MENGAPA CINTA

MENGAPA CINTA
Jangan Salah Faham


__ADS_3

Pandangannya sekali lagi mengarah kepada wanita anggun yang berjalan bolak balik di depannya. Ingin memastikan kembali dia baik-baik saja, bisa berjalan normal.


"Jangan khawatir begitu dong. Aku beneran nggak apa-apa. Jalanku nggak kayak Penguin kan?"


Nico memang melarang Suci untuk masuk kantor hari ini. Setelah melewati malam penuh kenikmatan sampai dua season, membuat Nico khawatir istrinya itu kesakitan berjalan. Padahal Suci berkali-kali sudah meyakinkan kalau dirinya baik-baik saja. Meskipun nyatanya seluruh badannya terasa sedikit pegal dengan tanda merah memenuhi leher dan dada, serta area intimnya terasa bengkak, tapi Suci masih mampu beraktifitas.


"Mas, nggak enak dong sama yang lain. Masa baru aja libur udah bolos lagi. Aku mau kerja ya, plis." Jari tangan Suci menyentuh dada suaminya yang masih polos belum mengenakan pakaian kerjanya. Bergerak membuat pola-pola tak beraturan.


"Kalau seperti ini aku jadi ingin olahraga pagi. Lagi ya!?" Nico meraih jari tangan Suci, menggigitnya dengan gemas. Hasratnya terpancing karena sentuhan yang dilakukan Suci.


Kalau sekarang melakukannya lagi, aku bakalan beneran nggak bisa jalan.


"Jangan dong. Kita bisa kesiangan ke kantor. Jangan mentang-mentang anak boss jadi bisa seenaknya. Kita harus memberikan contoh yang baik." Sambil menceramahi suaminya, Suci mmberikan pakaian untuk dipakai Nico


Pada akhirnya Nico mengalah, mengizinkan Suci ke kantor. Berangkat bersamanya.


Bergandengan tangan dengan wajah sumringah, mereka menuruni anak tangga. Meninggalkan kamar yang kembali rapih dengan seprai baru. Mengganti seprai yang semalam meninggalkan noda kesucian.


"Nanti pulangnya ke sini lagi kan?" Bunda menatap Suci yang sedang menyantap sarapannya. Berharap menantunya itu akan kembali ke rumahnya.


Suci menatap Nico. Meminta pendapatnya. Karena saat di kamar belum sempat membicarakannya.


"Lihat sikon nanti ya Bun." Nico membantu menjawab.


.


.


Mobil Nico tiba di depan lobi kantor. Suasana sudah ramai dengan kedatangan para karyawan yang mulai melakukan absensi fingerprint.


"Aduh, harusnya Mas Nico tadi turunin aku di depan." Suci enggan untuk turun melihat karyawan semakin berdatangan.


"Nggak ada yang salah, sayang. Kamu kan istri aku. Jangan cemas gitu." Nico mencolek dagu lancip Suci yang tampak gelisah.


"Iya. Tapi kan mereka tidak tahu kita sudah menikah. Bagaimana turunnya ini?" Suci menggigit bibirnya. Dia nggak mau orang-orang memandang penuh selidik terhadapnya. Menduga-duga yang tidak baik.


Ketukan di kaca pintu membuat Suci menoleh. Melihat sosok orang yang berdiri di samping pintu mobil. Suci sumringah, ternyata Candra yang mengajaknya turun.

__ADS_1


"Alhamdulillah, ada abang. Aku duluan turun ya, Mas." Tanpa menunggu jawaban Nico, Suci membuka pintu mobil. Bersama Candra, dia berjalan memasuki lobi.


"Abang tau, kamu takut orang-orang bergosip. Iya kan?" Candra berbisik saat mereka menunggu lift terbuka.


"He em" Singkat, Suci membalasnya.


Tunggu sebentar lagi, sayang. Kita akan selalu jalan bersama.


Nico menatap punggung Suci sampai tak terjangkau pandangan. Mobil ia serahkan kepada petugas yang menunggu untuk diparkirkan di basemen.


****


Nico tidak melihat Suci di mejanya saat akan memasuki ruangannya. Ia melongok ke balik meja dan melihat tasnya ada. Aroma kopi yang menusuk hidung membuatnya menoleh.


"Ah, kirain istriku pergi ke mana." Nico mengulas senyum melihat Suci yang datang membawa nampan berisi segelas kopi kesukaannya. Ia mengikuti Suci yang masuk lebih dulu ke dalam ruang kerjanya.


"Biasanya juga aku buat kopi dulu. Memangnya pergi ke mana." Suci baru menjawab setelah menyimpan kopi di atas meja.


Nico melangkah mendekat, memeluk Suci dari belakang. "Kirain istriku ada yang nyulik." Nico menggesekkan hidungnya di leher Suci yang terbalut hijab. Membuat Suci tertawa kegelian.


"Apa ini?" Nico mengerutkan kening. Disentuhnya tombol play untuk memutar video yang tampil di layar hp. Tampak kekagetan bercampur kemarahan di wajahnya. Suci memperlihatkan rekaman kemarin saat di toilet bersama Winda.


"Sayang, kenapa kemarin tidak langsung bilang hm? Mana yang sakit? Beraninya dia bersikap kasar padamu." Nico menyentuh wajah Suci, meneliti secara detail kalau-kalau ada luka lebam.


"Sini, lihat juga lehernya?" Nico menyingkap kerudung. Terlihat beberapa tanda merah di sekiyar leher putihnya. "Sakit nggak?" Nico mengusap bagian yang merah itu.


"Aku nggak apa-apa, Mas. Tidak ada bekas tamparan atau cekikan dia. Aku sampai mengaduh hanya mendramatisir saja. Kalau itu kan bekas kamu semalam." Suci mengerucutkan bibirnya. Melepas tangan Nico dari lehernya.


Satu kecupan mendarat di bibir Suci. "Kamu udah jadi candu. Rasanya manis....sini aku tambahin." Nico menaikkan kedua alisnya. Terkekeh melihat Suci yang memundurkan tubuhnya.


"Issh, pagi-pagi udah mesum. Mas, video itu sengaja untuk bukti. Membantu Mas Nico untuk menggugurkan syarat, tak jadi menikahi Winda. Karena dia udah menyakiti aku. Tinggal satu lagi yamg harus diungkap, citra buruk Prasetya." Suci berkata serius.


"Kamu benar sayang. Aku sedang menunggu Malik yang mengintai kegiatan Pras dan asistennya. Satu bukti sudah ada, kalau dia punya perempuan simpanan. Tapi itu masih kurang. Aku curiga dia melakukan praktik suap untuk kemenangan tender. Dan itu bisa membuatnya masuk penjara." Nico menyesap kopinya perlahan. Pikirannya ikut sibuk memetakan langkah selanjutnya.


"Aku juga sudah tak sabar ingin mengumumkan pernikahan kita." Nico meraih tangan Suci. Menariknya, sampai Suci terduduk di pangkuannya.


"Mas, jangan seperti ini. Nanti ada orang lihat." Suci berusaha untuk turun, namun ditahan Nico.

__ADS_1


"Sebentar saja. Aku pengennya nempel terus sama kamu." Nico membenamkan wajahnya di punggung Suci. Menghirup aroma wangi lembut tubuh sang istri.


"Pagi, Pak."


Seorang pria berdiri terpaku di ambang pintu yang terbuka dengan membawa berkas di tangan. Matanya melotot kaget dengan adegan yang dilihatnya.


Deg


Suci terperanjat kaget. Berdiri terlonjak dari duduknya. Seseorang telah melihat adegan mesranya dengan Nico.


"Bayu--" Suci berkata dengan gemetar.


"Maaf, saya nggak lihat." Bayu berkata datar. Ia membalikkan badannya untuk pergi.


"Tunggu, Bayu!" Nico menahannya. Ia menyuruh Bayu untuk masuk, duduk di sofa.


Nico mengajak Suci untuk duduk di sisinya, berhadapan dengan Bayu.


"Saya ke sini untuk meminta tanda tangan, Pak. Saya butuh pengantar karena mau ke lapangan. Tadi melihat meja Suci kosong, jadi saya berinisiatif masuk ke sini, tak sengaja melihat adegan yang tidak seharusnya saya lihat." Bayu menatap tajam ke arah Suci. Ada raut kekecewaan di wajahnya, seolah tak menyangka, Suci tak sebaik yang ia kira.


Suci hanya menundukkan wajahnya, mendapat tatapan tajam dari Bayu. Kedua tangannya saling bertaut, meremas. Bingung harus menjelaskan bagaimana.


"Kamu jangan salah faham, Bayu. Jangan menuduh Suci yang tidak-tidak. Suci istri saya!" Nico seolah bisa membaca apa yang dipikirkan bawahannya itu.


"Apa?" Bayu kembali terkaget. Dirinya menatap sang boss. Menunggu penjelasan berikutnya.


"Saya harap kamu tutup mulut dulu. Belum ada karyawan kantor yang tahu, baru kamu saja. Kami merahasiakannya sementara, karena ada alasannya." Nico menyerahkan hpnya kepada Bayu untuk memperlihatkan foto-foto dokumentasi pernikahannya.


"Kami menikah seminggu yang lalu, saat Suci cuti."


Bayu menggeser satu persatu foto-foto pernikahan itu. Ia menatap lama, begitu melihat foto Nico menjabat tangan Candra saat prosesi ijab kabul. Senyum kelegaan kini terbit setelah melihat keseluruhan foto.


"Baiklah, saya akan tutup mulut. By the way, selamat untuk pernikahannya." Bayu berkata tulus menatap Nico dan Suci bergantian. Wajahnya sumringah karena sesuai ekspektasinya, boss dan sekretarisnya itu ada hubungan spesial.


Kini Suci bisa tersenyum, menghembuskan nafas lega. Satu kesalahfahaman sudah clear.


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2