MENGAPA CINTA

MENGAPA CINTA
Cinta Tlah Temukan Jalannya (The End Ss1)


__ADS_3

Salma terhenyak. Ia kenal dengan suara perempuan yang berceletuk itu.


"Suci," gumamnya.


Spontan Salma mengangkat wajahnya.


Kekagetannya menjadi dua kali lipat saat matanya bersirobok dengan pria yang duduk di depannya terhalang meja. Pria itu tersenyum menatapnya.


Salma mengalihkan pandangan. Ada Suci dan Nico yang duduk rapat dengan tangan saling menggenggam, duduk di kursi paling sisi. Ada Rahma yamg dikenalnya saat pesta resepsi Suci. Umi dan Candra duduk berdua di kursi panjang menghadapnya.


Salma menggelengkan kepalanya. Ia mengerjapkan matanya berkali-kali saat kembali bersitatap dengan Candra. Takutnya ini hanya mimpi.


Apakah tamu yang akan melamarku itu Bang Candra?


Benarkah?


Salma kini sadar, ini bukan mimpi. Ini nyata. Aroma parfum itu bukan halusinasi.


Salma kembali menatap Candra yang belum berhenti tsrsenyum. Lebih tepatnya menahan senyum, karena geli melihat Salma yang seperti orang linglung.


Pandangan Salma terhadap pria tampan yang memakai batik itu perlahan buram, mengabur, dan akhirnya kegelapan yang dirasakannya. Salma terkulai di pangkuan sang ibu. Ia tak sadarkan diri.


"Sal....Salma bangun!" Ibu menepuk-nepuk pipi Salma pelan. Ibu tampak panik melihat anaknya tak sadarkan diri.


"Tidak apa-apa. Salma hanya shock melihat kenyataan siapa tamunya. Sejak sampai di rumah, ia menangis di kamarnya dikiranya dia akan dijodohkan." Bapak menenangkan Candra dan semuanya atas insiden tak terduga ini.


.


.


.


Salma mengerjapkan mata begitu menghirup aroma kayu putih di hidungnya.


Salma mengernyit, berusaha menyesuaikan diri dengan silaunya cahaya ruangan. Saat mata terbuka sempurna, ia baru tahu sedang berada di kamarnya. Saat pingsan, Bapak membopongnya ke kamar agar bisa tidur leluasa.


"Alhamdulillah, kamu udah sadar--"


Salma menoleh ke asal suara. Candra duduk di kursi sedang tersenyum menatapnya. Salma mengedarkan pandangan ke sekeliling kamarnya. Tidak ada orang lain, hanya mereka berdua di dalam kamar dengan pintu yang terbuka.


"Minum dulu, Salma!" Candra memberikan segelas air putih yang disiapkan di atas meja rias.


Salma beringsut bangun menjadi duduk bersandar di kepala ranjang. Ia menerima gelas itu dan meminumnya sampai habis.


"Makasih--" Salma tersenyum tipis saat Candra meminta kembali gelas yang telah kosong. Candra menyimpannya di tempat semula.


"Kamu pusing gak?" Candra menatap lembut wajah Salma yang awalnya pucat kini tampak merona.


Salma menggelengkan kepalanya lemah. Saat ini tak lagi pusing yang dirasa. Namun jantungnya bertalu kencang karena mendapat tatapan hangat dan perhatian dari Candra. Kehadiran tamu keluarga Candra sungguh diluar ekspektasi. Benarkah mimpinya akan menjadi nyata? Salma masih belum yakin.


"Bang Can--"


"Sstt, jangan berkata dulu. Biarkan aku yang bicara!" Candra menganggkat telunjuk ke bibirnya. Ia menggeser kursinya mendekati Salma.

__ADS_1


"Salma, maafkan si bodoh ini yang terlambat menyadari perasaannya. Aku gak tahu jika Suci tak bercerita, jika selama ini ada seorang wanita cantik dan tegar yang tengah memendam rasa padaku. Dan ternyata keberadaannya begitu dekat. Sejak tahu itu, aku mulai meraba hati. Aku mulai mencari jawaban, sebenarnya rasa nyaman dan bahagia selama ini berinteraksi denganmu, apakah hal yang wajar sebagai partner kerja atau perasaan istimewa. Salma, ternyata aku cemburu saat kamu mulai kencan dengan pria lain--"


Salma termangu menatap Candra yang bercerita dengan tenang. Matanya tidak berkedip karena terkesima dengan ungkapan perasaan sang pangeran pujaan.


"Ja-jadi kemarin-kemarin itu Bang Can udah tau siapa 'si bodoh' itu?"


Candra mengangguk.


"Aku pantas disebut si bodoh kok. Karena tidak peka dengan perasaan sendiri."


"Tapi, bukankah Abang sudah punya calon, orang Tasik itu?" Salma masih butuh meyakinkan keseriusan pria tampan yang duduk di kursi menghadapnya.


"Waktu itu, waktu kita berangkat bersama. Aku ke Tasik untuk memutuskan hubungan, bukan untuk menentukan lamaran. Atas petunjuk Allah, aku dan dia tidak berjodoh. Kami sepakat saling mengikhlaskan dan berjanji untuk saling bahagia dengan pasangan masing-masing."


Salma tercenung.


Ternyata ada kisah cinta seperti itu. Hubungan yang tidak bersandar pada nafsu, tapi pada ridho Illahi. Dan Salma merasa jauh memiliki level keikhlasan seperti itu.


Salma mencubit lengannya. Ia pun meringis sakit.


"Kenapa?" Candra kaget dengan tingkah Salma.


"Ingin meyakinkan ini mimpi atau nyata? Ternyata lenganku sakit. Berarti nyata ya--" Salma menepuk-nepuk pipinya bergantian, kanan lalu kiri.


Candra mulai gemas dengan gestur Salma seperti itu. Ia meraih kedua tangan sang gadis, menggenggamnya erat.


"Salma, aku bukan pria romantis yang akan memberikan bunga kepada wanita yang disukanya. Aku pria serius yang datang membawa keluarga untuk mengkhitbahmu. Bersediakah kamu menjadi istriku, Salma Savitri?" Dengan wajah sungguh-sungguh dan tatapan lembut namun mampu menghunus ke jantung Salma, Candra mengutarakan niatnya.


Aku takut pingsan lagi.


Salma perlahan menarik tangannya dari genggaman Candra. Ia tertunduk tak kuat mendapat tatapan yang seakan menghujam dada.


Candra menahan tangan Salma yang akan terlepas dari genggamannya.


"Jawab dulu, Sal. Baru aku lepaskan--"


"Apakah Abang mencintaiku?"


"Apakah ungkapan itu perlu?


Salma mengangguk.


"Selain bukti tindakan, wanita juga butuh ungkapan kata."


"Aku mencintaimu, Salma. Aku datang melamarmu karena petunjuk Allah bahwa kaulah yang akan menjadi makmumku." Candra berucap dengan tegas dan yakin.


Sepasang mata indah tampak berkaca. Sungguh kalimat cinta yang indah, bukan rayuan manis yang biasa laki-laki ucapkan untuk memikat wanita hingga terpedaya.


Salma terisak dalam haru.


"Hei, kenapa menangis." Candra mengurai genggamannya. Ujung jarinya terulur menghapus butiran air mata yang jatuh membasahi pipi Salma.


"Aku....aku tidak sia-sia menjadi Fatimah?" ucapnya dengan parau karena sambil terisak.

__ADS_1


"Tentu tidak. Karena Ali sudah datang kepada Ayahnya Fatimah untuk meminta restu. Bukankah aku sudah bilang, kurang dari sebulan akan datang pria yang melamarmu." Candra tersenyum lembut. Jarinya tak henti mengusap lelehan air mata yang masih tak terbendung.


"Bang Can, aku bersedia menjadi makmummu--" Salma tersenyum disela tangisan. Bukan tangis sedih seperti semalam. Hari ini tangis haru dan bahagia melingkupinya.


"Cup cup, jangan nangis lagi. Ayo kita bergabung lagi di luar. Aku takut setan membuat kita khilaf." Candra mengusap kepala Salma yang berbalut hijab. Salma menyuruh Candra keluar lebih dulu. Ia akan mencuci mukanya dulu.


****


Salma duduk di tengah kedua orang tuanya. Tak seperti sebelumnya yang tertunduk dan cemberut, kini ia duduk dengan wajah tegak dan ceria. Umi telah memasangkan cincin berlian indah di jari manis Salma sebagai bukti pengikat niat baik anaknya.


Wajah Salma terus merona karena malu mengingat tingkahnya sebelumnya.


"Salma tadinya mau kabur lho, Umi. Gak mau temuin tamu yang akan melamarnya." Ledekan Susan, membuat semua yang hadir di ruang tamu tertawa. Kecuali Salma yang menyembunyikan mukanya dibalik punggung sang ibu.


"Nak Candra, apa sekalian dibahas juga kapan kalian akan menikah?" Bapak Dedi kembali bertanya dalam suasana yang kini santai.


"Saya sih minggu depan juga siap, Pak. Gimana, Salma?"


Salma menggelengkan kepalanya. "Terlalu cepet lah, Bang. Perlu waktu untuk siap-siap."


"Kita bisa akad dulu. Resepsinya menyusul. Biar bisa mesra-mesraan kayak mereka tuh." Candra menunjuk dengan dagunya. Meledek ke arah sejoli yang nempel terus kayak perangko. Selama perbincangan, Nico kalau tidak merengkuh bahu Suci, dia beralih menggenggam jemari sang istri.


Kini semua orang balik mentertawakan Nico dan Suci.


"Maaf ya Pak, Ibu. Suami saya suka tidak tau tempat. Gak di rumah gak di mana, pengennya nempelin terus." Suci yang kini tersipu karena jadi bahan guyonan abangnya. Lain halnya Nico, ia cuek aja meski Suci menginjak kakinya. Ia tetap memegang erat jemari istrinya itu.


Akhirnya disepakati, pernikahan akan dilaksanakan satu bulan lagi. Akad dan resepsi disatukan.


Saatnya dua keluarga menikmati jamuan makan.


Suci mendekati Salma. Mereka berpelukan dan tertawa bahagia.


"Alhamdulillah...kita jadi iparan. Sekarang aku manggil kamu Teh Salma, calon kakak iparku." Keduanya kembali berpelukan erat, menyalurkan rasa bahagia.


"Selamat ya, yang mau honeymoon besok. Jangan lupa oleh-oleh calon keponakan." Salma menaik turunkan kedua alisnya. Tawa ceria kembali berderai.


...Untukmu yang sudah menunggu,...


...Terima kasih sudah bertahan dalam kesabaran tanpa batas. Tidak ada penantian yang sia-sia, buah dari kesabaran itu...


... INDAH PADA WAKTUNYA...


...(Candra Alkatiri)...


...----------...


Alhamdulillah, season 1 TAMAT.


Aku hiatus dulu untuk waktu yang tidak ditentukan. Karena mau fokus up story EMPAT SEKAWAN, udah pada kangen kan? Samma 😄


Sampai jumpa next.....di season 2. Insyaa Allah 😍


Follow ig @me_niadar

__ADS_1


__ADS_2