
Lama tak bersua, dua sekretaris duduk bersama di kantin perusahaan, menikmati makan siang. Kedua boss mereka sama-sama pergi ke pabrik, memantau persiapan ekspor yang kemarin terhambat kebakara gudang.
"Lama tak ketemu, kamu makin cantik aja sih." Salma memberi pujian tulus terhadap perempuan di hadapannya, terhalang meja. Ia melihat wajah Suci makin cling dan bening.
"Hem bisa aja deh. Sayang aku nggak ada receh nih." Suci menaikkan kedua alisnya, terkekeh dengan kata-katanya sendiri.
"Lembaran juga nggak apa-apa."
Keduanya tergelak dengan guyonan yang diciptakan. Di tengah keramaian suasana kantin, dua perempuan anggun itu tampak akrab.
"Suci, aku mau jujur satu hal." Salma menangkupkan sendok garpunya, di atas piringnya yang sudah kosong. Ia menatap Suci dengan wajah serius.
"Soal apa nih?" Suci menopang dagunya di atas meja dengan satu tangan. Tatapannya fokus memandang wajah cantik pemilik rambut hitam indah, yang panjangnya sepunggung.
"Aku--aku mencintai Pak Candra." Dengan terbata, Salma memcurahkan perasaan yang ia pendam sendiri. Entah kenapa ia mempunyai keberanian untuk mengatakannya kepada Suci, yang nota bene adik dari pria yang ditaksirnya.
"Sejak kapan, Salma?" Tidak ada keterkejutan di wajah Suci. Ia bersikap tenang mendengar teman kerjanya itu memulai curhat.
Salma menyeruput jus jambu merah, sejenak menyegarkan tenggorokannya yang tiba-tiba kering. "Aku menjadi sekretarisnya sudah dua tahun. Awalnya hanya sebatas kagum dengan sosoknya yang tampan dan baik. Namun sikapnya yang tertutup, membuatku penasaran ingin mengorek kehidupan pribadinya apakah sudah punya pacar atau belum. Tapi aku tak mampu menyelaminya, yang ada malah hatiku yang terpaut . Wajahnya selalu terbayang dalam ingatan. Jika dekat, jantungku berdetak kencang. Dan itu terasa sejak 1,5 tahun yang lalu."
"Selama itu kamu memendamnya. Kenapa tidak diungkapkan pada orangnya?" Suci merasa takjub dengan kemampuan Salma memendam rasa.
"Melihat sikap Abangmu yang biasa saja, membuat aku merasa dia hanya menganggapku sebagai sekretarisnya, tak lebih. Jadi, daripada akhirnya jadi canggung, mending mencintai dalam hati saja." Salma tertawa lepas. Ia terlihat santai tanpa beban menceritakannya.
Suci diam. Bingung, apa yang harus dilakukannya. Tapi ia ingat, sang kakak akan memikirkan mencari pendamping hidup setelah dirinya menikah.
Sekarang, sepertinya sudah waktunya Abang melepas jomlo.
Lamunan Suci terputus karena Salma mencolek lengannya.
"Hei, jangan pikirkan cara untuk membantuku. Masalah hati tidak bisa dipaksakan. Aku baik-baik saja kok. Biarlah, kalau jodoh tak akan ke mana kan?!"
__ADS_1
Seorang Salma begitu santai menyikapi permasalahan pelik hidupnya menyangkut asmara. Setiap hari berinteraksi dengan pria pujaannya di kantor, membuat perasaannya selalu menghangat, menikmati cinta sendiri, cinta dalam hati. Entah sampai kapan.
Obrolan keduanya terhenti karena jam istirahat akan habis. Beriringan mereka keluar kantin menuju lift.
"Aku akan senang jika nanti kamu menjadi kakak iparku." Suci menepuk bahu Salma sebelum mereka berpisah di lift. Mengangkat tangan dengan jari mengepal, memberi suport kepada Salma.
Salma tersenyum mengucapkan terima kasihnya. Ia melambaikan tangan saat pintu lift terbuka di lantai 3, keluar lebih dahulu.
****
Pulang bersama sang suami, kembali ke rumah besar yang dihiasi taman asri terawat dengan pohon palem berjajar, tinggi menjulang sepanjang pilar benteng yang kokoh.
Senyum bahagia kentara dari wajah Bunda Devi menyambut kedatangan anak dan menantunya yang baru tiba selepas magrib.
"Kalian mandi dulu ya. Bunda tunggu di meja makan."
Keduanya mengiyakan. Mereka menaiki anak tangga saling berpegangan tangan. Interaksinya tak luput dari pandangan Bunda yang mengulas senyum lebar menyaksikan kemesraan sepasang pengantin baru.
"Tidak-tidak. Bakalan lama mandinya. Aku sudah lapar." Suci buru-buru masuk ke kamar mandi tanpa menunggu jawaban suaminya. Menguncinya dari dalam.
Nico tergelak dengan reaksi Suci terbirit-birit meninggalkannya. Ia memilih merebahkan diri di sofa sambil menunggu sang istri selesai mandi. Satu pesan masuk ke ponselnya, dari Malik. Malam ini mereka akan bertemu, melaksanakan eksekusi.
Wangi aroma sabun menggelitik hidung, membuat Nico berhenti dari aktifitasnya memainkan ponsel. Suci sudah selesai mandi dengan cepat. Berbalut handuk piyama dengan panjang di atas lutut, rambutnya digulung tinggi menampakkan leher jenjang putih dengan hiasan kissmark yang sudah memudar. Membuat Nico menelan salivanya, menatap kemolekan sang istri.
"Kondisikan otaknya. Ayo mandi!" Tahu-tahu Suci sudah berada di hadapannya dengan menjulurkan handuk yang masih dilipat. Benar dugaan Suci, sesaat otak Nico traveling, membayangkan menyentuh tubuh indah istrinya dibalik piyama seksi itu.
"Kamu tau aja--" Nico menarik simpul tali yang mengikat di pinggang ramping Suci. Sehingga terlepas dan membuka piyama handuk warna marun yang dikenakan Suci.
"Jangan macam-macam, Mas. Bunda sudah menunggu kita." Suci yang ditarik sampai terduduk di pangkuan sang suami, menggelinjang geli saat bibir Nico menjelajah di balik piyama yang sudah terbuka itu.
"Stop!" Suci menahan wajah Nico untuk tidak melanjutkan aktifitasnya, yang sudah berhasil satu kali membuat tanda kepemilikan di area dada.
__ADS_1
Suci segera berdiri, memperbaiki piyamanya yang berantakan. "Cepat mandi, Mas. Bunda menunggu kita." Satu kecupan kilat mendarat di bibir Nico, sebelum Suci melenggang memasuki walk in closet.
Nico menyandarkan punggungnya sesaat dengan seulas senyum. Hasrat kelelakiannya naik ke ubun-ubun. Jika Suci tak mencegahnya, bisa jadi istrinya itu akan mengulang mandi.
Usai makan malam bersama Ayah dan Bunda, dilanjutkan bincang santai di ruang keluarga sambil menonton tayangan tv, kini keduanya kembali ke kamar. Tak lupa Nico mengunci pintu, tak ingin ada siapapun yang mengganggunya.
"Sayang, aku pengen melanjutkna yang tadi--" Nico membuka kerundung instan yang dikenakan Suci, menampilkan rambut hitam yang diikat kucir kuda.
"Masih siang dong, Mas. Sebaiknya kita temani lagi Bunda di bawah."
Nico tidak menjawab. Tangan kekarnya mengangkat tubuh sang istri, membawanya ke ranjang. Ia ingin melanjutkan mengexplore tubuh indah istrinya itu. Suci hanya bisa pasrah mengikuti keinginan suaminya yang sudah berhasrat.
Sapuan bibir Nico menyentuh bibir lembut Suci. Mengecupnya dengan mesra, gigitan kecil membuat Suci membuka mulutnya. Membiarkan lidah Nico menjelajah rongga mulutnya, membelit lidahnya.
Tubuh polos kekar dengan dada bidang itu mulai mengungkung, memperlakukan dengan lembut sang istri dibawahnya, yang sudah mendesah dan melenguh karena sensasi yang dibuatnya. Nico menatap sorot mata Suci yang sayu dengan kedua tangan yang bergerak kasar mencengkram seprai. Nico faham, ia mempercepat iramanya agar bisa mencapai kenikmatan surga dunia bersamaan.
Tubuhnya masih bertumpu di atas tubuh polos sang istri. Membenamkan wajahnya di ceruk leher. Keduanya mengatur nafas yang masih berpacu cepat tak beraturan, bersamaan dengan saling menyalurkan rasa.
.
.
Nico keluar dari kamar mandi dengan rambut setengah basah. T shirt dan celana jeans biru yang sudah disiapkan Suci dipakainya dengan cepat. Malik sudah datang menjemput, menunggunya di luar gerbang.
"Cantik, aku akan pulang larut. Kamu tidur saja jangan tunggu aku. Kamu pasti lelah kan?!" Seringai menggoda nampak di wajah Nico setelah dia mengecup bibir ranum yang berdiri menjulurkan jaket kulit yang akan dikenakannya.
Wajah Suci merona malu dengan godaan suaminya itu. "Suamiku harus pulang dengan selamat." Suci membantu Nico mengenakan jaket ke tubuh atletisnya.
"Tentu cantik. Malam ini, InsyaAllah semuanya akan tuntas. Aku sudah bekerja sama dengan polisi untuk penangkapan asistennya Pras. Jangan khawatirkan aku. Tidurlah dengan nyenyak, aku kan sudah memberimu obat tidur."
Satu cubitan mendarat di lengan. Membuat Nico tertawa lepas, senang jika berhasil menggoda Suci.
__ADS_1
Pelukan hangat dilakukan Nico sebelum membuka pintu. Memberikan kecupan lama di kening, menyalurkan ketenangan untuk sang istri yang nampak berat melepasnya. Meyakinkannya, bahwa dia akan baik-baik saja. Pulang dengan selamat.