil menunjuk dengan dagunya ke arah Amora.
Ari yang ditatap tajam seperti itu oleh ibunya, langsung tertunduk. Ia tak akan mampu untuk melawan. Bahkan dulu ia pun hanya menyerahkan semua urusannya pada sang ibu untuk membereskan semua kenakalannya sehingga ia bisa selamat. Namun kali ini tidak.
"Untuk pemberian hukuman lain, pihak sekolah mungkin akan menyerahkannya ke pihak berwajib. Karena kami hanya bisa memberikan hukuman pengeluaran dari sekolah saja. Sisanya jika ingin dibawa ke jalur hukum, kami akan menyerahkannya."
"Mom, please." Ari tampak memohon pada ibunya untuk membantunya. Ia tak mau sampai di penjara.
"Kamu diam saja." ucap sang ibu dingin.
"Apakah dari pihak tersangka ada bantahan lain?" Semua yang ada di dalam ruangan tak ada yang bersuara lagi. Hening.
Stella tampak tertunduk dalam. Ia pun tak berani berkata apa-apa. Lebih seperti takut kepada ayahnya. Namun hatinya masih menyimpan dendam pada apa yang sudah terjadi padanya. Orang yang sudah membuatnya seperti ini. Amora.
"Baik, jika tidak ada lagi pembelaan. Kami sudah memutuskan untuk mengeluarkan Stella dan Ari dari sekolah ini dengan tidak hormat. Demikian keputusan yang sudah kami sampaikan." kepala sekolah itu mengetok palu sebanyak tiga kali pertanda sidang diakhiri.
Amora yang mendengar hasil keputusan itu sangat lega. Lega sekali. Bahkan air matanya hampir saja mengalir jika tak langsung diseka olehnya. Hasil yang sangat berbeda saat dulu Amora menyaksikan kasus pemerkosaan Ari.
Hasilnya saat itu sangat tidak memuaskan karena pihak sekolah tampak memihak pihak yang bersalah. Dan dengan memberikan keputusan yang tidak adil pula. Namun kini Amora bersyukur karena dengan kasusnya, Ari maupun Stella bisa diberikan hukuman yang setimpal.
"Gimana, elo lega sekarang?" tanya Bryan menatap Amora. Amora mengangguk haru.
"Iya, gue lega. Thank you, Bryan." ucapnya refleks memeluk Bryan. Sementara Bryan sangat terkejut karena tiba-tiba dipeluk Amora. Dengan gerakan kaku, Bryan membalas pelukannya.
"Makasih, ya. Kalau gak ada elo yang nolong, gue gak tahu akan seperti apa nasib gue ke depannya." tutur Amora dengan linangan air mata. Dada Bryan terasa basah karena linangan air matanya itu. Namun degup jantungnya malah berdetak dengan cepat. Bryan tak bisa menahan hasrat ini.
__ADS_1
"Em, Ra? Udahan ya pelukannya. Takut khilaf gue." kekeh Bryan cengengesan. Amora langsung melepas pelukannya dan menghentikan tangisannya sambil memukul bahu Bryan.
"Dasar otak mesum!" tutur Amora sambil mulai tertawa.
"Ih, orang lagi sedih juga, bisa-bisanya elo masih berpikiran kayak gitu." gerutunya sambil mengusap sisa-sisa air matanya.
"Ya namanya juga cowok, Ra. Kayak yang gak pernah pacaran aja lo. Emang cowok lo gak pernah skinship sama lo gitu?" pertanyaan Bryan malah membuat degup jantung Amora tak karuan.
"A...apaan sih lo. Gak.. gak usah nanya yang aneh-aneh deh." jawab Amora gugup mencoba memalingkan wajahnya.
"Udah ah gue mau langsung balik ke kelas aja." sergahnya.
"Ye malah kabur. Curiga gue, elo udah ngapa-ngapain sama dia." penuturan Bryan langsung membuat Amora berjalan cepat menghindari pertanyaan Bryan yang membuatnya tersipu. Sementara Bryan mengekor di belakangnya dengan tersenyum geli.
*
"Kenapa kamu sampai ceroboh sih? Yang kamu selidiki itu mengarah ke sebuah perusahaan besar! Maurine Group! Kamu masih mau menyelidikinya?" bentak sang kepala itu padanya.
"Masih, Pak." jawab detektif itu tak merasa takut. Tak lain dan tak bukan ia adalah Reno, detektif yang menangani kasus kematian janggal kedua orang tua Amora.
"Kamu mau menyeret Indera? Direktur utama perusahaan besar itu saat ini? Hah?! Gak akan bisa! Justru kita yang akan dituntut oleh perusahaan itu!"
"Saya tidak takut. Saya sendiri yang akan mengusut tuntas kasus ini." ucap Reno tegas walau saat ini ia hanya menunduk. Ia sama sekali tak takut pada atasannya itu. Yang ada dipikirannya hanya menyelesaikan kasus yang sedang ditangani agar kebenarannya bisa terungkap.
"Reno! Kamu berani bantah saya?! Hah?!" atasannya itu makin meninggikan suaranya. Namun sedetik kemudian Reno malah membuka ID Card nya dan menyimpannya di atas meja.
"Saya bisa menyelidikinya sendiri." ucapnya kemudian berlalu pergi dari ruangan tersebut.
"Reno, kamu itu pintar dan berbakat, tapi malah..." katanya-katanya menggantung karena Reno sudah menghilang dari pandangannya.
__ADS_1
Dengan emosi yang masih menjalar, ia pun hendak meninggalkan kantor, namun ditahan oleh Yoga, partner sekaligus asistennya.
"Pak Reno mau kemana? Kenapa id card bapak gak ada?" ucapnya celingukan mengamati benda yang biasa terjepit di saku bajunya itu hilang.
"Saya sudah berhenti." Yoga terkejut mendengar penuturannya.
"Kok gitu sih, Pak? Lalu bagaimana dengan kasus yang kita tangani? Bukankah sudah menemukan titik terang?" sang asistennya itu bersikeras agar Reno tak pergi meninggalkannya.
"Tampaknya pak kepala punya hubungan khusus dengan pemilik perusahaan itu, Indera. Dia tak mau kita melanjutkan investigasi. Padahal kamu sudah banyak membantu."
"Jadi bapak mau berhenti begitu aja? Lalu bagaimana dengan keluarga korban? Bukankah bapak yang bilang bahwa bapak akan menyelidiki ini sampai tuntas?"
"Tenang saja. Walaupun saya sudah berhenti, saya sendiri yang akan mengawasinya. Sampai kapanpun. Sampai ia menunjukkan kebusukan dibalik keramahannya itu." ucap Reno dengan sorot penuh ambisi.
"Kalau gitu mending saya ikut bapak aja. Saya juga pengen banget mengungkap kasus ini bersama-sama. Lagian saya kurang nyaman jika harus kerja dengan yang lain. Disini gak ada yang seserius bapak kalau menangani kasus." ucap Yoga pelan. Takut terdengar oleh yang lainnya.
*
Suasana sekolah setelah kepergian Ari dan Stella tampak sangat berbeda. Lebih riuh, ramai dan ceria. Kini area gedung kelas 12 sudah bisa disinggahi oleh murid-murid kelas bawah.
Ada yang ikutan nongkrong disana bersama kakak kelasnya, ada yang sekedar menemui kenalannya, bahkan ada yang berpacaran juga disana. Gedung kelas 12 yang biasanya mencekam, kini terasa hidup oleh keramaian.
Amora juga merasa bebas. Tak merasa takut dan terancam lagi oleh dua sosok dominan pembawa pengaruh negatif itu. Syukurlah. Ia merasa sangat bersyukur sekali.
Sementara itu, Yuda, Deri dan Bondan terlihat menghampiri Bryan. Entah apa yang akan mereka lakukan. Amora yang melihat itu langsung bersembunyi berusaha mencuri dengar percakapan mereka. Ia pun mengendap-endap ke arah dinding tepat di dekat Bryan yang membelakanginya.
Sebenarnya apa yang akan mereka bertiga lakukan pada Bryan? Apa ia akan menghajarnya seperti waktu kejadian di kelas? Atau malah mengajak damai? Batin Amora bertanya-tanya.
***
__ADS_1