
Mobil pun berhenti di depan rumah Satria. Satria pun turun dari mobil untuk membukakan gerbang rumahnya. Dan setelah sampai di depan rumah Satria, Erin dan Dimas terkagum melihat bangunan yang mewah tersebut. matanya terus memandangi ke sekeliling mengagumi arsitektur bangunannya.
“Wah gila! Elo anak orang kaya yah?” tanya Dimas antusias.
“Kok elo malah pilih ngekos sih? Kalau gue jadi elo, ogah deh ngekos di tempat sempit, mending tinggal di rumah aja,” gumam Erin membenarkan pendapat Dimas.
Sementara itu Amora tidak bergeming sama sekali melihat rumah Satria. Menurutnya wajar jika anak yang memiliki orang tua pemilik perusahaan memiliki rumah yang mewah seperti ini. Bukan ia tak tertarik juga, tapi lebih ke arah mewajarkannya saja.
“Rumah gue masih kalah sih kalau dibandingin sama rumah elo ya gak, Ra?” tutur Satria beralih menatap Amora.
“Seriusan rumah elo lebih mewah dari ini, Ra?” tanya Erin yang makin melebarkan bola matanya.
“Kapan-kapan ajak gue lah ke rumah elo, Ra.” Ucap Dimas dan malah mendapat senggolan dari Satria.
“Enak aja lo. Mau ngapain elo ke rumahnya?” sergah Satria tak terima dengan perkataan Dimas yang ingin ke rumah Amora seorang diri. Enak saja! Batinnya.
“Ih, enggak gitu kok. Rumah gue biasa aja. Lagian lebih nyaman di luar rumah dibanding di dalam rumah. Suasananya udah kayak kuburan soalnya.” Tutur Amora sambil tersenyum cengengesan. Ia tak mau menyombongkan apapun pada teman-temannya.
“Udah yuk kita masuk aja. Keburu sore entar.” Usul Satria.
Akhirnya mereka berempat pun mengerjakan tugas kelompok tersebut di salah satu ruangan yang ada di kamar Satria. Ruangan yang biasa Satria pakai untuk bersantai dan menghibur diri bersama teman-temannya. Karena di ruangan tersebut ada theater room
Mereka berempat bagi-bagi tugas dalam mengerjakannya. Amora mencari sumber artikel dan jurnal, Erin bagian mengedit dan memilah beberapa artikel atau jurnal menjadi satu pembahasan. Sementara itu Satria bagian membuat power point untuk presentasi dan Dimas bagian pengurusan makanan, karena hanya itu yang ia bisa.
Tak lama ponsel Amora berdering tanda ada panggilan masuk. Ternyata camilan pesanannya sudah sampai. Namun tanggung sekali ia sedang sibuk mendownload jurnal untuk bahan materinya. Terpaksa ia meminta tolong pada Dimas untuk mengambilnya.
“Dim, boleh minta tolong gak?”
“Ada apa, Ra?”
__ADS_1
“Kayaknya pesanan camilan gue udah sampe deh. Boleh minta tolong ambilin ke depan gak?”
“Dengan senang hati, tuan putri,” jawab Dimas bak seorang pengawal yang sedang menerima titah dari permaisuri.
“Sekalian punya gue ya, Dim. Kayaknya udah di depan juga deh.” Titah Satria sambil melihat ponselnya.
“Oke siap yang mulia,” jawab Dimas membuat yang lain tertawa.
“Rendah banget sih lo,” ucap Erin sambil tertawa.
“Demi makanan gue rela jadi budak mereka.” jawabnya. Sementara itu Amora hanya geleng-geleng kepala menyaksikan kelakuan teman-teman kampusnya itu. Namun diam-diam Satria mencuri pandang ke arah Amora yang tersenyum. Senyum yang sangat manis. Jika saja Amora masih jomblo, mungkin sudah dari awal Satria menyatakan perasaannya.
Dimas pun bergegas ke depan rumah Satria untuk mengambil pesanan makanannya. Namun setelah kepergiannya, Satria langsung tertawa. Ia merasa telah berhasil mengerjai Dimas.
“Kenapa, Sat? Kok tiba-tiba malah ketawa?” tanya Amora heran.
“Enggak. Gue gak bisa bayangin aja kalau dia harus bayar pesanannya yang banyak itu.” Jawab Satria masih dengan sisa-sisa tawanya.
“470 ribu,” jawab Satria sambil melihat nominal biaya yang harus dibayar dari ponselnya.
“Ya ampun, si Dimas mana ada duit segitu. Pas istirahat aja dia suka minta traktir ke gue,” sergah Erin menjelaskan ketidakmampuan Dimas.
“Ya udah gue susul ke bawah yah. Kasian,” ucap Amora.
“Elo disini aja, Ra. Biar gue aja yang ke bawah.” Tawar Satria melihat Amora yang hendak bergegas menyusul Dimas.
“Gak papa biar gue aja yang ke bawah sekalian mau mastiin pesanannya udah bener atau belum.” ucapan Amora tak bisa dibantah lagi. Dan ia pun segera menyusul Dimas. Sesampainya di depan rumah, seperti dugaan Amora, Dimas tengah adu mulut dengan kurirnya. Mana gak ada yang mau mengalah mendengar dari keduanya berbicara dengan nada tinggi pula.
“Ada apa ini?” tanya Amora menghampiri Dimas dan sang kurir.
__ADS_1
“Ini, Mbak. Mas nya ini gak mau bayar pesanannya. Padahal pizza nya udah sebanyak ini dipesan, tapi bilangnya udah dibayar.” Tutur kurirnya keukeuh.
“Ye, siapa juga yang mau bayar, orang gue cuma disuruh ambil pesanannya doang. Itu kan urusan yang pesen.”
“Ya gak bisa gitu juga lah, Mas. Masa saya yang harus bayar?”
“Udah, Bang. Biar saya yang bayar aja,” ucap Amora mengeluarkan isi dompetnya dan langsung menyerahkan uang seratus ribuan sebanyak lima lembar pada sang kurir.
“Kembaliannya ambil aja, Bang.” Tutur Amora membuat raut wajah kurir tersebut berubah. Dari yang memasang wajah sangar menjadi berbinar.
“Noh udah dilebihin tuh,” solot Dimas sambil membawa pesanan paket pizza nya ke dalam meninggalkan Amora dan kurir tersebut.
“Makasih loh, Mbak. Mbak baik banget gak kayak mas yang tadi.” Amora yang mendengarnya hanya menanggapinya dengan tersenyum.
Setelah kurir tersebut pergi, satu kejadian yang membuat penyakit Amora kambuh pun terjadi. Ketika ia hendak masuk ke dalam, sayup-sayup suara sirine ambulan terdengar oleh telinganya. Detak jantungnya tiba-tiba berdetak dengan kencang. Rasa gelisah mulai menerpanya.
Seiring semakin dekatnya suara sirine tersebut, rasa cemas yang berlebihan membuat sakit kepalanya kambuh. Sakit yang sangat menusuk dan tak kuasa untuk menahannya. Tangannya meremas baju atasnya mulai merasakan rasa sesak di dada yang membuat nafasnya tersengal. Dunia seolah berputar dan tak lama pandangannya menjadi buram dan menggelap.
Sementara itu Dimas dengan bawaannya yang banyak menghampiri Satria dan menyerahkan pesanannya itu. Namun Satria bingung karena hanya Dimas yang kembali sementara Amora tidak terlihat.
“Dim, si Amora kemana?” tanya Erin mendahului Satria yang hendak menanyakan hal yang sama.
“Mungkin masih di depan lagi digodain sama kurir. Sumpah nyebelin banget sih kurirnya. Masa gue yang disuruh bayar sih?” gerutu Dimas.
“Ye, bukan kurirnya yang rese, dia emang menuntut pembayaran sesuai sama peraturannya. Noh, si Satria emang sengaja belom bayar.”
“Ah, rese lo, Sat. Gue ngerasa lagi dikerjain nih. Pokoknya pizza bagian gue harus lebih banyak.” Tuntutnya.
Namun Satria hanya termenung dalam lamunannya. Entah kenapa ia merasa ada yang aneh dengan Amora yang sedari tadi belum juga kembali. Tidak mungkin ia akan selama itu mengobrol dengan kurir. Lagian Amora bukan tipe yang senang mengobrol dengan orang lain, apalagi yang belum dikenalnya.
__ADS_1
***