Menanti Pasangan Hati

Menanti Pasangan Hati
Jalan Lain


__ADS_3

Amora kaget menyadari Bryan yang telah menciumnya. Begitu pun dengan semua orang yang menyaksikan hal itu.


“Ikut gue,” titah Yuda pada Bryan seolah sedang menahan emosi. Dengan penuh percaya diri, Bryan mengikuti Yuda keluar dan diikuti oleh Deri dan Bondan di belakangnya.


Fani, Della dan Fio menatap Amora yang masih kebingungan dengan kejadian itu. Fani mengelus-elus bahu Amora mencoba menenangkannya. Mereka juga tak bisa langsung menyalahkan Bryan karena hal itu di luar kendali mereka.


Memang benar bahwa cinta itu tak salah dan tak ada yang bisa menahan tumbuhnya rasa cinta. Sekali lagi, mencintai itu tidak salah dan merupakan hal yang wajar sebagai manusia. Namun semua resiko dan perbuatan atas nama cinta berbalik kembali pada sang pelaku cinta.


“Kenapa dia kayak gitu sama aku? Padahal aku udah percaya sama dia,” ucap Amora sendu tak percaya dengan apa yang sudah terjadi. Della dan Fio pun memberikan semangat untuk Amora agar ia tak terlalu memikirkannya.


Sementara itu di luar tak jauh dari villa, Bryan dikelilingi oleh Bondan, Deri dan Yuda yang menatapnya dengan nyalang. Bryan tahu hal ini cepat atau lambat akan terjadi. Ia sudah memprediksikannya.


“Elo tahu dia udah punya pacar?” tanya Yuda memulai interogasi.


“Iya, gue udah tau,” ucap Bryan mantap. Yuda menatap Deri memberikan kode, dan ia pun mengangguk. Walaupun Yuda tahu bahwa Bryan adalah teman sekolah Deri waktu dulu, ia seolah meminta ijin padanya terlebih dahulu agar ia bebas menghajar Bryan atas nama persahabatan mereka.


Bugh! Yuda melayangkan tinjunya tepat di rahang Bryan hingga darah mengucur dari sudut bibirnya.


“Elo udah kita ijinin buat gabung, tapi elo malah keterlaluan!” teriak Yuda dan langsung menghantamnya kembali. Yuda, Bondan dan Deri yang memang diamanati ole Bara untuk menjaga Amora seolah telah gagal.


Bondan dan Deri hanya diam menyaksikan pelampiasan Yuda terhadap Bryan. Mereka berdua tidak mau mengeluarkan ilmu bela dirinya karena takut Bryan akan lebih parah terkena dampaknya. Oleh sebab itu Deri dan Bondan melepaskan tugas itu pada Yuda.


Pukulan demi pukulan Yuda layangkan pada tubuh Bryan. Ia tak rela jika Bara direndahkan oleh Bryan yang sudah tahu bahwa Amora adalah kekasihnya, namun ia tetap mendekatinya. Yuda mulai kalap memukuli Bryan, namun yang dipukuli hanya diam dan pasrah menerimanya.


Bugh! Satu pukulan itu tepat mengenai ulu hati Bryan dan langsung membuatnya ambruk. Ia mengerang menahan sakitnya, namun sebisa mungkin Bryan tak mau melawan karena hal ini memang sudah termasuk ke dalam resiko yang harus ia hadapi.


“Gue suka sama dia,” gumam Bryan pelan dan malah membangkitkan kembali amarah Yuda. Ia menghampiri Bryan kembali, tapi Deri seolah menahan Yuda agar tidak melanjutkan niatnya. Yuda pun mencoba menarik nafas dan menenangkan dirinya.


Kini giliran Deri menghampiri teman SMP nya itu. Ia menatap tepat ke manik mata Bryan.


“Elo bakalan tetep deketin dia?” tanya Deri serius mengepalkan kedua telapak tangannya. Bryan hanya tersenyum selintas.

__ADS_1


“Tent…”


Buakh! Deri langsung memukul tengkuk Bryan tepat sebelum ia mengucapkannya. Seketika itu juga Bryan langsung terjatuh dan tumbang di atas tanah setelah mendapat serangan itu.


“Gue kecewa sama elo,” ucap Deri melihat Bryan yang terbaring tak berdaya akibat serangannya.


Sementara itu di dalam villa, para perempuannya tengah saling curhat tentang laki-laki. Fani menceritakan tentang kekagumannya pada Yuda, Fio yang menceritakan tentang kekonyolan Deri saat sedang bersamanya, dan Della yang diam-diam menyukai Bondan. Mereka semua seolah tak menyangka dengan apa yang sudah terjadi.


Amora yang mendengar curhatan ketiga temannya jadi sangat merindukan Bara. Rasanya ia ingin sekali terbang ke Madrid saat ini juga untuk menemuinya. Ia sangat rindu sosok Bara yang hangat dan sangat peduli padanya.


Tak lama Bondan, Deri dan Yuda datang kembali dengan Bryan yang dipapah dan wajah serta bajunya penuh dengan bercak merah. Amora dan yang lainnya terkejut melihat apa yang sudah terjadi. Nampaknya Bondan, Yuda dan Deri sudah memberikan pelajaran pada Bryan.


“Kak?” tanya Amora dengan sorot matanya.


“Tenang, dia bakal baik-baik aja kok.” Ucap Deri sambil memapah Bryan ke dalam kamar. Amora menunduk penuh penyesalan. Ia merasa Bryan terluka adalah karena dirinya.


“Dia gak kenapa-napa kok. Kita cuma kasih dia sedikit pelajaran, gak sampe lumpuh,” ucap Yuda dan langsung dapat pukulan dari Fani.


Tak lama ponsel Amora berbunyi tanda panggilan masuk.


“Ada apa, Bi?” jawab Amora dari sambungan.


“Bapak sama ibu pulang, Neng. Kalau….”


“Amora ke rumah sekarang!” seru Amora memotong pembicaraan.


“Kamu mau kemana, Ra? Ini hampir tengah malam loh,” ucap Fani.


“Enggak mau nunggu besok aja?” tanya Fio memastikan.


“Cuaca di luar dingin loh, Ra,” ucapan Della pun sama sekali tak digubris oleh Amora yang memang mempunyai pendirian yang kuat jika sudah bertekad.

__ADS_1


"Gak papa aku pulang duluan yah."


"Mau kemana?" tanya Deri yang baru keluar dari kamar.


"Mau pulang dulu."


"Sini biar gue anterin." tawar Deri dan mendapat anggukan Amora. Setelah mendapat ijin, Amora langsung pamit untuk pulang dahulu ditemani oleh Deri.


*


Bara dan Arman langsung terkejut mendengar penuturan Mona yang mengatakan bahwa terdapat bom dalam bangunan tersebut.


"Kalau gitu kita harus keluar sekarang juga!" titah Arman.


Namun sebelum mereka sempat keluar, seseorang yang memperhatikan mereka dari luar gedung menekan satu tombol. Seketika itu juga terdengar ledakan dari dalam bangunan dan merobohkan sebagian gedung tersebut.


Bum! Satu dentuman keras terdengar menghancurkan bagian tengah gedung, dimana Bara dan yang lainnya berada.


"Mah!" teriak Bara berusaha menggapai tangan sang ibu yang hendak terjatuh bersama bangunan yang roboh.


"Mona!" teriak Arman dan langsung membantu Bara menarik Mona. Dengan bantuan anak dan suaminya, akhirnya Mona berhasil terselamatkan.


Ketiganya segera berlari dan bergegas keluar gedung karena bangunan yang terus bergoyang. Para pengawal yang ada disana membantu membuka jalan keluar agar tidak menginjak lantai yang bisa saja roboh. Bangunan tersebut mulai runtuh perlahan seiring dengan suara dentuman keras yang terdengar dari seluruh penjuru gedung.


Rasa panik menerpa semua yang ada dalam gedung sehingga berhamburan keluar. Mereka pun dengan susah payah melangkah perlahan karena ketika hendak melangkah, ada saja lantai yang roboh sehingga harus memutar arah.


Bara melihat jalur lain menuju lantai bawah dan langsung memimpin jalan memerintahkan yang lainnya untuk mengikutinya. Dengan perlahan namun pasti, akhirnya mereka sampai di lantai bawah setelah menuruni undakan tangga yang sedikit terjal.


"Awas, Mah!" refleks Bara langsung menghadang reruntuhan yang hendak mengenai sang ibu. Hampir saja reruntuhan itu mengenainya.


"Terimakasih, Nak." ucap Mona seketika mengingat bayangan dirinya yang selalu cerewet pada Bara karena sifat nakal anaknya itu. Namun di situasi saat ini, anaknya benar-benar sangat bisa diandalkan. Ia sungguh bangga mempunyai anak seperti Bara.

__ADS_1


***


__ADS_2