
Malik
Nico dengan membabi buta memukuli Jimmy. Kata-kata umpatan terdengar nyaring memenuhi ruangan. Nico benar-benar tidak memberi kesempatan Jimmy yang ingin kabur. Terus saja memukul, meninju dengan garang.
Ia menahan Surya yang akan mendekat untuk memisahkan keduanya. Bukan tidak boleh melerai, tapi ia memberi kesempatan Nico melampiaskan amarahnya. Ia juga merasa marah dengan kelakuan bejad Jimmy. Ck, masalah keluarga dimulai, batinnya.
Dirasa sudah cukup, begitu melihat Jimmy sudah babak belur dengan hidung dan bibir berdarah-darah tanpa perlawanan. Ia menarik Nico dengan susah payah karena Nico memberontak, meronta minta dilepaskan.
"Surya, bawa Jimmy dari sini!" Ia memerintahkan sang keamanan rumah membawa Jimmy keluar. Jangan sampai Nico kalap dan terjadi hal yang tidak diinginkan.
"Lepas, Malik! Gue harus bunuh bajingan itu. Jangan bawa dia!" Nico berteriak dan meronta dari cekalannya. Menunjuk-nunjuk Jimmy yang dievakuasi oleh Surya.
"Istighfar Nico, Jimmy bisa mati." Ia sekuat tenaga menahan bahu Nico yang ingin mengejar Surya yang membopong Jimmy.
"Keadaan Suci lebih penting, Nico. Dia ketakutan."
Barulah Nico berhenti meronta, tersadar akan ucapannya.
Nico mencari keberadaan Suci yang dibawa Sri menjauh dari tempat itu.
Ia menghembuskan nafas panjang. Kejadian yang benar-benar tak terduga.
Sejenak ia berpikir, langkah apa yang harus diambil. Situasi sedang panas. Nico masih emosi.
Ia memutuskan menghubungi Ayah Hendro juga Anita.
****
Suci
Sri membopongnya pergi dari sana. Perasaan takut yang menguasai berakhir sedikit kelegaan begitu Nico datang tepat waktu. Sebab ia sudah kehabisan tenaga menahan wajah Jimmy yang ingin berbuat kurang ajar menciumnya. Yang bisa dilakukannya hanya menangis dan meminta tolong dalam suara yamg sudah lemah.
Ia memilih masuk ke kamar Amanda yang belum dipakai sang anak dan lalu merebahkan diri di ranjang ukuran queen size.
Sri membantunya menata bantal di depan kepala ranjang agar bisa tidur setengah duduk. "Bu, saya ambilkan minum dulu ya?"
Ia mengangguk lemah. Selemah tubuhnya yang terasa sakit-sakit dan mungkin saja ada lebam.
Sri datang lagi dengan cepat. Segelas air hangat membuat dirinya lebih baik, tak lagi gemetaran karena syok.
"Sri, tolong liat ke kamar. Apa anak-anak sudah bangun?" Ditengah rasa syoknya, ia tidak lupa memikirkan anak-anak. Terutama Naura, yang tidak tahu apa-apa urusan orang dewasa, jangan sampai anak itu melihat masalah yang terjadi.
"Pelan-pelan buka pintunya!"
Sri mengangguk. Asisten rumah tangga yang baru berumur 19 tahun itu dengan gesit melesat ke luar kamar.
Sri masuk lagi memberikan laporan. "Masih tidur, Bu."
Ia bernafa lega. Bersamaan dengan itu, Nico masuk ke dalam kamar. Sri pun segera keluar meninggalkannya berdua.
"Sayang..."
"Mas..." Ia menyambut pelukan Nico dan membenamkan wajahnya di dada. Ia menumpahkan air mata, tergugu dalam dekapan sang suami yang menciumi puncak kepalanya.
****
Nico
Ia tidak berani bertanya apa saja yang dilakukan si brengsek Jimmy terhadap Suci. Biar nanti lihat sendiri lewat kamera pengawas. Ia membiarkan istrinya itu menumpahkan air mata dalam dekapannya agar tenang. Tangisan yang menyayat itu membuat rasa marahnya terhadap Jimmy kembali terpancing.
Ia melonggarkan pelukannyan begitu tangis Suci mereda. Diusapnya air mata yang masih membanjiri kedua pipi istrinya itu.
"Kalau Mas Nico telat datang....aku gak tau nasibku....hiks." Suci kembali terisak membayangkan kejadian mengerikan sambil bergidik.
__ADS_1
"Sssh, tenangkan diri ya sayang. Aku akan selalu melindungimu." Ia merebahkan Suci pada posisi semula dan mengusap rambut sang istri yang berantakan dan tampak kacau.
Matanya menyapu keseluruhan tubuh Suci dari atas sampai bawah. Tatapannya berhenti pada lengan baju Suci yang sobek.
"Aww."
Ia mendengar Suci meringis saat lengan baju yang sobek itu disingkap. Tampak kulit lengan yang putih itu menjadi lebam, diduga bekas cengkraman kuat yang dilakukan Jimmy.
Ia menatap penuh penyesalan dengan apa yang dialami Suci. Dan mirisnya, keluarganya sendiri yang melakukan perbuatan bejat itu.
"Sayang, ganti baju dulu ya. Aku ambilkan!" Ia mengecup kening Suci sebelum beranjak.
"Mas."
Langkahnya terhenti karena Suci menggapai tangannya.
"Aku mau pulang," ujar Suci dengan suara serak.
Ia kembali duduk dan mengernyit.
"Maksudnya pulang kemana, sayang?" Ia menggenggam tangan Suci memberikan ketenangan.
Suci menggeleng. "Aku gak mau di sini, aku masih takut Mas.....aku mau ke rumah bang Candra."
"Kumohon, Mas. Aku mau pulang sekarang!" Suci menatapnya dengan sorot memelas dan mata berkaca-kaca.
Ia termenung sesaat, menimang-nimang.
"Aku ingin menenangkan diri, Mas," lanjut Suci karena melihatnya masih mengatupkan bibir.
"Boleh, sayang." Ia mantap menjawab.
"Eh, mau ke mana?" Ia mencegah Suci yang hendak turun.
"Aku harus packing perlengkapan Amanda. Aku cuci muka dulu. Ada Naura di kamar kita. Anak itu nggak boleh tahu masalah orang dewasa."
Sementara Suci packing perlengkapan yang akan dibawa, ia turun untuk menemui Malik. Pecahan beling dan segala kekacauan sedang dibersihkan oleh Sri dan Bi Narti.
Ia mendapati Malik dan Anita yang duduk di ruang keluarga. Sang kakak tampak menundukkan wajah dan terisak.
"Malik, aku akan mengantar Suci ke rumah Bang Candra." Ia mengabaikan Anita yang mendongak menatapnya.
"Iya. Aku akan di sini sampai Ayah sama Bunda datang. Aku sudah menelponnya."
"Nico..." Suara Anita tercekat karena air mata kembali tumpah.
Ia memalingkan wajah ke sembarang arah dan mengusap wajahnya dengan kasar. Amarahnya lagi-lagi terpancing karena menganggap sang kakak yang bodoh.
"Mbak...." Ia membuang nafas panjang.
"Aku dulu udah peringatin kan...suamimu itu kelakuannya di luar gak bener."
Sejak lima tahun yang lalu, ia mendapat laporan dari temannya yang melihat sang kakak ipar sedang berpesta di klub dengan dikelilingi perempuan-perempuan seksi. Di lain waktu, temannya yang lain mengirimkan video kakak iparnya tengah mabuk di sebuah night club wilayah Kuta.
Dan apa tanggapan Anita, kakaknya? Aku akan menasehatinya.
Anita mengusap sudut matanya tanpa menjawab.
"Dan sekarang istriku jadi korban, MBAK!" Ia menggeram menahan marah. Tampak wajahnya memerah dengan tangan yang mengepal.
"Aku akan jebloskan dia ke penjara!"
Anita menangis sesenggukan. Ia memilih melengos pergi kembali ke kamarnya.
__ADS_1
"Sudah selesai?"
Ia melihat Suci menggendong baby Manda dan menepuk-nepuknya agar tetap tertidur. Dua koper sudah ada di dekat sofa.
"Ayo, Mas." Suci berkata pelan agar tidak membangunkan Naura yang masih lelap. Wajar saja, semalam anak itu menemani sampai larut malam. Hingga sekarang sudah 2 jam tidur belum juga bangun.
****
Umi
Suci datang dengan wajah kuyu dan sembab diiringi Nico di belakangnya yang menenteng dua koper yang wajahnya pun terlihat murung. Ia mengusap punggung sang anak saat mencium tangan dan memeluknya. Ia merasakan Suci sedang menahan diri untuk tidak menangis.
"Umi." Nico hanya berucap satu kata sambil mencium tangannya.
"Suci, Amanda tidurkan dulu di kamar!"
Ia menatap punggung anak dan menantunya yang masuk ke kamar mereka untuk menidurkan baby Manda dan menyimpan koper.
"Ada apa, nak?" Ia menatap Suci yang menunduk dan Nico yang merangkul Suci dan mengusap-ngusap bahunya.
"Umi, kami mau tinggal di sini dulu untuk sementara. Boleh, Umi?" Nico menatapnya dengan sorot permohonan.
"Tentu saja. Umi sangat senang rumah ini bakal rame dengan tangisan bayi." Ia berbinar senang.
"Maafkan Nico, Umi."
"Ada kejadian yang tak terduga...."
Ia mendengarkan dengan seksama sang menantu menceritakan apa yang telah terjadi siang tadi. Ia pun melihat Suci yang mulai terisak dalam rangkulan menantunya itu.
"Astaghfirullah hal'adziim...." Ia mengelus dada.
"Nico, antar dulu Suci ke kamar. Istirahat dulu...."
"Ayo, sayang. Kamu harus istirahat." Nico terus memeluk Suci sampai masuk ke dalam kamar.
Ia kini duduk berdua. Menatap menantunya yang duduk berhadapan dengannya.
"Apa yang akan kamu lakukan, nak?" Ia berkata lembut untuk menjaga perasaan sang menantu yang tampak tak enak hati dan merasa bersalah.
"Aku akan memenjarakannya, Umi."
Umi mengangguk.
"Jangan membuat keputusan disaat lagi amarah, nak."
"Umi juga marah. Anak Umi mendapat perlakuan tak senonoh. Ibu mana yang rela."
"Tapi pertimbangkan lagi sisi lainnya. Jika lapor polisi, media massa akan tahu. Bagaimana dengan kakakmu....bagaimana keponakanmu...psikologisnya."
"Umi juga menjaga marwah Ayah dan Bundamu. Tidak tega nama baiknya tercoreng gara-hara aib menantunya."
Nico tampak tercenung usai mendengar rentetan ucapannya.
"Aku akan sidang keluarga, Umi. Lagi menunggu Ayah sama Bunda masih di jalan."
Umi mengangguk.
*****
Alhamdulillah bab ke 100.
Hapunten (Maaf) ya... telat up nya. Lagi rariweuh 😁
__ADS_1
Sedekah votenya ditunggu ya, readers ku. Biar besok siang bisa up lagi.
laff u all 😍